
Sebelum berangkat ke Bali Nino pulang ke rumahnya terlebih dahulu untuk berganti pakaian dan mengambil segala sesuatu yang dia butuhkan selama berada di Bali nanti. Ningsih sangat terkejut melihat anaknya pulang secara tiba-tiba dengan menggunakan baju rumah sakit.
"Nino, kamu sudah pulang, apa dokter sudah mengizinkannya?, padahal mama sama papa baru saja rumah sakit lagi". Ujar Ningsih.
"Ma, Nino mau mandi dan siap-siap dulu karena Nino mau berangkat ke Bali". Jawab Nino kemudian langsung meleset menuju kamarnya tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan mamanya lagi.
Secepat kilat Nino susah menyelesaikan ritual mandinya bahkan dia sudah siap dengan kopernya untuk berangkat sekarang juga ke Bali. Ningsih yang meminta penjelasan kepada putranya itu juga di abaikan begitu saja sehingga membuat Ningsih sangat mengkhawatirkan keadaan putranya.
"Nino mama mohon nak jangan pergi dulu kami belum sehat betul". Pinta Ningsih penuh harap bahkan wanita paruh baya itu sampai mengeluarkan air mata karena rasa khawatirnya itu.
Melihat mama menangis membuat Nino luluh dan menghentikan langkahnya. "Ma, Nino harus pergi karena Nino akan menjemput menantu mama untuk pulang ke rumah ini". Ujar Nino lembut.
"She-Shely?". Tanya Ningsih.
"Iya ma, Shely saat ini berada di bali dan Nino akan membawanya pulang ke sini bahkan dengan cucu mama sekaligus".
"Cucu?". Seru Hartono yang baru saja tiba.
"Iya maksud kamu apa No?". Timpal Ningsih lagi.
"Ma, Pa maafkan Nino ini semua terjadi memang atas kesalahan Nino dan sekarang Nino akan menebus semua kesalahan itu dengan meminta maaf dan memohon agar Shely mau kembali bersama Nino. Saat Shely meninggalkan rumah ini dia sedang mengandung anak Nino dan usia anak Nino sekarang sudah lima tahun". Jelas Nino panjang lebar.
"Ja-jadi kami sudah punya cucu sekarang?". Tanya Ningsih tak percaya.
__ADS_1
"Iya ma, cucu mama laki-laki dan namanya Sheno dia anak yang tampan dan juga cerdas". Jawab Nino antusias.
"Jika kamu memang sudah kenal dan pernah bertemu dengan anakmu kenapa baru sekarang kamu mau menjemputnya, kenapa tidak membawa mereka pulang sejak pertama kalinya kalian bertemu?". Tanya Hartono tegas karena dia sepertinya sudah tahu akar permasalahan yang di timbulkan oleh putranya itu.
Wajah Nino yang tadi sangat antusias tiba-tiba saja muram dan lesu dan ekspresi yang di tunjukkan oleh putranya sudah bisa menjawab pertanyaannya tadi. "Nino, kapan kamu bisa berpikir dewasa hah?, kamu pikir Shely akan kembali ke sini dengan mudahnya, jika papa jadi dia papa tidak akan mau hidup dengan pria seperti kamu". Sambung Hartono lagi dan Nino hanya bisa menunduk malu mendengar setiap ucapan yang di lontarkan oleh papanya.
"Pa, jangan bicara seperti itu, setiap manusia pasti punya salah dan saat ini putra kita mau memperbaikinya jadi kita doakan saja yang terbaik. No, janji sama mama ya, apapun yang terjadi dan bagaimanapun caranya bawa menantu dan cucu mama kembali ke rumah kita". Ujar Ningsih sambil menatap intens wajah anaknya yang terlihat sangat menyesali kesalahannya.
Nino menganggukkan kepalanya dengan senyum terpaksa karena apa yang dikatakan oleh papanya tadi ada benarnya, pasti tidak mudah bagi Shely melupakan setiap kesalahan yang dilakukan olehnya apalagi jika menyangkut tentang status Sheno yang pernah dia ragukan meskipun dia tidak tahu sama sekali tentang kehamilan Shely.
Nino mencium tangan kedua orang tuanya, meminta restu dan doa kepada mereka agar Shely mau membuka hati untuk memaafkan segala kesalahannya. Meskipun Hartono masih marah dengan semua kesalahan anaknya namun di hati kecilnya dia tetap berharap jika putranya bisa membawa menantu dan cucunya kembali ke rumah mereka.
"Ma, pa, Nino pergi dulu, doakan yang terbaik untuk Nino, Shely dan Sheno ya ma, pa". Ujar Nino lembut.
