
Maya tetap pada pendirian yang sama sekali tidak ingin berbicara apapun kepada Marvin, dia hanya mengikuti apapun kemauan pria tampan itu tanpa ingin membantah apalagi berdebat dengannya.
Sama halnya dengan saat ini, Maya hanya menurut saja ketika Marvin mengatakan jika mereka akan mengunjungi dokter kandungan untuk memeriksakan kondisi kehamilan Maya, dan masih sama seperti biasanya Maya yang duduk didalam mobil yang akan membawanya ke rumah sakit hanya menatap kearah jendela tanpa menoleh sedikit pun kearah pria yang berada di sampingnya itu.
Namun bukan Marvin nama jika tidak punya seribu cara untuk membuat Maya berbicara atau bahkan sekedar melihat kearahnya, jika sejak awal tinggal bersama Maya Marvin tidak melakukan usaha apapun untuk memancing wanita itu berinteraksi dengannya maka sekarang dia memutuskan untuk melakukannya.
Seperti saat ini ketika keduanya sudah turun dari mobil dan hendak melangkah masuk kedalam rumah sakit Marvin dengan sigapnya menggenggam erat tangan Maya layaknya pasangan suami istri yang sangat harmonis namun Marvin sama sekali tidak menatap kearah Maya.
Deg, Deg, Deg...
Irama jantung Maya mulai tidak beraturan saat kulit tangannya dan kulit tangan Marvin bersentuhan, ada desiran aneh yang di rasakan olehnya namun sulit untuk di mengerti.
Maya hanya mematung saat Marvin mulai mengayunkan langkahnya membuat Marvin akhirnya punya alasan untuk menoleh kearah Maya dan melihat ekspresi aneh wanita itu.
"Ayo sayang, kenapa berdiri saja atau kau mau ku gendong sampai kedalam?". Ucap Marvin.
Lagi-lagi irama jantung Maya tidak dapat dikendalikan ketika untuk pertama kalinya Marvin memanggilnya dengan sebutan sayang bahkan Jack yang mendengarnya sampai membulatkan matanya.
Dengan langkah terpaksa Maya berjalan beriringan bersama Marvin layaknya pasangan suami istri yang sesungguhnya bahkan mereka menjadi pusat perhatian banyak orang bagaimana tidak, perpaduan yang sangat cocok di antara mereka membuat banyak pasang mata terpesona melihatnya.
"Bagaimana?". Entah yang keberapa kalinya pertanyaan yang sama di tanyakan Marvin kepada dokter yang memeriksa Maya. padahal dokter baru mengoleskan jell di perut Maya dan belum melakukan USG.
Dokter tersenyum tipis melihat hal itu. "Tenang tuan, saya belum melakukan apapun". Jawab dokter.
Maya juga sempat terharu ketika menyadari jika ternyata Marvin sangat peduli pada anaknya, dia tidak peduli Marvin mengkhawatirkan dirinya atau tidak tapi setidaknya keputusannya untuk ikut dengan Marvin sudahlah tepat karena Marvin terlihat sangat menginginkan kehadiran anak mereka.
__ADS_1
Bagi Maya tidak ada yang lebih membahagiakan hatinya saat ini kecuali anaknya memiliki kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuanya.
"Setidaknya kalian punya orang tua yang lengkap sayang meskipun kalian hadir dari ketidaksengajaan". Batin Maya.
"Mereka sangat sehat dan aktif tuan". Ujar dokter sambil menarikan transducer diatas perut buncit Maya.
Marvin yang takjub melihat kearah monitor langsung menautkan kedua alisnya. "Mereka?". Tanya Marvin.
"Ya mereka, apa anda ti-tidak tahu?". Tanya dokter ragu, dia takut jika pertanyaannya itu akan menyinggung perasaan Marvin.
"Tahu apa?, jelaskan secara detail jangan setengah-setengah dokter aku tidak mengerti apa maksud anda". Titah Marvin, sedangkan Maya hanya menghela napas saat melihat tingkah Marvin itu.
"Be-begini tuan, sebenarnya istri anda mengandung sepasang anak kembar tuan". Jawab dokter ragu-ragu dia takut jika hal itu memancing kemarahan Marvin.
"APA?". Sentak Marvin. Hal itu membuat sang dokter menelan salivanya dengan susah payah.
