Maya (Ayah Dari Anankku)

Maya (Ayah Dari Anankku)
Part 10


__ADS_3

"Apa yang sebanarnya terjadi padaku dokter?". Tanya Maya penasaran. Saat ini wanita cantik berambut hitam panjang itu sedang berada sebuah rumah sakit karena merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya yang tiba-tiba mengalami banyak sekali perubahan.


"Selamat nona anda hamil, tapi untuk lebih jelasnya saya akan berkonsultasi dengan dokter obgyn agar bisa dilakukan pemeriksaan USG dan mengetahui lebih detail tentang kehamilan anda". Jawab dokter sembari tersenyum kaku, dia tidak tahu harus mengatakan selamat atau harus bersikap bagaimana karena dari riwayat pasiennya itu dia tahu jika Maya belum menikah hal itu juga bisa dipastikan dari umur gadis itu yang masib terbilang muda.


"Hamil". Kata yang sangat menyakitkan bagi Maya di saat ribuan wanita lain menantikannya namun bagi Maya kata itu seperti pedang yang menghunus tepat di jantung hatinya, sakit sangat sakit namun tidak ada obat yang mampu menyembuhkannya.


Maya langsung bangkit dari kursinya tanpa ekspresi apapun diwajahnya, Maya juga tidak melakukan pemeriksaan apapun termasuk USG selain dari pemeriksaan darah yang dilakukannya di awal saja untuk mengetahui penyakit apa yang dialaminya selama ini. Padahal dokter terus memanggilnya namun seperti tidak ada siapapun disana Maya justru berlalu begitu saja.


Rasa mual, muntah, pusing, sensitif terhadap bau dan wajah pucatnya yang selama ini sudah menjadi kebiasaannya sehari-hari ternyata adalah akibat perubahan hormon di dalam tubuhnya, sungguh hal yang sangat tidak pernah dia sangka akan terjadi pada dirinya hanya karena telah menghabiskan satu malam saja dengan pria yang bahkan namanya saja tidak dia ketahui, ya dia mengakui jika mereka memang melakukannya berkali-kali namun bisakah dia hamil hanya karena satu malam kelam itu saja.


Bukan tidak bisa mencari tahu siapa pria tersebut, dimana rumahnya dan dari mana asal usulnya apalagi ada Joe yang selalu bisa diandalkan olehnya, hanya saja dia tidak mau melakukannya karena selembar cek yang ditinggalkan pria tersebut sangatlah cukup baginya untuk mengerti jika pria jahat itu tidak mau Maya mencari dirinya dan tidak mau berhubungan dalam bentuk apapun dengannya lagi setelah malam itu.


Lalu untuk apa dia membuang waktunya hanya untuk mengemis pada pria yang menganggapnya sebagai wanita bayaran. Belum lagi dia dan Marvin sama sekali tidak saling mencintai, hubungan yang bagaimana yang akan mereka jalani kelak tanpa ada rasa cinta yang menjadi dasar dari hubungan tersebut.

__ADS_1


Apa yang harus dia lakukan selanjutnya, entahlah yang pasti dia sudah tidak bisa mendengar penjelasan apapun lagi dari mulut dokter tadi. Maya terus saja melangkah tidak memperdulikan sekitarnya dan tidak mau tahu kemana dia akan pergi bahkan mobil yang dibawanya dia tinggalkan begitu saja di halaman rumah sakit.


Disinilah dia saat ini berada di sebuah makam tua namun tampak sangat bersih dan terawat, duduk dan bersimpuh dihadapan makam tersebut sambil mnegusap dan menatap nama yang tertera dibatu nisan.


"Ma, haruskah Maya menyusulmu untuk bertanya apa yang harus Maya lakukan setelah ini?. Kenapa mama meninggalkan Maya, harusnya ada mama disini disaat Maya tidak mengerti apa-apa tentang kehamilan Maya, hiks, hiks, hiks..". Ucap Maya lirih dengan suara seraknya.


