Marriage Is Not Beautiful

Marriage Is Not Beautiful
Episode 59: Menginap


__ADS_3

"Kamu kenapa sayang?." Tanya Evano.


"Eh, aku gapapa kok. Aku hanya butuh istirahat saja. Tapi, siapa yang akan merapikan pakaian untuk kembali ke rumah." Ucapnya.


"Kan ada aku sayang. Biar aku saja yang berkemas. Kalau kamu mau istirahat, istirahat lah. Aku akan menemani kamu disini." Jawab Evano mengelus rambutnya.


"Baiklah, dan terima kasih banyak sayang." Ucap Ayana langsung berbaring dan menutup kedua matanya.


"Aku harus membereskan pakaian Ayana, agar segera pulang ke rumah. Walau aku sebenarnya gak bersedia Ayana pulang ke rumah. Karena akan membuatnya semakin sakit disana."


"Tapi mau bagaimana lagi. Aku tidak boleh membuat hati Ayana semakin sakit. Aku harus menuruti semuanya, demi kebahagiaan Istriku." Ucap batin Evano langsung membereskan pakaian Ayana.


Malam pun tiba. Dimana Evano membangunkan Ayana." Sayang, sayang. Bangunlah, apa kamu tidak mau pulang?." Tanyanya sambil membangunkannya dengan nada lembut.


"Ehm," Membuka matanya perlahan-lahan, dan mengusapnya.


"Apa ini sudah malam?." Tanya balik.


"Sudah sayang. Katanya mau pulang, tapi kalau kamu masih kelelahan. Kita bisa disini sehari lagi kok. Kalau kamu mau, bagaimana." Jawabnya sambil menaikkan alisnya.


"Aku mau hari ini aja deh. Aku sudah merindukan rumah kita. Dan aku sangat penasaran." Jawabnya langsung bahagia.


"Baiklah, kalau kamu maunya begitu. Mari aku tuntun kamu." Langsung berdiri dan menuntun Ayana dengan tongkat, karena Ayana sudah cukup sehat.


"Kenapa harus pakai tongkat sih. Sebenarnya aku sudah sehat kok. Aku merasa tidak nyaman mengenakan ini." Ucap Ayana.


"Gapapa dong sayang. Biar kamu makin cepat sembuh, dan kaki kamu kan masih sakit." Ucap Evano menuntunnya menuju keluar Rumah Sakit, dan ia menyandang tas besar, tempat pakaian Ayana.


"Kaki ku sudah tidak sakit kok. Aku sudah sehat." Ucapnya tersenyum, agar bisa menutupi lukanya.


"Iya deh, istriku yang paling kuat. Tapi kamu harus tetap ikuti saran dokter. Kamu mengerti." Menaikkan alisnya.


"Mengerti sayang." Jawab Ayana kembali tersenyum dan langsung masuk kedalam mobil Evano.


Evano pun meletakkan tas pakaian Ayana, di bagasi. Setelah itu, merekapun langsung kembali ke rumah.


Di perjalanan." Aku sudah tidak sabar, untuk melihat rumahku seperti apa. Rasanya pasti sangat damai." Ucap batin Ayana senyum sendiri.


Evano meliriknya." Dia kelihatannya sangat bahagia kalau mau pulang. Dia tidak tahu, bahwa setiap dia pulang, dia tidak pernah bahagia, dan tersenyum seperti itu. Aku jadi khawatir dengannya." Ucap batin Evano juga, dan memasang wajah kasihan kepada Ayana.

__ADS_1


"Oh ya sayang. Bagaimana kalau kita ke rumah ibu kamu dulu." Ucap Evano langsung memiliki ide, agar tidak kembali ke rumahnya dulu.


"Apa, ke rumah ibuku. Kenapa kamu tidak bercerita, kalau ibuku masih hidup." Ucap Ayana langsung menatapnya.


"Aku lupa mengatakannya kepada kamu sayang. Karena aku sibuk menjaga dan sibuk mengerjakan pekerjaan Perusahaan sayang." Jawabnya dengan tersenyum.


"Baiklah. Kalau begitu, aku mau pulang ke rumah ibuku dulu deh. Apa boleh sayang." Meminta izin.


"Boleh banget sayang. Kalau boleh pun, kita menginap di rumah ibu dulu." Jawab Evano mengelus rambut Ayana dengan tangan kirinya.


"Terima kasih banyak sayang. Aku jadi sangat bersemangat, mau bertemu dengan ibuku." Bahagia kembali Ayana, dan sudah tidak sabar.


"Baguslah, akhirnya rencanaku berhasil juga. Walaupun hanya menginap sehari saja. Semoga Ayana betah, dan mau tinggal di rumah mertuaku dulu." Ucap batin Evano langsung mengubah arah, menuju rumah ibu Ayana.


Sesampai rumah ibu Ayana. Evano pun langsung menuntun Ayana, dengan tongkatnya." Pelan pelan ya sayang, dan hati hati." Ucap Evano menuntunnya dengan sangat hati hati.


