Maya (Ayah Dari Anankku)

Maya (Ayah Dari Anankku)
Part 80


__ADS_3

Benar saja seperti tebakan Nino, saat dia menuju bandara ada mobil yang terus mengikutinya dari belakang dan memastikan jika dia benar menuju bandara. Maka Nino dan asistennya yang sudah siap dengan skenario yang mereka rencanakan sehingga mereka sudah tidak canggung lagi dalam memerankannya.


"Tenyata benar kecurigaanku, dia menyembunyikan sesuatu dariku dan akan aku harus tahu itu apa". Gumam Nino kesal.


Iya, orang-orang yang mengikutinya itu memperkuat alasan kenapa Nino memang harus menaruh rasa curiga terhadap Marqin, terlebih lagi karena dari banyaknya daerah yang mampu dia kuasai untuk mengembangkan bisnisnya namun hanya Bali saja yang dari dulu sangat sulit dia tembus.


Dan Nino yakin jika alasannya karena dulu dirinya pernah menaruh perasaan kepada adik iparnya Maya, tentu saja itu sangat tidak masuk akal karena dia dan Maya bahkan sekarang ini tidak pernah berkomunikasi lagi. Nino juga tidak pernah berusaha mengganggu rumah tangga Maya dan Marvin sejak dulu pertama mereka menikah.


"Pasti ada alasan lain, tapi apa?". Tanya Nino pada dirinya sendiri karena merasa jika selama ini dia tidak pernah punya masalah dengan kembaran Marqin tersebut, bahkan mereka baru pertama bertemu malam itu di Bali.


Nino saat ini sudah berada di sebuah rumah yang dia sewa khusus di dekat rumah Marqin, setelah drama di bandara tadi bisa dia atasi dengan mudahnya sekarang dia bernapas lega karena saat ini Marqin dan anak buahnya pasti akan menhira jika dia sudah kembali ke jakarta.


Bukan hanya menyamarkan kepulangan ke Jakarta saja, selama berada di bali Nino juga tidak akan melakukan transaksi apapun dengan menggunakan kartu kredit atau identitas apapun lainnya untuk memenuhi segala kebutuhannya, termasuk membeli sebuah mobil atas nama sahabatnya.


Rian Mahendra, ya dia menggunakan kartu kredit atas nama sahabatnya itu karena dia sadar betul jika yang sedang dia hadapi bukanlah seorang pria biasa melainkan pria dari klan Askari. Rian Mahendra memang orang yang sangat tepat untuk di mintai tolong jika berhubungan dengan hal-hal seperti itu, selain dia adalah sahabat baik Nino dia juga salah satu mafia yang di perhitungkan di Indonesia.


"Aku sudah seperti mafia saja yang sedang di kejar oleh musuhnya". Gumam Nino sambil tersenyum sinis dengan nasibnya saat ini.


Namun sesulit apapun rintangan yang harus dia lalui dia sudah bertekad untuk mencari tahu alasan kenapa Marqin Askari seperti sangat tertutup dengan dan seolah memusuhi dirinya, karena jika itu soal Maya tentu saja itu alasan yang sangat tidak masuk akal.


Maka hari-hari yang harus di lalui Nino mulai hari itu tidak lah mudah, dimana pria itu harus selalu memakai jaket dan topi kemanpun dia pergi agar tidak ada yang mengenali. Hingga suatu hari dia melihat Marqin sedang bersama Sheno di sebuah taman bermain.

__ADS_1


Awalnya tidak ada yang aneh dari interaksi ayah dan anak itu, sampai pada akhirnya Nino melihat ada seorang wanita yang di panggil mama oleh Sheno namun sayangnya wanita itu membelakangi dirinya hingga Nino tidak dapat melihat wajah sang wanita.


Akan tetapi ada yang aneh ketika dia melihat tubuh wanita itu dari belakang, seolah dia terhipnotis dan sangat mengenal pemilik tubuh itu.


"Aku pasti sudah benar-benar giila karena membayangkan istri orang sebagai Shely". Batin Nino dalam hati yang mengutuk pikiran bodonya itu.


Nino tetap setia menunggu di sana bahkan tidak ada rasa bosan sedikitpun yang dia rasakan apalagi bisa melihat bagaimana lincah tau Sheno berlarian kesana kemari, sungguh tingkah bocah itu sangat menggemaskan.


