
Setelah semua tes yang dijalani oleh Nino tenyata benar jika darahnya cocok dengan darah Maya sehingga transfusi darah bisa segara dilakukan dan tentu saja operasi caesar untuk melahirkan bayi juga bisa segera dilakukan.
"Tuan Marvin keadaan istri Anda sangat kritis, jadi kami harus memprioritaskan salah satu antara ibu dan bayi anda, atau bahkan mungkin salah satu dari bayi anda yang tidak dapat kami selamatkan, apakah anda sudah siap? ". Tanya dokter kepada Marvin.
Marvin yang terlihat kacau saat itu menatap dokter dengan tatapan sendu.
"Dokter, anda boleh lakukan apapun tapi kembalikan Amayaku kepadaku lagi karena aku tidak bisa hidup tanpanya". Jawab Marvin lirih.
Semua yang mendengarkan hal tersebut ikut sedih karena bisa merasakan apa yang Marvin rasakan terutama Nino yang entah kenapa saat itu tiba-tiba teringat dengan sosok istrinya Shely. Nino melupakan Shely seharian ini bahkan dia tidak pulang untuk makan siang hari dan memang dia tidak makan selain sarapan dengan masakan yang di masak oleh istrinya tadi pagi karena ketika melakukan pertemuan dengan kliennya tadi Nino hanya minum saja.
"Shely, sedang apa dia, apa dia menungguku tadi siang untuk makan siang? ". Batin Nino sambil mengambil ponselnya dan melihat apakah Shely ada menghubunginya. Namun untuk memberi kabar kepada Shely, Nino masih saja gengsi sehingga ponselnya kembali dimasukkan ke saku celananya.
Jika dia menghubungi Shely dan mengatakan jika dirinya akan pulang terlambat dan tidak perlu menunggunya maka Shely pasti akan besar kepala pikirnya. Jadi biarlah Shely terus menunggu dirinya sampai dia tidanntahan dan akan menghubunginya.
Selain Nino dan Jack, disana saat ini juga sudah ada Marwa, ibu mertua Maya dan juga Marqin yang juga setia menemani Marvin. Meskipun mereka tinggal di satu atap yang sama namun hubungan Marvin dan Marqin belum membaik. Marqin tetap selalu berusaha memperbaiki hubungan mereka bahkan selalu setia menemani Marvin dalam keadaan apapun.
Satu jam, dua jam dan sampai pada tiga jam mereka menunggu hingga hari sudah mulai gelap namun dokter belum juga keluar dari ruang operasi. Tidak ada satupun dari mereka yang meninggalkan rumah sakit walau hanya sekedar mengisi perut yang sejak tadi siang kosong.
Sudah tiga jam lebih barulah dokter keluar dari ruang operasi membuat mereka semua yang berada disana spontan bangun dan menghampiri dokter.
"Bagaimana dokter? ". Tanya Marvin antusias.
"Selamat tuan Marvin, istri dan sepasang bayi kembar anda semuanya selamat tapi keadaan mereka sangat lemah saat ini, bayi-bayi anda juga harus di rawat dalam inkubator untuk waktu yang belum bisa ditentukan". Jelas dokter.
Marvin mengusap kedua wajahnya dengan kedua tangan. Dia lega karena orang-orang yang di cintainya selamat meskipun masih dalam keadaan lemah.
"Terimakasih dokter, lakukan apapun yang terbaik untuk mereka, apa saya bisa melihat istri saya dokter? ". Jawab Marvin.
__ADS_1
"Tentu tuan, kami akan memindahkan istri anda keruang rawatan sehingga anda bisa menemui istri anda tapi untuk bayi-bayi anda kami harus memisahkan sementara ke ruangan perawatan khusus ". Sambung dokter.
"Baiklah dokter, sekali lagi terimakasih untuk semua yang telah anda dan tim lakukan".
...----------------...
Saat ini Maya masih dalam keadaan belum sadarkan diri dengan Marvin yang terus menggenggam tangannya dengan erat di sampingnya, bahkan dia sama sekali tidak berinisiatif melihat kedua buah hatinya karena kesadaran Maya lebih penting baiknya saat ini.
Sedangkan Marqin sedang mengantarkan mommynya ke restoran untuk mengisi perut mereka yang sejak tadi sudah terasa melilit itu, setelah mereka puas melihat kondisi baby twins yang masih berada di dalam inkubator.