"Terima kasih banyak." Tersenyum bahagia kepada Evano.


"Omong omong, dimana Kayra?." Tanyanya langsung mengingat Kayra.


"Kayra sudah tidur di rumah sayang, dan aku akan tidur di rumah ibu nanti. Kamu akan tidur disini. Dan aku akan menemani Kayra. Tidak apa apa kan sayang." Jawabnya.


Sesampai di depan pintu rumah ibunya. Evano pun langsung mengetuk pintu." Bu." Panggil Evano sambil mengetuk.


Pintu pun langsung terbuka." Eh, kalian. Dari mana, dan kenapa malam malam begini mampir. Masuk, masuk." Ucap ibu Ayana sangat bahagia, langsung mempersilahkan mereka masuk.


"Terima kasih banyak bu." Langsung masuk kedalam dan Ayana di tuntun untuk duduk di sofa." Kamu duduk dulu ya sayang." Ucap Evano.


"Kaki kamu kenapa nak. Kenapa sampai pakai tongkat begini?." Tanya ibunya.


"Kamu ibuku kah?." Tanya Ayana untuk memastikannya.


"Iya nak. Tentu saja aku ini ibu kamu. Apa kamu melupakan ibu?." Jawabnya sekaligus bertanya.


"Bu, ada hal yang mau aku sampaikan pada ibu. Mari kita ke dapur dulu bu." Ucap Evano berbisik di telinga ibunya.


"Baiklah." Jawabnya ibu mertuanya langsung berkata dengan pelan.


"Sayang, aku dan ibu mau ke dapur dulu ya. Ada hal yang mau kami bicarakan. Boleh kan sayang." Meminta izin kepada Ayana.

__ADS_1


"Boleh kok. Pergilah, dan aku akan menunggu disini, sambil menonton televisi." Jawab Ayana menatapnya dan tersenyum.


Evano dan ibu mertuanya pun langsung menuju dapur. Di dapur." Ada hal apa nak, sampai harus mengajak ibu kemari?." Tanya ibu mertuanya penasaran.


"Begini bu. Sebenarnya beberapa hari yang lalu, Ayana kecelakaan dan dokter bilang, dia mengalami amnesia. Sebab itu, dia tidak mengingat apapun bu." Jawab Evano langsung terus terang.


"Apa!, kenapa dia bisa kecelakaan nak Evano. Bagaimana, dan kenapa kamu tidak menghubungi saya?." Tanya kembali ibu mertuanya langsung panik.


"Ayana bisa kecelakaan, karena waktu itu dia mau menolong Kayra yang hampir tertabrak mobil bu. Itu sebuah kecelakaan, dan tidak kesengajaan."


"Untung saja Ayana tidak mengalami luka yang parah, hanya saja dia amnesia bu. Dan dia butuh perawatan yang baik." Ucap Evano kembali dengan serius.


Disisi lain. Ayana melihat di sekitaran rumah tersebut, dan ia pun berjalan melihat meja meja yang ada, dengan tongkatnya. Seketika itu juga, Ayana mengingat kembali masa lalunya.


"Dia siapa nak?." Tanya ibunya langsung menatap wajah anak tersebut.


"Dia anakku bu, aku tidak pernah memberitahukan nya kepada ibu. Perkenalkan nama mu sayang." Jawab Ayana sambil tersenyum kepada Kayra.


"Halo nenek, nama saya Kayra nek." Jawab Kayra tersenyum bahagia.


Jongkok dan mengelus pipi Kayra." Wah, ternyata ini cucu nenek, sangat imut dan cantik, persis seperti ibunya." Tersenyum neneknya bahagia.


Kembali berdiri." Kalau begitu, kalian masuklah dan kita makan bersama." Ucap ibunya.


"Baik bu, yuk sayang kita masuk ke rumah nenek sekarang." Menggandeng tangan Kayra dan masuk ke rumah ibunya.


Didalam, mereka langsung duduk di sofa bersama." Kalian duduklah, akan ibu siapkan makanan nya." Ucap ibu Ayana mau menuju dapur.


Kembali ke Ayana. Ayana mengingat kejadian masa lalunya." Arghh, sakit banget." Langsung memegang kepalanya dan merasakan pusing kembali.


Kembali mengingat masa lalu itu.


Ayana menahan ibunya."Tidak usah bu, biar aku saja yang menyiapkan nya. Lagian aku sudah tidak pernah kembali lagi kesini bu, jadi biar aku saja yang menyiapkan nya. Dan Kayra, ajaklah nenek mengobrol ya sayang."Ucap Ayana langsung berdiri.


Memberikan jempol nya." Aman mama ku sayang, sini nek." Jawab Kayra.


"Argh, sakit banget ya tuhan. Kau harus menahannya Ayana, kau harus kuat." Ucap batin Ayana kembali mengingat masa masa lalunya dengan bayangan hitam yang ada di pikirannya.


Saat Ayana mau duduk, tiba tiba,

__ADS_1


__ADS_2