
Tok, tok, tok...
Marvin mengetuk pintu calon pengantinnya itu namun sama sekali tidak ada respon dari si pemilik kamar namun anehnya Marvin masih saja setia menunggu padahal selama ini jika ada seseorang yang membuatnya menunggu maka bisa di pastikan orang tersebut akan mendapat balasan yang setimpal darinya.
Entah sejak kapan Maya tertidur dengan sangat pulas sehingga bunyi ketukan pintu kamar yang terdengar jelas beberapa kali itu sangat mengganggu tidurnya namun matanya tetp saja enggan untuk terbuka.
Setelah beberapa saat suara ketukan itu menghilang dan Maya kembali terbuai di dalam alam mimpinya bahkan suara ketukan pintu tadi seperti mimpi baginya. Sepertinya setelah sekian lama sejak kejadian naas yang menimpa dirinya saat bertemu Marvin malam itu baru kali inilah Maya dapat tidur nyenyak tanpa beban sedikitpun.
Ceklek...
Kali ini suara pintu terbuka juga tidak dapat mengganggu tidurnya dengan mata tetap masih setia terpejam, entah apa yang membuatnya sangat betah dalam lelapnya, mungkin saja berbincang dengan bu Siti membuat jiwa dan hatinya sangatlah tenang sehingga dia lupa akan masalah yang terjadi di dalam kehidupannya.
Dengan berbekal kunci cadangan Marvin berhasil menerobos kekamar Maya dan menatap wajah cantik Maya yang sedang terlelap itu namun betapapun cantiknya Maya fokus utama Marvin bukanlah pada wajahnya saja namun juga pada bagian dada Maya yang menggembul keluar karena dia memakai dress tidur tanpa lengan dengan belahan dada yang rendah.
Marvin mengusap kasar wajahnya sambil menelan salivanya dengan susah payah, dia tidak menyangka jika Maya terlihat begitu seksi dan mempesona selama kehamilannya ini apalagi buah kembar yang dimiliki Maya sepertinya lebih besar dari ukuran sebenarnya ketika terakhir kali dia melihatnya.
Hanya dengan menatap Maya dalam keadaan seperti itu saja sikecil yang berada di balik celana Marvin bisa bangun dan mengeras seketika apalagi jika Maya ada didalam dekapannya sungguh membayangkannya saja Marvin sudah tidak kuat. Padahal pemandangan seperti itu sudah sangat biasa di mata seorang pria seperti Marvin karena selama ini banyak wanita yang rela membuka pakaiannya di hadapan Marvin hanya untuk menarik perhatian pria tampan itu.
Tanpa Marvin sadari ada dorongan kuat dari dalam dirinya yang membawa tubuhnya untuk terus mendekati wanita cantik itu bahkan dia sampai lupa jika tujuan utamanya kesana adalah untuk membangunkan Maya agar segera bersiap untuk acara penting mereka.
Tangannya terulur menyentuh pipi mulus Maya, mengusapnya perlahan hingga akhirnya ibu jarinya menyentuh bibir Maya. Seperti Magnet bibir Maya mampu menarik wajah Marvin untuk terus mendekat dan seketika sebuah ciuman mendarat sempurna dibibir ranum tersebut.
Cup...
__ADS_1
Maya dapat merasakan dengan jelas jika ada sesuatu yang menempel di bibirnya namun karena dia masih betah dengan tidurnya, maka Maya menganggap jika dirinya sedang bermimpi apalagi dia sangat menikmati ciuman itu tanpa peduli siapa yang menciumnya lagipula itu hanyalah mimpi saja batinnya.
Melihat Maya sama sekali tidak terganggu dengan ciuman singkat itu Marvin semakin menggila dia kemudian mengulanginya lagi dengan sebuah ciuman yang menuntut sehingga membuat Maya terbangun dengan mata yang membulat sempurna dan kemudian dia mendorong tubuh Marvin untuk menjauh dari tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan di kamarku hah?". Sentak Maya sambil mengusap bibirnya yang sedikit basah.
