
Sekembalinya di Dubai Haikal berencana mengajak Anin untuk memeriksakan kehamilannya ke dokter, buka karena ada keluhan atau jadwal kontrol ulangnya sudah tiba namun lebih tepatnya dia dan Anin ingin memaksa Maya agar mau ke dokter bersama mereka.
Baik Anin maupun Haikal sangat penasaran dengan kondisi janin Maya karena selama ini dia tidak pernah mau pergi untuk memeriksakan kandungannya, jika pun dia mengalami masalah selama kehamilannya maka dokter yang akan datang ke rumah jadi dia sama sekali tidak melakukan pemeriksaan USG selain bersama Haikal dulu dan itu untuk pertama dan terakhir kalinya.
Setelah perdebatan panjang akhirnya Maya menyetujui ajakan Anindan juga Haikal karena dia juga penasaran kenapa perutnya terlihat lebih besar dari perut Anin. Mereka tidak hanya bertiga pergi ke rumah sakit, Asyraf adik angkat Anin juga ikut serta, bocah berusia 7 tahun itu sangat antusias menunggu kelahiran anak Anindan juga Maya. (Cerita Asyraf ada di novel sebelumnya ya).
Setelah dokter melakukan pemeriksaan terhadap Anin dan mengatakan jika bayi yang dikandung Anin berjenis kelamin perempuan, sekarang tibalah giliran Maya yang akan diperiksa, dokter meminta Maya untuk naik ke ranjang dan melakukan tindakan USG. Tidak ada raut wajah antusias diwajah cantik khas wanita Indonesia itu, tidak ada juga rasa penasaran yang terlihat disana, Haikal dan juga Anin sangat mengerti situasi yang dirasakan Maya saat ini.
"Bagaimana dengan keponakanku dokter?". Tanya Haikal antusias, dia sebisa mungkin menampakkan wajah penasarannya agar Maya merasa diperhatikan. Akan tetapi apada dasarnya Haikal memang peduli pada Maya dan juga kandungannya tanpa harus dia buat-buat, hanya saja bagi Maya itu hanyalah sebuah sandiwara belaka.
"Anda sangat beruntung nona Maya, anda mengandung sepasang bayi kembar dan mereka sangat sehat dan kuat". Jelas dokter.
Pantas saja ukuran perut Maya memang terlihat jauh lebih besar dari usia kehamilan sesungguhnya jika Anin masih bisa mensiasati perutnya dengan memakai dress over size maka hal itu tidak berlaku pada Maya, Anin dan Haikal bahkan sempat khawatir apalagi Maya selalu menolak untuk mengunjungi dokter, namun sekarang terjawab sudah kenapa hal itu bisa terjadi.
Wajah Haikal, Anin dan juga Asyraf berbinar mendengar hal tersebut. Mereka merasa sangat bahagia karena setelah sekian lama Maya tidak mau memeriksakan kandungannya dengan berbagai alasan ternyata dokter malah memberikan kabar yang sangat membahagiakan.
"Selamat May, aku sangat bahagia untukmu kmu bukan hanya akan memiliki satu bayi tapi dua sekaligus". Seru Anin sambil memeluk Maya.
"Rumah kita pasti akan ramai dengan kehadiran mereka, selamat May, aku juga sangat bahagia, semoga keponakan-keponakan ku ini tidak menyusahkan mommynya". Ujar Haikal.
"Terimakasih kak, terimakasih Anin". Entah apa yang ada dibenak wanita itu namun untuk tersenyum saja sangat sulit untuk dilakukannya.
__ADS_1
"Mereka ada dua, untuk menjadi ibu dari satu anak saja belum tentu aku mampu lalu bagaimana bisa aku menjadi ibu untuk dua anak sekaligus". Batin Maya melihat orang-orang disekitarnya saat ini sangat berbahagia untuk membuatnya merasa terharu.
Asyraf juga tak kalah bahagia dia juga berkali-kali memeluk perut buncit Maya dan berbicara seolah mereka telah lahir kedunia ini. Namun kehadiran bocah kecil itu disana membuat hati Maya semakin sesak ada rasa yang sulit di artikan olehnya ketika menatap wajah dan bola mata bocah tampan itu.
"Anakku akan bernasib sama sepertimu Asyraf, lahir tanpa seorang ayah dan bahkan ayah kalian tidak tahu keberadaan kalian di dunia ini". Batin Maya lagi.
Sejak saat itu pikiran Maya berkelana entah kemana, jujur di hati kecilnya dia sangat bahgia dengan keadaan bayi-bayinya yang sehat namun dia juga tudak nisa membayangkan jika harus mengurus dua bayi sekaligus secara bersamaan sendirian.
