
"Tunggu". Seru Haikal saat baru beberapa langkah Maya berbalik meninggalkan rumah mewat itu.
"Jika kau nekat pergi dari rumah ini maka jangan pernah anggap jika kami keluargamu lagi dan jangan pernah tunjukkan wajahmu didepanku lagi Maya. Rumah ini juga kuharamkan untuk kau injak". Sambung Haikal dan itu mampu menghentikan langkah Maya.
Sangat sakit ketika yang mengeluarkan kata-kata itu adalah Haikal namun apa yang harus dilakukan Maya jika Marvin memisahkan dirinya dengan anaknya kelak sungguh membayangkannya saja Maya tidak sanggup. Maka di sinilah dia saat ini duduk di samping Marvin dimana Jack tengah fokus mengendarai mobil yang akan membawanya entah kemana.
Tidak ada pertanyaan dan tidak ada pemberontakan apapun dari wanita itu, tatapannya hanya fokus menatap keluar jendela namun apa fokus dari indera penglihatannya bahkan dia pun tidak tahu. Wanita malang itu tidak tahu apa keputusannya ini benar atau tidak namun yang jelas apapun di depan sana nanti dia hanya memiliki diri sendiri tanpa ada yang mendukungnya lagi.
Lamuyannya buyar saat beberapa kali Jack menyebut namanya. entah berapa lama mereka sudah sampai di sebuah mansion yang begitu luas yang jelas seseorang yang tadi duduk di sampingnya kini telah tidak ada di tempatnya lagi.
"Ayo nona kita sudah sampai". Ajak Jack lembut, Jack dapat melihat dengan jelas gurat kesedihan dan kegelisahan diwajah wanita itu. Maya tersenyum tipis lalu mengikuti langkah kaki Jack masuk kedalam mansion.
"Ikut denganku akan kutunjukkan kamarmu". Titah Marvin yang sudah menanti kehadairan Maya sejak tadi.
"Ini kamarmu untuk sementara karena kita belum menikah, nanti setelah meni-". Ucapan Marvin terpotong saat Maya berlalu begitu saja kedalam kamar tanpa mempedulikan dirinya.
Marvin sama sekali tidak menyangka jika Maya akan memperlakukan dirinya seperti itu, karena jika dia boleh jujur lebih baik jika Maya meluapkan emosinya terhadap Marvin di bandingkan harus di diamkan seperti ini.
Masih di depan kamar Maya, Marvin mengusap wajahnya dengan kasar memikirkan bagaimana menghadapi sikap Maya karena ketika dia menyinggung masalah pernikahanbpun Maya tidak memberikan komentar apapun padahal dia sengaja memancing Maya.
Jika selama ini para wanita akan mengejar-ngejar dirinya hanya untuk bisa sekedar dekat dengannya namun berbeda dengan Maya yang bahkan tidak tertarik menatap wajah tampannya itu.
Ceklek...
__ADS_1
Maya langsung masuk kedalam kamar yang di peruntukkan untuknya itu tanpa mau berlama-lama mendengar semua ocehan Marvin. Menutup rapat pintu kamar dan berkeliling menatap kamar yang sangat luas itu dengan segala kelengkapan didalamnya.
Terdapat dua buah lemari yang berisikan semua baju-baju yang diyakini oleh dirinya disiapkan khusus untuknya, tersanjung?, tentu tidak bahkan Maya tidak tertarik sama sekali untuk melihat-lihat modelnya.
Lengkap, itulah satu kata yang menggambarkan isi kamarnya, Maya mencari handuk dan menuju kamar mandi karena selain menguras emosinya, aktivitasnya hari ini bersama Nino juga cukup menguras tenaganya jadi ide untuk berendam air hangat adalah hal terbaik untuk dilakukan saat ini.
Entah apa yang ada dipikran wanita hamil itu namun yang jelas berendam air hangat sangatlah membuat jiwa dan tubuhnya tenang.
"Penikahan?". Gumam Maya ketika mengingat jika Marvin tadi mengatakan akan menikahinya.
Tidak pernah terbayangkan pernikahan seperti apa yang akan dia jalani dengan pria asing itu, yang pasti tidak ada lamaran seperti yang di impikan oleh para wanita pada umumnya dimana pria yang mengajaknya menikah akan melamarnya dengan cara yang romantis.
"Kalian akan punya keluarga lengkap sayang". Ucap Maya lagi sambil mengelus-elus perutnya yang mulai membuncit itu.
