Maya (Ayah Dari Anankku)

Maya (Ayah Dari Anankku)
Part 51


__ADS_3

Bruuukk....


Suara hantaman yang sangat keras itu mampu menghentikan aktivitas Jack yang hendak membuka pintu mobil.


"Tuan". Gumamnya kemudilgsung bervalik arah dan memastikan jika Marvin dalam keadaan baik-baik saja.


Namun naasnya Jack malah menemukan hal yang sebaliknya, dia mendapati tubuh Marvin yang terbujur tak sadarkan diri tergeletak di atas aspal jalanan dengan darah segar yang mengalir di kepalanya namun ada yang aneh meskipun sudah dalam keadaan seperti itu tangan Marvin tetap menggenggam erat bunga yang dia belikannya untuk Maya.


Sementara itu di mansionnya Maya sedang bersiap-siap untuk persiapan makan malamnya bersama sang suami, dia terus membolak balikkan setiap baju yang di tempelkan ke tubuhnya karena kebanyakan dari baju-bajunya itu sudah tidaj muat atau tidak sesuai dengan kehamilannya yang semakin membesar itu.


"Cih, tidak ada satupun baju yang cocok dengan tubuh yang semakin membesar ini". Ucap Maya putus asa. Dia bahkan lupa untuk merancang baju hamil khusus untuknya mengingat dia tidak memiliki satupun baju hamil.


"Aku bahkan tidak memiliki baju hamil satupun seperti orang susah saja padahal suamiku itu kan orang kaya". Ujarnya lagi sambil tersenyum mengingat betapa manisnya perlakuan Marvin tadi pagi.


Padahal Maya sempat takut sendiri tadi malam ketika dia mengusir Marvin dan Celina dari mansion tersebut, dia berpikir jika Marvin akan pergi bersama Celina tanpa mempedulikan dirinya lagi apalagi dia sempat menampar pipi Marvin.


Dia tidak akan bisa membayangkan jika Marvin benar-benar meninggalkannya, bagaimana nasibnya dan juga anak-anak yang sedang dia kandung, tentu saja mereka akan lahir tanpa seorang ayah, bukan perkara harta karena nyatanya Maya bukanlah orang susah namun figur Marvin yang di butuhkan oleh anak-anaknya lah yang menjadi prioritas Maya saat ini. Maya tidak ingin anak-anak lahir tanpa orang tua yang lengkap seperti dirinya.


Maya mengelus-elus perutnya sambil menenangkan bayi-bayinya yang terus menendang dengan sangat kuat lain seperti biasanya. Dia menoleh ke dinding dan melihat jam sudah menunjukkan pukul enam sore.


"Kemana dia, kenapa jam segini belum pulang juga padahal dia bilang kalau dia akan pulang cepat hari ini". Gumam Maya.


...----------------...


"Jadi nak Nino akan mengajak kami bertemu dengan kedua orang tuanya malam ini?". Tanya bapaknya Shely dengan sangat antusias.

__ADS_1


"Iya pak, apa bapak mau karena kedua orang tua saya ingin sekali bertemu dengan keluarga bapak". Jawab Nino.


Sore itu Nino mengunjungi rumah kontrakan Shely guna mengajak Shely dan kelaurganya untuk bertemu kedua orang tuanya. Karena lebih cepat dia memperkenalkan kedua orang tua Shely kepada kedua orang tuanya akan lebih baik karena dia ingin semua sandiwaranya dengan Shely cepat berakhir.


"Tentu saja kami mau sekali nak Nino, iya kan bu?". Tanya bapak Shely kepada sang istri yang memberikan jawaban dengan angukkan kepala yang sangat cepat.


"Tapi kami tidak punya baju bagus nak Nino, apa nak Nino tidak malu membawa kami dengan keadaan seperti ini?". Tanya ibu Shely.


"Bapak dan ibu tenang saja, papa dan mama saya tidak mrmandang seseorang dari penampilannya jadi tampil apa adanya di depan mereka akan lebih baik". Jawab Nino, sedangkan Shely hanya bisa menghembus napas mendengar ucapan Nino.


