
Setelah mereka memesan makanan dan minuman, Ayana dan Evano hanya diam, dan Kayra menatap wajah mereka berdua. "Apa mama dan papa sedang bertengkar?." Tanya Kayra langsung menatap wajah Ayana dan Evano.
"Tidak kok sayang, mama dan papa sedang tidak ada topik. Makanya hanya diam saja deh." Jawab Ayana.
"Bohong, mending kalian mama dan papa jujur deh. Karena Kayra tidak suka kalau mama dan papa terus bohong kepada Kayra." Ucap Kayra yang tahu, kalau Ayana dan Evano sedang berbohong kepadanya.
"Baiklah anak mama, sebenarnya mama dan papa kamu mau bercerai sayang." Ucap Ayana langsung terus terang.
"Ayana, kamu jangan terus terang begitu kepada Kayra yang masih kecil." Ucap Evano kepada Ayana.
"Biarlah sayang, kalaupun kita bohong. Anak kita tahu, kalau kita sedang membohonginya. Lebih baik kita terus terang dengannya." Jawab Ayana kembali tersenyum.
"Apa itu cerai ma?." Tanya Kayra yang tidak tahu.
"Cerai itu semacam mama dan papa akan berpisah, dan tidak akan tinggal satu rumah lagi sayang. Tapi masih bisa berkomunikasi kok sayang, dan bisa saling ketemuan lagi." Jawab Ayana sambil mengelus rambut Kayra.
"Ouh, jadi mama dan papa mau berpisah, dan tidak tinggal satu rumah lagi?." Tanya Kayra memastikannya.
"Iya sayang. Gapapa kan sayang, kamu gak marah kan?." Tanya Ayana juga, sambil mengelus pipi Kayra.
"Gapapa kok ma, pa. Asalkan kalian bahagia kalau berpisah begini. Aku tidak apa apa kok ma, yang penting mama ada disamping aku. Itu udah cukup." Jawab Kayra memeluk Ayana.
Makanan merekapun tiba, dan pelayan tersebut langsung meletakkannya diatas meja. "Ini pesanannya, silahkan dinikmati."
"Terima kasih banyak mbak"
"Terima kasih banyak tante." Ucap Kayra juga langsung tersenyum.
"Sama sama, kalau begitu saya permisi." Menundukkan badannya, dan kembali ke dapur.
"Kalau begitu, kami makan sayang makanannya. Biar kamu kenyang sayang." Ucap Ayana kembali tersenyum.
__ADS_1
"Baik mama sayang, dan papa juga habisin makanan papa ya. Kan papa biasanya sangat rakus." Ujar Kayra langsung mengunyah makanannya.
"Aman sayang, tentu saja papa akan menghabisinya." Ucap Evano ikut tersenyum.
Saat mereka sedang menikmati makanan mereka. Tiba tiba saja ada yang menghampiri mereka berdua, dan mereka adalah teman arisan bu Christina.
"Halo nak Evano, eh ada kamu juga ternyata, pembantu di rumah bu Christina kan." Sapa salah satu teman bu Christina yang bernama bu Anggraini.
Ayana langsung menundukkan kepalanya, dan Evano melirik Ayana yang sedih, karena ia tidak dianggap sebagai istri Evano.
Evano pun langsung berdiri. "Maaf ya tante, apa kita bisa mengobrol dimeja lain. Karena disini ada putri saya, apa boleh." Ucap Evano.
"Ouh, tentu saja boleh. Yuk." Ucap bu Anggraini dan teman teman lainnya.
Disisi meja lain, Evano dan teman arisan ibunya, langsung duduk bareng Evano. "Oh ya nak Evano, kenapa kamu bilang tadi itu anak kamu. Apa kamu sudah menikah, tapi kata ibu kamu, kamu masih single?." Tanya bu Anggraini.
"Sebenarnya, semua yang dikatakan ibu saya itu kebohongan tante. Sebenarnya saya sudah menikah, dan putri yang saya katakan tadi, dia adalah anak kandung saya sendiri. Dan pembantu yang kalian bilang itu, dia adalah istri sah saya." Jawab Evano langsung terus terang.
Disisi lain. "Kenapa Evano mengajak teman arisan ibu ke meja lainnya. Apa agar mereka tidak menyakitkan hatiku," ucap batin Ayana tersenyum tipis.
"Itu adalah hal penting bagi papa kamu sayang. Jadi lebih baik, kita makan saja sayang, dan cepat habiskan makanan dan minuman kamu, biar kamu cepat sehat sayang." Jawab Ayana mengelus rambut Kayra kembali dengan lembut, dan mereka melanjutkan makanan mereka.
