
Tiba tiba Evano menghampirinya." Sayang, kenapa kamu ada disini?." Tanya Evano langsung duduk di sampingnya.
"Eh, aku gapapa kok sayang. Hanya mau melihat lihat saja, dan ternyata sangat bagus ya sayang." Jawab Ayana sontak kaget dengan Evano yang muncul.
"Kenapa kamu jalan jalan terus sih sayang. Kamu ini kan masih dalam tahap pemulihan. Kamu jangan terlalu banyak bergerak gitu dong. Mari duduk kembali." Ucap Evano yang masih cemas dengan Ayana, dan langsung menuntun Ayana kembali.
Di ruang tamu. Evano langsung membantu Ayana duduk." Terima kasih banyak sayang." Ucap Ayana kembali menatapnya, dan Evano duduk di sampingnya.
"Dimana Kayra?." Tanyanya kepada Evano.
"Masih di Sekolah sayang. Ini aku mau menjemputnya. Kamu mau ikut, atau mau disini saja." Jawabnya sekaligus bertanya.
"Aku disini dulu deh. Aku juga lelah, mau tidur di kamar dulu. Boleh kamu tunjukkan dimana kamar aku." Jawab Ayana.
"Baiklah sayang. Kalau begitu, mari aku antarkan kamu ke kamar." Ucap Evano kembali mendirikan Ayana dan menuntunnya ke kamarnya.
Di kamar Ayana." Ini kamar kamu sayang. Dan semoga, ini membantu kamu untuk mengingat semuanya. Kalau begitu, aku jemput anak kita dulu ya sayang. Dan baik baiklah disini. Aku pergi." Ucap Evano langsung mencium kening Ayana dan pergi menjemput Kayra.
"Dah sayang." Melambaikan tangannya.
__ADS_1
Setelah Evano pergi. Ayana langsung menutup pintu kamarnya, dan duduk di tempat tidurnya. Ia melihat lihat di sekitaran kamarnya. Dan tiba tiba saja, ingatannya kembali lagi.
“Katakan dimana uang itu. Atau aku akan melakukan sesuatu yang membuat mu sakit.” Ucap ibu mertuanya berbisik tepat di samping telinga Ayana.
“Aku tidak ada diberi uang bu, aku hanya berbicara tentang anak kami saja.” Jawab gugup Ayana kepada ibu mertuanya.
“Katakan, atau aku akan melakukan sesuatu yang mengerikan kepada mu." Tatapan tajam ingin membunuh.
Ayana kembali melihat bayang bayang yang ada di pikirannya, dan terus masuk ke pikirannya. Ia kembali mengingat sesuatu lagi.
“Ini uang apa, dasar gadis bodoh.” Memukul wajah Ayana dengan uang yang di temukan ibu mertuanya di bawah bantal.
“Diam kau, kau akan mendapatkan hukuman hari ini, karena suami mu sudah berpesan tadi, kalau dia akan dinas lagi besok, jadi aku bisa memberimu pelajaran hari ini sepuas ku. Mari kita mulai.” Senyum jahat memulai aksi jahatnya.
"Argh, sakit banget kepalaku." Ucap Ayana kesakitan dan langsung mengerutkan keningnya.
Ingatan itu terus masuk ke pikirannya. Dan sampai dimana, Ayana mengingat jelas, suatu tempat yang ia selalu di siksa. Yaitu di Gudang.
"Eh, kenapa dengan tempat itu. Aku harus memeriksanya." Ucap Ayana langsung memeriksa tempat tersebut, yang ada di dalam ingatannya, dimana ia di seret ke suatu tempat.
__ADS_1
"Aku harus melihat tempat itu. Entah kenapa, tempat itu selalu ada di pikiranku sekarang." Ucap Ayana langsung berdiri dan melihat tempat yang ada di pikirannya.
Sesampai gudang, yang ada di dalam ingatannya. Tiba tiba kepalanya kembali pusing hebat, dan mengingat sesuatu kembali.
"Ampun bu, ampun." Tangis Ayana memohon ampun.
"Diam kau, aku sudah menyiapkan hukuman yang cocok untukmu. Kau diamlah, atau aku akan menambah hukuman nya." Jawab ibu mertuanya mengambil tali pinggang.
"Hikss, hikss, am, ampun bu." Gemetaran Ayana dan terus memohon ampun.
"Kenapa ibu melakukan semua ini kepada ku, kenapa ibu memilihku sebagai menantu ibu. Kalau ujung ujung ya aku akan di siksa di keluarga ibu. Hiksss, Hikss." Tanya Ayana menatap nya dengan tatapan ketakutan.
"Aku menyesal memilih mu karena setelah menikah kau jadi jelek dan tak mau berdandan. Kau lihat dirimu, kau sudah tidak cantik dan bahkan aku sudah jijik melihatmu begini." Jawab ibu mertuanya memasang ekspresi jijik kepadanya.
"Ibu yang selalu melarang ku saat aku mau berdandan. Ibu bilang nanti aku menggoda pria jika berdandan, tapi kenapa ibu malah menyalahkan ku. Aku tidak salah bu, hikss, Hikss." Ucap ayana menangis deras di hadapannya dan terduduk di bawah.
"Diam kau, beraninya kau menyalahkan ku. Aku selalu benar dan tak pernah salah. Jangan coba coba menyalahkan ku menantu sampah." Ucapnya langsung mencabuk punggung Ayana.
"Arghh, sakit bu, am, ampun bu." Ketakutan dan di tambah dengan kesakitan yang menyatu di dalam dirinya.
__ADS_1
Saat Ayana kesakitan. Tiba tiba ada yang mengetuk pintu rumah, dan ia adalah