
Kayra pun kembali tidur. "Sayang, maafkan aku. Ini semua karena kesalahanku, dan kesalahan ibuku. Makanya Kayra sampai begini." Ucap Evano langsung berlutut didepan Ayana, dengan meneteskan air matanya.
Sontak Ayana langsung menatapnya." Maafkan aku sayang. Kamu boleh kok menampar diriku, kamu boleh memukuliku semau kamu. Asalkan kamu memaafkanku." Ucap Evano memegang tangan Ayana, dengan gemetaran.
"Tangan Evano sampai gemetaran. Apa dia benar benar minta maaf secara tulus kepadaku. Aku jadi sangat kasihan kepadanya." Ucap batin Ayana menahan air matanya.
Ayana langsung memegang pipi Evano, dengan kedua tangannya, dan menatapnya. "Ini semua bukan kesalahan kamu sayang. Ini hanya ketidak sengajaan saja. Mungkin ibu memang lagi sangat emosi, jadi ibu tidak bisa menahan emosinya. Ini bukan kesalahan kamu kok sayang." Jawab Ayana mengusap air mata Evano.
"Apa kamu memaafkanku?." Tanya Evano sambil menangis kembali.
"Tentu saja aku memaafkan kamu sayang. Tapi, kamu jangan menangis seperti ini lagi ya sayang. Aku gak suka itu." Jawab Ayana kembali tersenyum, untuk menenangkan suasana hati Evano yang sedang sedih.
"Mending kita duduk di sofa aja. Dan kita bahas kedepannya seperti apa nanti." Ucap Dae hwa mendirikan Evano, dan mereka langsung duduk di sofa bersama.
"Kalau kamu lelah, kamu bisa bersandar dibahu aku sayang." Ucap Dae hwa mengelus pipi Evano.
__ADS_1
"Apa boleh aku menyandar dibahu kamu sayang?." Tanya Evano untuk memastikannya kembali.
"Tentu saja sayang. Letakkan kepala kamu, dan aku akan mengelus pipi kamu. Biar kamu lebih nyaman, untuk tidur." Jawab Ayana, kembali tersenyum.
"Terima kasih banyak sayangku." Bahagia Evano, langsung menyandar dibahu Ayana dengan lembut, dan Ayana mengelus pipi Evano.
"Sayang. Apa kedepannya kita akan seperti ini?." Tanya Dae hwa.
"Bagaimana aku menjawab pertanyaan Ayana. Aku tidak mau, istriku terus berada di neraka ku. Aku tidak mau dia terus meneteskan air matanya, karena sebuah penderitaan. Aku ingin dia bahagia, tanpa diriku. Aku ingin melihat senyumannya yang indah, tanpa diriku. Maka sebab itu, aku tidak bisa bersamanya lagi, agar aku bisa melihat kebahagiaannya dari kejauhan." Ucap batin Evano.
"Kenapa kamu tidak jawab sayang. Kam"
"Eh, ternyata sudah tidur. Dia pasti kelelahan seharian ini. Aku merasa kasihan juga dengan suamiku sendiri, semoga kamu tetap bahagia kedepannya, walau tidak ada aku." Ucap batin Ayana, tersenyum tipis, dan kembali mengelus pipi Evano.
Malam pun tiba. Dimana Ayana dan Evano tidur bersama di sofa, sambil bersenderan. Tiba tiba ada yang memanggil Ayana. "Ma."
__ADS_1
Sontak Ayana langsung membuka matanya dengan perlahan lahan, dan melihat Kayra yang bangun." Sayang, kenapa kamu bangun?." Tanya Ayana meletakkan Evano bersandar di dinding.
Ayana pun langsung duduk disamping Kayra. "Ada apa sayang, kamu mau apa?." Tanya Ayana langsung mengelus tangan Kayra.
"Aku lapar ma. Pengen makan yang hangat hangat." Jawab Kayra.
"Hangat hangat. Kamu mau bakso?." Tanya Ayana kembali.
"Terserah mama aja deh, yang penting yang hangat ma. Maaf ngerepotin mama." Jawab Kayra yang masih lemah.
"Gak ngerepotin kok sayang. Ini sudah menjadi kewajiban mama, untuk menjaga kamu sayang. Lebih baik, kamu istirahat lagi, dan akan mama bangunkan, kalau makanannya sudah datang." Ucap Ayana mencium kening Kayra.
"Terima kasih banyak ma." Bahagia Kayra.
"Sama sama sayang, kalau begitu mama mau
__ADS_1