Maya (Ayah Dari Anankku)

Maya (Ayah Dari Anankku)
Part 73


__ADS_3

Sementara itu di tempat lain, seorang wanita cantik tengah menatap jalanan dari salah satu jendela bus yang sedang dia tumpangi. Tatapannya kosong ke depan, entah apa yang sedang di lihatnya karena nyatanya dia sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya saat ini.


Shely beserta dengan kedua orang tuanya saat ini berada di dalam sebuah bus yang membawa mereka ke daerah yang mereka sendiri belum pernah menginjakkan kaki mereka di sana.


Setelah jujur dan menceritakan segala hal yang menyangkut tentang pernikahannya Shely mendapatkan dukungan penuh dari kedua orang tuanya untuk meninggalkan Nino dan mempertahankan kehamilannya itu, hal yang sama sekali tidak pernah dia duga selama ini bahwa kedua orang tua bisa bersikap bijak dalam mengambil keputusan.


Mereka semua sepakat jika akan pergi ke daerah yang sama sekali belum pernah mereka tempati sebelumnya untuk memulai kehidupan yang baru di sana karena jika mereka pulang ke kampung halaman mereka, akan di khawatirkan jika keluarga Nino akan menemukan mereka dengan mudah.


Berbekal tabungan yang di kumpulkan Shely untuk membeli rumah dulu, saat ini hanya dengan mengandalkanbuang itulah mereka akan memulai hidup baru tanpa mau mengambil uang atau apapun benda dari pemberian Nino dan keluarganya bahkan orang tua Shely yang selama ini terlihat mata duitanpun tidak sudi mengambil uang dari pria yang telah menyakiti putri mereka satu-satunya itu.


Ternyata yang membuat Nino buru-buru meninggalkan rumah sakit tadi adalah karena dia menerima telepon dari ibunya tentang sang istri yang sejak tadi pagi tak kunjung pulang ke rumah dan ponselnya juga tidak di angkat meskipun mereka sudah di hubungi puluhan kali.


Ningsih juga menghubungi ponsel besannya karena Shely beralasan keluar rumah untuk mengunjungi kedua orang tuanya namun sama halnya d ngan Shely, ponsel kedua besannya itu juga tidak di angkat sehingga membuat mereka semua khawatir.


Dengan kecepatan yang cukup tinggi saat melajukan mobilnya Nino beberapa kali mengusap kasar wajahnya, entah kenapa rasa khawatir yang begitu dalam menyelimuti hatinya padahal selama ini dia selalu berusaha membuat Shely terluka oleh sikapnya dan berharap Shely meminta cerai darinya.


Namun baru mendengar Shely belum pulang ke rumah kurang dari dua puluh empat jam saja sudah membuat Nino gelisah tak karuan. Pikiran Nino buntu, bahkan dia sempat berpikir jika Shely hanya sedang menguji dirinya karena untuk membayangkan jika Shely benar-benar meninggalkannya Nino sungguh tidak sanggup.


Tujuan utama Nino malam itu tentu saja ke rumah kedua mertuanya karena itulah tujuan Shely keluar rumah hari itu. Tak butuh waktu lama untuk Nino sampai di rumah tersebut karena memang kecepatan mobil yang dia kendarai melakukan di atas kecepatan rata-rata.


Nino langsung turun dari dengan setengah berlari agar cepat sampai ke dalam rumah, namun alangkah terkejutnya dia ketika pintu rumah tersebut ternyata tidak di kunci, firasat buruk langsung memenuhi isi pikirannya saat itu. Tanpa pikir panjang dia langsung menerobos pintu masuk sambil memanggil nama istrinya.


"Shel, Shely". Seru Nino namun tidak ada satu orangpun yang merespon.

__ADS_1


Nino berlari dari kamar satu ke kamar lainnya, dari ruangan yang satu keruangan yang lainnya.


" Shely, kamu dimana, aku datang untuk menjemput kamu, papa sama mama khawatir karena kamu tidak pulang sejak tadi pagi". Seru Nino lagi, sebisa mungkin dia menyembunyikan kekhawatirannya karena dia tidak mau terlihat menyedihkan namun usahanya itu sia-sia.


