
"Cerai?, Hahaha, enak saja kau meminta cerai, apa kau pikir aku akan menceraikan mu dan membiarkanmu hidup bahagia bersama selingkuhanmu itu, tidak semudah itu Shely, aku akan membuat kau menderita karena status mu dan anakmu yang tidak jelas". Ujar Nino tegas.
"Kamu akan menyesal karena sudah berkata seperti ini mas". Ujar Shely lirih.
"Kenapa, apa kau sakit hati?, lalu apa kau pernah membayangkan bagaimana perasaan kedua orang tuaku yang sangat menyayangimu tapi malah kau khianati seperti ini hah?". Sentak Nino.
Melihat Shely yang sudah mengeluarkan air matanya akibat kata-kata kasar Nino kepadanya, Marqin segera menghampiri Shely dan mendorong tubuh Nino agar menjauh dari Shely.
"Kau sudah keterlaluan, pergi dari sini sekarang juga atau aku akan memaksamu meninggalkan kantorku secara paksa". Sentak Marqin kepada Nino.
"Ck, drama percintaan yang dramatis. Dengarkan aku, aku bisa menjebloskan kalian berdua ke penjara atas tuduhan perselingkuhan karena Shely masih sah sebagai istriku, dan jika itu terjadi maka nasib anak kalian itu akan sangat menyedihkan bukan, karena kedua orang tuanya masuk penjara akibat ketahuan memiliki hubungan gelap dan seluruh dianjurkan akan tahu itu bahkan sampai melahirkan dia ke dunia ini dengan status sebagai anak-".
Plak....
Belum sempat Nino menyelesaikan ucapannya namun Shely sudah terlebih dulu membungkam mulut Nino dengan tamparan yang cukup keras. Sungguh Shely tidak sanggup untuk mendengarkan ucapan Nino tersebut sampai selesai karena dia tahu apa yang akan suaminya itu katakan.
Inilah kali pertamanya Shely berani bersikap kasar dan membalas setiap perkataan kasar Nino kepadanya, Nino juga merasa heran dan menganggap jika Shely telah banyak berubah. Dulu sekasar apapun dia menghina istrinya itu, Shely tidak pernah berani membantah apalagi sampai menjawabnya.
" Kau boleh menghinaku, membenci atau bahkan membuat aku menderita semau mu mas, tapi jangan pernah menghina anakku karena suatu saat nanti akan ku pastikan jika kau akan menyesalinya". Sentak Shely.
Nino mengusap wajahnya yang terasa perih namun tak seperih sakit yang ada di hatinya sambil menahan air matanya agar sebisa mungkin tidak jatuh karena sejujurnya dia juga tidak tega mengatakan hal itu apalagi ketika membayangkan wajah bocah kecil dengan mata indah yang dia warisi dari ibunya itu, namun api cemburu yang membuat akal sehatnya seolah tidak dapat bekerja dengan baik.
__ADS_1
Marqin menenangkan Shely dengan memeluknya, Shely menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Marqin. Melihat hal itu Nino semakin terbakar api cemburu dan tidak sanggup berada di dalam ruangan itu lebih lama lagi, sangat ingin rasanya dia menghajar Marqin habis-habisan karena telah berani memeluk istrinya namun dia juga sadar jika keadaan saat ini telah berubah, Shely yang sekarang sudah tidak mencintainya dan tidak menginginkannya lagi.
Nino pergi tanpa menoleh lagi untuk melihat Shely karena selain hatinya hancur karena rasa cemburu, hatinya juga hancur melihat wanita yang telah mengisi seluruh hatinya itu menangis karena dirinya dan dia tidak bisa berbuat apa-apa bahkan hanya sekedar untuk memeluk dan menenangkannya.
"Harusnya aku yang ada di sana Shel, memeluk dan menenangkan mu di dalam pelukanku". Batin Nino dengan air mata yang sudah tak terbendungkan lagi.
...----------------...
Satu minggu sudah berlalu sejak Nino dan Shely bertemu di perusahaan Marqin. Tidak adak komunikasi apalagi solusi untuk masalah mereka karena untuk menceraikan Shely sudah pasti tidak mungkin Nino melakukan hal itu karena meskipun dia sangat marah dan jijik dengan perselingkuhan Shely namun nyatanya dia tidak rela melepaskan wanita itu, mungkin inilah tingkat jatuh cinta yang paling tinggi yang dia miliki karena cintanya tetap tidak pudar meskipun Shely telah melakukan kesalahan yang sebenarnya tidak termaafkan.
