
Tiba tiba Evano terhenti karena melihat paras anaknya yang begitu cantik ketika tidur.
"Sayang, kau begitu cantik.Persis seperti mama mu. Papa harap kau tidak membenci papa ya sayang." Ucap batin Evano mengusap pipi Kayra yang sedang tidur.
"Papa sayang padamu sayang." Tersenyum sambil memandangi wajah Kayra.
Tiba tiba Kayra terbangun akibat usapan dari Evano. Kayra membuka matanya pelan pelan.
"Papa." Panggil lembut Kayra langsung memeluk Evano.
"Kenapa kamu sudah bangun sayang?." Tanya Evano juga memeluknya.
"Kayra merasakan usapan yang begitu hangat. Membuat Kayra jadi terbangun deh. Kenapa papa bisa ada di sini?." Jawab Kayra sekaligus bertanya.
"Papa hanya rindu dengan mu sayang. Omong omong bagaimana dengan sekolahnya?." Tanya Evano menatapnya.
"Sangat bahagia pa. Papa tau ga hari ini aku dan mama berjalan jalan ke taman hiburan." Ucap Kayra menceritakannya dengan bahagia.
"Ke taman hiburan." Tanya Evano berpura pura tidak tau.
"Iya pa, aku dan mama menaiki baling baling besar. Kami memancing ikan dan membeli es krim dan gulali. Andai papa ikut bersama kami, pasti akan begitu seru." Jawab Kayra.
"Wah, sepertinya itu memang keren. Papa jadi ingin ikut." Ucap Evano mengelus rambut kayra.
"Lain kali kita akan pergi bersama pa. Salah siapa tidak ikut." Ucap Kayra.
"Anak papa sudah besarnya. Cara bicaranya sudah sangat dewasa. Padahal masih kecil begini." Ucap Evano mencubit pipi kayra.
"Kan aku memang sudah dewasa pa. Kan aku sudah berumur 5 tahun." Jawab Kayra berlagak sombong.
"Baiklah, kembali tidur. Papa masih ada urusan. Nanti mama marah lho, kalau Kayra bangun begini." Ucapnya.
"Baik pa, papa jangan kecapean ya. Aku tidur dulu pa." Jawab Kayra kembali berbaring dan menutup matanya.
"Papa sayang banget sama kamu sayang." Mengecup kening Kayra dan tersenyum.
"Aku juga sayang papa." Ucap Kayra bahagia karena bisa bertemu dengan Evano.
Evano pun keluar dari kamar kayra dan kembali ke ruang tamu. Evano melihat Ayana yang tertidur di sofa karena kekenyangan.
Menatapnya dan mendekat." Maafkan aku, karena sudah membuat mu menderita begini. Maafkan aku." Ucap batin Evano mengusap pipi Ayana.
__ADS_1
"Aku harus memindahkannya ke kamar. Bisa bisa dia masuk angin lagi." Ucapnya menggendong Ayana yang tertidur menuju kamar mereka.
Sesampai kamarnya. Evano meletakkan Ayana ke kasurnya dengan hati hati. Agar Ayana tidak terbangun. Setelah meletakkan Ayana, ia kembali menatap wajah Ayana.
"Sekali lagi aku minta maaf karena tidak pernah bersama mu. Aku sayang padamu." Ucap batin Evano mengecup kening Ayana juga.
Evano pun langsung keluar kamar dan juga keluar rumah untuk tinggal di Hotel. Karena masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.
Keesokan paginya. Ayana terbangun.
"Huaaa." Bangun Ayana dan menguap.
"Eh, kenapa aku disini. Bukannya kemarin aku tertidur di sofa. Kenapa aku bisa di sini." Bingung Ayana.
"Apa evano yang melakukan ini. Tidak, tidak, tidak mungkin dia. Sudahlah aku harus bangun dan menyiapkan pekerjaan rumah. Sebelum ibu mertuaku bangun. Untung saja ini hari libur anakku. Jadi aman." Ucapnya bangun dari tempat tidur dan menuju ke dapur untuk memulai pekerjaan rumah seperti biasanya.
Ayana yang sedang menyiapkan sarapan pagi dan Ayana mengingat masa masa dimana dia baru berkenalan dengan Evano dan pertama kali berjumpa dan jatuh cinta kepadanya.
"Aku ingat dulu Evano sangat tampan saat masih masa masa kuliah. Tidak terasa sekarang dia sudah menjadi suamiku dan aku malah mendapatkan penderitaan dari ibunya. Aku jadi ingin mengulang masa-masa itu lagi." Kembali membayangkannya.
