
Drrt...Drrt...Drrrt...Drrt...Drrt...
Getar kuat dari ponsel di atas meja rias kamar, tidak mendapat respon berarti dari gadis penghuni kamar. Hanya menggerakkan kepala sedikit lalu tidur lagi.
πΆπΆπΆπΆπΆπΆπΆπΆπΆπΆπΆπΆ
πΆπΆπΆπΆπΆπΆπΆπΆπΆπΆπΆπΆ
πΆπΆπΆπΆπΆπΆπΆπΆπΆπΆπΆπΆ
Getar tanda pesan masuk di ponsel hanya sekali saja bergetar. Dan berganti dengan nada dering yang nyaring di ponsel. Pemilik kamar benar-benar merespon kali ini. Meski mata hanya membuka seperlunya, namun tubuhnya bangkit cepat, dan terhuyung menghampiri meja rias.
Namun bunyi dering itu habis saat ponsel benar-benar telah digenggam. Dibawa ponsel rebah lagi di ranjang untuk menarik nyawanya kembali utuh dan sadar.
Pemanggil yang tak lain adalah penghuni kamar di sebelah, tidak mengulangi lagi panggilan. Tapi bunyi getar yang awal tadi adalah pesan darinya.
*Cepatlah bangun. Sebentar lagi berangkat. Aku tengah bersiap.*
Pukul 04.08 am, sebelum subuh..
Dengan keyakinan bahwa lelaki akan jauh lebih cepat dalam hal bersiap, Dhiarra meloncat menyambar handuk dan melesat ke dalam kamar mandi. Bahkan pintu kamar mandi dalam kamar itu tidak ditutup, namun dibiarkan terbuka sebagian. Pintu kamar memang masih dikuncinya.
π
Sebab Shin memajukan jam pulang jauh lebih cepat, mama Ira tidak sempat menyiapkan sarapan apapun. Jadi sekedar roti canai dari Azlan semalamlah yang kini dihampar pada meja makan. Bersama segelas milo coklat hangat masing-masing segelas untuk Shin dan Dhiarra.
"Mama terlanjur senang dan semangat, tapi tiba-tiba ikut berangkat. Sebenarnya ada apa,Ra?"
Mama Ira mengamati wajah Dhiarra yang baru keluar kamar dan duduk di samping Shin Adnan. Sang putri menatap ibunya, lalu menoleh pada Shin sebentar lalu mengambil gelas milonya yang hangat.
"Ada relasi dari Manila yang ingin bertemu petang ini, kak Ira. Dan sangat ingin mengenal desainernya langsung. Jadi saya kena bawa Dhiarra juga. Dan ashar nanti kita kena sampai kat Melaka," Shin dengan cepat memberi jawaban menggantikan Dhiarra.
Lelaki itu mengambil tiga lembar sekaligus roti canai pisang di piring. Memotongnya crepat dan memasukkan ke mulut potong demi potong dengan hampir sama cepat. Sesekali mendorong masuk je lambung dengan meneguk milo hangatnya di gelas. Benar-benar juara bertahan dalam makan.
"Cepatlah, Dhiarra. Kita sedang mengejar waktu," Shin menegur Dhiarra yang begitu pelan menyobek roti canainya dan terlalu lama mendiamkan di mulut.
"Dia masih mengantuk, Shin," terdengar Hazrul menegur.
Dhiarra terus terdiam, namun demi mendengar perkataan antara Shin dan Hazrul, tangan halusnya bergerak cepat memasukkan sobekan roti ke mulut dan laju mengunyah. Tentu dengan dorongan coklat milo hangat seperti yang dilakukan Shin di sampingnya. Dalam sekejap, selembar roti canai dipiring telah lenyap dan bermutasi ke perutnya.
π
"Lekas berangkat, Dhiarra. Hari akan hujan,!" Shin yang telah duduk bersama sopir menyeru pada Dhiarra.
Setelah sang ibu dan Dhiarra saling peluk dan sempat saling menangisi, Shin buru-buru menyuruh Dhiarra masuk ke mobil dan meminta sang sopir melajukannya segera. Antara was-was sebab memang akan turun hujan atau tidak ingin jika gadis itu berubah pikiran dan memilih untuk menambah malam kembali di Penang.
Baru beberapa kilometer berjalan, Shin mengajak sang sopir untuk singgah ke Masjid Kapitan Keling di George Town, sebab adzan subuh sedang mengalun berkumandang.
Dhiarra tidak ikut turun dan memilih tetap berada dalam mobil. Ingin menyambung tidur. Meski telah berhenti, tapi gadis itu belum benar-benar bebas dari tamu bulanan rutinnya..