Nino sendiri pergi begitu saja setelah menerima sebuah panggilan dari ponsel miliknya tanpa mengatakan sepatah katapun, dia tampak sangat terburu-buru seperti orang yang sedang gelisah. Bahkan dia juga tidak peduli lagi dengan kondisi Maya.
Nino yang saat itu sangat gelisah bahkan sampai hampir tertabrak saat menuju parkiran mobil dimana mobilnya terparkir. Dia juga melakukan mobilnya dengan cukup kencang seperti orang yang sedang di kejar oleh seseorang.
Jack sendiri baru saja kembali dari mansion Marvin dan membawa berbagai macam perlengkapan untuk Marvin dan juga Maya karena Marvin sama sekali tidak mau pulang walaupun hanya sekedar untuk berganti pakaian saja. Kemudian masuk ke ruang perawatan Maya untuk melihat kondisi majikannya dan siapa tahu jika Marvin membutuhkan sesuatu jadi dia harus selalu berada di sana.
"Tuan aku membawakan semua pelengkapan yang anda dan nona Maya butuhkan". Ujar Jack kepada sang majikan.
Ya, tadi Marvin langsung menyuruh Jack untuk menyelidiki apa yang terjadi kepada Maya saat di restoran karena dia tidak akan melepaskan begitu saja siapapun yang berusaha mencelakai istrinya.
"Sudah tuan, aku sudah memeriksa semua kamera CCTV, kecelakaan ini disebabkan oleh lantai kamar mandi yang licin dan mereka mengakui kesalahan mereka karena membiarkan lantai kamar mandi itu dalam keadaan licin". Jelas Jack.
"Dan kau sudah melakukan apa yang aku suruh? ". Tanya Marvin penuh selidik.
"Tentu tuan, semua sesuai dengan permintaan anda". Jawab Jack.
Marvin sangat murka dengan kejadian yang menimpa Maya sehingga alasan apapun yang pihak restoran katakan pasti tidak akan berarti apa-apa untuknya. Restoran dimana terjadi kecelakaan kepada Maya langsung di tutup oleh Jack atas perintah Marvin.
__ADS_1
Pihak restoran tidak bisa berbuat apa-apa karena Jack mengancam akan melaporkan kejadian tadi ke pihak kepolisian sehingga mau tidak mau mereka terpaksa menutup restorannya hari itu juga.
"Marvin". Desah Maya dengan matanya yang masih tertutup.
Marvin dan Jack terkejut saat mendengar suara Maya, mereka berdua langsung mendekat kearah tempat tidur Maya.
"Sayang, kau sudah sadar? ". Tanya Marvin antusias. " Jack, cepat panggilkan dokter ". Titah Marvin dan dengan sigap Jack langsung ngerti memanggilkan dokter.
" Marvin, aku minta maaf karena melanggar aturanmu dan-". Ucapan Maya terputus saat dia mengingat kejadian terakhir kali di restoran dimana dia mengeluarkan banyak darah.
Dengan wajah panik Maya menatap kearah perutnya yang sudah rata, dia mengelus perutnya yang terasa sedikit nyeri. "Ma-marvin dimana anak kita? ". Tanya Maya histeris.
"Sayang tenang, hei jangan banyak bergerak dulu kamu baru selesai melakukan operasi". Marvin mencoba menenangkan istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Kau tahu, anak kita sudah lahir dan saat ini mereka ada di ruang perawatan khusus karena kondisi mereka yang masih lemah".
"Lemah?". Tanya Maya terkejut.
"Iya sayang, tapi kau tenang saja mereka pasti akan membaik karena mereka anak-anak yang kuat seperti mommynya". Jawab Marvin.
"Benarkah?, Apa kau sudah melihat mereka, mereka mirip siapa Marvin?".
"Mereka mirip-". Marvin menghentikan ucapannya karena sama sekali belum melihat bagaimana wujud anak-anak mereka.
"Marvin?".
" Emm, mereka tentu saja mirip kita berdua, kan kita yang membuatnya bersama sayang". Jawab Marvin asal-asalan dan itu membuat Jack yang masih berada di sana tidak bisa menahan tawanya.
__ADS_1
"Aws". Ringis Marvin ketika Maya mencubit perutnya dengan cukup keras.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...