
"Bahkan dia tidak mencari kita, padahal bukan hal sulit bagi seorang Nino Fernando untuk menemukan kita". Batin Shely sambil menghela napasnya, saat membelai rambut putranya yang sudah terlelap di dalam pelukannya.
Shely mengusap air matanya yang lagi-lagi jatuh tanpa permisi itu, dia selalu mengutuk dirinya sendiri yang masih saja menangis pria yang bahkan tidak peduli tentang keberadaannya saat ini padahal dia masih berada di satu negara yang sama dengan Nino.
Tentu saja bukan hal sulit bagi Nino mendapatkan informasi tentang dirinya dengan semua kekuasaan dan kekayaan yang dimiliki oleh Nino apalagi untuk seorang wanita biasa seperti dirinya itu.
Shely sama sekali tidak tahu jika selama ini ternyata ada peran Marqin di balik menghilangnya dia dari hidup sangat suami. Entah memang karena Marqin benar-benar mencintai dirinya atau mungkin juga karena dia tidak terima jika seorang wanita di perlakukan secara tidak adil seperti Shely dan juga rasa sayangnya kepada bocah bernama Sheno karena Marqin memang sangat tulus menyayangi bocah cerdas itu, atau bahkan hanya sekedar rasa tidak suka kepada Nino yang pernah mencintai adik iparnya Maya.
"Mungkin saja saat ini mas Nino sudah memiliki keluarga baru yang sesuai dengan yang dia inginkan". Gumam Shely kemudian memilih larut dalam mimpi seperti putranya.
Dia masih meyakinkan dirinya jika suatu saat nanti dia akan bisa melupakan pria yang mengisi hampir seluruh isi hati dan pikirannya itu meskipun terlihat sangat mustahil karena setiap dia melihat senyum putranya maka dia kanan selalu melihat senyuman suaminya di sana.
Ya, wajah Sheno memang sangat di dominasi oleh wajah sangat papa, meskipun banyak yang mengatakan kepadanya jika mata Sheno sangat mirip dengan mata Shely.
Hari-hari yang di lalui oleh Shely terasa lebih mudah karena hadirnya Sheno karena jika tidak entah apa yang terjadi pada wanita cantik itu saat ini setelah sekian banyaknya cobaan hidup yang harus dia lalui. Hidup bertiga dengan ibu dan anaknya bukanlah hal mudah untuk dia lalui namun kehadiran Marqin juga menjadi salah satu berkah tersendiri baginya.
Marqin bukan hanya perhatian kepadanya dan juga ibunya namun juga sangat menyayangi Sheno layaknya putra kandungnya sendiri. Bahkan Marqin kerap kali membawa Sheno ke acara-acara formal yang menurutnya akan sangat membosankan jika dia harus pergi sendiri, maka Sheno adalah alternatif yang di pilih jika harus menghadiri acara yang sangat tidak menarik itu.
Seperti halnya malam ini, Marqin mengajak Shely dan Sheno kesebuah jamuan makan malam yang di hadiri oleh banyak pengusaha dari berbagai daerah, namun karena sherly sedang tidak enak badan karena tamu bulanannya maka Sheno satu-satunya teman pesta yang sangat pas untuk di ajak oleh Marqin dan Sheno sendiri dengan senang hati bersedia pergi dengan daddynya meskipun tanpa sangat mama.
"Kau siap jagoan?". Tanya Marqin saat melihat Sheno sudah siap untuk ke pesta itu.
"Siap dad". Jawab Sheno antusias. Bocah itu memang lebih senang menghabiskan waktu berdua dengan Marqin tanpa sang mama karena jika mamanya ikut akan banyak peraturan dan makanan yang tidak boleh dia makan sedangkan Marqin lebih memanjakannya dalam segala hal.
"Sheno, ingat jangan nakal dan jangan terlalu banyak makan makanan manis dan juga es krim, kamu mengerti?". Titah Shely kepada sang anak.
__ADS_1
"Shen mengerti ma". Jawab anak itu kemudian memberi pelukan perpisahan kepada Shely sambil tersenyum penuh arti kepada Marqin. Marqin yang melihat tingkah gemas Sheno hanya bisa menahan tawanya karena dia tahu arah pikiran anaknya itu.
"Apa kamu yakin akan membawa Shen tanpa aku, apa tidak akan kerepotan nantinya? ". Tanya Shely kepada Marqin.
" Tidak masalah, Shen sudah besar dan dia tidak pernah merepotkanku, kau tahu aku harus membawa anakku karena jika tidak pasti akan banyak wanita yang akan mencoba menggodaku di sana nanti". Jelas Marqin sambil tertawa.
"Dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, daddy ku hanya untuk mama tidak untuk wanita lain". Seloroh Sheno.
" Kau benar Shen, kau dengar sendiri kan? ". Tanya Marqin menggoda Shely.
" Shen, siapa yang mengajarimu bicara seperti itu? ". Tanya Shely heran dan menatap penuh curiga ke arah Marqin.
"Aku tidak mengajarinya, jangan menatapku begitu, ayo Shen kita pergi saja". Ujar Marqin sambil menggandeng tangan Sheno.
" Aws". Rintih Sheno saat dia tidak sengaja menabrak kaki seseorang. Sheno menatap ke atas dan melihat orang yang di tabrak nya tadi "Maaf uncle, aku tidak sengaja". Ujarnya kemudian.
Yang di tabrak oleh Sheno ternyata adalah seorang pria, sang pria tersenyum kearahnya dan berjongkok untuk menyamakan tinggi tubuhnya dengan tinggi tubuh Sheno. "Tidak masalah sayang uncle memaafkanmu, siapa namamu? ". Tanya pria itu.
"Sheno". Ujar Sheno sambil mengulurkan tangan dan di sambut oleh pria itu.
"Nino". Jawab sang pria, ya pria yang tanpa sengaja di tabrak oleh Sheno tenyata adalah Nino sang papa kandungnya.
Nino menatap wajah Sheno dengan seksama, ada ketenangan di wajah bocah tampan itu terlebih saat Nino menatap mata Sheno, dia merasakan sesuatu yang berbeda belum lagi mata indah Sheno kembali mengingatkannya kepada mata indah yang sudah sejak lima tahun ini tidak pernah dia lihat lagi.
"Bahkan menatap mata anak kecil ini saja aku serasa sedang menatap matanya, aku pasti sudah tidak waras lagi". Batin Nino sambil tersenyum sinis dan membuang pandangannya dari mata Sheno yang menghanyutkan lamunannya itu.
__ADS_1
"Kenapa berlari-lari hemm?, kamu bisa terjatuh jika berlarian di tempat umum seperti ini". Ujar Nino lagi kepada Sheno.
"Aku di kejar oleh temanku tadi uncle makanya aku lari, kami sedang bermain kejar-kejaran maaf uncle harusnya Shen tidak bermain lari-larian di sini". Sheno memang sedang bermain kejar-kejaran dengan salah satu anak kolega bisnis Marqin yang kebetulan seumuran dengannya.
"Anak pintar, mengakui kesalahan dan meminta maaf". Jawab Nino sambil mengusap gemas pucuk kepala Sheno. "Dengan siapa kamu datang kesini, kemana orang tuamu?". Tanya Nino lagi.
"Dengan daddy". Sheno kemudian berusaha mencari dimana keberadaan Marqin. "Itu di sana daddy ku". Tunjuk Sheno ke arah Marqin yang sedang berbincang-bincang dengan para kolega bisnisnya.
Nino bangkit dan berdiri lalu melihat kearah yang di tunjukkan oleh Sheno dan betapa terkejutnya dia ketika menyadari siapa yang di tunjukkan oleh Sheno sebagai daddy nya itu.
Nino kembali menatap kearah Sheno dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. "Yang memakai jas hitam itu, apa kamu yakin?". Tanya Nino penasaran.
"Ya uncle, itu daddy ku. Daddy!!! ". Teriak Sheno memanggil Marqin. pria tampan itu langsung mencari sumber suara dan tersenyum kearah Sheno.
Deg...
" Nino Fernando". Batin Marqin sambil menelan salivanya dengan susah payah.
"Marvin Askari?". Batin Nino penuh tanya bagaimana bisa suami Maya tersebut punya anak lain selain sepasang anak kembarnya dari Maya.
Nino dan Marqin saling menatap, jika Nino menatap Marqin karena sangat mengenali pria yang di panggil daddy oleh Sheno tersebut maka Marqin menatap tak percaya jika Nino juga berada di kota itu bahkan di tempat yang sama dengan dirinya dan Sheno. Meskipun belum pernah bertatap muka secara langsung dengan Nino namun Marqin sangat mengenali pria itu dengan baik.
Padahal selama ini Marqin selalu tahu jika Nino berada dimana saja dan menutup akses bagi Nino, Shely dan juga Sheno untuk bertemu namun kali ini takdir berkata lain, Sheno dan Nino di pertemukan oleh takdir. Marqin masih merasa beruntung karena Shely tidak jadi ikut malam itu padahal tadi dia sempat tidak bersemangat untuk menghadiri acara tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1