Kaki Nino terasa lemah saat melihat jika isi lemari kedua mertuanya yang sudah tampak kosong, pasti mereka sudah meninggalkan rumah tersebut pikirnya. Nino berjalan gontai menuju ruang tengah, dia sudah tidak tahu harus melakukan apa kecuali menunggu Shely di sana karena siapa tahu jika istrinya itu mungkin akan kembali.


Saat baru duduk di atas sofa Nino kembali di kejutkan karena melihat ponsel Shely dan juga mertuanya tergeletak di sana.


"Shiit, pantas saja mereka tidak menjawab teleponku karena memang mereka sengaja tidak membawa ponselnya". Gumam Nino.


Bukan hanya ponsel, Nino juga melihat sertifikat rumah dan kunci rumah juga tergeletak rapi di atas meja, kemudian Nino melihat semua isi meja dan ternyata di sana juga ada kunci mobil, surat-surat mobil, kartu kredit dan semua barang-barang yang telah erna keluarga Nino berikan untuk Shely dan kedua orang tuanya.


" Shiit ". Umpat Nino lagi. Dia sungguh tidak menyangka jika Shely benar-benar telah meninggalkannya tanpa membawa apapun yang dia berikan selama ini.


"Jika dia tidak membawa semua dan tidak memakai uang yang aku berikan selama ini pasti mereka tidak akan pergi jauh dari kota ini". Ujar Nino yakin.


"Temukan istriku secepatnya, akh tidak mau tahu apapun alasannya". Titah Nino kepada seseorang di seberang sana.


Nino menghempaskan tubuhnya di sofa kemudian memejamkan matanya sambil memijat kepalanya yang terasa berdenyut, masih terlihat jelas bagaimana Shely yang sangat cekatan tadi pagi masih menyiapkan sarapan untuknya.


" Shel, kamu dimana? ". Gumamnya lirih.


Tanpa terasa, entah berapa lamanya Nino tertidur di sana sampai akhirnya dia di bangunkan oleh Ningsih yang ternyata sudah menyusulnya ke rumah tersebut.

__ADS_1


" No, dimana Shely? ". Tanya Ningsih panik.


" Ma, Shely". Ucapan Nino terpotong karena dia hmtidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan ibunya itu.


"No, mana shely? ". Sentak Ningsih lagi.


"Nino juga tidak tahu ma, tapi sh ly dan kedua orang tuanya sudah tidak ada di rumah ini sejak Nino tiba di sini tadi". Jelas Nino.


"Ya Tuhan, Nino, dimana kita bisa menemukan mereka, di sini mereka kan tidak mempunyai keluarga atau kerabat satupun". Seru Ningsih histeris yang di coba tenangkan oleh suaminya Hartono.


"Ma, tenang, mungkin saja mereka sedang keluar sebentar". Ujar Hartono.


" Tidak pa, mereka bahkan meninggalkan semua ini". Jawab Nino lirih sambil menunjukkan semua barang yang di tinggalkan Shely di atas meja.


Setelah meneliti satu demi satu apa saja yang ada di atas meja tersebut, Ningsih semakin histeris dia tidak menyangka jika menantu kesayangannya itu akan nekad meninggalkan putranya.


"Apa yang kamu lakukan sampai Shely pergi seperti ini No? ". Tanya Ningsih ketika dia sudah mulai tenang.


"Nino tidak melakukan apapun ma". Jawab Nino lirih, bagaimanapun untuk mengakui kesalahannya itu sangat tidak mungkin bagi Nino karena selama ini yang dia dan Shely tunjukkan di depan kedua orang tuanya adalah hubungan suami istri yang cukup baik.


" Lalu kenapa dia pergi begitu saja, kita harus mencarinya kemana sekarang? ". Tanya Ningsih lagi.


"Mama tenang saja dulu karena Nino sudah menyuruh orang kepercayaan Nino untuk menemukan Shely secepatnya, jadi sekarang kita pulang saja dan beristirahat karena Nino tidak mau mama sampai sakit karena masalah ini ". Bujuk Nino lembut kepada sang ibu.

__ADS_1


"Iya, ma, sebaiknya kita pulang dan semoga besok kita mendapatkan kabar baiknya". Timpal Hartono.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2