
"Katakan semua yang ingin aku dengarkan". Titah Jack pada dokter yang diterbangkan langsung dari Dubai. Atas perintah Jack dokter itu sudah berada di indonesia kuran dari dua puluh empat jam.
"Aku sudah mengatakan segalanya kepada tuan Marvin". Jawabnya singkat, ada raut kecemasan diwajahnya meskipun sang dokter mencoba menyembunyikannya setengah mati.
Jack yang geram dengan jawaban yang tidak membuatnya puas memberi kode agar anak buahnya membereskan dokter itu. Disitulah ketalutan yang sesungguhnya mulai melandanya ketika melihat para pria bertubuh besar itu mengeluarkan senjata api.
"Ma-mau apa kalian?, jangan bunuh aku jika kalian tidak mau masuk penjara". Teriak dokter itu, namun para pria itu semakin mendekat kearahnya dan bersiap dengan senjatanya. "Baik, aku akan katakan yang sejujurnya". Teriaknya lagi.
"Katakan cepat". Titah Jack.
Jack cukup tercengang mendapati pengakuan dari dokter tersebut dia tidak menyangka jika hal yang didengarnya saat ini adalah kebenaran yang sebenarnya terjadi.
Setelah selesai dengan semua pengakuannya sang dokter bergegas berlutut dihadapan Jack agar Jack segera melepaskan dirinya agar dia bisa kembali kepada keluarganya di Dubai sana, Jack menyanggupinya namun dia tidak melepaskan dokter itu begitu saja. Jack mengambil semua barang bawaan dokter termasuk semua kartu identitas dan juga uang miliknya agar dokter itu kewalahan memikirkan cara untuk kembali kenegara asalnya.
"Kau dari mana saja?". Marvin langsung memberondong Jack dengan pertanyaan pasalnya asistennya itu seharian ini tidak kelihatan batang hidungnya di rumah sakit apalagi jika dilihat dari raut wajah Jack sepertinya pria itu tengah ditimpa masalah besar.
"Maaf tuan jika selarut ini aku baru datang kesini, ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan". Jawab Jack.
"Apa ada masalah?". Tanya Marvin lagi.
__ADS_1
"Tidak tuan, semuanya berjalan dengan sangat baik". Jack tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya karena jika Marvin tahu maka dia akan di ancam dengan mengajukan surat pengunduran diri.
Meskipun awalnya curiga jika Jack sedang mengalami masalah namun Marvin sangatlah bersyukur karena ada Jack bersamanya, Jack bisa di andalkan dalam segala hal termasuk menemaninya dirumah sakit selama berhari-hari lamanya.
Kondisi Marvin kian hari kian membaik nmun perlu dicatat itu hanya secara fisik saja karena secara batin dia masih memendam perasaan yang aneh di hatinya, dia merasa ada yang salah namun dia tidak dapat menjelaskan apa yang dia rasakan. Jika di tanya apa Marvin memikirkan tentang Maya, maka jawaban tentu saja iya, setiap saat bahkan setiap tarikan napasnya Marvin terus memikirkan gadis itu.
Bukan perihal Maya yang mengakui kepda semua orang jika sedang mengandung anaknya namun sekarang perasaan aneh justru muncul dibenaknya, Marvin berencana mau mempertanggungjawabkan anak yang dikandung Maya asalkan gadis itu jujur dan mau menikah dengannya.
Ya, Marvin merasa kembali menjadi pria sejati sejak bertemu dengan gadis itu, nalurinya sebagai seorang pria yang lama tidak dapat digunakan tiba-tiba dapat berfungsi dengan baik karena Maya.
Sementara itu Maya kini sudah menjalani harinya seperti biasa seolah tidak pernah terjadi apapun. Namun itu jika didepan semua orang karena nyatanya jika dia sedang sendirian dikamar maka Maya selalu saja menangis dalam kesendiriannya, dia tidak pernah menyangka jika dia akan bertemu lagi dengan pria jahat itu, siapa lagi jika bukan Marvin tentu saja itu menggoreskan luka lagi dihati ketika kenangan malam naas itu kembali berputar dimemorinya tapi yang lebih menyakitkan lagi adalah ketika Marvin tidak mengakui anaknya dan menuduhnya dengan tuduhan yang keji.