"Ma, Maya akan menjadi ibu seperti mama tapi Maya tidak mau menjadi ibu yang meninggalkan anaknya sehingga anak Maya tidak tahu harus pulang kemana saat dia terluka dan terjatuh. Mama akan menjadi nenek harusnya ada mama disini menemani Maya untuk menghadapi masa-masa sulit Maya. Harusnya cukup Maya saja yang tidak memiliki orang tua yang lengkap tapi kenapa anak tidak berdosa ini juga hadir dengan keadaan orang tuanya yang tidak utuh". Maya larut dalam kesedihannya tidak tahu berapa jam sudah dia berada disana yang pastj ketika senja menyapa barulah dia tersadar jika sudah seharian berada dimakam ibunya hanya untuk menatap nisan sang ibu dengan tatapan yang sulit dimengerti.


Jika ditanya siapa yang paling mengkhawatirkan keadaan Maya maka jawabannya pastilah sang ayah Darmadi. Tidak mendapatkan kabar apapun tentang Maya seharian ini membuat Darmadi kelimpungan mencari sang putri tercinta.


"Maaf pa, Maya tadi kerumah Nita sebentar tapi karena sudah lama kami tidak bertemu jadi kami sama-sama lupa waktu". Jawab Maya senormal mungkin.


"Tapi kamu baik-baik saja kan?".

__ADS_1


Maya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Maya baik pa, Maya sudah besar dan bisa jaga diri sendiri pa". Saat kalimat itu keluar dari mulutnya Maya ingin sekali mengutuk mulutnya sendiri karena apa yang tadi dia ucapkan hanyalah bohong belaka, nyatanya dia memang tidak pernah bisa menjaga dirinya sendiri terutama kehormatannya.


Kehormatan yang hanya dimiliki oleh wanita baik-baik yang akan mereka persembahkan untuk calon suaminya kelak, bukan hanya sudah tidak memilikinya lagi namun Maya juga akan memiliki anak diluar nikah yang akan menjadi catatan hitam disepanjang sejarah kehidupannya.


"Bukankah kamu ke rumah sakit tadi?, apa yang dokter katakan?". Tanya Darmadi kemudian ketika teringat jika Maya tadi pagi berpamitan kepadanya karena hendak ke rumah sakit karena kondisi tubuhnya yang kurang baik.


"Emmh itu, Maya tadi memang ke rumah sakit hanya saja karena banyaknya pasien yang mengantri akhirnya Maya bosan menunggu dan memutuskan pergi ke rumah teman pa". Jawab Maya gugup.


"Sudah papa katakan tadi kenapa tidak memanggil dokter keluarga kita saja kemari kenapa harus ke rumah sakit". Ya Darmadi memang menawarkan agar dokter yang datang untuk memeriksa keadaan Maya hanya saja Maya menolaknya karena ingin melakukan pemeriksaan secara menyeluruh agar mengetahui langsung penyakitnya.


"Lupakan saja pa, lagipula Maya sudah merasa lebih baik". Wajah Maya memang tidak terlihat pucat seperti biasanya hal itu dikarenakan dia telah menebus obat anti mual muntah dan juga vitamin khusus ibu hamil di apotik untuk mensiasati agar mual muntahnya tidak membuat sang ayah curiga.


Maya mungkin menyesali malam terkutuk itu, mencaci maki pria yang telah menghamili dirinya namun naluri keibuannya tidak bisa dibohongi dia merasa sangat menyayangi dan mengharapkan agar anaknya kelak lahir dengan sehat tidak peduli orang akan memandangnya seperti apa karena anaknya lahir tanpa ayah.

__ADS_1


Naluri seorang ibu memang sangat peka dan sensitif jika menyangkut urusan anak, Maya menyadari betul jika kehamilannya ini bukan kehamilan biasa tidak akan ada kasih sayang dari pasangan atau perhatian dari orang-orang sekitarnya untuk sang calon bayi justru dia hamil dalam keadaan tertekan dan stress yang harus ditanggungnya sendiri maka dari itu dia akan memastikan jika anak dalam kandungannya akan mendapatkan asupan gizi yang baik walau bagaimanapun caranya.


__ADS_2