
Dokter Mira menatap Nino dengan bingung karena sikap pria itu berubah seketika saat dia membahas tentang kehamilan istrinya, dokter Mira semakin yakin jika telah terjadi sesuatu dengan kehamilan Shely sehingga membuat raut wajah Nino menjadi sedih dan gusar seperti saat ini.
Setelah berkutat dengan pikirannya, Nino kembali menatap tajam kearah dokter Mira.
"Kapan kau memeriksakan kehamilan istriku?" Tanyanya kemudian.
"Jangan menatapku seperti itu, aku bukan tersangka. Aku sudah lupa tepatnya karena itu sudah sangat lama tapi yang pasti saat itu kau juga ada di rumah sakit ini membawa wanita hamil yang berlumuran darah kalau tidak salah namanya Maya, apa kau ingat?, harusnya saat itu aku yang melakukan operasi pada pasien yang bernama Maya itu tapi karena pasienku di poli kandungan juga sedang banyak makanya dokter lain yang menanganinya". Jelas dokter Mira panjang lebar.
Deg....
Dada Nino semakin sesak mendengarkan penjelasan dari dokter Mira, pantas saja jika Shely yang saat itu pergi meninggalkannya karena pasti Shely mendengarkan pembicaraannya dengan Marvin. Belum lagi Nino yang selama ini selalu mengatakan jika dia tidak mau memiliki anak dari Shely karena menurutnya Shely tidak pantas untuk mengandung anaknya.
Nino menjambak rambutnya menggunakan kedua tangannya, dia mencoba mengingat-ingat bagaimana bisa Shely hamil karena seingatnya dia selalu memakai pengaman saat berhubungan dengan Shely.
"Shiit". Sentak Nino ketika dia menyadari jika pernah satu kali dia dan Shely pernah berhubungan tanpa pengaman saat Nino mabuk berat.
Mira terkejut mendengarkan umpatan Nino bahkan dokter cantik itu sampai mengelus dadanya. "No, kau ini membuat aku terkejut saja". Ujar dokter Mira ketus.
"Mira aku mohon bisakah aku melihat hasil pemeriksaan istriku saat itu". Pinta Nino penuh harap. Bukan apa-apa Nino membutuhkan bukti jika Sheno benar anaknya sehingga baik Shely maupun Marqin tidak bisa lagi menyembunyikan Sheno darinya apalagi hasil pemeriksaan itu pula bisa dijadikan Nino sebagai alasan untuk tidak jadi bercerai dengan Shely.
"Apa?, kau sudah tidak waras ya, pemeriksaan itu sudah lama sekali No, mana mungkin aku masih menyimpan hasil pemeriksaan itu kecuali kita mencarinya di gudang rumah sakit".
"Kalau begitu ayo kita ke gudang dan mencarinya". Ujar Nino enteng.
__ADS_1
Mira yang mendengarkan hal itu lagi-lagi di buat sangat terkejut, dia sampai membulatkan matanya sambil menggelengkan kepalanya. "Kau benar-benar sudah tidak waras ternyata, kau pikir gudang rumah sakit sebesar toilet umum hah?, belum lagi status pemeriksaan pasien di sana bukan berjumlah puluhan, ratusan atau bahkan ribuan tapi puluhan ribu Nino".
"Aku tidak peduli, Mira aku mohon bantu aku untuk menemukan hasil pemeriksaan itu dan aku akan melakukan atau memberikan apapun yang kau minta dariku". Ujar Nino sambil memohon.
Dokter Mira bahkan sampai merasa aneh dengan pria yang ada di hadapannya saat ini karena tidak pernah sebelumnya seorang Nino Fernando sampai memohon-mohon begitu kepadanya dan anehnya yang dia pintar adalah seorang permintaan yang cukup aneh.
"Nino, sebaiknya kau fokus dulu dengan kesehatanmu dan aku harus pulang sekarang, oke?". Ucap dokter Mira hati-hati.
Nino kemudian melirik jarum infus yang masih tertancap di tangannya dan seketika dia mencabutnya tanpa peduli dengan rasa sakit dan darah yang menetes dari tangannya.
"Nino, apa yang kau lakukan?". Tanya dokter Mira tak percaya.
"Sekarang kau lihatkan, aku sudah sembuh dan siap untuk mencari hasil pemeriksaan itu. Kau tenang saja Mira kah hanya perlu mengarahkan dan menemaniku saja karena aku dan sepuluh anak buahku sekaligus yang akan mencari hasil pemeriksaan itu". Ujar Nino sambil bangkit dari kursi roda dan menghubungi anak buahnya agar segera ke rumah sakit.
