
Maya menyeret langkah kakinya dengan susah payah menyusuri koridor rumah sakit tempat suaminya di rawat. Saat ini tidak mungkin jika dia mampu datang kesana seorang diri tanpa bantuan dari Nino, ya pria itu yang saat ini setia berada di sampingnya untuk menemaninya ke rumah sakit.
Sungguh Nino tidak dapat menolak ketika wanita pujaan hatinya itu sedang membutuhkan bantuan bahkan ucapan kedua orang tuanya saja tidak akan di indahkan oleh Nino jika sudah menyangkut Maya.
"Dimana dia?". Tanya Maya kepada Jack yang duduk di depan kamar operasi sambil menunduk lesu.
"Di dalam, dokter sedang melakakun penanganan terbaik untuk tuan Marvin". Jawab Jack lesu. "Saya permisi sebentar nona, saya haus kebagian administrasi dulu". Lalu Jack pergi mengurus semua keperluan administrasi Marvin selama di rawat di rumah sakit tersebut.
Maya mendekati pintu kamar berusaha mencari celah agar dia bisa melihat suaminya padahal dia tahu betul jika itu akan sia-sia saja. Bukan kali pertama Maya berhubungan dengan rumah sakit karena ketika merawat sang ayah dulubsaat sakit cukup membuatnya berpengalaman namun seperti sedang mencari tumpuan atau hal yang membuat hatinya sedikit tenang Maya justru seperti orang yang tidak terkendalikan lagi.
Nino mendekatinya dan berkata. "May tenanglah, dokter pasti akan melakukan yang terbaik". Ujarnya mencoba menenangkan Maya.
"Apa dia akan baik-baik saja?". Tanya Maya dengan wajar tegangnya.
"Tentu saja".
"Kenapa semua orang yang berada didekatku selalu mengalami hal buruk, pertama mama yang meninggal saat melelahkanku, lalu papa yang meninggal karena ulahku juga dan sekarang suamiku, saat aku mulai mencintanya dan bahkan aku belum sempat mengatakan padanya secara langsung, kenapa takdir begitu kejam kepadaku?". Tangis Maya pecah di pelukan Nino.
Jika boleh jujur tangis Nino juga hampor pecah mendengar pengakuan Maya tentang perasaannya terhadap Marvin, ingin sekali dia menangis sejadi-jadinya ketika lagi-lagi cintanyan kepada Maya bertepuk sebelah tangan.
Jack juga mendengar hal itu dengan jelas dia sudah kembali sejak tadi dan berada tepat di belakang mereka. Awalnya Jack ingin melihat gerak gerik Nino yang mungkin saja ingin mencari kesempatan dalam kesempitan namun ketika mendengar pengakuan Maya tentang perasaannya kepada sang majikan Jack menghentikan langkahnya dan merasa jika saat ini Maya memang membutuhkan seseorang yang bisa menjadi tempatnya untuk berbagi.
"Maya, dengarkan aku, jika kamu mencintainya maka kamu harus terus berjuang untuk cintanya sampai batas akhir, jangan pernah menyerah karena takdir tidak pernah salah". Jawab Nino.
"Sama sepertiku May, aku sudah berjuang sampai batas akhir dan sekarang aku harus menyerah karena sudah tidak ada tempat atau kesempatan lagi untukku di hati dan di hidupmu". Batin Nino sambil menyeka air mata yang tanpa terasa membasahi pipinya.
__ADS_1
...----------------...
Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya dokter keluar dari kamar operasi tersebut dan mengatakan jika operasinya sudah selesai namun Marvin masih dalam keadaan kritis dan tidak sadarkan diri sehingga dia harus di rawat di ruang ICU sampai kondisinya stabil kembali.
Dokter juga mengatakan jika Marvin tidak sadarkan diri dalam waktu du puluh empat jam ini maka kemungkinan besar Marvin akan mengalami koma yang tidak dapat di prediksi berapa lamanya. Hal itu membuat Maya sangat terpukul sehingga dia akan mengusahakan bagaimanapun caranya agar Marvin cepat sadar.
Maya menatap tubuh suaminya yang terpasang berbagai macam alat-alat medis di hampir seluruh tubuhnya. Dia mendekati secara perlahan dan menyentuh tangan suaminya.