Yang lebih parahnya lagi adalah Maya sangat ingin menghirup wangi tubuh pria yang menjadi ayah dari anaknya itu, seperti saat ini Maya sedang merasakan hal itu memang terdengar sangat konyol tapi itulah kenyataannya.
"Pasti sedang memikirkanku". Tiba-tiba Nino datang disaat dia sedang melamun tentu saja Maya sangat terkejut. Dia langsung duduk diatas kasur disamping Maya.
"Nino, kamu mengagetkanku saja". Gerutu Maya.
Nino terkekeh melihat Maya yang kesal padanya sambil memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Ayo ikut denganku kita akan jalan-jalan, apa ada yang kamu inginkan heem?". Tanya Nino sambil menarik tangan Maya yang masih betah berada diatas kasurnya.
"Aku tidak sedang menginginkan apapun Nino". Jawab Maya malas karena jika dia jujur mengatakan ingin mengirup wangi tubuh Marvin hal itu pasti mustahil dilakukannya apalagi Nino pasti akan marah besar.
"Baiklah, aku yang menginginkan sesuatu". Nino tetap pada pendiriannya mengajak Maya pergi karena dia tidak ingin wanita itu terus larut dalam kesedihan meskipun Maya seolah menyembunyikannya.
Mau tidak mau Maya akhirnya menyerah dan mengikuti ajakan Nino, mereka pergi ke salah satu restoran untuk makan siang kemudian Nino mengajak Maya ke bioskop untuk menonton film.
Saat bersama Nino sejenak Maya dapat melupakan semua masalahnya, andai saja Nino yang menjadi ayah dari anaknya pasti hatinya akan sangat bahagia namun apa hendak dikata takdir ternyata ingin mereka bersama.
Disisi lain Nino juga sangat menyesali kenapa dirinya tidak memanfaatkan segala kelemahan Maya pada waktu itu padahal beberapa kali saat Maya mabuk wanita itu memanggilnya dengan nama sahabatnya Haikal, andai saja dia memiliki pikiran jahat mungkin saat ini Maya telah menjadi miliknya, itulah kebaikan yang dilakukan oleh Nino yang dia sesali seumur hidupnya.
Dari pandangan orang luar maka akan melihat Maya dan Nino sebagai pasangan suami istri yang sedang berbahagia menanti kelahiran bayi mereka, keduanya tertawa lepas dan tanpa beban. Namun jika mereka bisa tertawa lepas bahkan tanpa segan Nino menggandeng tangan Maya dan Maya hanya terima saja perlakuan manis Nino tanpa membantah karena jujur dia juga menikmati kebersamaan bersama pria tampan itu, namun berbeda dengan sepasang mata lentik yang menatap mereka dengan tatapan kesedihan.
"Ternyata tuan Nino sudah menikah dan akan segera punya anak, pantas saja akhir-akhir ini dia tidak pernah lagi mengundang para wanitanya ke kantor". Ya, Shely yang kebetulan saat ini berada dibioskop karena kedua orang tuanya dari kampung datang untuk pertama kalinya ke jakarta mengajak untuk melihat bagaimana gedung bioskop itu karena dikampung mereka tidak ada bioskop, bahkan fokus utama mereka kesana adalah berkeliling melihat-lihat megahnya gedung bioskop saja tanpa fokus pada film yang mereka tonton.
Jika akhir-akhir ini sekretaris Nino itu sangat antusias pergi ke kantor karena Nino sudah tidak lagi di kunjungi oleh para wanita yang berbeda setiap harinya maka sekarang Shely kembali kehilangan semangatnya karena pemandangan yang tersaji di depan matanya.
"Ayo Shel, ibu mau beli jangung itu". Ucap ibunya. Tepukan dibahunya itu membuyarkan lamunan Shely, kemudian dia kembali bergegas menuruti segala keinginan aneh ibu dan bapaknya.
__ADS_1