"Morning kiss". Jawab Marvin singkat tanpa rasa berdosa dan matanya tetap saja fokus pada buah kembar Maya. Maya yang menyadari jika Marvin menatapnya dengan tatapan yang mematikan itu langsung menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Berbalik, cepat berbalik". Titah Maya.
"Untuk apa?". Tanya Marvin acuh dan sama sekali tidak mengindahkan perintah Maya.
"Kau ini tidak tahu malu ya, masuk ke kamar orang sembarangan dan sekarang menatapku dengan tatapan seperti itu, bagaimana jika aku sedang tidak memakai apapun hah?". Maya meraih selimut dengan bibir yang tidak berhenti berbicara. Marvin terkeke melihat tingkah menggemaskan Maya tersebut karena akhirnya dia punya senjata agar Maya merespon dirinya.
Blush...
Pipi Maya merah merona mendengar ucapan Marvin itu dia tidak menyangka jika Marvin akan menjawab dengan jawaban yang sangat spontan seperti itu.
"Cepat keluar aku mau melanjutkan tidurku lagi". Usir Maya karena dia tidak ingin Marvin mampu menguasai dirinya karena kalimat-kalimat menggoda yang keluar dari mulutnya itu.
"Tidur?, bagaimana kau bisa berpikir untuk kembali tidur sedangkan sebentar lagi kita akan menikah".
Maya terdiam mendengar ucapan Marvin dia masih belum bisa percaya jika yang Marvin katakan bahwa mereka akan menikah hari itu juga benar adanya.
__ADS_1
"Sekarang cepat mandi karena kau harus segera bersiap-siap atau kau ingin aku yang memandikanmu". Sambung Marvin lagi.
Tidak lama kemudian dua orang wanita mengetuk pintu dengan membawa sebuah gaun pengantin sederhana namun sangat indah di mata Maya dan juga alat makeup ditangan mereka masing-masing.
"Permisi tuan, kami datang untuk mempersiapkan nona Maya". Ucap salah satu dari mereka.
"Baik, silahkan, Amaya cepat mandi dan bersiaplah aku akan meninggalkan kalian". Jawab Marvin sambil berpamitan pada Maya meskipun Maya tidak meresponnya dan justru memasang wajah kesalnya.
Mau tidak Mau Maya melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap menghadapi kenyataan hidup yang sedang menantinya di depan sana.
Setelah siap dengan ritual mandinya, Maya menyantap makanan yang sudah disediakan oleh para pelayan, dia benar-benar di perlakukan layaknya seorang tuan putri pagi hari itu bahkan sesaat Maya lupa jika dia akan menikah dengan pria yang sama sekali tidak mencintainya dan juga sempat meragukan kehadiran anaknya.
"Anda kelihatan sangat cantik nona, wajar saja jika tuan sangat mencintai anda". Ujar wanita muda yang seumuran Maya disela dia mendandani wajah Maya.
Maya tersenyum kecut mendengar ucapan itu. "Terimakasih". Jawabnya singkat.
"Anda sangat cantik dan tuan juga sangat tampan, kalian benar-benar pasangan yang sangat serasi". Ujar wanita lainnya.
"Kalian hanya bisa menilai dari tampilan luar saja tanpa tahu pernikahan seperti apa yang akan aku jalani dengannya". Batin Maya.
Sementara itu Marvin yang sudah siap dengan tuxedo putih yang membuat tingkat ketampanannya itu meningkat seratus persen tampak sedang berbicara serius dengan seseorang melalui sambungan teleponnya.
"Aku tidak mau tahu, bawa kesini apapun yang terjadi dan bagaimanapun caranya". Titahnya kepada seseorang di seberang sana.
__ADS_1
Marvin kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku jasnya dan segera turun untuk memastikan jika Jack dan juga seluruh anak buahnya melakukan tugas mereka dengan sempurna karena bagi Marvin hari ini adalah hari yang sangat penting baginya meskipun pernikahan mereka dilakukan secara tertutup dan sederhana bahkan tanpa resepsi. Marvin tentu punya alasan dan pertimbangan tersendiri akan hal itu.