Maya (Ayah Dari Anankku)

Maya (Ayah Dari Anankku)
Part 78


__ADS_3

"Daddy". Seru Sheno lagi dengan suara yang lumayan keras sehingga dua pria yang saling menatap penuh arti tadi tersadar dari lamunan mereka masing-masing.


Marqin menatap kedatangan Sheno dan tersenyum manis lalu kemudian melangkahkan kakinya menuju sang putra.


"Ya sayang". Jawab Marqin lalu tersenyum kaku kepada Nino. "Ayo kita kesana". Ajak Marqin kemudian.


Namun belum juga Marqin sempat melangkahkan kaki untuk meninggalkan Nino sendirian, Nino langsung mencegat tangannya. "Tunggu". Sentaknya.


"Ada apa?". Tanya Marqin sambil menghempaskan tangan Nino.


"Jelaskan kepadaku siapa anak ini". Ujar Nino tegas.


Marqin menatap kearah Sheno dan mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Sheno. "Shen, disana ada kue yang sangat enak, kau kesana lah dulu dan tunggu daddy di sana ya". Ucapnya lembut, Marqin tidak ingin jika Sheno mendengar pembicaraannya dengan Nino karena dia tahu jika Sheno anak yang sangat cerdas dan bisa saja dia menceritakan tentang pertemuan mereka dengan Nino kepada Shely.


"Apa kau tidak mendengarkan tadi memanggilku dengan sebutan apa?". Tanya Marqin kepada Nino ketika dia melihat Sheno sudah duduk di tempat dimana dia suruh tadi.


"Kau mengkhianati Maya, hah, aku benar-benar tidak percaya kau bisa memakai topeng yang sangat manis didepan Maya tapi kau membuka topeng dan menunjukkan siapa dirimu sebenarnya di belakang Maya". Ujar Nino dengan nada sinis.


"Haha, kau tidak tahu apapun tentang hidupku jadi jangan mencampuri urusan pribadiku". Jawab Marqin santai dan ingin beranjak dari sana.


Nino lagi-lagi menangkap lengan Marqin dan menahan pria itu untuk pergi. "Tunggu, aku akan menghubungi Maya dan mengatakan kepadanya bagaimana tingkah lakumu di belakangnya". Nino merogoh sakunya dan mengambil ponsel untuk menghubungi Maya.


"Lakukan sesukamu tapi jauhkan tanganmu itu dari tanganku". Ujar Marqin tegas.


Nino harap-harap cemas saat menunggu Maya mengangkat panggilan darinya karena dia sudah lama tak menghubungi wanita itu apa mungkin hal buruk memang terjadi kepada Maya selama ini dan dia tidak tahu apapun tentang itu.


Sementara itu Maya yang melihat panggilan masuk darin ponselnya langsung merasa aneh dan mengkerut kan keningnya karena tidak menyangka jika yang menghubunginya adalah Nino, karena selama bertahun-tahun ini, jangankan untuk menghubunginya Nino bahkan tidak pernah mau mengangkat telepon darinya.


"Kau kenapa sayang?". Tanya Marvin melihat ekspresi tak biasa dari istrinya. "Siapa yang menelepon?". Tanya Marvin lalu mengambil ponsel dari tangan istrinya.

__ADS_1


"Hah, pria ini ternyata, aku pikir di sudah tiada". Ucap Marvin jengah.


"Marvin, kenapa bicara seperti itu?". Sentak Maya. "Lihat panggilannya sudah berakhir". Ujarnya lagi.


"Kenapa menyalahkan ku, kau sendiri yang tidak mengangkatnya tadi, sepertinya kau sangat merindukan pria itu".


" Marvin, ini bukan saatnya berdebat, setelah bertahun-tahun dia tidak mau berhubungan dengan kita lagi mungkin saja saat dia sedang dalam kesulitan dan membutuhkan pertolongan kita, ingat Marvin aku tidak akan ada di sini saat ini jika bukan karena bantuan dari Nino dulu". Jelas Maya panjang lebar.


"Iya-iya, aku tahu itu". Jawab Marvin pasrah.


Sementara itu, Nino merasa sangat kesal karena maya tidak mengangkat telepon darinya.


"Ck". Kesalnya.


"Kenapa?, apa dia tidak mau mengangkat telepon darimu?". Tanya Marqin sinis. "Ayo hubungi dia lagi siapa tahu kau beruntung kali ini".


Tidak mau merespon apa yang dikatakan oleh Marqin, Nino kembali menghubungi Maya dan kali ini tidak butuh lama Maya langsung mengangkatnya.


