Marriage Is Not Beautiful

Marriage Is Not Beautiful
Episode 48: Kritis


__ADS_3

Tiba tiba ada yang datang dan ia adalah Jae. Sontak Jae langsung kaget dan langsung menghampirinya.


"Kenapa kamu bisa jatuh sih ayana." Panik Jae langsung memanggil perawat.


"Perawat, perawat. Tolong." Panggil keras Jae.


Ayana pun langsung di bawa ke ruang UGD, untuk diobati. Jae yang panik, langsung mondar mandir di depan ruang UGD.


"Astaga, kenapa dia bisa begitu sih. Astaga." Ucapnya sambil mengerutkan keningnya.


1 jam pun berlalu. Dimana akhirnya dokter pun keluar dari ruang UGD." Bagaimana kondisinya dok?." Tanya Jae langsung menatap wajah dokter tersebut.


"Dia sedang kritis. Karena kepalanya, terkena lantai. Padahal dia, belum pulih sepenuhnya. Dia pingsan, dan kami sudah berusaha membantunya. Sekarang, dia masih dalam keadaan pingsan. Dan bagian kepalanya, sudah kami perban." Jawab dokter menjelaskannya.


"Baik dok, terima kasih banyak dok." Ucap Jae.


"Sama sama pak, saya duluan." Langsung pergi meninggalkan Jae.


Jae pun langsung masuk kedalam ruang UGD tersebut. Jae langsung duduk di sampingnya." Kenapa kamu begini sih Ayana. Kan aku jadi khawatir dengan mu?." Tanya Jae kepada Ayana yang masih pingsan.


"Aku akan menunggu mu disini, dan aku harus menghubungi orang rumah, untuk menjemput Cuky dan mengantarkannya ke rumah sakit." Ucap Jae langsung ke ruang istirahat Ayana, untuk mengambil ponselnya yang tertinggal.


Diruang istirahat Ayana. Jae langsung menghubungi orang rumah.


Dan setelah Jae menghubungi orang rumah. Jae langsung bergegas ke ruang UGD, untuk melihat kembali kondisi Ayana.


"Apa aku harus menghubungi Evano. Nanti saja deh, saat dia sudah menjemput Kayra. Kan dia sekalian ke rumah sakit nanti. Lagian dia sangat sibuk di perusahaannya." Ucap batin Jae sambil menatap wajah Ayana dengan penuh kasih sayang.


"Sepertinya aku menyukai Ayana. Sadarlah Jae, dia sudah mempunyai suami dan anak. Kau juga seorang duda, kau harus sadar, dan fokus untuk merawat anak mu." Ucap batin Jae menampar dirinya sendiri, agar sadar dari kenyataan.


Sore pun tiba. Dimana Evano sedang menjemput Kayra dan mereka menuju rumah sakit. Tiba tiba ponselnya berdering, dan itu adalah panggilan dari Jae.


"Kenapa pak Jae menghubungiku ya." Langsung mengangkatnya.


"Halo pak Jae, ada apa ya pak?." Tanyanya.

__ADS_1


"Kalau boleh tahu, anda dimana pak Evano?." Tanya balik Jae.


"Saya mau menuju rumah sakit ini, dan habis menjemput anak saya." Jawabnya.


"Pak Evano cepatlah kemari. Ada yang mau saya katakan pada bapak. Mohon datang secepatnya." Jawab Jae dengan nada cemas.


"Baiklah, aku akan kesana dan akan secepatnya sampai disana." Ucap Evano langsung mematikan ponselnya.


"Ada apa dengan pak Jae, ayah?." Tanya Kayra yang mendengar percakapan mereka.


"Entahlah sayang, paman Jae hanya menyuruh kita cepat ke Rumah Sakit. Ada hal yang mau di katakan paman Jae. Pegangan ya sayang." Jawab Evano langsung menggas mobilnya menuju Rumah Sakit.


Sesampai Rumah Sakit. Evano dan Kayra langsung turun dari mobilnya dan langsung masuk kedalam rumah sakit.


Jae yang melihat mereka berdua, langsung melambaikan tangannya. Evano dan Kayra pun langsung menghampirinya." Eh, pak Jae. Kenapa anda disini. Kenapa tidak di tempat biasanya?." Tanya Evano langsung menatapnya.


"Tadi, saat saya mau mengambil ponsel saya yang ketinggalan di ruang istirahat Ayana. Rupanya Ayana sudah jatuh dari tempat tidurnya dan otomatis, kepalanya terbentur ke lantai dan kepalanya berdarah.


