
Setelah pertemuannya dengan Nino dua hari yang lalu, Shely lebih banyak menyendiri dia tidak menceritakan pertemuannya dengan sang suami kepada siapapun termasuk sang ibu. Saat ini Shely merasa sangat bingung apa yang harus dia katakan kepada Nino tentang Sheno.
Jika dia jujur tentang Sheno kepada suaminya itu akankah Nino mau menerima kehadiran Sheno atau bahkan sebaliknya, Nino akan marah karena Shely mempertahankan kandungannya dan pergi begitu saja dari kehidupan Nino.
Marqin juga sempat melihat perubahan sikap Shely dan melihat ada keresahan yang sangat jelas terpancar di wajahnya namun ketika Marqin bertanya tentang apa yang sedang terjadi pada Shely, wanita itu selalu mengatakan jika dia tidak apa-apa.
Sementara itu di tempat berbeda Nino merasa sangat terpukul dan hancur, dia terlihat menyedihkan karena merasa dikhianati oleh Shely, dia tidak menyangka jika wajah dan tingkah polos Shely selama ini ternyata hanyalah sebuah kedok belaka.
Jika selama lima tahun ini Nino tidak pernah menyentuh lagi minuman haram maka dalam dua hari ini dia terus mabuk-mabukan di dalam kamarnya. Ya, Nino tidak jadi kembali ke Jakarta karena pikirannya saat ini buntu, dia tidak dapat berpikir dengan jernih dan tidak tahu harus melakukan apa selain menangisi nasibnya yang tragis.
"Wanita semuanya sama saja, mereka akan meninggalkan suaminya jika ada pria yang lebih kaya yang menjanjikan mereka segala kemewahan". Gumamnya dalam keadaan mabuk.
"Aku mengutuk perbuatanku kepadanya dan hidup dalam rasa bersalah selama lima tahun ini, sedangkan dia malah hidup bahagia dengan pria itu bahkan sampai memiliki anak, hahaha, apa ini karma untukku karena dulu aku selalu mempermainkan wanita?". Gerutunya lagi.
Nino tidak menyangka jika Shely bertindak senekat dan sejauh itu sampai memiliki seorang anak dengan Marqin dan tidak memperjelas tentang hubungan mereka yang masih sah sebagai suami istri. Harusnya jikapun dia ingin menjalin hubungan dengan Marqin seharusnya dia menceraikan Nino terlebih dulu dan membuat semua menjadi jelas tanpa harus pergi tanpa jejak dan penuh teka-teki seperti ini.
Nino membanting gelas yang ada di tangan hingga hancur berkeping-keping. Amarahnya memjncak kala membayangkan jika istrinya memiliki hubungan dengan Marqin yang memiliki wajah sama dengan Marvin, pria yang juga pernah merebut wanita yang dia cintai dan yang lebih menyakitkan adalah status Shely saat ini bukan hanya sekedar wanita yang berarti di hidupnya namun juga istri sahnya.
Apalagi jika dia membayangkan jika Shely berada di bawah kungkungan Marqin. Sungguh demi apapun dia tidak bisa menerima akan hal itu begitu saja. Akal sehatnya terkadang ingin berhenti saja memikirkan Shely dan melepaskan wanita itu dari hidupnya dengan menceraikan Shely namun disisi lain dia juga tidak mau mengalah begitu saja dan membiarkan Shely bahagia di atas penderitaannya.
__ADS_1
Status Nino sangatlah kuat di mata hukum maupun agama sebagai suami sahnya Shely, jadi dia bisa menggunakan hal tersebut untuk membuat hidup Shely dan Marqin menderita karena jika dia tidak menceraikan wanita itu maka Marqin tidak akan pernah bisa menikahinya sampai kapanpun.
"Kali ini aku tidak mau kalah, akan ku buat kau dan pria bajiingan itu sama menderita sepertiku". Teriak Nino sekuat tenaga sampai akhirnya dia tumbang akibat kebanyakan minum minuman terlarang.
...----------------...
Saat berada di kantor setelah menyelesaikan rapat penting bersama klien, Shely masuk ke ruangan Marqin untuk membicarakan hal yang menganjal di pikirannya selama dua hari ini, karena selain menjadi atasannya, Marqin juga satu-satunya teman dan orang paling dekat yang di miliki Shely untuk mendiskusikan segala hal termasuk tentang Nino apalagi dia tahu segalanya tentang pria itu.
