
Ibu mertuanya pun langsung masuk, dan Ayana, Evano saling tatapan. "Ma, mari antarkan Kayra ke sekolah sekarang." Ucap Kayra kepada Ayana.
Sontak Ayana langsung menatapnya. "Eh, iya sayang. Yuk kita langsung berangkat aja." Ucap Ayana, dan mereka langsung pergi bersama sama.
Di perjalanan. "Kapan mama dan papa akan berpisah?." Tanya Kayra menatap mereka berdua dari belakang.
"Kenapa kamu tiba tiba bertanya hal itu sayang?." Tanya Evano sambil tersenyum.
"Aku dengar tadi, ucapan nenek. Apa mama dan papa akan benar benar berpisah. Apa kita tidak bisa seperti dulu lagi." Jawab Kayra sekaligus bertanya.
"Mama dan papa tidak berpisah sayang, hanya saja beda rumah. Karena papa kamu mau bersama teman perempuannya, dan papa kamu harus fokus untuk menjaga nenek, karena nenek hanya membutuhkan papa kamu sayang, bukan mama." Jawab Ayana mengelus pipi Kayra.
"Baiklah ma, kalau memang begitu. Kedepannya kita akan bersama sama kan?." Tanyanya kembali.
"Iya sayang, tentu saja. Tapi harus berjaga jarak, karena papa sangat fokus dengan pekerjaannya." Ucap Ayana mencium kening Kayra.
"Baiklah ma." Ujar Kayra kembali tersenyum sambil memainkan kakinya.
"Apa kami benar benar hanya sebatas teman saja nanti. Apa aku tidak bisa lagi melihat Ayana yang sedang membuatkan sarapan untukku. Aku akan merindukan hal hal itu." Ucap batin Evano hanya bisa pasrah dan menahan tangisannya.
Sesampai sekolah Kayra. Mereka berdua langsung turun dari mobil. "Terima kasih banyak ma, pa. Karena sudah mau mengantarkan Kayra ke sekolah. Kayra sangat bahagia." Bahagia Kayra langsung memeluk Evano dan Ayana.
"Sama sama sayang. Kalau begitu, kamu harus rajin belajar, biar kamu jadi orang yang sukses kedepannya." Ucap Evano mengelus rambutnya.
"Siap papa, kalau begitu Kayra masuk dulu." Melambaikan tangannya, dan langsung masuk ke dalam kelasnya.
Ayana dan Evano pun ikut melambaikan tangannya. Dan saat Ayana dan Evano mau masuk ke dalam, tiba tiba ada yang memanggil Ayana.
Dan ia adalah Jae. Sontak Ayana langsung berbalik badan. "Eh, Jae. Tumben banget jam segini baru mengantarkan Cuky?." Tanyanya langsung tersenyum, dan ada Evano disampingnya.
"Biasa, ada urusan pribadi yang harus dikerjakan secepatnya. Jadinya begini deh, kamu masuk sana Cuky." Jawab Jae sambil menyuruh Cuky masuk.
"Baik ayah, kalau begitu aku masuk dulu. Dan sampai jumpa tante." Melambaikan tangannya dengan bahagia, dan langsung masuk ke dalam kelasnya juga.
"Halo pak Evano, tumben banget kalian bersama?." Ucap Jae sambil tersenyum.
"Saya ada waktu luang saja, jadi sekalian mau mengantarkan anak saya ke sekolah. Dan kami juga mau jalan jalan nanti, makanya itu saya ada waktu luang." Jawab Evano ikut tersenyum.
"Saya kira apa. Oh ya Ayana, bagaimana dengan kondisimu sekarang, apa kau sudah mulai membaik?." Tanyanya sambil menatap wajah Ayana.
"Aku sudah mulai membaik kok. Kalau begitu, kami duluan ya Evano. Karena ada hal yang harus kami selesaikan." Jawab Ayana.
"Baiklah, dan hati hatilah kalian berdua." Melambaikan tangannya, dan Ayana, Evano, langsung masuk ke dalam mobil. Dan mereka langsung meninggalkan Jae sendirian.
Sore pun tiba, dimana tiba harinya Evano dan Ayana akan bercerai. Dan mereka sudah bersiap siap untuk pergi ke pengadilan, dan saat Ayana mau mengajak Kayra. Ternyata Kayra sedang tidur, jadinya mereka hanya pergi bertiga saja.
__ADS_1
Merekapun langsung berangkat menuju pengadilan, yang cukup jauh dari rumah mereka. Setelah 1 Jam, merekapun baru sampai di pengadilan. Dan mereka langsung turun bersama.
"Akhirnya sampai juga di hari yang bahagia ini." Ucap Christina bahagia, karena Evano dan Ayana akan bercerai.
