Marriage Is Not Beautiful

Marriage Is Not Beautiful
Episode 102: Cerai


__ADS_3

"Aku sangat membencimu, karena dulu aku salah memilih menantu. Kenapa aku memilihmu, yang tidak pandai menghias dirinya sendiri, dan hanya bisa mempermalukan dirinya sendiri. Aku kira, setelah kau melahirkan, kau akan cantik saja, tapi malah jelek dan kotor. Sungguh menjijikkan, aku benci kau. Aku katakan, bahwa aku benci kau!." Jawab ibunya dengan tegas, didepan wajah Ayana.


"Sudahlah, dan ini hanya hukuman kecil untukmu saja. Semoga kedepannya kau lebih suka dengan hadiah yang aku berikan kepadamu. Bay." Ucap ibu mertuanya langsung pergi meninggalkan Ayana.


Ayana pun langsung mengepalkan kedua tangannya dan menangis dengan deras. "Aku selalu aja mendapatkan balasan yang menyakitkan hatiku. Aku sudah tidak tahan lagi, aku harus mendengarkan pendapat dari Jae.


"Ini demi masa depan anakku, dan dengan begitu, aku bisa tenang semasa hidupku, tanpa hinaan dari ibu mertuaku." Ucap batin Ayana menangis dengan deras, dan tiba tiba saja hujan turun, dan Ayana tidak berteduh. Ia malah berdiri ditengah tengah, sambil menangis ditengah hujan yang deras.


"Hujan tahu tentang tangisanku, dan langit tahu tentang perasaanku. Maka sebab itu hujan turun dan memberikan ketenangan kepadaku, karena mereka tahu tentang apa yang aku rasakan di dunia." Ucap Ayana marah kepada dirinya sendiri, dan terus memukul dirinya sendiri, sambil meneteskan air matanya.


Tiba tiba saja ada yang meneduhkan dirinya dengan payung, dan sontak Ayana langsung menatap ke atas, dan ia adalah Evano.


"Evano." Ucap Ayana dengan wajah yang penuh dengan air mata.


"Sayang, kenapa kamu ada disini. Kamu akan demam kan." Ucap Evano langsung memeluknya, dan membuang payung tersebut, agar dia bisa basah juga bersama Ayana.


Ayana hanya diam saja, dan Evano langsung menggendong Ayana, dan masuk kedalam mobil. Didalam mobil, Evano langsung memberikan selimut yang tersedia dimobilnya, dan langsung meletakannya ditubuh Ayana.


"Kenapa kamu bisa begini sih sayang, sampai hujan hujanan begini?." Tanya Evano cemas kepadanya.


"Evano, aku mau cerai." Ucap Ayana yang gemetaran kedinginan, langsung menatap wajah Evano.


Sontak Evano kaget, dan langsung menatap wajah Ayana. "Apa yang kamu katakan?." Tanya Evano.


"Aku mau kita cerai." Jawab Ayana kembali meneteskan air matanya.


"Kita pulang dulu ya, dan kamu harus cepat ganti pakaian, sebelum kamu demam." Ucap Evano tidak menjawab perkataan Ayana, dan langsung menggas mobilnya.

__ADS_1


Sesampai rumah, Ayana pun langsung digendong oleh Evano, untuk masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah, Evano pun langsung mengantarkan Ayana ke kamarnya. Dan di kamar, Evano pun langsung meletakan Ayana di kursi.


"Kamu ganti pakaian dulu ya sayang, dan aku akan menyiapkan obat untuk kamu." Ucap Evano langsung keluar dari kamar Ayana dan langsung membuatkan makanan hangat untuknya.


Disisi lain, Ayana kembali meneteskan air matanya. "Kenapa Evano tidak mendengarkan perkataanku tadi. Tapi tunggu saja deh, aku harus mandi dulu, dan mengganti pakaianku." Ucapnya langsung ke kamar mandi.


Dan selesai mandi, Ayana pun langsung mengenakan pakaian tidur, dan langsung berbaring di tempat tidur.


Evano pun langsung masuk ke dalam kamar Ayana. "Kamu sudah mandi kan sayang?." Tanya Evano yang sedang membawa semangkuk sup dan obat yang sudah ia siapkan.


"Sudah kok sayang." Ucap Ayana langsung duduk.


"Aku akan menyuapi kamu dulu ya sayang," ucap Evano menghembus sup tersebut, dan langsung menyuapinya ke mulut Ayana.


"Aku seperti ini karena ibumu Evano, ini semua karena dia. Dia mefitnah diriku, kalau aku menaruh kecoa diatas makanan disalah satu pelanggan, dan ia menyewa pelanggan itu, untuk menaruh kecoa diatas makanan tersebut." Jawab Ayana marah dan mengeluarkan air matanya.


"Apa, kenapa bisa ibu sejahat itu sayang. Itu gak mungkin ibu yang melakukannya." Ucap Evano masih tidak percaya.


