Maya (Ayah Dari Anankku)

Maya (Ayah Dari Anankku)
Part 64


__ADS_3

Tuan Hartono membanting pintu kamarnya dengan sangat keras, amarahnya terhadap sikap sang putra belum juga bisa dia redam. Dia melihat kearah Nino yang hanya diam tanpa beban bahkan tidak berusaha minta maaf atas perbuatan memalukannya itu, kemudian dia menghampiri Nino dan mencengkeram kerah baju yang Nino gunakan.


"Dengarkan papa baik-baik Nino, jika sekali lagi kau menyakiti istrimu dengan tindakan memalukan seperti ini maka papa sendiri yang akan menjebloskanmu ke penjara, kau tahu perbutanmu itu sudah termasuk tindak penganiayaan dan kekerasan di dalam rumah tangga dan karena tindakanmu itu kau bisa membusuk di penjara, kau mengerti?". Hartono menghempaskan tubuh Nino dan pergi dari kamar itu karena jujur jika dia terus disana bisa saja dia akan menghajar putranya habis-habisan.


Nino menatap lurus kedepan, entah apa yang ada di dalam pikirannya, terkadang dia puas telah menyakiti Shely namun hati kecilnya juga merasa bersalah karena memperlakukan Shely dengan tidak layak apalagi telah merenggut kehormatan Shely denga cara yang sangat sadis dan tidak berperikemanusiaan bahkan dia sempat takut jika Shely sampai trauma ketika melihatnya.


Sementara itu di dalam kamarnya Shely mulai membukakan matanya secara perlahan, dengan penglihatan buram dan seluruh badannya yang terasa sakit Shely berusaha mengingat dimana dia sekarang berada dan memastikan jika tadi dia hanya mengalami mimpi buruk saja namun semua itu nihil belaka karena rasa sakit yang luar biasa di bagian intinya memberikan pertanda jika yang di alaminya tadi bukanlah mimpi.


"Shel, kamu sudah bangun nak?". Tanya Ningsih antusias melihat menantunya siuaman.


"Emmh, mama ada disini?". Tanya Shely sambil menarik selimutnya.


"Iya sayang, mama disini dan akan selalu berada di dekat kamu untuk menjaga dan melindungi kamu, maafkan mama yang Shel, karena keegoisan mama kamu mengalami hal seburuk ini. Mama benar-benar tidak menyangka jika Nino bisa berbuat setega ini kepada kamu". Jawab Ningsih sambil menangis karena dia sangat merasa bersalah kepada Shely dengan keputusannya yang tetap memaksa Shely menikahi putranya.


Shely tidak mampu menjawab, apapun yang di ucapkan oleh mertuanya memang benar adanya. Hidupnya saat ini hancur hanya karena dia tidak tega menolak permintaan mertuanya itu. Tangisnya kembali pecah kala mengingat bagaimana kejamnya Nino merenggut kehormatannya tanpa rasa kasihan sedikitpun.


Melihat Hal itu Ningsih langsung memeluk Shely dan berusaha menenangkannya.


"Mama janji Shel, setelah hari ini Nino tidak akan berani menyakiti kamu lagi, mama sama papa akan melakukan apapun untuk melindungi kamu nak". Ujarnya lembut.


Kedua wanita itu menangis sambil berpelukan karena hanya air mata yang mampu menyisyaratkan betapa hancur hati keduanya saat ini. Ningsih selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk Shely, mulai dari membantu Shely untuk mandi hingga menyuapi makanan dan juga memberikan obat untuk menantunnya itu.


Shely merasa sangat terharu dengan perlakuan Ningsih terhadapnya bahkan dia merasa jika mertuanya itu lebih menyayangi dirinya di bandingkan ibu kandungnya sendiri.

__ADS_1


"Sekarang kamu istirahat ya, kamu tidak perlu pikirkan resepsi nanti malam karena mama sama papa sudah memutuskan kamu tidak perlu hadir disana". Ujar Ningsih.


"Tapi ma, mana mungkin aku tidak hadir nanti apa kata para tamu undangan, mama sama papa pasti malu kalau aku tidak hadir disana". Jawab Shely.


"Shel, dengar mama ya, saat ini yang terpenting adalah kondisi kesehatan kamu, selebihnya biar kami yang pikirkan itu semua. Nanti mama juga akan jelaskan kepada kedua orang tua kamu supaya mereka tidak khawatir. oh ya kamu juga tidak perlu takut karena nanti malam kamu akan tidur sama mama". Jelas Ningsih panjang lebar.