Maka dengan restu dan doa kedua orang tuanya Nino melangkah untuk menjemput kebahagiaannya, sekarang tinggal bagaimana dia bisa meyakinkan istrinya itu untuk menerimanya kembali.
Nino kembali menginjakkan kakinya di pulau Dewata Bali, tempat indah yang menjadi incara para turis lokal maupun asing. Dia lega karena saat ini dia akan menjemput kebahagiaan yang sudah lima tahun ini menghilang dari hidupnya.
Misinya sekarang ini hanyalah satu yaitu menjemput istri dan anaknya meskipun dia harus berhadapan dengan Marqin Askari yang tentu saja tidak akan melepaskan Shely begitu saja, apalagi setelah Nino tahu ternyata selama ini Marqin lah yang menghalangi dirinya untuk menemukan Shely. Karena jika di pikir-pikir tidak mungkin Nino akan kehilangan jejak istrinya itu begitu saja tanpa campur tangan klan Askari.
Dengan semangat yang menggebu-gebu, Nino segera menuju rumah Shely dan tidak butuh waktu lama adiak sudah sampai tepat di halaman rumah mewah milik istrinya. Shely memang susah sangat mapan sekarang karena dia bekerja di salah satu perusahaan yang sangat besar tentu saja gajinya dan tunjangan yang dia dapatkan tidaklah kecil.
Nino sebenarnya lebih merindukan istrinya yang lugu dan polos dengan penampilan sederhananya dulu namun jarak dan waktu telah mengubah segalanya, Shely yang dulu tidak ada apa-apanya sekarang ini sangat bisa dipelajari perhitungkan di dunia bisnis dengan pengalamannya sebagai sekretaris pribadi Marqin.
__ADS_1
Langkah demi langkah Nino tapaki untuk mencapai pintu utama rumah tersebut, entah bagaimana dia akan memulainya namun apapun dan bagaimanapun itu Nino hanya ingin Shely kembali kepadanya.
Nino memencet bel rumah itu sambil beberapa kali menghela napasnya untuk mengurangi rasa canggung. Alangkah terkejutnya dia karena yang muncul dari balik pintu bukanlah Shely melainkan ibu mertuanya.
"Nak Nino". Seru ibu Shely, karena bukan hanya Nino yang terkejut ibu Shely juga sangat tidak menyangka jika tamu di sore hari itu adalah menantu yang sudah lima tahun ini tidak di lihatnya.
Nino tersenyum dan mencium punggung tangan mertuanya itu. "Iya bu, ini Nino". Jawab Nino.
Ibu kemudian mempersilakan menantunya itu untuk masuk. "Silahkan duduk dulu nak". Sambil melangkah ke dapur untuk membawakan Nino minum namun Nino langsung menghalangi ibu mertuanya itu.
"Bu, bisakah kita bicara sebentar, ada banyak hal yang harus Nino bicarakan dengan ibu". Sebelum bertemu dengan istrinya Nino merasa sangat perlu memohon maaf kepada mertuanya karena telah lalai dalam menjaga Shely.
Nino bahkan bersimpuh di hadapan sangat ibu mertua karena menyesali perbuatannya selama ini, dia bahkan meminta restu agar ibu mertuanya itu mengizinkan dia dan Shely kembali bersama. Nino juga sangat terpukul saat mengetahui jika ayah mertuanya ternyata sudah lama meninggal dunia maka bisa di bayangkan bagaimana rasa bersalah Nino semakin bertambah karena membiarkan Shely menghidupi hidupnya sendiri bersama ibu mertuanya dalam keadaan hamil.
"Ibu tidak pernah melarang atau menentang hubungan kamu dan Shely nak, tapi ibu juga tidak bisa ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian, jika Shely memang bersedia untuk kembali ke jakarta bersama kamu ibu akan mendukungnya begitu juga sebaliknya jika dia tidak mau maka ibu tidak mungkin memaksanya". Ujar ibu dengan suara yang lembut.
"Nino mengerti bu, asalkan ibu tidak menentang kami Nino akan melakukan apapun asalkan Shely mau memafkan Nino, tapi dimana Shely dan Sheno mereka dari tadi tidak kelihatan?". Tanya Nino dia bingung karena sudah sekian lama dia berada di rumah itu dan berbicara banyak hal dengan ibu tetapi Shely dan Sheno tidak juga kelihatan.
"Apa kamu tidak tahu mereka ada dimana sekarang?". Tanya ibu serius.
Nino mengangkat bahunya dan menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu apa-apa.
"Sudah satu minggu ini mereka berada di Dubai". Jawab Ibu ata ketidaktahuan menantunya.
__ADS_1
Deg.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...