
Dengan santainya empat pria itu membawa Maya bersama mereka , tidak kesulitan apalagi yang menghalangi kerena memang mereka bukanlah orang sembarangan dan disegani oleh banyak orang. Meskipun banyak yang menatap curiga kearah mereka.
Namun dari kejauhan pria tampan bertubuh kekar, berkulit putih dengan mata abu-abunya justru penasaran dengan tingkah mereka. Gerak gerik mereka yang mencurigakan seolah mendorongnya untuk mengikuti kemana mereka akan membawa seorang wanita yang telihat mabuk berat bersama mereka.
"Cepatlah aku sudah tidak sabar menikmati malam indah bersamanya". Titah pria yang dari awal memang seolah ketua dari mereka semua dan paling disegani diantara mereka, ternyata pria itu bernama Jody.
Mendengar kalimat yang memang tidak pantas di dengarnya, pemilik mata abu-abu itu semakin yakin jika mereka memiliki niat jahat kepada Maya.
"Hei, mau kalian bawa kemana wanita itu?". Tanyannya lantang, hal tersebut membuat langkah mereka semua terhenti.
Dengan melihat dari penampilannya saja Jody sudah tahu jika yang mengahalangi mereka bukanlah orang sembarangan. Pria blasteran dengan umur yang jauh lebih dewasa dari mereka itu pasti memiliki pengaruh besar batinnya.
"Menyingkirlah tuan, kami tidak ada urusannya dengan anda". Ucapnya acuh.
"Wanita yang sedang bersama kalian adalah wanitaku, jadi serahkan dia padaku". Entah ide dari mana namun seolah semuanya mengalir begitu saja padahal pria itu bahkan belum melihat wajah Maya dengan jelas, hanya saja ada rasa iba dihatinya jika benar para pria itu akan berbuat jahat padanya. Karena jika Maya adalah wanita bayaran tentu saja mereka tidak akan membawanya dalam keadaan mabuk berat seperti itu batinnya.
"Hehe, aku tidak ingin membuat masalah tuan, jadi pergilah dari hadapan kami". Jody terkekeh karena tidak percaya begitu saja dengan ucapan pria itu, bagaimana bisa gadis belia seperti Maya punya hubungan dengan pria dewasa yang diperkirakan sudah berumur 30 tahunan itu.
__ADS_1
"Baiklah aku akan menghubungi polisi jika kalian tidak menyerahkannya secara baik-baik". Pria itu merogoh sakunya seolah sedang mencari ponsel.
"Oke, baiklah ambil dia". Mereka menyerah dan pergi dari sana. "Ayo cepat pergi dari sini". Titah Jody dengan wajah yang tidak bersahabat menatap kearah pria itu.
Pria itu kemudian meraih tubuh Maya dan langsung menggendongnya. "Dasar bocah ingusan, mau bertindak seperti orang dewasa tapi baru aku ancam begitu saja sudah ketakutan".
Pria itu membawa Maya bersamanya menuju sebuah kamar dan meletakkan tubuh Maya diatas kasur. "Gadis nakal, kau tidak tahu bahaya apa yang sedang menantikanmu dengan pakaian seperti ini". Pria itu menatap Maya dari ujung kaki sampai ujung kepala, bohong jika dia tidak tergoda karena nyatanya Maya memiliki tubuh sempurna, kulitnya yang putih dan didukung pula oleh wajah cantik khas Indonesia dengan rambut lurus panjang hitam tergerai itu.
Ada desiran aneh dari dalam tubuhnya yang bergejolak hebat sejak pertama kali dia menyentuh tubuh Maya namun ditepisnya jauh-jauh. Meskipun umurnya sudah terbilang dewasa namun Marvin bukanlah pria yang suka tidur dengan sembarang wanita pantang baginya memanfaatkan kesempatan, padahal selama ini banyak sekali wanita yang rela mendesah di atas ranjang dengan suka rela.
"Shiit, dia hanya gadis kecil bahkan sudah bertahun-tahun aku tidak berselera menyentuh wanita manapun bagaimana mungkin aku jadi salah tingkah hanya karena menatap tubuhnya". Ucapnya pada diri sendiri, ketika menatap kembali kearah tubuh Maya yang hanya ditutup oleh pakaian minim yang memperlihatkan dengan jelas lekuk tubuhnya.