Sungguh beruntung nasib Shely memiliki mertua sebaik dan saya lembut Ningsih bahkan dia menjadi otang yang terdepan dalam melindungin dan menjaga Shely andai saja Nino mncintainya dan memperlakukannya layaknya seorang istri yang sesungguhnya maka bisa di pastika hidup Shely sangatlah sempurna saat ini.


...----------------...


Marvin dan Maya tersenyum antusian melihat sebuah privatjet landing karena itu berarti keluarga Marvin yang berada di dalamnya selamat sampai tujuan sesuai dengan jadwal yang di tentukan.


Sejak saat Marvin mengatakan jika keluarganya akan ikut mengunjungi Turki untuk bertemu dengan mereka Maya saat antusias menunggu kedatangan mereka namun yang sangat membuatnya kesal adalah ketika Marvin tidak mengatakan siapa saja dan berapa jumlah anggota keluarganya yang akan datang, tentu saja itu membuat Maya uring-uringan sejak kemarin.


Bukan hanya Maya yang terlihat bahagia melihat wanita itu, Marvin juga menyambutnya dari kejauhan dengan senyuman yang tidak pernah pudar di wajahnya. Selang beberapa saat turunlah seorang pria sangat tampan yang usianya dapat di pastikan tidak jauh berbeda dengan Marvi, hal itu langsung membuat raut wajah keduanya baik Maya maupun Marvin langsung berubah.


Marvin tampak seperti menyimpan amarah kepada pria yang berjalan beriringan bersama wanita paruh baya itu mendekati mereka, hal itu dapat dilihat dari sorot matanya yang tajam dan juga rahangnya yang mengeras. Sedangkan Maya terlihat sangat terkejut dan takjub bahkan dia melihat kearah suaminya dan pria tersebut secara bergantian untuk memastikan jika dia tidak salah liat.


"Marvin, itu-". Ucap Maya. Namun ucapan langsung terputus saat melihat Marvin mengumpat kesal.


"Shiit". Geram Marvin.


"Halo sayang, apa kabarmu nak?, sudah lama kita tidak bertemu". Ujar wanita paruh baya yang diyakini Maya adalah ibu mertuanya.

__ADS_1


"Baik, mom apa kabar?". Tanya Marvin mencoba mengatur emosinya.


Tanpa menjawab pertanyaan Marvin wanita paruh baya itu langsung tersenyum melihat Maya di samping Marvin, dia langsung menarik Maya dan membawanya kedalam pelukannya.


"Kau pasti Amaya menantuku, apa kabar sayang?, senang akhirnya bisa bertemu denganmu". Ucap ibu Marvin yang bernama Marwah itu.


Maya menyambut pelukan ibu mertuanya yang menurutnya sangat cantik itu dengan senyuman yang tidak pernah pudar di wajahnya.


"Baik mom, mommy apa kabar?". Tanya Maya basa-basi.


"Mommy juga baik sayang".


"Mom, minggirlah aku juga ingin menyapa adik iparku". Protes pria yang sejak tadi mencuri perhatian Maya itu.


"Hai adik ipar, senang bertemu denganmu". Pria itu merentangkan tangan hendak memeluk Maya namun Marvin langsung mendorong dada pria itu dengan cukup kuat sehingga sang pria harus menghentikan aksinya.


"Oho, seperti suamimu ini sangat over protektif sekali ya, bahkan dia melarang kakaknya sendiri untuk berkenalan dengan istrinya". Sambung sang pria lagi.


"Jika kau ingin berkenalan tidak perlu memeluk istriku". Tegas Marvin.


"Oke baiklah aku mengalah, tenang saja kali ini aku akan selalu ingat jima dia istrimu terlihat dari perutnya yang membuncit ini, hai keponakan uncle, hai adik ipar kenalkan aku Marqin". Ujar Pria yang akhirnya diketahui juga namanya oleh Maya.


Maya sempet bingung mendengar percapakan Marvin dengan Marqin yang sepertinya tidak harmonis itu apalagi dengan kata-kata yang baru saja di ucapkan Marqin membuatnya sedikit penasaran mengapa dia harus berkata-kata seperti itu, sehingga dia tidak membalas sapaan dari pria bernama Marqin tersebut.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2