"Aku disini, bukankah kau berjanji padaku untuk pulang lebih cepat dan memberikanku kejutan, apa ini yang kau sebut kejutan heem". Ujarnya dengan air mata yang tak berhenti mengalir bahkan Jack dan Nino yang menyaksikan hal tersebut juga ikut meneteskan air mata.
Hening, tidak ada reaksi apapun dari Marvin. "Ayo bangun dan katakan apa yang ingin kau katakan padaku, bukankah kau sudah berjanji jika malam ini kau akan mengatakan sesuatu?". Sambung Maya lagi.
Maya berbicara panjang lebar hingga membuatnya putus asa karena Marvin sama sekali tidak meresponnya hingga akhirnya Maya merasakan tendangan yang cukup kuat dari bayi di dalam kandungannya.
Maya menuntun tangan Marvin agar menyentuh perutnya dan merasakan tendangan dari bayi-bayi mereka yang srolah ikut membangunkan sang ayah dari komanya.
Maya menghentikan tangisannya saat sesuatu meraba secara perlahan perut buncitnya itu. Dia kemudian melirik kearah Marvin dimana suaminya itu meneteskan air mata dalam keadaan matanya yang masih tertutup. Kemudian dia melirik kearah perutny dan benar saja jika tangan Marvin memberi respon dengan bergerak secara perlahan.
Senyuman Maya mengembang, dia menghapus air matanya dan berbalik menatap Jack dan Nino sambil tersenyum bahagia.
"Dia menggerakkan tangannya, dia bahkan meneteskan air matanya, Jack cepat panggilkan dokter". Seru Maya dan secepat kilat Jack melesat keluar ruangan tersebut untuk memanggil dokter.
Dokter bersama timnya pun datang untuk memeriksa keadaan Marvin. Maya, Jackdan Nino tetap berada di ruangan tersebut karena Maya tidak mau beranjak sedikitpun dari sisi suaminya.
Setelah pemeriksaan tersebut Marvin secara perlahan membuka matanya dan menatap ke sekelilingnya untuk mencerna keadaan yang sedang terjadi pada dirinya.
__ADS_1
"Tuan Marvin, apakah anda dapat mendengarkan suara saya". Panggil dokter.
Spontan Marvin langsung menoleh kearah sumber suara. Jangan tanyakan betapa bahagianya hati Maya melihat perkembangan yang di alaminoleh suaminya itu. Marvin memijat-mijat kelapanya yang terasa sangat nyeri.
"Do-dokter, apakah anda dokter dan dimana saya sekarang?". Tanya Marvin terbata-bata.
"Anda sedang berada di rumah sakit, anda mengalami kecelakaan yang cukup parah dan kami adalah tim yang merawat anda tuan". Jawab dokter.
"Lalu dimana istri saya?". Tanya Marvin lagi.
Deg....
Hati Maya mulai gelisah karena Marvin menanyakan kehadiran dirinya padahal tadi sekilas Marvin sudah menatap kearahnya. Jack, Nino dan Maya saling berpandangan penuh tanda tanya karena masih bingung harus menjawab apa namun Maya berinisiatif maju mendekat kearah suaminya agar Marvin dapat melihatnya dengan Jelas. Mungkin saja mata Marvin masih sensitif terhadap cahaya akibat kecelakaan itu pikirnya.
"Mar-". Ucapan Maya langsung di potong oleh Marvin yang menatap dokter dengan tajam dan berkata. "Dimana istriku Celina dokter?". Sentak Marvin.
Deg....
Maya mundur saat mendengar nama yang seseorang yang di cari Marvin bukanlah dirinya. Perlahan dengan hati yang hancur dia meninggalkan ruangan Marvin namun dia masih bisa mendengar dengan jelas Marvin histeris memanggil nama Celina.
"Dimana Celinaku, Jack panggilkan Celina aku membutuhkannya". Teriak Marvin. Maya bahkan menutup kedua telingannya karena tidak sanggup mendengar ketika suaminya memanggil nama wanita lain di hadapannya.
Tim dokter dan Jack menenangkan Marvin, bahkan dokter harus memberikan suntikan penenang agar Marvin tidak semakin histeris dan banyak bergerak yang akan berakibat fatal untuk kondisi tubuhnya.
Sedangkan Nino yang sempat mematung karena masih mencoba mencerna keadaan berlari keluar mengejar Maya agar wanita itu tidak pergi sendirian dalam keadaan hancur seperti itu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...