
Dua insan yang berbagi kehangatan semalam tampaknya sangat kelelahan dengan aktivitas mereka itu, bahkan mereka tidak sadar ketika Ningsih mengetuk kamar mereka beberapa kali. Dalam keadaan yang masih berpelukan Nino berusaha mengumpulkan kesadarannya, jika di lihat sekilas maka orang akan berpikir jika mereka adalah pasangan pengantin baru yang saling mencintai namun fakta justru berkata sebaliknya.
Nino memijat pelipisnya yang terasa berdenyut dan kemudian melihat wanita yang sedang memeluknya.
"Shiit". Umpatnya dalam hati bagimana bisa dia semalam sangat menikmati malam indahnya bersama Shely bahkan tanpa mengingat sosok Maya sedikitpun, bagaimana bisa dia terbuai dalam kehangatan Shely tanpa memikirkan hal lain termasuk Mayanya.
Kejadian tadi malam pasti akan membuat Shely besar kepala pikirnya, apalagi dia menyebut nama Shely dan mengakui Shely sebagai istrinya bahkan saat dia dalam keadaan setengah sadar. Nino mulai berpikir bagaimana cara agar dia bisa membuang jauh-jauh pikiran Shely jika dia dengan mudahnya bisa menerima wanita itu sebagai istrinya, karena menyiksa Shely secara batin tetap menjadi tujuan utamanya saat ini agar Shely sendiri yang meminta cerai darinya.
Saat dia merasakan gerakan dari tubuh Shely yang menandakan jika wanita itu akan segera bangun dari tidurnya, pria itu langsung kembali memejamkan matanya agar Shely berpikir dia masih tidur. Benat saja Shely membuka matanya dan menatap Nino sambil tersenyum walau bagaiamanapun tadi malam adalah malam yang indah baginya.
Shely mendekatkan wajahnya ke wajah suaminya itu karena ingin mengucapkan selamat pagi namun belum sempat bibirnya terbuka, Nino sudah terlebih dulu mengucapkan perkataan yang membuat sakit yang begitu luar biasa di hatinya.
"Maya, aku merindukanmu, jangan pernah meninggalkanku lagi karena aku mencintaimu". Ujar Nino dalam keadaan masih tertidur itu.
Shely memundurkan tubuhnya secara perlahan dengan air mata yang sudah menggenang di bola matanya agar Nino tidak terbangun. Entah mengapa dadanya terasa sesak tatkala mendengar Nino menyebut nama Maya padahal tadi malam jelas-jelas pria itu menyebut namanya dan mengatakan jika dia adalah istrinya.
"Hanya karena dia tidur denganmu bukan berarti dia menganggapmu sebagai istrinya apalagi sampai mencintaimu, sadar Shely dia mencintai wanita lain dan kamu tidak punya arti apa-apa di hidupnya". Batin Shely.
Tanpa mengganggu tidur Nino Shely memungut pakaiannya satu persatu dengan air mata yang tidak terasa jatuh di pipinya. Shely masuk ke kamar mandi dan menangis sejadi-jadinya ketika melihat tubuhnya yang di penuhi oleh tanda cinta itu ternyata hanya di gunakan oleh Nino sebagai pelampiasan napsunya saja.
Nino sendiri tak ambil pusing walaupun dia tahu semua yang terjadi pada istrinya, bahkan dia merasa puas bisa membuat wanita itu sakit hati karena dengan begitu pasti secepatnya Shely akan menyerah dan meminta dia untuk menceraikannya.
Setelah membersihkan tubuhnya dan berpakain lengkap lagi, Shely keluar dari kamar mandi dan melihat Nino sudah bangun dan sedang asyik dengan handphonenya, tanpa mempedulikan Nino Shely menuju pintu karena pergi dari kamar Nino dan kembali ke kamarnya adalah hal sangat ingin dia lakukan saat ini.
"Mau kemana?". Tanya Nino tanpa menoleh kearah Shely.
__ADS_1
Shely tidak menjawab pertanyaan Nino dia tetap melangkah mendekati pintu.
"Mau kemana, jawab pertanyaanku". Sentak Nino yang membuat Shely terkejut
"A-aku mau ke kamarku". Jawab Shely singkat.
"Mulai hari ini kamuntidur dikamar ini dan ini kamarmu, aku tidak mau kita tidur terpisah. Bukankah itu yang kamu inginkan, menikah denganku jadi kamu harus melayaniku layaknya seorang istri, untuk apa aku punya istri jika tidak bisa ku manfaatkan dengan baik". Ujar Nino tegas.