Haikal Syahputra adalah salah satu rekan bisnisnya selama berada di Indonesia, ya, suami dari Aninda Ziandra Putri itu bukan hanya rekan bisnisnya namun mereka juga berteman baik. (Note : Baca novel sebelumnya ya "Hanya Cinta)
Untuk menetralisir desiran panas dari dalam tubuhnya Marvin segera meninggalkan Maya sendirian di atas ranjang sebelum otak jahatnya menuntunnya untuk segera menerkam Maya secara brutal. Namun belum lagi dia melangkah Maya menarik tangannya.
"Jangan tinggalkan aku lagi, aku sangat mencintaimu kak". Seru Maya dengan mata yang masih teetutup dan suara serak yang terdengar sangat sensual ditelinga Marvin.
__ADS_1
Marvin terkekeh mendengar hal tersebut. "Kau sedang patah hati rupanya". Marvin mencoba melepaskan tautan tangan Maya di tangannya namum Maya semakin mengeratkan genggamannya. "Jangan uji aku gadis kecil, aku masih cukup normal".
"Kenapa kamu tega padaku, apa salahku, apa kurangku? kenapa kamu lebih memilih wanita itu di bandingkan aku, hiks, hiks". Maya menangis dalam tidurnya dengan terus merancau tidak jelas. Marvin tetap pada pendiriannya, dia tidak memperdulikan Maya dan mencoba melepaskan tangan Maya.
"Tidak, kali ini tidak akan kubiarkan kamu pergi lagi dariku, kamu akan menjadi milikku seutuhnya". Sentak Maya dan menarik keras tangan Marvin sehingga pria tampan itu jatuh dan menindih tubuh Maya.
Maya membuka matanya menatap mata warna abu-abu dihadapannya sehingga menyadari jika pria di atas tubuhnya bukanlah Haikal, namun sepersekian detik kemudian dia kembali melihat wajah Haikal di hadapannya. Tentu saja pengaruh minuman membuatnya mabuk berat dan ada rasa panas yang sulit diartikan olehnya muncul dari dalam tubuhnya.
Desiran panas itu membuatnya seolah kehilangan kendali, dia seolah sangat menginginkan pria itu menyentuh tubuhnya lebih dan lebih lagi, belum lagi pengaruh alkohol yang cukup banyak di konsumsi olehnya tadi. Para pria tadi yang membawanya ke hotel tersebut sepertinya mencampurkan sesuatu yang menimbulkan sensasi panas tersebut.
"Aku mencintaimu kak, aku akan memberikan apapun agar kamu menjadi milikku". Maya kemudian mengesap secara brutal benda kenyal milik Marvin yang ada dihadapannya membuat Marvin membulatkan matanya dengan sempurna namun sangat menikmati esapan demi esapan itu.
"Kau yang memaksaku nona, jadi jangan sampai kau menyesal dan menyalahkanku". Ujar Marvin, pria yang bahkan belum tahu nama gadis yang berada dibawah kungkungan itu juga mengambil peran penting dalam pertautan antar dua bibir itu, tentu dia cukup mahir dalam melakukannya karena bukanlah pengalaman pertama baginya membawa seorang wanita berada dibawah kendalinya.
Nalurinya sebagai pria bangkit seketika ketika Maya terus bermain dengan lidahnya. Dia bahkan tidak peduli ketika Maya melakukan hal tersebut dengan dirinya namun yang dia bayangkan adalah pria lain. Persetaan dengan itu semua yang dia tahu dia hanya ingin menikmati ranumnya bibir manis itu.
Marvin melepaskan tautan itu ketika Maya sudah kehabisan oksigen. "Gadis ini bahkan tidak bisa melakukannya dengan benar". Marvin merasa aneh ketika Maya tidak mahir dalam bidang itu, dia mengernyitkan dahinya dan kemudian bergegas bangkit dari tubuh Maya.
__ADS_1
"No, jangan-jangan dia masih virgin". Marvin memijat pelipisnya berdenyut karena menahan hasrat yang membara.
••••••