Marriage Is Not Beautiful

Marriage Is Not Beautiful
Episode 61: Kedua Orangtua


__ADS_3

Saat Ayana sedang masuk ke kamar mandi, tiba tiba ibunya memangilnya." Sayang, ini ada telepon dari suami kamu. Apa mau ibu yang mengangkatnya?." Tanya ibunya dari meja makan.


"Eh, iya bu, angkat saja. Aku mau ke kamar mandi dulu." Jawab Ayana dengan keras, dan langsung masuk kedalam kamar mandi.


Disisi lain. Ibunya langsung mengangkat telepon dari Evano." Halo nak. Ini ibu, karena tadi Ayana lagi ke kamar mandi. Ada apa nak?." Tanya ibunya.


"Eh, ibu. Ibu sedang apa bu?." Tanya balik Evano.


"Baru selesai menyiapkan sarapan ini. Ada apa nak." Jawabnya sekaligus bertanya.


"Tidak ada bu, aku hanya mau tahu keadaannya. Tolong awasi dia lagi ya bu, takutnya terjadi sesuatu." Jawab Evano dengan nada bahagia.


"Aman nak. Ibu akan menjaganya dengan baik, dan kapan kalian akan kemari?." Tanya ibunya bahagia.


"Sepulang sekolah Kayra, kami akan langsung kesana bu. Kalau begitu, aku tutup telponnya dulu ya bu." Langsung mematikan ponselnya.


"Apa benar, Evano baik kepada anakku. Aku masih kurang nyaman dengannya." Ucap batin ibunya langsung meletakkan kembali ponsel Ayana di meja tersebut.


Ayana pun langsung ke meja makan, setelah dari kamar mandi." Apa kata Evano bu?." Tanya Ayana langsung duduk.


"Dia hanya merindukan kamu nak. Biasalah, pasangan romantis. Hahahah." Jawab ibunya tertawa tipis dengan perilaku mereka berdua.

__ADS_1


"Apaan sih ibu ini. Sudahlah bu, aku lapar nih." Ucap Ayana malu, langsung mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah baiklah. Ibu akan langsung meletakkan nasi dan sayuran untuk kamu sayang." Ucap ibunya langsung memberikan sarapan tersebut kepadanya.


Mereka berdua pun langsung sarapan bersama. Dan saat Ayana sedang menatap ibunya yang sedang menikmati sarapannya.


Tiba tiba ia kembali mengingat masa lalunya. Sontak ia langsung menutup kedua matanya." Ibu, apa ibu memasakkan sarapan sebanyak ini untukku?." Tanya Ayana.


"Iya dong sayang, kan kamu suka makanan ibu. Benar kan." Jawab yang tidak lain lagi ialah ibunya.


"Andai saja kalau masih ada ayah disini. Pasti akan lebih menyenangkan ya bu." Ucap Ayana sambil mengunyah makanannya.


"Mau bagaimana lagi sayang. Yang terpenting kita bahagia, dan ayah kamu akan bahagia disana, karena melihat kita bahagia disini. Kamu harus kuat sayang." Ucap ibunya mengelus rambut Ayana.


Sontak ibunya langsung kaget." Eh, kamu kenapa sayang?." Tanya ibunya langsung mendekat kepadanya.


"Aku tidak apa apa kok bu. Hanya pusing kepala saja. Aku sudah makannya deh bu, dan aku mau istirahat di sofa dulu." Jawab Ayana langsung berdiri dengan tongkatnya, dan menuju ruang tamu, dengan di bantu oleh ibunya.


Sesampai di ruang tamu. Ayana pun langsung dibantu duduk, oleh ibunya." Bagaimana sekarang. Apa pusingnya sudah hilang?." Tanya ibunya jadi cemas kepadanya.


"Aku sudah tidak pusing lagi kok bu. Aku baik baik saja, dan jangan terlalu cemas kepadaku bu." Jawab Ayana tersenyum untuk menutupi sakitnya.

__ADS_1


"Baiklah. Kalau begitu, ibu mau ke dapur dulu, untuk merapikan piring piring kotor. Kalau ada apa apa, panggil ibu saja. kamu mengerti kan." Ucap ibunya mengelus rambut Ayana kembali.


"Iya bu. Aku mengerti, dan kalau begitu, ibu cepatlah ke dapur." Jawab Ayana.


Ibunya pun langsung kembali ke dapur, dan Ayana langsung menghela nafas panjang." Huh, untung saja ibu tidak curiga denganku." Ucap batin Ayana sambil menatap ke sisi lain rumah.


"Ternyata ayahku sudah meninggal. Sedikit demi sedikit, ingatanku benar benar sudah kembali separuhnya. Tinggal di rumah ibu mertuaku nanti. Pasti kenyamanan disini, sama dengan di rumah ibu mertuaku. Semoga saja deh." Ucap Ayana senyum sendiri.


"Aku harus siap siap, agar saat Evano datang nanti, aku sudah siap dan tidak malu maluin."


"Tapi, aku masih sakit kepala. Yaudah deh, tunggu sebentar disini." Ucap batin Ayana langsung menyalakan televisi.


Tiba tiba ada yang mengetuk pintu rumah mereka. Sontak Ayana langsung berdiri dengan tongkatnya, dan langsung menuju pintu rumah, untuk membukakannya.


Ayana pun langsung membuka pintu tersebut, dan di luar adalah Evano, yang baru mengantarkan Kayra ke Sekolahnya." Eh, kenapa kamu sudah ada disini. Bukannya kamu akan datang bersama Kayra?." Tanyanya sedikit bingung.


" Apa kamu tidak mau aku datang?." Tanya balik Evano dan memasang wajah sok ngambek.


"Eh, bukan gitu maksudku sayang. Aku hanya bingung saja, padahal tadi, akan datang dengan Kayra. Jadi, aku kan hanya bertanya saja." Ucap Ayana mencubit pipi Evano.


"Andai kita seperti ini terus sayang. Mungkin kita akan bahagia, sampai akhir hayat, sampai maut memisahkan kita." Ucap batin Evano langsung menatap wajah Ayana.

__ADS_1


"Hey, kamu kenapa menatapku begitu?." Tanya Ayana menyadarkannya.


"Eh, aku


__ADS_2