"Kalau kamu tidak percaya yaudah, aku tidak menyuruh kamu untuk percaya denganku. Aku mau kita cerai, karena aku lelah dengan semua ini." Ucap Ayana dan air matanya terus jatuh ke pipinya.


"Kenapa dengan mudah kamu mau cerai denganku?." Tanya Evano langsung memegang kedua tangan Ayana.


"Aku sudah lelah dengan semua ini, aku selalu mengalah untuk tidak melawan ibu kamu. Aku juga sering mendapatkan perlakuan yang tidak bagus dari ibu kamu, kamu lihat ini, kamu lihat." Jawab Ayana menunjukkan luka tubuhnya, termasuk luka yang ada ditangan, kepala, leher, dan kaki.


Sontak Evano melihat semua luka yang ada ditubuh Ayana. "Ini semua perlakuan ini kamu, dan aku hanya bisa diam, karena ibu kamu mengancam aku akan melakukan hal buruk kepada anak kita. Maka sebab itu aku memilih diam, kamu tahu itu." Ucap Ayana menjelaskannya sambil menangis dengan deras, dan air matanya terus jatuh ke tangan Evano dan membasahi pipinya.

__ADS_1


Sontak Evano hanya bisa terdiam, dan menundukkan kepalanya. "Maafkan aku, maafkan aku. Maafkan karena tidak mengerti perasaanmu, kamu bisa tampar aku. Tampar aku, tampar." Ucap Evano ikut menangis, karena penderitaan yang dialami oleh Ayana selama ini, dan Evano mengambil tangan Ayana dan menampar pipinya dengan keras.


"Sudah, sudah. Jangan menyalahkan dirimu, karena ini juga bukan salahmu, ini semua salah takdir, yang menemukan kita dan menjadikan kita keluarga. Aku hanya mau kita cerai, agar kehidupan Kayra tidak hancur seperti keluarga kita ini. Hanya itu saja, dan kamu harus memikirkan anak kamu. Kamu tahu itu kan, Kayra masih kecil dan butuh kasih sayang."


"Aku tidak mau dia trauma nanti dengan menikah, karena melihat kita terus bertengkar. Maka sebab itu, aku mau kita sampai disini saja." Ucap Ayana kembali, dan air matanya sudah tidak bisa dihentikan.


"Baiklah jika itu yang kamu inginkan. Aku akan mengurus surat perceraiannya, dan kita akan ke pengadilan untuk mengurus hak asuh Kayra. Tapi sebelum itu, apa kita bisa makan bersama besok, agar melepas kerinduan kita nanti?." Tanya Evano.


"Baiklah, aku akan ikut makan bersamamu." Jawab Ayana kembali tersenyum.


"Baguslah, kalau begitu, kamu jangan menangis lagi, dan tidurlah dengan nyenyak, juga jangan banyak pikiran." Ucap Evano setuju, dan langsung keluar dari kamar Ayana, sambil membawa mangkuk bubur yang sudah habis.


Setelah Evano keluar dari kamarnya. "Akhirnya aku keluar dari semua kesengsaraan ini. Tapi aku kasihan kepada Evano, padahal ini bukan kesalahannya. Tapi dia harus menampung semua kesalahan ibunya. Semoga dia mendapatkan wanita yang lebih baik dariku." Ucap Ayana lega, dan menghela nafas panjang.


Disisi lain, di kamar Evano. "Aku bahagia melihat Ayana kembali tersenyum, karena kami akan cerai. Dia sudah bebas dari nerakaku, dan dia akan menuju kebahagiaan yang ada didepan matanya. Syukurlah kamu bahagia sayang." Ucap batin Evano sambil meneteskan air matanya.


Keesokannya siangnya, dimana Evano, Ayana, dan Kayra akan makan siang di luar, dan kebetulan juga sedang hari libur. Jadi mereka bisa menghabiskan waktu bersama.


Sekarang mereka menuju restoran yang sering mereka datangi. Sesampai restoran, merekapun langsung turun bersama.


"Ma, pa, kenapa kita makan siang bersama. Tumben banget?." Tanya Kayra yang menggandeng tangan Evano dan Ayana.


"Kebetulan mama dan papa ada waktu libur sayang, jadinya mama inisiatif untuk makan bareng bareng. Tapi kamu suka kan sayang." Jawab Ayana sambil tersenyum.


"Tentu saja Kayra bahagia, karena bisa makan bersama dengan mama dan papa tersayang." Jawab Kayra ikut bahagia.


Merekapun langsung duduk di dalam restoran, dan memesan makanan dan minuman bersama. "Pesanlah yang kalian mau sepuasnya," ucap Evano ikut tersenyum.

__ADS_1


Setelah mereka memesan makanan dan minuman, Ayana dan Evano hanya diam, dan Kayra menatap wajah mereka berdua. "Apa mama dan papa sedang bertengkar?." Tanya Kayra langsung menatap wajah Ayana dan Evano.


__ADS_2