"Tapi dalam rangka apa kami di undang kesana nak?".


"Emmh, begini pak, sebenarnya saya menyukai anak bapak dan berniat menikahinya, kedua orang tua saya akan setuju kalau mereka sudah bertemu dengan bapak dan ibu". Ujar Nino tanpa beban.


Deg....


Namun hal yang membuat dadanya sesak adalah karena Nino melakukan hal itu atas dasar kebohongan demi melancarkan rencananya semata tanpa mempedulikan berapa hati yang sedang di permaiankan olehnya.


Berbanding terbalik dengan Shely, kedua orang tuannya justru kegirangan mendengar hal tersebut, mereka bahkan sampai lompat-lompat sangking bahagiannya karena beranggapan akan mendapatkan seorang menantu yang kaya raya sehingga mereka juga akan menjadi orang kaya sama seperti Nino.


Setelah segala kehebohan dan segala perdebatan yang terjadi hari itu, akhirnya mereka berempat saat ini berada tepat di depan rumah Nino dengan pakaian seadanya yang di kenakan oleh kedua orang tua Shely namun justru hal itu membuat hati Nino sangat puas karena jika di lihat dari penampilannya saja baik Hartono maupun Ningsih tidak mungkin menerima mereka sebagai calon besan.


Benar saja, Hartono dan juga Ningsih di buat terkejut dengan kedatangan kedua orang tua Shely dengan pakaian yang sangat norak menurut mereka bahkan mereka sempat tidak percaya jika mereka adalah orang tua kandung Shely, namun apalah daya mereka harus menghargai tamu yang sudah sangat mereka nantikan itu.


"Silahkan di makan pak, bu". Ujar Ningsih dengan sikap sewajarnya.

__ADS_1


"Baik bu, kami tidak akan malu kalau makanannya seenak dan sebanyak ini, iya kan pak?". Tanya ibu Shely kepada suaminya.


Tanpa basa-basi lagi kedua pasangan itu menyantap makanan di hadapan mereka dengan lahap bahkan tanpa mempedulikan orang-orangnyang berada di sekeliling mereka sedang memperhatikan mereka.


Nino tersenyum puas melihat tingkah mereka sehingga Shely semakin membenci pria yng menjadi bosnya itu. Dia tidak menyangka jika Nino yang awalnya di anggap baik olehnya memiliki sifat yang sangat egois seperti ini.


Disela makan malam tersebut ponsel Nino berdering, ketika dia menatap layar ponselnya ternyata nomor tidak di kenal sehingga dia mengabaikan begitu saja panggilan tersebut karena baginya saat ini yang lebih penting adalah segera menyelesaikan permasalahannya.


Namun ponsel itu tidak kunjung berhenti berdering sehingga mau talidak mau dia harus menerima panggilan itu.


"Ya halo". Ujar Nino.


"Apa?, dimana Maya sekarang? aku akan segera kesana". Seru Nino lagi.


Semua orang menghentikan aktivitas mereka dan menatap Nino dengan penuh tanda tanya kecuali kedua orang tua Shely yang masih sibuk dengan berbagai menu hidangan di atas meja tersebut.


"Maaf semuanya Nino harus pergi". Ucap Nino.


"Kamu tidak boleh kemana-mana Nino". Sentak Hartono, dia tahu jika putranya itu akan menemui Maya karena dia dapat mendengar dengan jelas jika tadi Nino menyebut nama Maya di panggilan teleponnya.


"Maaf pa, Nino tetap harus pergi". Nino langsung melesat lari menuju mobilnya tanpa mempedulikan orang-orang di sekelilingnya lagi.


Hartono dan Ningsih merasa sangat marah dengan tingkah laku putra mereka sedangkan Shely hanya bisa pasrah menatap punggung Nino yang semakin menjauh, sekarang dia sendirian yang harus menghadapi kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Nino secara bersamaan.


"Maya, begitu berpengaruhnya dia bagi tuan Nino bahkan tuan Nino tidak mendengar larangan dari ayahnya sendiri". Batin Shely.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2