
Shely sedang berada di sebuah restoran mewah mengikuti pertemuan penting dengan kliennya bersama Marqin, wanita cantik itu tampak menjadi sasaran setiap mata pri yang memandangnya namun hal tersebut tidak membuat Shely risih, pasalnya dia memang sudah terbiasa dengan pandangan dan situasi seperti itu justru yang membuatnya risih adalah kehadiran Nino dan Sheno yang duduk tidak jauh dari meja mereka.
Nino terus menatap intens kearah Shely sambil tersenyum bahkan sampai melambaikan tangannya berkali-kali untuk mengisyaratkan jika dia sedang berada di restoran yang sama dengan sang istri.
Bukan hanya Shely yang merasa risih namun juga semua yang hadir dalam pertemuan penting tersebut terutama Marqin yang sangat geram dengan tingkah kekanak-kanakan yang di tunjukkan oleh Nino.
"Sebenarnya pria itu mau apa kesini, menganggu saja". Gumam Marqin geram.
"Mas, apa sih yang kamu lakukan?". Batin Shely tak kalah geram.
Sedangkan para klien Marqin menatap aneh kearah Nino sambil berbisik dan yang membuat mereka merasa lebih aneh adalah ketika Nino bersikap bak anak kecil justru Sheno yang anak kecil bisa bersikap lebih tenaga dan bocah tampan itu lebih fokus dengan makanan dari pada berinteraksi dengan mamanya.
"Shel". Panggil Marqin dan Shely langsung menolah kearah sang majikan. Marqin kemudian memberi kode agar Shely membereskan urusan Nino secepatnya karena kehadiran Nino di sana dapat menunggu ketenangan para klien. Shely yang mengerti langsung menganggukkan kepala dan pergi mendekati Nino dan mengajak Nino bicara berdua saja di luar restoran.
"Mas, apa ini?". Tanya Shely tegas.
"Apanya yang apa?". Tanya Nino pura-pura tidak tahu.
"Mas, kamu cukup dewasa untuk mengerti pertanyaanku".
"Aku kesini untuk makan siang bersama Sheno sekaligus menyemangati mu yang sedang bekerja". Jawab Nino enteng.
"Mas, apa kamu sadar kalau sikap kamu seperti tadi itu sangatlah kekanak-kanakan, aku malu dengan para klien ku di dalam sana".
"Jadi kamu malu kalau mereka tahu kalau kamu sudah punya anak dan suami, apa kamu ingin terlihat seperti wanita single yang bebas. Aku cemburu Shely, aku sangat terbakar oleh api cemburu saat aku melihat para pria itu menatapmu dengan tatapan kagum, aku tergila-gila padamu sampai akal sehatku kalah dengan logikaku, aku takut kehilangan kamu lagi". Ujar Nino penuh penekanan.
__ADS_1
"Mas maksud kamu apa, tidak ada hubungannya antara pekerjaanku dengan status pernikahan kita".
"Tentu saja ada, tentu saja ada Shely karena kamu ingin membangun image kalau kamu itu sudah sendiri sehingga kamu bebas di dekati oleh pria mana pun yang kamu mau iya kan?". Sentak Nino dengan amarah yang memuncak.
Plak...
Sebuah tamparan yang cukup keras mendarat di pipi Nino, Shely sungguh tidak bisa terima dengan semua yang di ucapkan oleh suaminya itu barusan. Bagaimana bisa Nino bisa memiliki pikiran sepicik itu kepada padahal selama lima tahun ini dia menjaga marwahnya sebagai seorang wanita dan istri dengan sangat baik.
"Kamu masih belum mengenal aku sepenuhnya mas". Ujar Shely lirih lalu meninggalkan Nino yang masih terdiam begitu saja.
Nino sangat menyesali tindakannya saat ini karena dia benar-benar sudah tidak bisa berpikir jernih, mungkin saja kehilangan Shely selama lima tahun ini membuat dia sangat trauma akan kehilangan Shely lagi dan kali ini di sebabkan oleh para pria yang terlihat sangat mengagumi istrinya itu.
Penyesalan tentu saja selalu datang terlambat dia bahkan tidak habis pikir kenapa dia bisa seceroboh itu padahal dia sedang berusaha memperbaiki hubungannya dengan Shely tapi sekarang hubungan mereka justru semakin keruh saja.
