
Mulai sejak itu Nino gencar melakukan pendekatan terhadap Shely maupun Sheno dia bahkan pindah dari hotel yang dia tempati sebelumnya ke hotel tempat Shely dan Sheno berada saat ini bahkan dia memesan kamar tepat di samping kamar Shely.
Marqin sebenarnya tidak mempermasalahkan hal tersebut karena dia juga merasa sidah cukup ikut campur dalam permasalahan rumah tangga Shely dan Nino, namun melihat langkah Nino yang terkadang terkesan konyol membuatnya tidak suka terhadap pria itu tapi Nino tidak ambil pusing perihal Marqin lagi karena dia sudah tahu kenyataan jika Marqin tidak sedang mengincar istrinya.
Yang membuat miris adalah ketika Nino mendekati putranya namun putranya Sheno lebih dekat dang lengket dengan Marqin yang di kenalnya sebagai daddy nya itu.
"Sayang, ayo ikut dengan uncle, uncle akan belikan kamu mainan atau apapun yang kamu sukai". Ujar Nino, dia memang masih memanggil dirinya uncle karena Shely melarangnya untuk memperkenalkan dirinya sebagai ayah kandung Sheno secara langsung karena Shely khawatir jika itu akan berpengaruh pada kondisi mental putranya.
"No uncle, aku mau ikut dengan daddy saja, boleh kan ma?". Tanya Sheno polos.
Namun rasa sakit yang Nino rasakan mungkin belum sebanding jika di bandingkan dengan rasa sulit yang di hadapi Shely sendirian selama ini. Hari itu Marqin memang mengajak Sheno jalan-jalan untuk menghabiskan sisa liburan mereka sebelum akhirnya mereka kembali ke Bali untuk persiapan Celina melahirkan.
Nino yang mendengarkan hal tersebut tidak terima dan ingin juga mengajak Sheno agar mereka lebih akrab namun Sheno menolaknya.
Shely yang melihat usah Nino yang selalu gagal itu kemudian berinisiatif untuk menjelaskan kepada putranya secara perlahan-lahan tentang siapa sebenarnya Nino dan bagaimana hubungan dirinya dan Nino karena bagaimanapun shely merasa bersalah jika selalu menutupi kenyataan jika mereka adalah ayah dan anak kandung.
Saat Shely menidurkan Sheno malam itu Shely berencana akan mengatakan jika Nino adalah ayah kandung yang selama ini sering dia tanyakan kepadanya.
"Shen". Panggil Shely lembut sambil mengelus-ekus rambut putranya. Sheno yang di panggil langsung mengangkat kepalanya dan menatap sang mama.
"Sayang, apa kamu masih penasaran dan ingin bertemu dengan papa?". Tanya Shely.
Sheno yang mendengarkan tentang papanya lansung bangkit dari tidurnya karena bocah itu memang sangat ingin bertemu dengan sang papa. "Ya ma, apa papa akan segera menjemput kita?". Tanya Sheno antusias.
"Ya sayang, tapi ada permasalahan di antara papa sama mama yang kamu belum bisa mengerti jadi kalau pun kamu bertemu dengan papa nanti itu bukan berarti kita akan ikut papa karena mama tidak bisa tinggal bersama papa dulu". Jelas Shely secara perlahan.
"Kenapa begitu?, teman-teman ku papa dan mamanya tinggal dan selalu bersama". Jawab Sheno lesu.
__ADS_1
"Shen, kamu masih kecil dan ada beberapa hal tentang orang dewasa yang belum bisa kamu mengerti".
"Jadi kalau papa datang kesini bolehkah Shen tidur dan bermain bersama papa?".
"Tentu saja sayang, kamu bisa melakukan apapun bersama papa dan mama tidak akan melarangnya hanya mama mohon jangan minta satu hal yaitu tinggal bersama papa dan mama di satu rumah yang sama, bagaimana kamu setuju?". Tanya Shely dan Sheno langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.
Bocah itu tidak peduli tentang hidup bersama atau tidak yang dia mau hanya bertemu sang papa agar dia teman-temannya di sekolah tidak selalu mengejeknya karena tidak mempunyai papa. Apalagi selama ini Shely juga selalu mengatakan hal baik tentang Nino dia tidak pernah membuat Sheno memiliki memori yang buruk tentang ayah kandung anaknya itu.
"Apa papa mirip denganku?". Tanya Sheno polos.
"Sangat, apa kau siap untuk melihat foto papa?". Shely mengambil sebuah figura yang selama ini di simpan rapi di dalam kopernya, foto pernikahannya dengan Nino itu memang sengaja dia bawa dulu saat dia meninggalkan Nino agar jika dia merindukan suaminya itu dia bisa memandang foto tersebut bahkan kemanapun dia pergi sudah menjadi kebiasaannya untuk membawa foto tersebut.
Sheno dengan wajah sumringah menantikan foto tersebut, senyuman tidak pernah lepas dari wajah tampannya itu. Shely memberikan foto itu dan Sheno menerimanya dengan senang hati. Sheno mengerutkan dahinya karena seperti pernah melihatnya pria yang berada di dalam foto tersebut.
"Uncle Nino?". Tanyanya bingung.
Sheno terlihat sedih dan meletakkan foto tersebut sembarangan kemudian dia kembali berbaring dan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya hingga batas kepala. Shely yang melihat hal tersebut sangat khawatir dan langsung mendekati sang putra.
"Kamu kenapa Shen?". Tanya Shely menatap wajah anaknya intens bahkan dia melihat Sheno mengeluarkan air mata. Shely menduga mungkin saja jika putranya tidak menyangka jika papanya adalah Nino dan mungkin saja dia tidak bisa menerima Nino sebagai papanya.
"Shen sedih mama". Ujarnya lirih.
"Tapi kenapa sayang?".
"Shen jahat ma, Shen sering menolak ajakan uncle Nino padahal uncle Nino adalah papanya Shen, kenapa mama baru mengatakan kalau uncle Nino itu papa Shen?".
"Maaf sayang, tapi mama dan papa pikir kalau kamu butuh waktu untuk menerima situasi ini". Jawab Shely yang juga merasa bersalah.
__ADS_1
"Apa papa akan marah dan benci kepada Shen ma?, Shen tidak mau kalau papa marah dan pergi lagi meninggalkan kita". Ujar bocah itu sambil menangis segugukan.
Shely tidak menyangka jika Sheno putra ternyata menangis karena rasa bersalah dan takut kehilangan papanya lagi karena awalnya dia berpikir jika Sheno mungkin akan sulit menerima kehadiran Nino di tengah mereka.
"Tentu saja tidak sayang, papa pasti akan memaafkan kamu karena dia sangat menyayangi kamu". Jawab shely mencoba menenangkan putranya.
"Benarkah?, Kalau begitu bolehkah Shen malam ini tidur di kamar papa?".
"A-apa?". Shely bingung karena putranya begitu cepat ingin bertemu bahkan tidur dengan Nino, jujur sebenarnya dia tidak siap jika secepat itu Sheno akrab dengan Nino dan harus membagi waktu Sheno dengan suaminya itu karena selama ini shely selalu tidur bersama Sheno tanpa pernah terpisahkan namun menatap wajah polos anaknya yang penuh harap itu Shely juga tidak boleh egois dan tidak dapat menolaknya.
"Ba-baiklah, kita ke kamar papa sekarang ya". Jawab Shely kemudian.
Maka dengan segera bocah tampan itu langsung bangkit dari pembaringannya dan mengikuti langkah mamanya untuk menuju kamar Nino. Shely menekan bel kamar Nino beberapa kali namun tidak ada jawaban sama sekali seolah pemilik kamar itu tidak berada di dalam. Shely tidak kehabisan akalnya, dia mengambil ponselnya dan menghubungi nomor suaminya namun hasilnya tetap nihil.
Sheno yang mengerti situasi itu langsung menangis. "Papa pergi lagi karena marah papa Sheno ya ma?". Tanya bocah itu.
"Tidak begitu sayang mungkin papa sedang keluar sebentar mencari makan atau ada keperluan lain". Jawab Shely.
Namun Sheno tetaplah hanya anak kecil yang polos, dia tetap menyangka jika Nino tetapi meninggalkannya lagi, situasi semakin tidak kondusif sehingga Shely harus meminta bantuan Celina dan Marqin untuk mengatasi Sheno yang menangis semakin kuat itu.
Marqin dan Celina juga tidak dapat berbuat banyak karena Sheno tidak mau mendengarkan penjelasan apapun bahkan Marqin harus mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Nino.
Nino sendiri tenyata hanya menghabiskan waktunya untuk menghirup udara malam karena dia susah tidur malam itu, dia juga tidak membawa ponselnya yang berada di dalam kamarnya. Setibanya di depan kamarnya Nino sangat ingin bertemu Sheno dan mengucapkan selamat malam namun tidak ada jawaban dari dalam kamar sehingga dia berbalik dan menatap kamar Marqin yang terbuka.
Karena penasaran kenapa kamar tersebut terbuka Nino berinisiatif mendekati kamar tersebut untuk mencari tahu. Nino memanggil Marqin dari luar dan yang muncul bukanlah Marqin melainkan Sheno yang tiba-tiba langsung menabrak tubuhnya dan memeluk kakinya dengan sangat erat.
"Papa jangan pergi lagi, maafkan Shen". Seru bocah itu.
__ADS_1
Deg.....