
"Selamat siang tuan Marqin". Sapa seseorang yang baru saja tiba di ruangan kerja Marqin dan ketika Marqin menoleh ke sumber suara ternyata itu adalah Nino.
Baru saja dia memerintah orang-orang suruhannya untuk melenyapkan pria itu, namun ternyata Nino sudah tiba di kantornya. Beruntung Shely sudah meninggalkan ruangan sejak tadi jika tidak pasti mereka akan bertemu lagi dan Marqin tidak suka akan hal itu.
"Kau tidak mempersilahkan tamumu untuk masuk dan duduk". Ujar Nino lagi namun tanpa permisi pria itu justru sudah masuk dan duduk di sofa.
"Ck, untuk apa basa-basi, katakan apa yang anda inginkan tuan Nino Fernando, bukankah aku sudah menolak kontrak kerja sama dari anda, jadi Aku rasa anda tidak ada keperluan lagi disini jadi silahkan tinggalkan kantorku". Jawab Marqin santai.
" Ck, pura-pura tidak tahu, ternyata bakat acting mu sangat jelek tuan Marqin, seharusnya kau tahu untuk apa Aku kesini jadi jangan berlagak bodoh seperti itu". Jawab Nino lagi, aroma permusuhan memang sangat terasa di antara mereka bahkan ruangan tersebut terasa panas padahal pendingin ruangan berfungsi dengan sangat baik.
"Anda sama sekali tidak penting untuk hidupku, jadi untuk apa aku tahu menahu tentang anda?".
"Aku merasa sangat sedih mendengarnya, tapi tidak mengapa aku akan mengatakan kepadamu jika aku ke sini ingin mencari istriku yang sudah kau bawa lari lima tahun yang lalu karena kau dan dia harus mempertanggungjawabkan perbuatan kalian dan menjelaskan semuanya kepadaku. Tunggu dia masih istriku kan meskipun dari hubungan kalian sudah lahir seorang anak?". Tanya Nino sinis.
Deg....
Marqin yang mendengarkan hal itu seolah mendapatkan angin segar. Bagaimana tidak dia yang sudah kehabisan akal untuk memisahkan Nino dan Shely akhirnya mendapatkan jalan keluar untuk kembali membuat jarak di antara mereka melalui ucapan Nino barusan.
Marqin benar-benar tidak menyangka jika Nino bisa berpikiran sependek itu, bagaimana bisa dia tidak menyadari jika Sheno adalah anaknya namun jika dipikir-pikir Nino ada benarnya karena dia tidak tahu tentang keberadaan Sheno sebelumnya bahkan bocah itu memanggil Marqin dengan sebutan daddy, hubungan mereka pun terlihat persis seperti ayah dan anak.
Maka secepatnya Marqin memanfaatkan momen itu untuk membuat kesalahpahaman diantara Shely dengan Nino semakin memburuk. Marqin kemudian diam-diam mengambil ponselnya dan menghubungi Shely agar wanita mendengar setiap ucapan dan tuduhan keji yang diucapkan oleh Nino sehingga membuat Shely sakit hati dan membenci suaminya itu.
"Haha, apa yang harus kami pertanggungjawabkan tuan Nino, bukankah kau sendiri yang tidak menginginkan Shely dan berharap dia menghilang dari hidupmu karena kau tidak mencintainya". Ujar Marqin saat memastikan jika panggilannya sudah terhubung ke ponsel Shely.
__ADS_1
Nino tersulut emosi mendengar ucapan Marqin dimana pria itu seolah mengetahui segalanya tentang kondisi rumah tangganya. "Ya, aku tidak menginginkannya tapi kau juga tidak semudah itu bisa memungutnya sembarangan bukan?". Sentak Nino.
Deg....
Shely yang sejak tadi berusaha berbicara dengan Marqin yang sama sekali tidak merespon perkataannya sangat terkejut dengan apa yang di dengarnya. Shely sangat kenal dengan suara itu, ya itu suara suaminya namun apa yang Nino maksud dengan ucapannya barusan sungguh Shely belum mampu mencernanya dengan baik.
