Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!
33. Kubeli Bajumu


__ADS_3

Baik Shin atau juga Faiz, seperti tak mencerna penjelasan serius dari Dhiarra.. Keduanya memandang kosong tak merespon..


Sebetulnya Shin tidak terlalu peduli pada apa yang Dhiarra katakan. Matanya nampak fokus, tapi otaknya sibuk pada suara dan bibir Dhiarra yang bergerak-gerak berbicara. Serta ekspresi wajah dan mata yang nampak sedikit gentar itu bagi Shin sangat menarik di pandang. Selebihnya Shin tidak terlalu peduli. Dan tak jauh beda dengan apa yang ada di kepala sang asisten, Faiz Zakaria...


"Mmm...Encik Shin..!! Apa anda tidak terkejut?! Anda tidak masalah?!" Dhiarra merasa gembira. Meski bicaranya tak terlalu ditanggapi, sepertinya Shin Adnan tidak marah. Sangat jauh dari apa yang selama ini dibayangkan dan dirunsingkan.


"Tentu saja ini masalah dan kau telah membuat kesalahan, Dhiarra..!" rupanya Shin sangat cepat menguasai keadaan. Dan jawaban gertak sambal seperti ini memang sudah disiapkan.


"Saya sungguh minta maaf, encik Shin. Saya sangat terpaksa berbohong. Saya hanya khawatir anda juga akan menolak mentah-mentah rancanganku. Seperti yang sudah saya alami sekian lama di Indonesia..," Dhiarra meluruskan alasannya. Suara lembut itu sedikit bergetar.


Shin mengencangkan punggungnya di kursi.


"Aku sangat menghargai kejujuran, Dhiarra." Shin berbicara lirih namun tegas.


"Saya sudah jujur, encik Shin. Dan ini belum terlambat. Kumohon padamu, lanjutkan launching karya bajuku..," suara itu lembut memelas. Dhiarra tidak segan-segan mengiba.


Mendengar dan melihat cara bicara Dhiarra begitu, hati Shin sangat iba tiba-tiba. Teringat akan perbuatan jahat Hazrul yang nekat pada negara, sampai memberi efek parah seperti itu pada karier cemerlang Dhiarra di Indonesia. Shin tidak lagi minat untuk meneruskan sandiwara gertak sambalnya pada gadis malang itu.


"Lalu, bungkusan apa yang kau bawa bersamamu itu, Dhiarra..?" suara pertanyaan itu melembut. Mata Shin menunjuk sebuah bag besar di kursi samping Dhiarra.

__ADS_1


"Ini adalah desain baju saya yang lain. Kuajukan juga padamu, encik Shin. Sekali lagi maafkan aku," sebenarnya Dhiarra terkejut dengan perubahan sikap Shin yang tiba-tiba seperti tak masalah.


"Baiklah, biar nanti langsung di bawa Faiz. Dan besok pagi saja kulihat. Ini sudah malam. Setelah makan selesai, kau pulang saja denganku..," Shin mulai memimpin makan malam. Bersikap seolah tak pernah terjadi apapun. Dhiarra mengangguk lega tak percaya. Semudah itu...


Faiz bergegas meniru sang tuan. Mengambil makan buru-buru dengan hati terheran. Sang tuan terlalu cepat mengakhiri keadaan. Jauh beda dengan rencana gertak sambal yang telah Shin katakan padanya sebelum Dhiarra datang...


🍒🍒🍒


Keponakan dan paman tanpa ikatan darah yang baru berkenalan hampir dua bulan itu berjalan beriringan. Shin di depan dan diikuti Dhiarra di belakang. Sang paman berjalan tegap dengan kemeja sama dengan yang dipakainya siang tadi.


Tapi tubuh menjulang itu bukannya beraroma pengap atau masam. Justru aroma segar dan angin wangi saja yang dihempas dan ditinggal kan.


Dhiarra memandang di belakang dengan berjuta perasaan. Takjub dengan pria dewasa di depannya. Sudah matang dan mapan, tapi masih betah saja melajang.


"Permisi, encik Shin..!" Dhiarra tersadar bahwa kamarnya hampir lagi terlewat.


Shin tak menjawab. Dhiarra menatap sekilas dan mengangguk pada Shin Adnan. Berjalan menuju pintu kamar sambil menyodor anak kunci.


Ceklerk..!

__ADS_1


Dhiarra membawa masuk dirinya ke kamar yang gelap dan sambil menutup pintu kamarnya.


Tap..!


Daun pintu terasa ditahan. Dhiarra cepat berbalik. Ternyata telapak tangan Shin Adnan.


"Encik Shin..?!" tentu Dhiarra tak paham apa maksud sang paman.


"Dhiarra... Apa kau sangat ingin kulanjut launching baju desainmu..?" sepertinya Shin sedang berubah pikiran kembali.


"Apa maksudmu, encik Shin..?" Dhiarra terheran dengan pertanyaan Shin. Bukankah tadi sudah berdamai? Sedang wajah Shin sangat gelap, Dhiarra tak bisa membacanya. Kamar Dhiarra masih tak berlampu.


"Aku ada satu syarat, Dhiarra. Pakailah bajumu ini di acara launching. Peragakan sendiri baju cantikmu ini olehmu. Akan kubeli bajumu ini, berapa pun..," Shin tiba-tiba mendekat. Berbicara sangat rapat di wajah gadis itu. Tindakan Shin membuat dada Dhiarra seperti kehilangan nafasnya.


"Aku memaksamu... Jangan menolakku, Dhiarra..," Shin telah menjauhkan diri dari pintu.


"Saya tidak menjual bajuku ini. Saya sangat menyukainya," tentu saja Dhiarra keberatan. Ingat akan permintaan Yuaneta.


"Baiklah, peragakan saja bajumu ini. Aku akan membuatkan yang banyak jika ada yang ingin membeli bajumu. Ini peluang bagus dariku, Dhiarra. Lakukanlah.,," suara stereo itu kembali menekan Dhiarra.

__ADS_1


"Masuklah, kunci pintumu," Shin tidak peduli lagi pada pendapat Dhiarra.


Diraihnya pintu yang masih dipegangi Dhiarra lalu ditutupkannya perlahan rapat-rapat. Shin melepas tangannya dari pegangan di pintu. Berjalan mundur dan memandang pintu itu sesaat. Lalu berbalik dan melangkah menuju kamarnya dengan cepat..


__ADS_2