"Dia ada disini". Ujar Shely lirih, dia memutuskan mengatakan kepada Marqin jika suaminya sedang berada di Bali dan menanyakan pendapat Marqin, apakah dia harus bersembunyi lagi atau justru harus bertemu dengan Nino untuk mengatakan perihal Sheno padanya karena bagaimanapun Nino dan Sheno sama-sama berhak tahu tentang status mereka.
Shely sengaja tidak bertanya atau mengatakan perihal Nino kepada ibunya karena dia tidak mau ibunya banyak pikiran karena sejak bapak Shely meninggal dunia, sang ibu menjadi pendiam dan seperti orang kehilangan semangat hidup jadi dia tidak mau menambah beban sang ibu.
"Mas Nino, dia ada disini". Jawab Shely lagi.
"Kau yang benar saja, bagaimana mungkin kau tahu jika dia ada disini?". Ujar Marqin benar-benar tak percaya.
"Iya, kami bertemu saat aku berada di mall bersama Sheno dua hari yang lalu".
"Akhirnya takdir mempertemukan kalian". Gumam Marqin. Dia sangat marah karena bagaimana bisa orang-orang suruhan tidak tahu akan keberadaan Nino di Bali, maka nisa di bayangkan apa yang akan dia lakukan kepada anak buahnya nanti.
__ADS_1
"Aku harus bagaimana sekarang?". Tanya Shely lahi dengan tatapan kosong, bahkan dia tidak melihat lawan bicaranya sedikitpun.
"Emmh". Marqin tampan berpikir dengan menatap Shely intens, jujur dia tidak mau jika Shely dan Sheno sampai bertemu dengan pria bernama Nino. "Apa kata hatimu?". Tanya Marqin.
"Hah, entahlah Marqin tapi yang jelas Aku merasa bersalah karena menyembunyikan keberadaan Sheno kepadanya". Ujar Shely sambil memijat dahinya yang berdenyut.
"Oh ya, Sheno ternyata sudah kenal dengan Nino sebelumnya, dia bilang kalian pernah bertemu di pesta malam itu, apa kamu masih ingat?, tapi mana mungkin kamu ingat ya, di pesta itu kan banyak sekali orang apalagi kamu dan mas Nino belum pernah kenal sebelumnya". Sambung Shely lagi.
Wajah Marqin mendadak panik karena dia tidak menyangka jika Sheno masih ingat dengan wajah ayah kandungnya itu. Untung saja yang Shely tahu jika dirinya tidak kenal dengan Nino sebelumnya.
"Iya, mungkin jika Aku melihatnya lagi Aku akan ingat nanti". Jawab Marqin canggung.
Setelah merasa lega karena mendapatkan solusi dari Marqin untuk bertemu dengan Nino dan jujur tentang keberadaan Sheno karena ini memang sudah saatnya mereka saling tahu satu sama lain, Shely meninggalkan ruangan atasannya itu. Meminta pendapat Marqin memang pilihan yang tepat bagi Shely karena pria itu akan selalu bisa memberikan solusi yang terbaik untuk setiap masalah yang sedang dia hadapi.
Shely juga sudah tidak perlu pusing memikirkan dari mana dia bisa mendapatkan nomor ponsel suaminya itu karena Marqin berjanji jika dia akan menyuruh anak buahnya mencari keberadaan Nino sehingga Shely dan Shenobisa menemuinya langsung dan Marqin sendiri juga yang akan mengantarkan mereka bertemu dengan Nino.
Sedangkan Marqin yang sejak tadi menahan amarahnya dengan wajah merah padam menghempaskan apapun saja yang ada di atas meja kerjanya, dia tidak bisa terima jika Shely bertemu dengan Nino dengan mudahnya meskipun di depan Shely Marqin seolah mendukung pertemuan mereka, karena selama ini dia sudah bersusah payah menjaga Shely dan Sheno saat Nino tidak ada di sisi mereka.
"Aku tidak mau tahu, pria itu harus menghilang dari Bali secepatnya". Titahnya kepada orang-orang suruhannya yang dia hubungi melalui ponsel.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...