Sedangkan Shely kembali melanjutkan pekerjaan namun perasaannya tentu saja sudah tidak tenang apalagi dengan tindakannya tadi yang sudah dengan beraninya menampar sang suami padahal selama ini Shely sama sekali tidak pernah berani melakukan itu jangankan untuk menampar Nino, untuk membantah ucapannya saja Shely tidak berani.
"Ya Tuhan apa yang aku lakukan tadi, mas Nino pasti sangat marah dan berpikir jika aku sekarang benar-benar sudah berubah". Batin Shely menyesali perbuatannya namun juga dia kecewa dengan sikap dan ucapan Nino tadi.
"Shel, selesaikan segera urusanmu dengan pria itu atau dia akan selalu merusak reputasi perusahaanku". Ujar Marqin kepada Shely dan wanita itu juga berpikir demikian karena dia tidak mau lagi masalah rumah tangga semakin berlarut-larut. Marqin juga sudah tidak ingin ikut campur dalam permasalahan rumah tangga mereka karena Maya juga mengatakan jika dia sudah cukup puas melihat Nino kewalahan dan menderita karena berpisah dengan Shely.
Sepulang dari pekerjaannya Shely langsung menuju kamarnya, dia ingin berganti pakaian, membersihkan diri karena tujuan utama saat ini adalah meminta maaf kepada sang suami. Namun baru saja dia keluar dari kamar mandi, seseorang di luar sana menekan bel kamarnya sehingga mau tidak mau dia memutuskan untuk melihat siapa yang berkunjung malam itu.
Betapa terkejutnya Shely karena ternyata yang datang adalah Nino, seketika jantungnya berdegup dengan sangat kencang karena dia masih bingung harus bersikap bagaimana dan harus mulai minta maaf dari mana.
Setelah lama tidak ada respon dari dalam kamar Shely, Nino kembali menekan bel dan hal itu membuat Shely yang sedang melamun terkejut dan langsung membuka pintu bahkan tanpa sadar jika saat ini tubuhnya hanya berbalut jubah mandi saja. Melihat penampilan Shely yang seperti itu membuat Nino harus menelan salivanya sendiri dengan susah payah.
__ADS_1
"Ma-maaf jika aku mengganggu mu, ada hal yang perlu aku bicarakan". Ujar Nino gugup rupanya tujuan pria tampan itu ke kamar Shely juga ingin meminta maaf.
"Aku juga mau membicarakan sesuatu denganmu mas, tapi dimana Sheno?". Tanya Shely melihat Nino sendirian tanpa putranya.
"Shen sudah tidur". Jawab Nino tanpa sengaja melirik lagi kearah tubuh Shely yang hanya berbalut jubah mandi itu, sebagai pria normal yang sudah lama tidak menyentuh istrinya tentu saja dia merasakan hawa panas di sekujur tubuhnya.
Shely kemudian menatap kearah tatapan sang suami dan betapa terkejutnya dia ternyata belum memakai pakaiannya setelah mandi tadi.
"Ma-mas, tunggu sebentar ya aku pakai baju dulu". Ujar nya gugup.
Namun baru saja dia berbalik, Nino sudah terlebih dulu menarik tangannya. Nino mendekatkan tubuhnya ke tubuh Shely dan memeluk istrinya dari belakang.
"Jangan pergi, biarkanlah seperti ini sebentar saja, aku sangat merindukanmu". Ujar Nino sambil menenggelamkan wajahnya di lekuk leher sang istrinya.
Hawa panas mengalir di sekujur tubuh keduanya, kerinduan yang memuncak nyatanya tak mampu membuat Shely menghindari sentuhan Nino. Setelah beberapa lama mereka saling menyalurkan rasa rindu yang membuat rasa sesak di dadanya itu, Nino membalikkan tubuh Shely dan mengecup keningnya.
"Maafkan atas semua kebodohan yang selama ini aku lakukan, semua itu karena aku sangat takut kalau harus membayangkan jika aku akan kehilanganmu lagi". Ujar Nino lembut.
"Mas, aku juga minta maaf dengan sikapku tadi, aku benar-benar tidak bermaksud untuk-".
"Aku yang salah, tidak perlu minta maaf". Potong Nino sambil mengelus lembut pipi mulus istrinya.
"Aku mencintaimu Shel, beri aku satu kesempatan saja untuk membuktikan jika aku benar-benar mencintaimu". Sambungnya lagi.
...----------------...
__ADS_1