Kembali kemasa dimana Ayana dan Evano berjumpa.
Ayana yang berangkat seperti biasa untuk kuliah dan saat Ayana mau masuk ke dalam sekolah.Dia yang membawa begitu banyak buku dan tak melihat ke depan.
"Aduh, maaf banget ya. Maaf." Mengambil bukunya yang terjatuh.
Dan ternyata seseorang itu membantunya yang tidak lain lagi adalah seorang pria.
Setelah merapikan bukunya yang berantakan. Lalu menatap wajah pria tersebut.
"Eh. Maafkan saya ya, maaf saya tidak melihat ke depan." Ucap Ayana meminta maaf. Dia menatap wajah pria itu begitu lama sambil memasang pipinya yang memerah.
"Tidak apa apa. Aku juga minta maaf karena sangat sibuk mendengarkan musik. Kalau boleh tau nama kamu siapa ya?." Jawab pria tersebut sekaligus bertanya.
"Nama saya Ayana dan nama mu?." Jawab Ayana kembali bertanya.
"Nama saya Evano. Salam kenal." Jawab yang ternyata pria tersebut ialah Evano.
Kalau boleh tau kuliah di bidang apa?." Tanya Evano.
"Saya di bidang kesenian. Kalau kamu." Jawab Ayana kembali bertanya.
__ADS_1
"Saya kebetulan di bidang akutansi. Salam kenal ya. Kalau begitu saya permisi dulu.Maaf menganggu." Ucap Evano tersenyum lalu pergi meninggalkan Ayana.
Setelah Evano pergi." Nama yang begitu indah. Persis seperti orang ya." Ucap batin Ayana salting lalu masuk ke dalam universitas.
Kembali ke sekarang. Dimana Ayana sedang membayangkan masa masa mereka berjumpa.
"Itulah masa dimana aku dan suamiku berjumpa. Sungguh masa masa yang manis dan masih malu malu." Ucap Ayana tersenyum sendiri sambil mencuci piring.
"Apalagi aku masih ingat dimana aku dan suamiku pertama kali berkencan dan di situlah aku di lamar oleh Evano." Ucapnya.
Kembali lagi dimana masa masa kuliah dan Ayana kembali membayangkan masa dimana Ayana akan di lamar oleh Evano di hari kelulusan mereka.
"Ayana." Panggil Evano.
"Ya Evano. Ada apa." Jawab Ayana tersenyum.
"Ada yang mau ku katakan padamu. Di hari kelulusan kita ini." Ucap Evano malu malu mengatakannya.
"Katakan saja yang ingin kau katakan. Aku siap mendengarkannya." Jawab Ayana menatapnya.
Mengelus tangannya gugup." Sebenarnya, sebenarnya saya sudah lama menyukaimu. Dan aku harap kamu begitu juga. Apa kau bersedia untuk bersama ku selamanya." Ucap Evano membungkukkan kakinya dan menunjukkan sepucuk cincin emas.
"Hah, astaga." Kagum Ayana.
"Apa kau bersedia. Kalau tidak mau juga tidak apa apa. Aku siap mendengarkan semua penjelasan darimu." Ucap Evano tersenyum.
"Aku bersedia." Jawab Ayana bahagia.
"Aku cinta padamu Ayana." Ucap Evano memasangkan cincin tersebut di jemari Ayana. Dan merekapun saling berpelukan.
Kembali ke sekarang." Itu adalah momen yang sangat bahagia di dalam hidupku. Tapi, sejak aku melahirkan. Entah kenapa kehidupanku tiba tiba berubah sejak aku melahirkan. Ibu mertuaku malah membenciku. Apa karena aku tidak pernah berdandan lagi ya." Ucap batin Ayana memikirkannya sambil mencuci piring.
"Sudahlah, mikir apa aku ini. Aku harus menerima semua ini. Kalau aku hanya seorang istri yang selalu di rendahkan oleh ibu mertuaku. Aku harus terima." Ucapnya kembali mengerjakan pekerjaan rumahnya.
Setelah beberapa menit. Ayana pun siap menyiapkan sarapan pagi dan menuju ke kamar anaknya untuk membangunkannya sarapan." Sayang, bangun. Ini sudah pagi sayang." Panggil Ayana mengusap usap pipi Kayra.
"Hem, Apa ini sudah pagi ma?." Tanya Kayra membuka sedikit matanya.
"Sudah sayang, mari makan bersama." Jawab Ayana tersenyum.
"Oh ya ma, ada yang ku katakan pada mama tau." Ucap Kayra.
__ADS_1
"Apa sayang?." Tanya Ayana tersenyum.
"Sebenarnya,