Maya (Ayah Dari Anankku)

Maya (Ayah Dari Anankku)
Part 56


__ADS_3

"May". Seru Anin yang langsung menerobos kamar rawatan Marvin bahkan tanpa mengetuk terlebih dahulu pintu kamar itu.


Anin yang kala itu datang bersama sang suami Haikal sangat terkejut dengan pemandangan yang tidak terduga di pagi hari itu, bagaimana tidak Anin harus melihat sepasang suami istri itu sedang bercumbu bahkan Marvin melupakan jika dirinya adalah seorang pasien kecelakaan lalu lintas yang cukup parah kondisinya.


Bukan hanya Anin dan Haikal saja yang terkejut, Maya juga kaget bukan main belum lagi rasa malu yang dia rasakan karena Anin dan Haikal melihat tingkah lakunya dan suami yang tidak tahu tempat itu. Namun berbeda dengan Marvin, pria itu justru tidak menunjukkan rasa malu atau terkejut sedikitpun bahkan pria itu venderung sedikit kesal dengan kehadiran tamu tak di undang yang membuat misinya merayu sang istri gagal total.


"Ma-maaf mengganggu, aku sampai lupa mengetuk pintunya". Ujar Anin sambil tersenyu canggung.


Maya langsung turun dari tempat tidur dan merapikan rambut dan bajunya yang sedikit berantakan akibat ulah Marvin tadi.


"Hehe, tidak masalah Nin, aku sangat merindukanmu". Ujar Maya sambil memeluk sahabatnya itu. Dia sangat terharu ternyata Anin dan Haikal masih peduli pada keadaannya padahal Haikal sangat menentang pernikahannya dengan Marvin dulu.


Anin juga memabalas pelukan Maya meskipun dia sedikit canggung dengan adu tatapan tajam Marvin dan Haikal yang memancarkan aroma permusuhan yang tidak dapat di sembunyikan itu.


"Aku sangat mengkhawatirkanmu May, apa kamu baik-baik saja?". Tanya Anin.


Maya kemudian mempersilahkan Anin dan Haikal untuk duduk di sofa.


"Aku sangat baik Nin, kau sendiri bagaimana?".


"Aku juga baik, aku sangat khawatir karena mengira jika kamu juga ikut mengalami kecelakaan itu".


"Tidak, hanya Marvin saja yang kecelakaan. Terimakasih ya sudah menjengukku dan juga Marvin".


"Bagaimana kabarmu tuan Marvin?". Tanya Anin mencoba mencairkan suasana antara Marvin dan juga suaminya.


"Aku sudah membaik nona Anin. Terimakasih telah mengunjungi kami".

__ADS_1


Obrolanpun kembali terjadi di antara mereka atau lebih tepatnya antara Anin dan Maya karena Marvin hanya meresponnya sesekali saja sedangkan Haikal sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun. Sampai pada akhirnya Anin berpamitan kepada Maya dan juga Marvin.


Anin keluar terlebih dahulu sedang Haikal berdiri di hadapan Maya dan mengelus pucuk kepala Maya, tentu saja Marvin langsung membuang pandangannya karena dia masih tidak bisa menerima kedekatan Maya dengan pria itu.


"Jagalah dirimu baik-baik May, kakak pulang dulu".


"Kak, Terimakasih ya, jangan khawatirkan aku lagi karena sekarang ada Marvin yang akan menjagaku dengan baik". Jawab Maya sambil tersenyum.


"Ku harap suamimu memang akan menjagamu dengan baik karena jika tidak dia tidak akan pernah melihatmu lagi selamanya". Haikal berseru dengan suara yang sedikit keras, dia memang sengaja agar Marvin mendengarkan sindirannya itu.


Setelah Haikal dan Anin pergi, Marvin memasang wajah kesalnya, dia juga menggerutu sepanjang pagi itu akibat sindiran dari Haikal tadi kepadanya, sungguh jika saja dia tidak memikirkan tentang perasaan Maya maka dia akan menyuruh para pengawalnya untuk menyeret Haikal keluar dari rumah sakit itu tanpa mengizinkan Haikal masuk ke ruangannya.


"Jangan pasang wajah seperti itu, kau kelihatan jelek". Ujar Maya.


"Jadi pria itu lebih tampan menurutmu di bandingkan aku?". Tanya Marvin kesal.


"Terserah kau saja". Marvin berbalik membelakangi sang istri, entah mengapa setiap kali melihat Haikal dia selalu teringat dimalam kejadian itu, dimana Maya mendesah dengan memanggil nama pria itu dan itu selalu mengganggu pikirannya.