"Kamu dimana sekarang May?". Tanya penasaran.


"Aku, tentu saja di rumah, ini sudah malam. Kamu kenapa, apa-".


Lagi-lagi tanpa mau mendengar lebih lanjut perkataan Maya, Nino kembali memotong pembicaraannya dengan bertanya lagi. "Dimana suamimu?". Tanya Nino tegas.


"Suamiku?, Marvin, ini dia ada di sampingku". Jawab Maya.


"Jangan bercanda May, katakan dimana suamimu saat ini?". Seru Nino masih tak percaya dengan jawaban Maya.


"Nino, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kamu mencari Marvin dan-".

__ADS_1


" Halo, kau ingin bicara denganku". Marvin yang mendengar pembicaraan istrinya dengan Nino langsung mengambil ponsel Maya dan berbicara dengan Nino.


Deg...


Nino terdiam saat mendengarkan suara yang ada di seberang sana, ya dia kenal betul jika itu suara Marvin dan sama persis dengan suara pria yang saat ini ada di hadapannya saat ini. Marqin yang melihat ekspresi wajah Nino yang tegang itu langsung tersenyum sinis.


"Hei, kenapa kau menanyakan tentangku, ada apa?". Tanya Marvin di seberang sana lagi. "Apa kau sangat merindukanku?". Marvin kembali menggoda Nino dengan nada kesal.


Nino tidak merespon Marvin lagi, dia langsung mematikan ponselnya dan menatap penuh tanya kearah Marqin.


"Siapa kau sebenarnya?". Tanya Nino kemudian.


"Jadi kau ingin berkenalan denganku, maka belajarlah cara berkenalan dengan baik dan benar jangan langsung menuding ku dengan semua tuduhan menjijikkan itu". Jawab Marqin angkuh.


"Kenalkan, aku Marqin Askari, salah satu pengusaha muda yang cukup perhitungkan di bali". Ujar Marqin dengan nada angkuh.


"Marqin Askari?, apa mereka kembar?, oh ya ampun menghadapi satu Askari saja aku sudah cukup kerepotan lalu kenapa aku harus kenal dengan Askari lainnya lagi" . Batin Nino kesal dengan wajah dan nama pria di hadapannya ini.


"Kenapa, apa kau ingin kenal lebih jauh denganku, maaf dengan tuan?". Tanya Marqin pura-pura tidak tahu nama Nino karena dia ingin meremehkan pria di hadapannya itu.


"Nino, Nino Fernando". Jawab Nino acuh.


"Ya tuan Nino, aku tidak kenal dengan anda dan sangat di sayangkan anda justru menuduh ku dengan tuduhan yang sangat memalukan, untung saja aku sedang berbaik hati dan tidak akan memperpanjang permasalahan ini karena aku datang kesini di temani oleh putra tampanku, jika tidak mungkin akan lain ceritanya. Dan aku ingatkan kepada Anda jika takdir kembali mempertemukan kita maka ingat baik-baik namaku dan buang jauh-jauh tuduhan memalukan mu karena aku tidak akan berbaik hati untuk yang kedua kalinya jika anda berani menuduh ku dengan tuduhan seperti tadi". Jelas Marqin panjang lebar, kemudian dia mengaitkan kancing jasnya yang tadi terbuka lalu melangkah meninggalkan Nino yang mematjng di sana dengan wajah angkuhnya.


Nino bisa melihat dengan jelas di balik wajah angkuhnya, pria bernama Marqin itu berinteraksi dengan putranya dengan sangat lembut. Entah apa yang di rasakan Nino saat ini namun baru kali inilah dia merasa iri melihat interaksi antara seorang ayah dan anaknya, rasanya ingin sekali dia juga memiliki seorang anak namun nyatanya dia tidak bisa menikah lagi karena tidak ada satupun wanita yang bisa meluluhkan hatinya padahal selama ini Nino sudah mencoba untuk membuka hatinya kepada beberapa wanita.


Mata Nino seakan tidak ingin lepas dari bocah kecil bernama Sheno itu dia terus melihat apa yang di lakukan bocah itu dan seakan semuanya terlihat menggemaskan. Padahal selama ini tidak pernah terpikat kepada anak kecil manapun yang pernah di jumpainya.


Sheno kemudian melambaikan tangan kearah Nino. "Uncle, aku pulang dulu ya". Seru Sheno dan Nino tersenyum sambil mengangguk dan membalas lambaian tangan Sheno.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2