Merekapun langsung masuk ke dalam kantor pengadilan, untuk mengurus hak asuh anak. Di dalam, Evano dan Ayana langsung duduk dihadapan hakim, dan mereka saling bertatapan dan tersenyum sesama. Sedangkan Christina duduk di belakang mereka.
Dan hak perceraian pun langsung berlangsung. Hingga 3 jam pun berlalu, dimana perceraian sudah berakhir.
"Evano dan Ayana, sudah resmi bercerai. Dan hak asuh anak, jatuh kepada Ayana." Ucap pak hakim memukul palu tersebut.
Selepas itu, mereka bertiga langsung keluar dari kantor pengadilan. "Akhirnya kalian bercerai juga, kalau begitu ibu akan menunggu dimobil, selagi kalian mengobrol. Karena ini adalah hari terakhir kalian. Hahahah." Tertawa Christina langsung masuk ke mobilnya.
"Akhirnya kita bercerai juga ya Ayana. Sekarang kamu tidak lagi disiksa oleh ibuku. Kamu bisa kembali ke kebahagiaan mu sekarang, tanpa diriku. Aku cukup lega." Ucap Evano kembali tersenyum, sambil meletakkan tangannya di kantung celananya.
"Aku juga bersyukur, karena kamu juga akan menikah dengan wanita yang kamu cintai. Kamu bisa menjenguk Kayra kapanpun yang kamu mau. Aku tidak akan menghalangi kamu." Ucap Ayana ikut tersenyum.
"Semoga pernikahan kamu dengan Lia berjalan dengan baik ya." Tersenyum kembali Ayana.
"Terima kasih banyak." Kembali tersenyum Evano.
"Padahal semua itu hanya kebohongan Ayana. Agar kamu bisa menjauh dari nerakaku." Ucap batin Evano.
"Oh ya Ayana, aku ada surat untuk kamu dan Kayra. Tapi jangan dibuka sekarang, saat kamu di rumah ibu, baru kamu buka surat ini. Kamu mengerti kan." Ucap Evano langsung memberikannya sebuah kontak.
"Surat apa ini?." Tanya Ayana mengambilnya, dan menatap Evano.
"Padahal aku ingin terus berada disisi kamu Evano. Tapi takdir benar benar tidak mau menyatukan kita. Pada akhirnya semesta berbicara bahwa kita memang tak seharusnya bersama. Terima kasih pernah datang membantuku mengukir cerita dan rasa." Ucap batin Ayana langsung meneteskan air matanya, sambil memegang kotak surat tersebut.
Ayana pun langsung kembali pulang ke rumah ibunya, bersama Kayra. Di rumah ibunya, ia langsung masuk ke dalam dan memeluk ibunya.
"Katanya kamu susah bercerai dari Evano ya. Syukurlah kalau kalian akhirnya berpisah sayang. Ibu sudah tahu, kalau kamu tidak bahagia disana. Kalau begitu kamu istirahat dulu atau gak, atau kamu antarkan anak kamu. Kelihatannya dia lelah." Ucap ibunya memegang kedua tangan Ayana.
"Baik bu, kalau begitu mari kita ke kamar kamu sayang. Mama antarkan." Ucap Kayra menggandeng tangan Kayra.
"Baik ma, aku sudah mengantuk banget soalnya." Ucap Kayra nurut, dan mereka langsung ke kamar bersama Ayana.
Setelah Ayana mengantarkan Kayra ke kamarnya, dan menidurkannya, dengan tenang. Ayana pun langsung turun ke bawah dan duduk di sofa, di depan televisi.
"Sayang, kenapa kamu tidak istirahat juga. Kamu pasti lelah kan." Ucap ibunya.
"Tapi aku belum mengantuk bu. Ibu duluan saja tidur bu. Lagian aku disini juga tidak apa apa kok bu. Aku lagi mau menenangkan diriku bu." Ucap Ayana mengelus tangan ibunya.
"Baiklah sayang, kalau kamu kelelahan, langsung tidur saja ya nak. Ibu tidur duluan sayang." Ucap ibunya kembali, langsung masuk ke kamarnya dan meninggalkan Ayana di ruang tamu.
Ayana pun langsung menonton televisi, untuk melihat berita terkini. "Ehm, bagaimana dengan Evano sekarang ya. Pasti Evano sedang menyiapkan pernikahannya bersama dengan Lia itu." Tersenyum Ayana, langsung fokus melihat televisi.
__ADS_1
"Berita terkini, telah terjadi kecelakaan yang menewaskan dua orang, yaitu, 1 pria dan 1 wanita tua, yang dikatakan adalah ibu dari korban laki laki tersebut." Ucap reporter yang ada di lokasi tersebut.
