Maya (Ayah Dari Anankku)

Maya (Ayah Dari Anankku)
Part 74


__ADS_3

"Marvin, kapan aku bisa melihat anak-anakku?". Rengek Maya kepada sang suami.


" Sayang ini sudah yang ke sepuluh kalinya kau menanyakan hal yang sama". Gumam Marvin.


"Dan sepuluh kali pula kau tidak mengizinkanku untuk menemui mereka, aku sangat ingin melihat anak-anakku".


"Besok, aku janji besok kau pasti akan melihat mereka karena aku ingin memastikan jika kau sehat terlebih dulu baru aku akan membawamu kesana".


"Marvin, aku mohon".


"Sayang, aku mohon, pikirkan tentang lukamu dulu karena aku tidak ingin apapun terjadi padamu, kau tahu aku sendiri saja belum melihat anak kita sama sekali".


" Apa?, tapi kenapa, kau tidak penasaran dengan wajah mereka?, lalu siapa yang mengazankan mereka?". Tanya Maya tanpa henti.


"Tentu saja si bodoh Marqin. Dengarkan aku, ketika aku mendengarkan kabar tentang kau yang kritis sudah nyaris membuat jantungku berhenti berdetak, aku sangat takut jika terjadi hal buruk padamu apalagi ketika dokter mengatakan jika kau mengeluarkan banyak darah dan butuh donor darah dalam segera agar bisa dilakukan tindakan operasi. Amaya, tidak ada yang lebih penting bagiku di dunia ini selain dirimu apalagi membayangkan hidup tanpamu belum lagi jika anak-anak kita selamat dan kau tidak, apa yang harus aku lakukan?. Jadi berhentilah bertanya kapan kita akan melihat anak kita karena aku janji besok kita akan melihat mereka bersama-sama". Jelas Marvin panjang lebar sambil menatap wajah Maya dengan intens.


"Kau manis sekali sayang, lalu dimana kau mendapatkan donor darah untukku?".


"Hah, aku sangat malas membahasnya tapi harus akui pria sok tampan itu yang mendonorkan darahnya untukmu". Jawab Marvin acuh.


"Maksudmu Nino?, dimana dia sekarang?".


"Kau lihat, inilah yang aku benci kau pasti akan menanyakan keberadaan pria tidak penting itu".


"Marvin, aku harus berterimakasih padanya, dia menyelamatkan nyawaku".


" Dia datang tanpa aku undang dan pergi begitu saja tanpa pamit, jadi mana aku tahu dia dimana sekarang ini".

__ADS_1


Maya mengendus kesal mendengar penjelasan sang suami karena dia merasa mungkin sesuatu yang buruk sedang terjadi pada Nino, karena sangat tidak mungkin jika pria itu pergi tanpa mengetahui keadaannya terlebih dahulu.


"Kamu mau menamai anak kita dengan nama apa? ". Tanya Maya kepada sang suami.


" Terserah kau saja". Jawab Marvin singkat.


"Kau ini kenapa seolah tidak peduli pada anak-anak kita". Ujar Maya lirih dan tiba-tiba saja menangis.


" Hei, aku bukan tidak peduli sayang hanya saja aku memberikanmu kebebasan untuk menamai mereka sesuai dengan keinginanmu".


"Tapi aku mau kau yang memberikan nama untuk mereka".


" Oke, baiklah aku yang akan memberikan nama untuk mereka, bagaimana kalau baby boy kita beri nama Malik Askari dan baby girl kita berikan nama Michaela Askari".


"Bagus, aku suka nama itu". Jawab Maya kegirangan, mereka terus saja berbincang sepanjang malam itu sampai akhirnya mereka tertidur di ranjang yang sama sambil berpelukan.


Hubungan Marvin sendiri dengan saudara kembarnya Marqin juga semakin membaik dari hari ke hari, karena sehari-harinya Maya tidak pernah bosan selalu mengibaratkan hubungan Marvin dengan Marqin seperti hubungan sepasang anak kembarnya, apalagi Marqin juga sudah memutuskan untuk menetap di Indonesia dan mengembangkan bisnisnya di Indonesia.


...----------------...