Kembali ke Evano. "Hah, kenapa kamu sudah menikah. Tapi yang dikatakan ibu kamu, mau belum menikah. Saya jadi bingung ini." Ucap teman arisan lainnya.
"Ibu saya tidak mau mengakui tentang hubungan kami, padahal istri saya sangat baik kepada saya dan kepada ibu, juga anak kami. Tapi entah kenapa, karena istri saya sudah berubah sejak melahirkan, jadinya dia berubah. Dan dari situ, ibu mulai tidak menyukai istri saya tante." Jawab Evano menjelaskannya secara detail.
"Astaga, kenapa ibu kamu jahat banget sih. Padahal Ayana itu baik banget kan sama kita jeng." Ucap bu Anggraini kepada yang lainnya juga.
"Benar itu, setidaknya katakan saja yang sejujurnya. Kita tidak akan marah kok." Ucap teman arisan lainnya.
"Tapi aku dan istriku mau melakukan perceraian kok tante. Jadi jangan beritahu kepada ibu, kalau aku sudah memberitahukan tante. Gapapa kan tante, tante bisa menjaga rahasia ini kan tante." Ucap Evano terus terang.
__ADS_1
"Kenapa kamu mau bercerai dengan wanita sebaik Ayana itu?." Tanya yang lainnya.
"Ada masalah pribadi, yang membuat kami harus bercerai. Saya hanya beharap dia akan baik baik saja, setelah kami bercerai nanti." Jawab Evano kembali, sambil tersenyum.
"Yaudah deh, kalau memang itu yang kau inginkan nak." Ikut tersenyum yang lainnya.
"Kalau begitu, saya mau kembali ke meja putri dan istri saya dulu ya tante. Nanti keburu ibu datang, dan tahu deh. Saya permisi." Menundukkan kepalanya, dan kembali menghampiri meja Ayana dan Kayra.
"Maaf membuat kalian menunggu lama sayang, soalnya tadi ada urusan yang harus ayah selesaikan." Ucap Evano langsung mengelus tangan Kayra.
Malam pun tiba, dimana mereka sudah di rumah, dan mereka sedang makan malam bersama, dengan ibu mertuanya.
"Bu, ada yang mau aku katakan pada ibu." Ucap Evano sambil mengunyah makanannya.
"Apa nak, katakan yang mau kamu katakan." Ujar ibunya langsung menatap wajah Evano.
"Aku dan Ayana mau cerai." Jawab Evano langsung.
Sontak ibunya langsung kaget. "Hah, kalian mau cerai." Langsung melotot mata ibunya.
Evano dan Ayana mengangguk. "Akhirnya kalian cerai juga, dan kapan kalian akan ke pengadilan?." Tanya ibunya langsung, tanpa memikirkan perasaan Ayana.
"Secepatnya akan dilakukan besok bu." Jawab Ayana langsung.
"Baguslah, dengan begitu, Evano anakku, akan menikah dengan Lia yang cantik dan seksi itu. Jadi kamu tidak perlu mengusik kehidupan kami lagi." Ucap ibu mertuanya bahagia, sambil mengunyah makanannya.
Selesai makan, mereka masuk ke kamarnya masing masing. Di kamar Ayana. "Apa ini benar benar keputusan yang baik, apa aku harus menerima semua ini. Aku merasa belum bisa melepaskan Evano, karena aku masih mencintainya. Tapi mau bagaimana lagi, daripada aku sengsara disini. Aku harus keluar dari kehidupan Evano." Ucap batin Ayana memeluk foto pernikahannya, sambil meneteskan air matanya.
Di kamar Evano juga," aku masih tidak rela kalau aku harus cerai dari Ayana. Aku masih mencintainya, aku benar benar mencintainya. Tapi kalau sudah takdirnya kami harus berpisah, aku bisa apa." Ucap batin Evano juga memeluk foto pernikahannya dengan Ayana, sambil meneteskan air matanya.
Keesokan paginya, dimana mereka semua sudah selesai sarapan. "Jam berapa kalian mau ke pengadilan?." Tanya bu Christina kepada mereka berdua.
__ADS_1
"Nanti sore bu, karena kami tidak mau cepat cepat dulu. Dikarenakan kami harus bersama dulu, dan bermain dengan anak kami bu." Jawab Evano.
"Baiklah, baiklah. Yang terpenting kalian cerai dan aku bahagia." Ucap ibunya langsung masuk ke kamarnya.