Karena perut Anin sudah tidak bisa di ajak berkompromi maka ketika sudah selesai menebus vitamin untuk Anin dan juga Maya, Haikal melajukan mobilnya menuju salah satu restoran mewah untuk mengisi perut mereka. Saat di parkiran mobil Haikal menatap aneh ke sebuah mobil yang tidak asing baginya namun dia juga tidak dapat menebak mobil siapa itu.
"Tuan, wanita itu". Ucap Jack dengan wajah berbinar. Dari kejauhan Jack menangkap sosok wanita yang selama beberapa hari ini selalu memenuhi isi kepalanya, Maya.
"Wanita mana?, berhenti menatap wanita Jack jika tidak pekerjaanmu tidak akan selesai". Jawab Marvin datar.
"Ma-maya". Seketika suara Marvin terbata mendengar nama yang sangat tidak asing di telingannya.
"Iya Maya, adik tuan Haikal yang saya ceritakan kepada anda, dia juga ada di restoran ini, itu dia sana". Tunjuk Jack dan Marvin langsung mengikuti arah tangan Jack karena ingin memastikan jika Maya yang dimaksud Jack bukanlah Mayanya.
Wajah pias jelas tergambar di wajah Marvin ketika Maya yang di tunjuk oleh Jack ternyata benar itu adalah Mayanya. Dia sangat terkejut melihat wanita cantik itu duduk bersama tiga orang lainnya di salah satu meja restoran. Karena posisi Maya sedang duduk dan ditutupi oleh meja maka baik Marvin maupun Jack tidak dapat melihat perut Maya yang sudah mulai membesar itu.
"Kau yakin dia adiknya tuan Haikal, maksudku apa dia dan tuan Haikal saudara kandung?". Tanya Marvin penasaran, Jack bahkan sempat heran karena waktu itu Marvin bahkan terlihat malas membahas tentang Maya namun sekarang dia terlihat sangat antusias.
__ADS_1
"Tentu saja tuan, aku yang menyambutnya saat itu, bukankah dia sangat cantik tuan". Jawab Jack sambil terpesona dengan kecantikan Maya apalagi jika di perhatikan wajah Maya semakin cantik saja karena pipinya yang semakin tembam itu.
"Ternyata takdir selalu membawaku dekat denganmu, tapi kenapa?, apa agar karena aku bersalah dan aku harus selalu dibayang-bayangi oleh dosaku padamu". Batin Marvin sambil mengusap kasar wajahnya, namun tuba-tiba di teringat sesuatu. "Adik?". Tanyanya heran pada dirinya sendiri lalu kemudian kembali menatap wajah Haikal dan Maya secara bergantian.
Tidak dia temukan kemiripan sedikitpun disana lalu apa mungkin mereka adik kakak. Marvin kembali teringat ketika tanpa sengaja melihat Maya yang sedang menatap penuh cinta seorang pria dan pria itu adalah Haikal, bukan cinta seorang adik kepada kakaknya namun seorang wanuta terhadap pria yang dicintainya.
Kemudian dia juga terbayang saat membuat Maya mendesah di bawah kungkungannya namun yang di sebut Maya bukanlah namanya melainkan nama "Kak Haikal". Marvin dengan wajah penuh amarah kembali menatap Maya yang tertawa lepas bersama Haikal.
"Shiit". Ucap Marvin spontan sambil menggepalkan tangannya membuat Jack jadi penasaran dengan ucapan Marvin terlebih melihat wajah penuh amarah sang majikan.
"Tuan anda baik-baik saja?". Tanya Jack.
"Aku sudah selesai, ayo kita pergi dari sini". Jawab Marvin datar.
"Tapi tuan, ada tuan Haikal dan keluarganya disini, apa kita tidak menyapa mereka terlebih dahulu".
"Aku tunggu di mobil". Titah Marvin tegas.
"Tapi tuan-". Ujar Jack dengan wajah penuh harap.
"Aku tunggu 15 menit, jika kau belum kembali maka aku akan meninggalkanmu disini". Seru Marvin, kemudian melangkah keluar restoran dan merogoh saku jasnya mencari benda pipih untuk menghubungi seseorang. Sedangkan Jack dengan hati yang sangat gembira melangkah kearah meja Maya dan keluarganya yang sedang makan untuk menyapa Maya si gadis cantik jelitanya itu.
__ADS_1
"Cari tahu semua hal tentangnya, lakukan secapat mungkin". Perintahnya pada seseorang yang di hubunginya lewat ponsel tadi kemudian dia masuk kedalam mobilnya untuk menunggu sang asisten kembali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...