Sudah satu minggu kepergian Shely dari hidup Nino dan sudah satu minggu pula pria yang selalu meyakinkan dirinya dalam hati jika dia akan baik-baik saja dan bahagia karena bisa lepas dari Shely itu seperti orang kehilangan arah.


Orang-orang kepercayaan yang dia suruh mencari istrinya itu juga tidak mendapatkan informasi apapun tentang keberadaan Shely. Bukan hanya suasana hatinya yang kacau, hidup Nino juga tampak berantakan apalagi Nino yang merasa tidak nafsu makan jika tidak memakan masakan langsung dari tangan Shely.


Jika menyangkut tentang kebiasaan buruknya di malam hari, Nino benar-benar sudah meninggalkannya begitu saja bahkan pria itu tidak pernah terpikir untuk menginjakkan kakinya di tempat haram itu lagi.


Nino tidak melaporkan berita kehilangan Shely ke kepolisian karena dia tidak mau jika ada media yang mengetahui berita tersebut dan menyebarluaskannya, sungguh dia akan sangat malu karena biasanya dia yang mempermainkan wanita dan meninggalkan mereka begitu saja namun saat ini justru dia yang di tinggalkan oleh sang istri.

__ADS_1


"Berani sekali kamu pergi dariku begitu saja". Geram Nino sambil meremas baju tidur Shely yang terakhir dia gunakan sebelum menghilang.


Ya, begitulah kebiasaan Nino akhir-akhir ini, tidur dengan di temani oleh baju tidur Shely, memeluk dan menciuminya sepanjang malam. Dia mengumpat kesal dalam hatinya kenapa dia harus melakukan ritual yang sangat memalukan itu hanya untuk bisa tidur dengan nyenyak.


Dalam lamunannya Nino terus di bayangi oleh bayang-bayang Shely, masakan yang selalu dia siapkan untuknya bahkan sampai pada setiap kata kasar yang selalu sengaja dia ucapkan agar Shely merasa sakit hati.


Dia mengutuk sikap buruknya kepada Shely, dia tidak menyangka jika hidup tanpa Shely jauh lebih buruk di bandingkan dengan hidup tanpa bisa memiliki Maya dulu, bahkan dia tidak tahu dan tidak peduli sama sekali tentang kabar dari wanita yang terus dia bangga-banggakan itu.


"Dimana kamu sekarang?, apa kamu baik-baik saja heem?". Nino terus bergumam dengan mata tertutup dan memeluk baju Shely, air matanya juga ikut tumpah tanpa dia sadari.


"Maafkan aku, kamu boleh marah padaku dan menghukumku tapi jangan pergi seperti ini". Sambungnya lagi.


Dalam tidurnya Nino teringat akan satu hal yang belum dia pikiran selama ini, yaitu mungkin saja jika istrinya itu kembali ke kampung halamannya.


"Shiit, kenapa aku tidak terpikirkan sebelumnya, Shely pasti pulang ke kampung halamannya, dia tidak mungkin pergi kemana-mana tanpa membawa uang atau kartu identitas apapun". Umpat Nino mengutuk kebodohannya sendiri.


Tanpa berpikir panjang pria itu lansung bangkit dari tidurnya dan meraih kunci mobil serta jaketnya untuk segera menyusul sang istri ke kampung halamannya.


"Tunggu aku Shel, aku terlalu bodoh untuk paham jika seorang istri yang sedang marah kepada suaminya pasti pulang kerumah orang tuanya dan menunggu sampai suaminya datang menjemput. Kamu pasti sudah menungguku terlalu lama di sana". Unar Nino dengan senyum penuh kemenangan di wajahnya.


Dia tidak peduli jika waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam, tanpa memikirkan jarak tempuh yang jauh Nino tetap bertekad akan menyusul istrinya malam itu juga karena beranggapan jika Shely sedang menunggu untuk di jemput.


"Hah, Shel, aku akan minta maaf asalkan kamu ikut pulang lagi bersamaku". Gumam dengan wajah yang selalu di penuhi dengan senyuman, sebelum menginjak pedal gas dan melakukan mobilnya.


Dia sudah bertekad jika akan memperbaiki hubungannya dengan Shely, meskipun dia belum mengakui jika dia mencintai Shely namun dia akan mencoba menerima kehadiran Shely di hidupnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2