Setiap kata yang keluar dari mulut Nino bagai pedang yang mengiris-iris lubuk hatinya, sakit namun itu semua benar adanya karena ada cinta atau tidak di antara mereka Nino tetap berhak melakukan apapun terhadap Shely saat ini.
"Baiklah kalau itu mau kamu mas, aku akan tidur disini". Jawab Shely tanpa menatap Nino kemudian dia melanjutkan langkahnya.
"Lalu mau kemana kamu lakukan sekarang?". Tanya Nino lagi dengan mata dan tangannya masih sibuk dengan ponselnya.
"Aku lapar, jadi aku mau ke dapur untuk menyiapkan makanan".
Tanpa mau berdebat dengan Nino Shely berbalik arah menuju kamar mandi untuk menyiapkan air hangat lengkap dengan handuk dan segala kebutuhan mandi lainnya. Keluar dari makar mandi dia menuju lemari dan menyiapkan pakaian untuk Nino pergi ke kantor lengkap dengan dasi, sepatu dan segala aksesoris lainnya.
Meskipun terlihat sibuk dengan ponselnya namun ternyata Nino memperhatikan setiap gerak-gerik Shely secara diam-diam yang sangat lihai dalam menyiapkan segala kebutuhannya bahkan pakaian kantor yang di siapkan Shely juga sangat cocok dengan keinginannya.
"Semua sudah siap mas, aku mau ke dapur dulu dan menyiapkan sarapan". Ujar Shely setelah semuanya pekerjaannya di kamar tersebut siap.
"Emmh". Hanya itu respon dari Nino yang bahkan tidak melihat kearah Shely.
Shely tidak mau pusing dan langsung melesat keluar dari kamar itu namun baru saja di keluar, ternyata tangannya langsung di tarik oleh sang ibu mertua.
__ADS_1
"Ma-mama". Ucap Shely.
"Shel, kamu tidur dikamar Nino?". Tanya Ningsih penuh selidik bahkan dia menatap Shely dari ujung kaki sampai ujung kepala, Shely yang merasa risih dengan tatapan ibu mertuanya hanya mengangguk pelan.
"Kamu baik-baik saja kan nak?". Tanya Ningsih lagi.
"Baik ma".
"Syukurlah, kalau Nino berani menyakiti kamu bilang sama mama ya".
Shely tersenyum dengan perhatian yang diberikan oleh ibu mertuanya itu, sangat berbading terbalik dengan suaminya Nino yang bahkanketika mengeluarkan kata-kata tidak peduli jika membuat hatinya sakit.
Namun mengadu kepada ibu mertuanya tentang sikap Nino kepadanya juga jalan keluar yang baik karena itu hanya akan smakin membebani pikiran ibu mertuanya dan membuat hubungan antara orang tua dan anak mereka setiap semakin merenggang jadi Shely memutuskan akan menghadapi apapun yang akan terjadi di dalam rumah tangganya itu karena dia punya kedua mertua yang selalu akan mendukungnya.
"Iya ma, mas Nino tidak jahat lagi sama Shely, mama tenang saja, sekarang Shely mau kedapur dan menyiapkan sarapan untuk mas Nino dulu ma". Ujar Shely lembut.
"Tidak perlu nak, kan ada para pelayan suruh sama mereka saja".
"Tidak apa-apa ma, ini kan sudah jadi tugas Shely sebagai istri".
"Baiklah kalau begitu, tapi kamu jangan sampai kelelahan ya, minta bantu para pelayan kalau kamu sudah tidak sanggup". Ujar Ningsih dan di iyakan oleh Shely.
Bukan tanpa alasan Ningsih tidak mau menantunya itu tidak melakukan hal berat, dia ingin Shely segera mengandung cucu untuknya selain dia dan Hartono suaminya sangat menginginkan cucu, dia juga berharap kehadiran anak di antara putranya dan Shely akan membuat ikatan pernikahan mereka setiap makin kuat.
Karena dia tahu walaupun Nino tifak mencintai Shely namun putranya itu pasti tidak tahan untuk tidak menyentuh Shely, apalagi tadi dia melihat rambut Shely yang belum kering sempurna pasti tadi malam terjadi sesuatu di antara mereka, jujur Ningsih turut bahagia melihatnya dengan begitu harapannya untuk segera memiliki cucu akan segera terpenuhi.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...