"Kasihan banget sih mereka, aku jadi penasaran siapa mereka berdua. Kasihan banget pasti keluarganya." Ucap Ayana belum mengetahuinya.
"Berdasarkan laporan dari pihak kepolisian. Mereka menuju arah pulang. Dan berdasarkan KTP yang kami periksa, nama salah satu pria ini adalah Evano." Ucap kembali reporter tersebut.
Sontak Ayana yang sedang mengambil kotak surat pemberian Evano, langsung terhenti, dan langsung menatap televisi dengan fokus.
"Evano, kenapa Evano. Gak mungkin dia, itu pasti namanya saja yang sama. Gak mungkin Evano kecelakaan." Ucap Ayana kembali tersenyum.
"Diduga laki laki yang bernama Evano ini, sedang melamun, hingga menabrak sebuah truk besar. Dan merekapun langsung menabraknya, hingga terjadi kecelakaan tersebut. Dan diduga korban meninggal dunia. Kini korban di bawa ke rumah sakit Flower. Bagi yang mengenalnya mohon untuk datang ke rumah sakit." Ucap kembali reporter tersebut dengan jelas.
"Gak mungkin, gak mungkin mereka. Tapi apa salahnya jika aku melihat ke sana. Aku harus melihatnya secara langsung, dan kalau dugaanku benar. Bahwa itu bukan Evano." Ucap Ayana mengambil tasnya, dan memasukkan kotak surat tersebut ditasnya dan langsung keluar dari rumah. Dan menaiki taxi untuk ke rumah sakit tersebut.
Sesampainya, Ayana pun langsung masuk ke dalam rumah sakit. Dan bertanya kepada pihak rumah sakit. "Permisi kak, disini saya mau tanya. Apa korban kecelakaan yang bernama Evano itu benar sedang ada di rumah sakit ini?." Tanya Ayana.
"Benar kak, apa anda walinya?." Jawabnya sekaligus bertanya.
"Saya bukan walinya, saya hanya dekat saja. Dimana mereka sekarang?." Jawabnya kembali bertanya dan berbohong, agar Ayana bisa masuk.
"Mereka sudah ada di ruang mayat kak. Mereka sudah tidak bisa diselamatkan lagi, karena ada pemecahan dibagian otaknya dan mereka terlempar beberapa km dari lokasi tersebut." Jawab suster tersebut.
"Bisa tunjukkan saja ruang mayat nya, saya mau melihatnya." Ucap Ayana sedikit cemas.
"Baik kak, mari." Suster pun langsung menunjukkan ruang mayat, dan Ayana mengikutinya dari belakang.
Sesampainya, merekapun langsung masuk ke dalam, dan mayat tersebut sudah ditutupi kain putih hingga wajahnya.
"Kalau begitu, saya tinggal dulu ya kak, karena masih ada yang harus diurus." Ucap suster tersebut, menundukkan kepalanya dan langsung meninggalkan Ayana.
Ayana pun langsung menghampiri dua mayat yang berdampingan. "Ini bukan Evano. Ini bukan Evano, ini hanya namanya saja yang sama. Tidak mungkin dia secepat ini meninggalkanku." Ucap Ayana menutup kedua matanya, sambil membuka kain yang menutupi wajah mayat tersebut.
Saat Ayana sudah membukakan kain tersebut, ia langsung membuka matanya. Dan betapa terkejutnya ia, karena mayat tersebut benar benar Evano, suaminya.
"Evano, ini Evano suamiku. Tidak mungkin dia meninggal sekarang. Kamu masih hidup kan Evano, gak mungkin. Gak mungkin." Teriak Ayana memegang pipi Evano dengan lembut.
"Tidak mungkin disamping Evano itu ibu. Tidak mungkin." Ayana pun langsung membukakan kain milik korban satunya lagi, dan saat dibuka, ia adalah ibu mertuanya.
Sontak air matanya terus membasahi pipinya. "Tidak mungkin, kenapa kalian meninggalkanku secepat ini. Gak mungkin." Tangis pecah Ayana di ruang mayat tersebut.
"Sayang, kamu bangun dong. Kamu bilang kamu akan sering menjenguk anak kita, kenapa kamu mengingkari ucapan kamu. Kamu jahat, jahat kamu." Ucap Evano menangis didada Evano dan membasahi pakaiannya.
"Oh ya, kotak surat yang diberikan oleh Evano. Aku harus melihatnya." Ucap Ayana langsung mengambil kotak surat yang ada ditasnya.
Ayana pun langsung membuka kotak surat tersebut, dan terdapatnya surat didalamnya. Ayana mengusap air matanya, dan membuka isi surat tersebut.
__ADS_1
Ayana pun mulai membacanya.
Isi surat tersebut: