
Disisi lain, ternyata sudah ada Evano yang baru datang, dan berdiri di kejauhan.
"Kelihatannya Ayana lebih bahagia saat didekat Jae. Memang aku akui Jae bisa menenangkan hati Ayana yang sedang sedih, dan sedangkan aku tidak melakukan apapun untuk istriku, yang sedang menderita. Maafkan aku sayang, aku harus pergi dari sini." Ucap Evano mau pergi, dan Ayana menyadari ada seseorang dari kejauhan dan ternyata itu adalah Evano.
"Sayang." Panggil Ayana dari kejauhan, dan Evano langsung berbalik badan.
Ayana dan Jae pun langsung keluar dari restoran, dan langsung menghampiri Evano. "Sayang, kenapa kamu ada disini?." Tanya Ayana dengan bahagia.
"Aku kesini, mau menjemput kamu sayang. Tapi sepertinya kamu sedang mengobrol dengan pak Jae, jadi aku mau pergi." Jawab Evano ikut tersenyum.
"Kenapa kamu malah pergi sih. Kebetulan aku dan Jae sudah selesai mengobrol kok, dan aku juga sudah siap bekerja. Ini mau pulang, dan ternyata kamu sudah datang menjemputku." Ujar Ayana kembali tersenyum.
Sontak Evano melihat tangan Ayana yang diperban. "Astaga sayang, kenapa tangan kamu ini. Sampai diperban begini?." Tanya Evano langsung cemas kepadanya.
"Ini tadi terkena minyak panas sayang, kecipratan minyaknya. Jadinya begini deh, tapi tidak apa apa kok. Karena sudah diobati oleh Jae." Jawab Ayana sambil menutup lukanya dengan tersenyum.
"Lain kali kamu hati hati sayang, dan jangan terburu buru. Jadinya begini kan." Ucap Evano mengelus tangan Ayana dengan lembut.
"Aman sayang, ini hanya tidak sengaja kok. Dan lain kali aku akan lebih hati hati sayang." Ujar Ayana kembali tersenyum.
"Baguslah kalau pak Evano sudah ada disini, padahal tadi saya yang mau mengantarkan istri bapak pulang. Ternyata anda sudah datang, kalau begitu, saya permisi pak, dan jaga istri anda dengan baik." Ucap Jae menepuk bahu Evano dan langsung pergi.
"Hati hati Jae." Ucap Ayana sambil melambaikan tangannya.
Jae pun ikut melambaikan tangannya. "Kalau begitu, mari kita langsung pulang sayang." Ucap Evano langsung membukakan pintu mobil, untuk Ayana dan Ayana pun masuk kedalam mobil.
Merekapun pulang bersama. Di perjalanan. "Kamu pasti lelah kan sayang, karena bekerja seharian. Bagaimana kalau kita makan di restoran dulu yuk." Ucap Evano kembali tersenyum.
"Boleh sayang, asalkan sama kamu juga boleh kok sayang." Sahut Ayana langsung menurutinya.
Dan mereka berdua menuju restoran terdekat. Dan sesampainya, Ayana dan Evano langsung turun dari mobil.
Merekapun langsung masuk ke dalam restoran tersebut, dan duduk berhadapan.
"Pesanlah yang kamu mau sayang, biar menenangkan hati kamu juga." Ucap Evano mengelus tangan Ayana.
"Siap sayang. Pelayan." Panggil pelayan.
__ADS_1
Pelayan pun langsung datang. "Iya kak, ada yang bisa kami bantu. Mau pesan apa." Langsung memberikan menu yang ada di restoran tersebut.
Ayana dan Evano langsung melihat menu makanan dan minuman tersebut. "Aku pesan ramennya 1, kopi americano nya 1." Pesan Ayana.
"Saya samakan saja dengan istri saya mbak." Ucap Evano juga langsung tersenyum.
"Baik kak, kalau begitu ditunggu sebentar." Ucap pelayan tersebut, langsung menyiapkan makanan untuk Ayana dan Evano.
"Bagaimana dengan pikiran kamu sayang, apa kamu sudah mulai mengingat masa lalu kamu dulu?." Tanya Evano kepadanya.
"Sudah mulai membaik kok sayang. Aku sudah mulai mengingat sedikit sedikit, soal kebahagiaan kita dulu, saat bermain di taman hiburan. Aku ingat itu." Jawab Ayana tersenyum tipis.
"Syukurlah kalau kamu sudah mengingatnya sayang, aku sangat bahagia." Ujar Evano kembali mengelus tangan Ayana.
Makanan merekapun langsung datang. "Ini pesanannya." Ucap pelayan tersebut, langsung meletakkan ramen dan minumannya diatas meja mereka.
"Terima kasih banyak." Ujar Ayana tersenyum.
"Terima kasih banyak." Ucap Evano juga.
"Sama sama kak, kalau begitu saya permisi." Langsung menundukkan kepalanya, dan langsung meninggalkan mereka berdua.
Dan ia adalah Lia. Sontak Ayana melihat ke arah sumber suara, begitu pula dengan Evano.
"Halo Evano." Sapa Lia langsung duduk disamping Evano.
"Lia, kenapa kamu ada disini?." Tanya Evano jadi cemas dengan Ayana, karena ada Lia disini.
"Tadi aku mau makan disini juga, dan kebetulan aku melihat kalian deh. Jadinya aku menghampiri kalian deh." Jawab Lia tersenyum dan memulai aktingnya.
"Gapapa kan Ayana, kalau aku makan bersama kalian?." Tanya Lia langsung menatap wajah Ayana.
"Tidak apa apa kok." Jawab Ayana tersenyum paksa, langsung memakan ramennya dengan hati hati.
"Kelihatannya Ayana marah kepadaku. Apa yang harus aku lakukan, aku tidak bisa melakukan apapun." Ucap batin Evano melirik Ayana yang fokus dengan makanannya.
Tiba tiba ada yang datang juga ke restoran, dan ia adalah Jae bersama Cuky.
__ADS_1
"Hai Ayana." Sapa Jae langsung menghampiri mereka.
Sontak Ayana langsung melihatnya, dan Evano juga melihatnya. "Eh, Jae. Kenapa kamu ada disini juga?." Tanyanya.
"Kami mau makan berdua, karena Cuky lagi kepengen makan ramen katanya. Yakan Cuky." Jawab Jae yang menggendong Cuky.
"Iya ayah. Halo tante." Jawabnya sekaligus menyapa Ayana.
"Halo juga sayang. Kamu pengen makan ramen juga ya, kalau begitu, mari tante temani disana. Yuk kita pindah meja." Ucap Ayana langsung pindah meja, sambil memegang ramen dan minumannya.
"Ayana." Panggil Evano menahannya.
Sontak Ayana langsung berbalik badan. "Ehm." Ucapnya.
"Apa kamu tidak mau menemaniku?." Tanya Evano.
"Kan sudah ada selingkuhan kamu itu, dengan dia saja kamu mengobrol. Aku mau mengobrol dengan Cuky saja. Yuk sayang." Jawab Ayana langsung menjauh dari meja Evano, bersama Jae dan Cuky.
"Sudahlah Evano, dengan begini, kan misi kita berhasil. Dan dengan begitu, kalian bisa cepat cerai, dan Ayana akan hidup bahagia." Ucap Lia menenangkannya.
"Baiklah." Pasrah Evano, hanya bisa menundukkan kepalanya, dan kembali mengunyah makanannya.
Disisi lain, Ayana, Jae dan Cuky langsung duduk. "Kalian pesanlah makanan kalian, aku akan menunggunya." Ucap Ayana tersenyum.
"Apa kamu meninggalkan suami kamu disana. Kenapa kamu meninggalkannya?." Tanya Jae langsung meletakkan Cuky disampingnya.
"Apa kamu sudah tahu kalau dia itu selingkuhan Evano?." Tanya Jae kembali.
"Tentu saja aku tahu, dan biarkan saja lah. Kalau memang takdir mau bagaimana." Jawab Ayana bersikap cuek, padahal matanya sudah berkaca kaca.
"Kamu jangan sok cuek begitu. Mata kamu tidak bisa bohong." Ucap Jae yang peka terhadap Ayana.
Ayana pun langsung menangis, dan kebetulan ia membelakangi meja Evano yang cukup jauh, dari meja mereka. "Kan sudah aku katakan, kalau kamu tidak akan kuat. Tapi kamu harus tegar menjalani semua ini." Ucap Jae memberikan tisu yang ia sediakan dikantung celananya.
"Terima kasih banyak Jae." Ucap Ayana langsung mengusap air matanya, dengan tisu yang diberikan oleh Jae.
"Kenapa tante menangis. Apa yang telah ayah lakukan kepada tante, sampai tante menangis. Cepat ayah minta maaf." Kesal Cuky, karena ia kira kalau Jae yang membuat Ayana menangis.
__ADS_1
"Iya deh, kalau begitu aku