Maka jika sudah seperti ini, dokter Mira sudah tidak bisa menolak lagi permintaan aneh dari Nino.
"Aku janji padamu suatu hari nanti aku akan menceritakan semuanya tapi tidak sekarang karena aku harus segera menemukan hasil pemeriksaan itu Mir". Jawab Nino.
Tak butuh waktu lama, anak buah Nino sudah tiba di rumah sakit dan benar saja jumlah mereka tidak kurang dari sepuluh orang. Dengan bermodalkan kunci gudang dan arahan dari dokter Mira mereka menggeledah gudang yang dipenuhi dengan status pemeriksaan pasien yang masih di simpan disana.
Nino harap-harap cemas menunggu para anak buahnya mencari apa yang dia inginkan bahkan sudah dia jam tapi mereka belum mendapatkan apapun sehingga membuat Nino sampai putus asa, dia melirik Mira karena walaupun dia tidak punya bukti hasil pemeriksaan itu dia masih punya dokter Mira yang bisa dia ajak ke Bali untuk bertemu dengan Shely agar Shely tidak bisa menyangkal jika Sheno benar darah dagingnya.
"Kenapa menatapku seperti itu hah?. Tanya dokter Mira kesal karena sudah dia jam Nino menjadikan dia tawanan di sana dan melarangnya pergi kemanapun bahkan jadwal prakteknya hari itu sudah di atur oleh Nino untuk di gantikan dengan dokter lain.
__ADS_1
"Mir, jika hasil pemeriksaan itu tidak kita temukan aku mohon pergilah denganku ke Bali untuk bertemu dengan istri dan anakku". Jawab Nino.
"Oh ya ampun, apa lagi ini Nino, kau pikir hanya kau saja yang punya anak, aku juga punya anak dan suami yang harus aku urus belum lagi pasien-pasienku". Jawab dokter Mira ketus.
"Mira aku mohon aku-". Perkataan Nino terpotong karena salah satu anak buahnya memanggilnya.
"Tuan aku menemukannya". Ujar sang anak buah.
Nino sangat antusias mendengarnya dia langsung menghampiri anak buahnya dan melihat sebuah dokumen yang bertuliskan nama Shely di sana.
"Huh, untung saja ketemu jika tidak pria itu pasti akan benar-benar membawaku ke Bali dengan tujuan yang tidak jelas". Batin dokter Mira sambil mengelus dada.
Nino membuka dokumen hasil pemeriksaan istrinya dengan perasaan yang tidak menentu, di satu sisi dia bahagia karena mengetahui jika Shely tidak pernah mengkhianatinya namun di sisi lain dia tidak bisa menggambarkan bagaimana hancur hatinya karena pernah meragukan anak kandungnya sendiri.
Benar saja apa yang dikatakan oleh dokter Mira benar adanya. Sheno benar-benar anaknya dan Shely meninggalkan dirinya karena ketakutannya akan kehamilannya itu. Nino sangat terpukul membayangkan bagaimana sulitnya kehamilan yang di lalui oleh Shely tanpa perannya sebagai seorang suami dan calon ayah.
Tubuh Nino terjatuh ke lantai karena tubuhnya yang gemetaran akibat goncangan yang cukup kuat meneroa batinnya sebagai seorang suami dan ayah. Dokter Mira yang menyaksikan itu turut sedih melihat keadaan temannya itu meskipun dia tidak tahu duduk persolaan yang sebenarnya.
"Kamu baik-baik saja Nino?". Tanya dokter Mira mendekati Nino.
"Dia anakku dan aku tidak tahu apapun tentangnya Mir". Ujar Nino lirih sambil memejamkan matanya, lalu dia teringat jika dia harus segera menjemput istri dan anaknya pulang bersamanya ke jakarta. "Aku harus pergi menjemput mereka sekarang juga, Mira terimakasih banyak dan aku berjanji aku akan melakukan apapun untuk menebus balas budiku kepadamu". Sambung Nino lagi.
Namun belum juga dokter Mira menjawab pria itu sudah melewati secepat kilat meninggalkan rumah sakit bahkan dengan pakaian pasien yang masih melekat di tubuhnya dan dokumen kehamilan Shely.
__ADS_1
"Dasar Aneh". Seloroh dokter Mira.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...