Marvin membelai rambut Maya dan membawanya kedalam dekapan. "Terimakasih Amaya". Ucapnya kemudian mengecup kening Maya.
Perlakuan manis Marvin itu lagi-lagi menciptakan desiran aneh dihati Maya namun apapun itu dia tetap pada pendiriannya yang tidak merespon ucapan Marvin karena baginya tuduhan Marvin saat makan malam di rumah Haikal malam itu sangatlah menyakitkan dan tidak mungkin bisa dia lupakan begitu saja.
"Dia adalah wanita yang menyerahkan kesuciannya untukku dan sekarang mengandung anak yang entah siapa ayahnya bahkan tanpa ikatan pernikahan". Kata-kata itulah yang selalu terdengar jelas di telinga Maya sehingga untuk menatap wajah Marvin pun dia tidak sanggup.
Dokter bingung melihat situasi itu namun dia tidak berani berkomentar apa-apa bahkan untuk melihat adegan di depan matanya saja dia tidak berani.
"Berikan vitamin terbaik untuk anak-anakku dan pastikan jika Amaya tidak mengalami kendala apapun selama kehamilannya". Titah Marvin pada dokter lagi karena selama tinggal bersamanya Marvin sempat mendengar jika Maya muntah-muntah namun saat dia mendekatinya dan bertanya Maya malah menjauh dan tidak menjawab apapun.
__ADS_1
Dokter menuruti semua perintah Marvin dengan memberikan segala sesuatu yang terbaik untuk Maya, mulai dari vitamin hingga obat pereda mual muntah karena meskipun kehamilan Maya sudah memasuki trimester kedua dia masih saja sering mengalami mual muntah.
"Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan wanita hamil dok, jelaskan semuanya agar aku bisa mengetahui secara detail". Tanya Marvin lagi karena dia tidak mau terjadi apapun kepada Maya dan anak-anaknya.
"Wanita hamil pada umumnya masih bisa melakukan aktivitas seperti biasanya hanya saja jangan sampai kelelahan apalagi seperti kasus nona Maya yang hamil kembar pasti beban yang dibawanya selama sembilan bulan ini pasti lebih berat dari pada wanita hamil pada umumnya". Jawab dokter.
Marvin menyimak dan mencerna semua perkataan dokter dengan sangat teliti sedangkan Maya sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun.
"Apa kami bisa menikah?". Tanya Marvin yang membuat mata Maya membulat sempurna dan untuk pertama kalinya di menoleh kearah Marvin.
"Me-menikah?, maksud anda tuan?". Tanya dokter bingung.
"Tentu saja menikah, emmh, maksudku hubungan suami istri". Jawab Marvin sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal dan berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Oh, tentu saja tidak masalah tuan, seperti yang saya katakan tadi hindari kelelahan saja selebihnya tidak ada masalah apapun". Jawab dokter lagi.
Marvin yang salah tingkah kemudian melirik kearah Maya yang sedang menatapnya tajam, bukannya takut Marvin justru bahagia karena akhirnya Maya menunjukkan reaksi atas sikapnya meskipun reaksi yang di timbulkan Maya sangatlah menakutkan.
Saat kedua pasang mata itu bertemu ada perasaan aneh di antara kedua orang asing yang sebentar lagi akan memiliki anak. Maya yang di tatap oleh Marvin dengan begitu dalam itu akhirnya sadar dan langsung membuang pandangannya sedangkan Marvin mengembangkan senyuman sangking bahagiannya.
Wajah tampan Marvin terus di hiasi oleh senyuman sejak mengetahui kondisi kandungan Maya, dia bahkan tidak pernah melepaskan genggamannya dari tangan Maya.
Jack yang sejak tadi menunggu di luar juga merasa penasaran karena dia sempat berdebat dengan Marvin tadi karena Marvin melarang keras asistennya itu masuk ke ruang pemeriksaan sedangkan Jack sangat ingin masuk.
"Seperti anda sangat bahagia tuan". Ucap Jack.
__ADS_1
"Tentu saja, aku akan segera menjadi seorang daddy". Jawab Marvin angkuh kemudian melangkah menarik Maya bersamanya tanpa mempedulikan pertanyaan-pertanyaan lain yang di ajukan oleh sang asisten.