"Dan saya langsung mengantarkannya ke ruang UGD." Jawab Jae menjelaskannya.


"Mama jatuh. Bagaimana keadaan mama sekarang paman?." Tanya Kayra panik.


"Mama kamu sekarang baik baik saja kok sayang, tapi dia belum sadarkan dirinya. Karena kepalanya yang terbentur." Jawab Jae tersenyum untuk menenangkan suasana hati Kayra yang panik.


"Apa aku boleh masuk melihat mama paman?." Tanyanya kembali.


"Boleh sayang. Kamu masuk saja duluan, karena paman dan papa mu, mau berbicara dulu." Jawabnya tersenyum.


"Baik paman." Ikut tersenyum Kayra langsung masuk ke ruang UGD.


"Apa yang kamu katakan kepada anakku, memang benar?." Tanya Evano sambil melipat kedua tangannya.


"Saya hanya tidak mau Kayra panik dan memikirkan Ayana dengan kesedihannya." Jawab Jae menatap wajah Evano.


"Kata dokter, dia sedang kritis. Karena kepalanya, terkena lantai. Padahal dia, belum pulih sepenuhnya. Dan kepalanya harus di perban, karena mengeluarkan banyak darah. Untung saja aku cepat datang, kalau tidak entah apa yang akan terjadi dengannya." Jawab Jae dengan jelas dan jujur.

__ADS_1


"Astaga, kenapa dia harus merasakan semua kesengsaraan ini sih. Aku yang salah dengannya." Ucap Evano langsung memegang Keningnya dan menyalahkan dirinya.


Jae langsung memegang bahu Evano." Sabarlah pak Evano. Mungkin ini adalah cobaan untuk keluarga anda. Dan jangan pernah menyerah dan teruslah semangat." Ucap Jae menyemangatinya.


"Terima kasih banyak pak Jae. Mari kita masuk dulu pak Jae." Jawab Evano tersenyum dan mereka langsung masuk ke ruang UGD.


Didalam." Mama, kenapa mama pingsan lagi sih ma. Kenapa ma, padahal aku mau melihat mama tersenyum dan bahagia, seperti kemarin. Mama harus kuat ya ma." Ucap Kayra menggenggam kedua tangan Ayana sambil meneteskan air matanya.


Evano dan Jae pun langsung menghampiri mereka berdua." Sabarlah sayang, masih ada papa disini." Ucap Evano langsung berdiri di sampingnya, dan mengelus rambut Kayra.


Kayra langsung menatap wajah Evano." Tapi kenapa mama ga bangun bangun pa?." Tanya Kayra dengan wajah yang penuh air mata.


"Mungkin mama sedang kelelahan sayang. Jadi mama harus tidur dulu deh. Udah, jangan nangis terus, nanti mama ikutan sedih deh." Jawab Evano tersenyum untuk menenangkan hati Kayra yang terus menangis.


Evano pun mengusap air mata Kayra." Mama pasti bangun kok sayang. Tapi kamu harus bersabar ya sayang." Ucap Evano kembali mengelus rambut Kayra.


"Baiklah pa. Papa ga bohong kan?." Tanyanya kembali untuk memastikannya.


"Papa tidak akan berbohong kepada anak papa sendiri sayang. Papa kan sayang kamu." Jawabnya memeluk Kayra.


"Hikss, iya pa. Kayra juga sayang papa." Ucapnya menangis di pelukan Evano.


Tiba tiba ada yang masuk ke ruang UGD tersebut, dan ia adalah Cuky." Halo pa." Panggil Cuky langsung memeluk Jae.


"Eh, Cuky. Kamu sudah datang, kebetulan banget nih. Mending kamu main dulu dengan Kayra dan hiburlah dia, agar dia tidak menangis." Perintah Jae kepadanya.


"Aman pa. Aku akan menghibur Kayra, dengan ketampananku ini pa." Jawab Cuky menunjukkan pesonanya.


Cuky langsung menghampiri Kayra." Hola Kayra. Mau main bareng aku ga. Dari pada sedih terus, kan cantiknya jadi hilang deh. Mending main sama aku aja, yuk." Ajak Cuky tersenyum kepadanya.


Kayra langsung menatapnya." Baiklah, aku juga mau main dengan mu." Jawab Kayra langsung turun dari kursinya.


"Aku pergi dulu ya pa dan paman. Mau main dengan Cuky dulu." Ucap Kayra berpamitan dan mereka berdua langsung keluar dari ruang UGD.


Saat mereka sudah pergi, ada lagi yang masuk ke ruang UGD tersebut, dan ia adalah,

__ADS_1


__ADS_2