__ADS_1
Shin telah kembali dari subuhnya, kini tidak lagi duduk di depan bersama sopir, namun duduk bergabung di belakang bersama Dhiarra yang tengah tertidur.
Mobil dari Azlan milik om Hafiz ayahnya itu, adalah jenis mobil sport Convertible, yakni jenis yang kap atau atapnya bisa dibuka dan ditutup. Dan hanya muat penumpang empat orang.
Mobil tiba-tiba berhenti mengejutkan, mendadak sang sopir menginjak rem dengan kuat. Ternyata sedang ada kemacetan luar biasa di jalanan depan. Belum tahu apa sebabnya.
Shin menoleh Dhiarra yang ternyata tidak merespon dan tetap tidur dengan mata terpejam rapat-rapat. Hanya merasa risih dengan cara tidurnya yang menggelosor dengan kepala jatuh di kaca jendela mobil. Dan memang tidak ada satu bantalan pun yang nampak.
Shin nampak gelisah, sebentar-sebentar menoleh pada Dhiarra yang terlihat sangat damai saat tidur. Berfikir untuk mengambil kepala si gadis dan membetulkan posisi tidur Dhiarra segera ditepis. Itu nampak berlebihan baginya.
"Ra, Dhiarra,," Shin mulai latah memanggil si gadis dengan nama ujungnya saja, Ra..
Yang dipanggil sedikit bergerak, mata menutupnya perlahan terbuka. Gelagapan sendiri, cepat-cepat duduk lurus dan menolehkan kepala. Lebih terkejut melihat Shin telah duduk tegak di sebelahnya. Lelaki yang ditoleh acuh tak acuh memandang jalanan di depan.
Shin yang tidak fokus pada pandangannya di jalan, penasaran dengan gadis yang duduk di sebelah. Menoleh perlahan, mata indah setengah merah itu sedang memandangnya. Mereka seperti sedang saling tertangkap basah memandang. Mata mereka melebar berpandangan.
"Kau sudah bangun?" Shin menghempas rasa kikuknya.
"Iya, sudah. Apa hal anda pindah duduk belakang?" Dhiarra berusaha menyantaikan dirinya.
"Aku ingin tidur nyenyak juga sepertimu," jawab Shin.
Dhiarra tak menimpali, mengabaikan ucapan Shin yang seperti menyindir.
"Encik Shin, ini seperti bukan jalan yang kita tempuh saat datang kemarin?" telunjuk lentik Dhiarra menunjuk jalan di depan.
"Betul. Ada accident sangat teruk (parah). Semua kereta kena balik memutar jalan dan mungkin akan lama sebab lebih jauh," terang Shin.
"Kau ingin singgah?" Shin memandang si gadis yang sedang tersenyum lalu mengangguk.
"Ada. Kau tunggu saja. Tapi singgah hanya sebentar, Dhiarra. Dan ingat, tidak boleh belanja apapun," Shin sedikit ketus mengingatkan Dhiarra.
Dhiarra mengangguk, menyimpan wajah penuh senyum ke kaca di samping. Tidak menyangka jika Shin yang berkata sedang buru-buru itu bersedia singgah di satu tempat.
Shin mengatakan pada sang sopir untuk singgah di balai kota dewan bandaraya. Sopir pun langsung paham dan mengangguk. Dhiarra yang mendengar itu, hanya menduga- duga wujud dari balai kota itu.
Sang sopir telah memarkirkan kereta di sebuah tanah lapang yang ternyata adalah bagian dari halaman balai kota. Dan sepertinya memang khusus disediakan untuk pengunjung.
Balai kota peninggalan rezim Victoria British/Inggris itu sangat indah dan megah. Begitu cantiknya sampai Dhiarra memohon pada Shin untuk singgah lebih lama serta menjelajah seluruh bagian bangunan balai. Namun Shin tegas menolak. Sebab telah berjanji pada Faiz untuk sampai di Melaka setelah ashar sore nanti.
Perjalanan berlanjut dengan menyeberangi selat Penang melalui jalur darat, bukan naik feri. Tapi melalui jembatan penghubung dua daratan antara kota George Town dengan kota Butterworth di Penang.
Jembatan Penang Second Bridge sepanjang 24 km yang konon adalah jembatan paling panjang di Asia Tenggara ini sangat kokoh, aman dan menakjubkan. Dhiarra berharap semakin memanjang saja dan tak akan berakhir melewati jembatan. Namun tetap saja akan berakhir.