Maya mendekati Marvin dan menarik tubuh suaminya agar memandang dirinya.


"Marvin, kau tahu kan aku tidak punya siapa-siapa saat itu, aku kehilangan papa saat aku membutuhkannya dan saat itu aku juga belum tahu siapa ayah dari anakku sebenarnya siapa bahkan dimana kau berada aku juga tidak tahu. Kak Haikal, Anin dan Ibu yang berada di sisi saat itu, bahkan setelah aku berniat jahat sekalipun pada keluarga itu. Mereka menyayangiku layaknya keluarga Marvin, aku bahkan lupa jika aku akan melahirkan anak tanpa seorang suami saat itu. Jika kau masih merasa cemburu pada kak Haikal, maka kau salah besar, dia sangat mencintai Anin bahkan di saat aku menawarkan diriku menjadi istri keduanya sekalipun. Aku rapuh, aku buntu saat itu Marvin tapi mereka menerimaku tanpa syarat jadi aku mohon padamu buang jauh-jauh pikiran burukmu tentang kak Haikal karena apapun yang dia lakukan padamu dia hanya ingin melindungiku saja agar aku tidak tersakiti lagi". Jelas Maya panjang lebar bahkan Maya sampai menitikkan air matanya.


Marvin menghapus air mata Maya dan memeluk istrinya dengan saat erat sambil menangis, hal itu dapat Maya rasakan karena tubuh suaminya yang bergetar.


"Maafkan aku, aku memang sangat banyak melakukan kesalahan di hidupmu sayang". Ujar Marvin. Mereka saling berpelukan mencurahkan rasa sayang satu sama lain dengan bertekad memulai semuanya dari awal.


...----------------...

__ADS_1


Satu minggu sudah Marvin di rawat di rumah sakit maka selama satu minggu itu pula Maya tidak pernah beranjak dari sisi suaminya bukan saja karena dia tidak ingin meninggalkan Marvin namun juga karena Marvin tidak mebiarkan istrinya jauh walau hanya sebentar saja.


Jika ada yang kasihan dengan kondisi Maya yang hamil besar tetapi juga harus mengurus suaminya yang sakit maka pikiran itu salah besar karena nyatanya Maya hanya di bolehkan oleh Marvin duduk dan tiduran saja tanpa boleh melakukan apapun selebihnya semua kebutuhan mereka akan di penuhi oleh Jack dab juga para pelayan yang di utus langsung oleh Jack tentunya.


Bahkan Maya juga sampai merasa bosan dengan keadaan dimana dia yang di perlakukan seperti orang yang sedang di rawat di rumah sakit. Terjadang Marvin juga bersikeras menyuapi istrinya itu padahal jangankan untuk makan Maya bahkan melakukan banyak hal lain namun Marvin sangat melarang keras.


Marvin juga sering kali memijat kaki Maya yang terlihat mulai membengkak, dia beranggapan jika Maya kesakitan dan kelelahan membawa perut besarnya makanya kaki Maya sampai membengkak. Penjelasan dari dokterpun seperti tidak ada gunanya karena Marvin masih setia dengan anggapannya sendiri dan selalu saja memijat kaki Maya tanpa mau mendengarkan larangan Maya.


"Apa ini enak?". Tanya Marvin.


"Iya sudah cukup Marvin, sekarang aku harus berkemas karena kita akan pulang". Jawab Maya.


"Tidak perlu, kau disini saja, biar para pelayan saja yang berkemas". Ujar Marvin sambil memeluk Maya.


"Kau ini kenapa selalu melarangku melakukan ini dan itu, aku bosan Marvin hanya duduk dan tidur-tiduran saja sepanjang waktu".


"Kau harus mengumpulkan tenagamu untuk kita melakukan perjalanan jauh".


"Perjalanan jauh?, memangnya kita mau kemana?".


"Tentu saja babymoon keluar negeri, katakan negara apa yang ingin kau kunjungi heem?".


"Emmh, kemana yaa?, ke Dubai saja".


"Dubai?, tidak aku tidak mau kesana, kau kan sudah pernah kesana".


"Memangnya kenapa kalau sudah pernah?, kau ini masih saja tidak ingin kalah saing dengan kak Haikal". Gerutu Maya. Marvin hanya tersenyum menanggapi hal tersebut karena dia sudah menyiapkan tempat indah untuk dia kunjungi bersama sang istri.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2