"Jika kamu bosan bekerja maka ajukan saja surat pengunduran dirimu karena masih banyak yang ingin bekerja di kantor ini selain dirimu". Sentak Nino.
Pria itu tengah memarahi seorang pegawainya yang melakukan kesalahan, bukan kesalahan fatal padahal namun suasana hatinya yang tengah kacau membuatnya uring-uringan sepanjang hari ini tentu saja itu karena keputusan Maya yang ikut dengan Marvin.
Shely yang hanya bisa diam tanpa bisa melakukan apapun melihat tingkah laku sang bosnya dari kejauhan tahu betul jika sedang terjadi sesuatu dengan Nino.
"Apa tuan Nino sedang ada masalah dengan istrinya ya, tidak biasanya dia marah-marah seperti itu". Batin Shely bergidik ngeri membayangkan jika pria seperti itu menjadi suaminya maka tamatlah riwayatnya.
"Apa yang sedang terjadi No?". Tanya seseorang yng baru saja datang namun suaranya sangat familiar di telinga Nino dan juga Shely.
__ADS_1
"Huh, tidak ada pa, dia tidak becus bekerja jadi harus di beri sedikit pelajaran". Jawab Nino datar kemudian memberi kode pada pegawai untuk kembali ke ruangannya.
"Dia yang tidak becus atau kamu yang tidak bisa bersikap profesional hah?". Tanya tuan Faisal ayahnya Nino.
Nino mengernyitkan keningnya karena tidak tahu arah pembicaraan sang ayah, dia ingin membela diri namun berdebat dengan ayanhya di ruang terbuka seperti itu bukanlah ide bagus mengingat ayahnya tersebut memiliki sifat yang sangat keras kepala bisa di pastikan jika mereka berdebat akan menimbulkan keributan yang akan di pertontonkan di depan para pegawainya.
Nino meninggalkan sang ayah dan menuju ruangannya tanpa mempedulikan panggilan sang ayah, karena tentu saja disana adalah tempat yang cukup tepat jika mereka memang harus berdebat.
"Seperti sejak menjadi Direktur utama di perusahaan ini kamu sudah tidak tahu cara menghargai orang tuamu lagi". Sentak tuan Faisal saat berhasil mengejar langkah Nino menuju ruangan anaknya itu.
"Pa, jika ingin berdebat seperti sekarang bukanlah waktu yang tepat, pekerjaan yang menanti Nino sangat banyak saat ini". Jawab Nino lagi-lagi dengan santainya dan membuat tuan Faisal semakin murka.
"Pekerjaan atau pikiran hah?, sudah berapa kali papa peringatkan jauhi putri Darmadi itu karena wanita seperti dia akan membawa pengaruh buruk bagi kehidupanmu". Tuan Faisal memang tahu banyak tentang Maya, dimana anaknya itu tergila-gila kepada gadis itu meskipun Maya selalu menolaknya namun itu bukanlah masalah besar bagi tuan Faisal karena Nino memang berhak memperjuangkan gadis yang dicintainya namun ketika mengetahui Maya hamil diluar nikah tuan Faisal langsung menentang hubungan dalam bentuk apapun antara Nino dan Maya.
"Pa, ayolah Nino sedang tidak ingin membahasnya sekarang".
"Baiklah ini terakhir kalinya kita membahas gadis itu karena tidak lama lagi kamu akan menikah, mama sudah menyiapkan calon yang tepat untukmu".
"Jangan jadikan hidup Nino bahan becandaan pa".
"Kali ini papa sangat serius Nino, kamu harus menikah dengan wanita pilihan kami kecuali kamu sudah memiliki wanita pilihanmu sendiri terkecuali Amaya Wijaya". Sentak Faisal dengan tatapan membunuh kearah Nino.
Jika sudah dalam mode serius seperti itu Nino sama sekali tidak dapat membantahnya lagi, dia tahu jika yang dikatakan sang ayah benar akan jadi kenyataan. Namun untuk menikah itu sangatlah mustahil baginya jika bukan dengan Maya, satu-satunya wanita yang ada dihatinya meskipun diantara banyaknya wanita yang rela naik keatas ranjangnya dengan suka rela.
__ADS_1
"Argh". Teriak Nino dan menghempaskan tumpukan berkas yang ada di atas mejanya setelah sang ayah meninggalkan dirinya dengan ancaman yang mematikan itu.