Perjalanan terus berlanjut. Pagi ini cuaca cerah namun sang surya tidak nampak wujudnya. Shin meminta pada sopir untuk membuka atap kereta. Kereta sport itu terasa dan nampak berfungsi sempurna sekarang. Rambut Dhiarra yang semula berkibar-kibar segera digulung rapi tinggi-tinggi, tak ingin rambutnya menjadi semrawut dan akan susah disisir. Sebab itulah, meski telah berkata buru-buru, akhirnya Shin meminta sang sopir untuk berkendara normal dan sedang.
Perjalanan berlanjut dan mencapai daerah Trengganu. Melewati daerah yang nampak jarang penduduk dengan rumah panggung yang saling jauh antara satu dengan yang lain. Suasana tradisional dan terpencil sangat terasa terlihat di sana.
Kini mereka sedang memasuki kawasan hutan di Trengganu. Udara sangat bersih, sejuk dan segar. Kedua insan beserta sopir nampak begitu menikmati perjalanan.
__ADS_1
Namun saat melewati hutan itu, tanpa ada tanda alam apapun, hujan turun sangat deras begitu saja tiba-tiba.
Mobil berhenti cepat menepi. Sang sopir melaporkan bahwa kap mobil gagal menutup. Berulangkali mencoba, tetap saja gagal ditutup.
"Assalamu'alaikum. Hei Lan, mobil om Hafiz rusak kee? Kap yang kubuka tak boleh menutup balik!" Shin yang mulai resah sebab hujan telah membasah baju dan tubuh, menelpon Azlan di Penang.
Shin menutup ponsel dengan wajah kaku dan tegang.
"Ada apa, tuan Shin?!" seru sang sopir.
"Memang rusak atap mobil, boleh buka tak boleh tutup. Kena pergi bengkel buat menutup. Itulah sebab Azlan bagi balik mobil itu kat om Hafiz." Shin berseru di tengah curah hujan yang menerpa wajah tampannya.
Matanya sambil memandang Dhiarra yang telah basah kuyup seluruh tubuh dan rambutnya. Keadaan mereka bertiga sedang sama sekarang. Basah kuyub kedinginan.
"Lanjutlah jalan, Dris! Carikan aku penginapan terdekat!" Shin mengarah pada sopir yang bernama Idris itu.
Idris segera melajukan mobil kembali menerjang hujan deras. Sadar bahwa mereka sedang berada di kawasan hutan, sang sopir ingin segera membawa penumpangnya keluar dari kawasan mencekam itu. Dhiarra dan Shin sama-sama menyeka wajah mereka berulangkali tak terhitung.
Tidak terlalu lama, kawasan hutan itu berakhir. Rasanya lega sekali. Kembali memasuki daerah perkampungan terpencil. Rumah sangat jarang dengan puluhan hingga ratusan meter jaraknya.
Idris membelokkan mobil basah itu memasuki pelataran sebuah penginapan. Dan berhenti tepat di area parkiran. Tidak terlalu luas namun beratap dan aman.
Shin dan Dhiarra yang basah kuyup bergegas jalan menuju lobi yang lengang. Shin selalu berusaha membuang pandangan dari Dhiarra. Dhiarra benar-benar basah kuyup dengan air yang bahkan menetes jatuh dari baju dan rambutnya. Baju basah itu melekat rapat dan mencetak jelas tubuh Dhiarra. Shin terus berusaha keras untuk tidak terlalu sering memandangnya.
Mereka telah berdiri di depan meja resepsionis dengan Shin yang berbincang.
"Betul, mak cik. Kami dari Penang. Tolong siapkan dua kamar yang paling layak untuk kami. Usahakan yang tidak berjauhan." Shin berkata dengan tegas.
Resepsionis yang memang sudah berumur itu memandang Shin dan Dhiarra seksama. Kerut di wajahnya semakin jelas terlihat. Mungkin dia sendirilah pemilik penginapan kecil ini.
"Aduh, macam mana... Mungkin sebab hari hujan... Kamar yang ada just tinggal satu sahaja. Itu pun tidak wah sangat.. Tapi cukup layak dan nyamanlaah.. Macam mana? Nak guna, tak?" Mak cik itu memandang Shin dan Dhiarra bergantian. Gurat harap terbaca dari wajah kerut itu.
Dhiarra dan Shin tertegun mendengar jawaban resepsionis penginapan. Mereka sama-sama menoleh dan saling berpandangan dalam bungkam. Mimik gundah serta bingung terbaca mudah dari kedua wajah basah mereka...
πππ
πππ
πππ
ππππππ
πππ
πππ
Balai kota di George Town yang disinggahi Shin dan Dhiarra di Go Back otewe πππ
__ADS_1
πππ