Suara berat lantang dan tegas itu lagi-lagi mengeluarkan kata-kata yang sangat menyakitkan hatinya. Sungguh kakinya saat itu sudah tidak sanggup lagi menampung berat tubuhnya, namun belum lagi dia mampu mengembalikan seluruh kekuatannya yang hilang seketika tadi, Nino kembali bersuara di seberang sana.
"Bahkan yang lebih menjijikkan kalian sampai memiliki seorang anak dari hubungan tidak jelas yang kalian jalani itu, apa kau tidak sayang akan nasib anak itu hah?". Teriak Nino lagi.
Bugh.....
Kali ini Shely benar-benar tumbang, dia jatuh di lantai ruangannya. Dia tidak menyangka jika suaminya itu punya pikiran sepicik itu.
"Tuan Nino, tenangkan dirimu dulu karena apa yang anda pikirkan itu-". Shely samar-samar masih bisa mendengarkan pembelaan yang di ucapkan Marqin.
"Diam kau, kau dan kembaranmu sama saja, dulu Marvin juga merebut wanita yang sangat aku cintai". Seru Nino dan itu terdengar jelas di telinga Shely.
"Ternyata kamu juga masih mengingat Maya mas, sedangkan aku masih saja terjebak dengan perasaan yang salah ini meskipun sudah lima tahun berlalu". Gumam Shely.
Shely mengutuk dirinya sendiri yang masih saja berharap jika Nino suatu saat bisa mencintai dirinya namun nyatanya pria itu masih saja mengingat wanita di masa lalunya, Maya.
Sekuat tenaga Shely berusaha bangkit dan berdiri tegak, menghapus air matanya dan menuju ruangan Marqin karena kali ini dia bukan lagi Shely yang lemah dan tidak berdaya, dia wanita kuat yang bahkan mampu membesarkan Sheno sendirian tanpa kehadiran Nino.
__ADS_1
Shely akan menjumpai Nino dan memberi peringatan untuk pria itu karena tega-tega dia mempertanyakan status putra yang sangat dia cintai itu. Jika melukai hatinya saja mungkin Shely masih bisa menerimanya namun jika sudah berhubungan dengan Sheno, Shely akan bertindak tegas.
Ceklek...
Pintu ruangan Marqin terbuka dan benar saja jika Nino masih berada di sana. Dengan wajah angkuh dan penuh percaya diri Shely masuk ke dalam ruangan itu.
"Kamu mencariku mas?". Tanya Shely.
"Oh ternyata kau disini". Seru Nino mencoba menetralkan keadaan hatinya yang tidak karuan karena sebenernya dia sangat merindukan sangat istri dan ingin sekali membawa Shely kedalam dekapannya namun sayangnya kenyataan mengatakan jika Shely telah mengkhianati pernikahan mereka bahkan sampai memiliki seorang anak dari hubungannya dengan Marqin.
"Kamu berurusan denganku maka selesaikan denganku tidak perlu berteriak dengan kata-kata kasar kepada tuan Marqin". Ujar Shely yang juga berusaha menetralkan kondisi hatinya sebaik mungkin.
"Ya, kau dan aku punya urusan yang harus di selesaikan". Ujar Nino penuh penekanan. Saat ini Nino dan Shely saling menatap penuh damba namun kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka membuat jarak di antara mereka semakin menjauh.
"Jika apa yang kamu pikirkan itu memang benar adanya maka apa yang akan kamu lakukan, apa kamu ingin menceraikan aku?, aku sudah siap dengan semua konsekuensinya". Jawab Shely tak kalah tegas.
Deg....
Jika Shely mengucapkan kata cerai dengan hati yang hancur berkeping-keping, Nino juga mendengarnya dengan hati yang tak kalah hancur, sungguh pasangan suami istri itu sebenarnya sama sekali tidak pernah membayangkan jika mereka benar akan bercerai. Namun berbeda dengan Marqin, pria itu justru tersenyum sinis mendengarkan ucapan Shely tadi, dia tidak menyangka jika semudah itu membuat Shely dan Nino berpisah.
"Sekali tepuk, dua nyamuk mati sekaligus di tanganku. Kau memang beruntung Marqin. Jika tahu mereka akan berpisah semudah ini maka dari dulu aku akan mempertemukan mereka". Batin Marqin penuh percaya diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1