Kebiasaan Nino sejak di belum menikah juga sudah kembali lagi, dia sibuk berada di klub malam dengan minuman kerasnya tapi dia sangat menghindari setiap wanita yang mencoba menggodanya.
Nino menghabiskan setiap malamnya di klub sampai pagi bahkan sampai klub sudah mau di tutup dia masih enggan beranjak dari sana sehingga para pelayan di sana terpaksa mengusirnya secara paksa. Hal itu tidak luput dari pengawasan Marqin bahkan pria itu juga mengatakan kepada Shely perihal kebiasaan Nino yang tidak berubah dari dulu agar Shely semakin membenci suaminya itu.
Shely sudah tidak mau tahu menahu lagi apapun yang dilakukan oleh Nino baginya perkataan Nino tempo hari cukup membuatnya sadar jika Nino memang benar-benar tidak pernah mencintai dirinya bahkan pria itu tidak dapat mengenali anaknya sendiri, meskipun Shely menyadari jika itu bukan seratus persen salah suaminya karena memang dia yang tidak pernah jujur tentang kehamilannya.
Marqin sendiri juga tidak perlu bersusah payah lagi untuk menjauhkan pasangan suami istri itu karena dia sangat yakin jika Shely sudah tidak mau lagi berhubungan dengan pria bernama Nino tersebut.
Jika malam hingga pagi dini hari Nino selalu menghabiskan waktunya di klub maka di siang harinya dia akan mengurung dirinya di rumah, tanpa kegiatan ataupun teman. Bagaimana kondisi perusahaannya dia juga tidak peduli lagi karena yang ada di pikirannya saat ini hanyalah bagaimana caranya agar dia bisa bersama Shely lagi.
"Sampai kapan aku akan seperti ini?". Tanya Nino kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
Di titik terendahnya saat ini dia sudah tidak menginginkan apapun kecuali kembali bersama istrinya, jadi dia memutuskan untuk bertemu dengan Shely dan memohon kepada Shely agar kembali bersamanya bahkan Nino akan menerima Sheno seperti anak sendiri, urusan Marqin, Nino tidak mau ambil pusing selagi Shely mau ikut bersamanya maka Marqin tidak bisa berbuat apapun karena mereka tidak memiliki hubungan yang kuat seperti dirinya dan Shely.
"Aku tidak punya banyak waktu mas". Ujar Shely acuh bahkan wanita itu tidak sanggup melihat wajah suaminya selain karena dia masih sakit hati dengan ucapan Nino tentang Sheno, juga karena tak tega melihat wajah Nino yang terlihat menyedihkan dengan penampilan yang tidak terurus dan wajah yang di penuhi dengan bulu-bulu halus.
Shely menyetujui untuk bertemu dengan Nino berdua saja tanpa Marqin setelah pria itu memohon-mohon padanya.
"Shely, maafkan aku akan semua rasa sakit yang mungkin pernah aku ukir di hatimu hingga kamu tidak tahan dan meninggalkanku. Shel, pulanglah bersamaku dan kita mulai kehidupan kita dari awal lagi, jujur setelah kepergianmu hidupku hancur dan aku baru menyadari jika aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Kembalilah kepadaku". Ujar Nino serius.
Deg.....
Hati seketika terasa sangat sejuk mendengarkan pengakuan cinta yang sejak lima tahun ini tidak pernah dia dengar dari suaminya. Shely menatap mata Nino mencoba mencari kebohongan di sana namun tidak dia temukan karena yang ada hanya ketulusan.
Nino mendekatkan wajahnya ke wajah Shely hingga napas mereka saling beradu hingga mereka bisa saling merasakan hangatnya napas masing-masing, kedua tangan Nino memegang wajah mungil istrinya itu.
"Aku mencintaimu, maaf karena baru sekarang aku mengakuinya. Pulanglah bersamaku". Ujar Nino lembut.
Cup...
Kedua insan itu sama-sama tidak bisa menahan rasa rindu yang sudah memuncak sehingga entah siapa yang memulainya namun bibir mereka saling bertaut satu sama lain, dari ciuman yang sangat lembut hingga ciuman yang semakin menuntut, lama dan hangat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1