Meskipun lelah menunggu di sana, namun sayangnya wanita yang di yakini oleh Nino sebagai mama Sheno itu tidak menunjukkan wajah kearahnya sekalipun padahal dia sudah sangat penasaran bagaimana penampakan wajah wanita itu sampai-sampai Sheno sama sekali tidak mewarisi sisi di bagian manapun di wajahnya dari wajah Marqin.


"Boy, kau lapa?". Tanya Marqin kepada Sheno saat mereka sudah puas bermain.


"Ya dad, Sheno lapar". Jawab polos bocah itu.


"Shel, Sheno sudah lapar, apa kau juga lapar?". Tanya Marqin pada Shely.


"Ya lumayan". Jawab Shely.


"Baiklah kita cari makan sekarang, kalian mau makan apa?". Tanya Marqin lagi.


"Apa saja, terserah Sheno saja".

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu ayo kita pergi". Marqin menggandeng tangan Sheno sebelah kiri dan Shely menggandeng tangan Sheno sebelah kanan.


Kemudian ketiga orang itu pergi dari taman itu dan tidak luput dari pengawasan Nino namun ketika Nino hendak menyusul mereka untuk mengikuti kemana mereka akan pergi dia tidak sengaja menabrak anak kecil dan menjatuhkan se krim anak kecil tersebut sehingga membuat anak kecil itu menangis. Jadi mah tidak mau Nino harus mendiamkan anak kecil tersebut terlebih dahulu dan menggantikan es krim yang baru untuknya.


Nino memanfaatkan waktunya sebaik mungkin untuk segera menyusul Marqin agar dia tidak kehilangan jejak mereka namun yang namanya berurusan dengan anak kecil tidaklah mudah sehingga bagaimanapun dia berusaha memanfaatkan waktu nyatanya dia tetap tidak bisa menangani anak kecil itu dengan mudah apalagi dia sama sekali tidak punya pengalaman apapun yang berhubungan dengan anak kecil.


Setelah selesai dengan urusan anak kecil tadi Nino berlari secepat mungkin menuju parkiran mobil untuk mengejar mobil Marqin, namun soalnya nasib baik sedang tidak berpihak kepadanya, dia kehilangan jejak Marqin begitu saja, padahal tinggal sedikit lagi dia bisa melihat wajah istri Marqin.


"Shiit, padahal tinggal sedikit lagi aku bisa melihat wajah wanita itu". Umpatnya kesal sambil menendang ban mobil miliknya. Nino merasa hari ini waktunya terbuang sia-sia karena dia tidak mendapatkan hasil apapun.


" Hah, Nino apa yang sedang kau lakukan di sini, membututi orang dan merasa sangat penasaran tentang istri orang yang bahkan tidak kau kenali sama sekali". Teriak Nino saat dia sudah berada dalam mobilnya.


Nino yang merasa kelelahan seharian itupun akhirnya memutuskan untuk mengisi perutnya yang sejak tadi kosong. Berada di pulau Dewata Bali tentu saja akan banyak tempat wisata kuliner yang akan memanjakan perutnya, Nino benar-benar ingin melupakan misinya untuk mengikuti dan mencari tahu tentang Marqin sejenak saja.


Setelah berkeliling mencari tempat makan yang cocok dengan lidahnya, akhirnya Nino berhenti di sebuah restoran yang sangat indah di tepi pantai, dilihat dari pengunjung yang memadati tempat itu bisa di pastikan jika makanan yang di sediakan disana sangatlah lezat.


Namun baru saja Nino mendapatkan tempat duduk yang cocok untuknya, dia tidak sengaja seperti melihat sosok Shely di kejauhan sana sedang menikmati sunset di pinggir pantai sendirian. Spontan saja Nino kembali bangkit dari duduknya dan mencari sosok tersebut namun dia kehilangan jejak Shely yang di lihatnya tadi.


Nino terus berkeliling seperti orang kehilangan arah di tengah keramaian pantai sore itu namun dia tetap tidak menemukan wanita yang di lihatnya tadi dan dia yakini jika itu Shely.


"Shely". Teriak Nino di pinggir pantai sambil berlutut tanpa peduli dengan orang-orang yang menatapnya aneh.

__ADS_1


Merasa ada yang memanggilnya Shely melihat sekelilingnya namun dia tidak melihat siapapun yang dia kenal di tengah banyaknya orang di pinggir pantai tersebut sehingga dia kembali masuk ke dalam restoran dan menyusul putranya dan juga Marqin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2