
Jika Maya dan Marvin sedang menikmati masa-masa indah pernikahan mereka dengan jalan-jalan keluar negeri meskipun di penuhi dengan drama-drama yang tidak penting, maka di tempat lain ada hati yang sedang mengalami sakit yang luar biasa, bukan hanya karena cintanya kepada sang pujaan hati tidak terbalaskan namun dia juga harus terjebak dengan senjata yang sudah di rancang khusus oleh dirinya sendiri.
Dialah Nino Fernando, pria yang awalnya mencoba memanfaatkan keluguan keluarga Shely untuk kepentingan pribadinya saat ini harus merasakan imbas dari perbuatannya sendiri karena bukannya menolak dan merasa tidak pantas, kedua orang tua Nino justru menerima dengan baik keluarga Shely sebagai calon besan mereka.
Maka bisa di pastikan saat ini jika pernikahan antara dirinya dan Shely sudah tidak dapat di hindari lagi dengan alasan apapun juga. Bakhan saat ini Ningsih sudah mulai menyiapkan pesta pernikahan yang sangat meriah untuk anak satu-satunya itu.
Nino yang awalnya bersikap baik pada Shely kini berubah menjadi sangat arogan, dia menuduh Shley dan kedua orang tuanya sudah meracuni pikiran Ningsih dan juga Hartono sehingga mereka mau menerima Shely sebagai menantu di rumah itu.
Bahkan Nino sampai mengancam Shely jika pernikahan itu benar terjadi maka dia akan membuat Shely hidup seperti di neraka bersama dengannya kelak. Sungguh kejam bukan, namun itulah kenyataannya sehingga mau tidak mau Shely harus memutar otaknya agar pernikahan tersebut tidak terjadi dengan cara apapun.
"Batalkan pernikahan ini dengan cara apapun atau kau akan hidup sengsara seumur hidupmu, apa kau mengerti?". Sentak Nino sambil mencengkeram dagu mungil Shely dengan tangannya yang besar itu lalu menghempaskannya dengan kasar.
Shely hanya mampu menahan kesedihannya dengan menatap punggung Nino yang menjauh dari pandangannya bahkan untuk sekedar menjawab atau membela diri dia sudah tidak mampu lagi.
Shely berpikir mungkin ini semua akibat keserakahannya yang tergiur akan uang yang di janjikan oleh Nino padanya dulu sehingga dia harus menanggung akibatnya saat ini.
Jika dulu dia berpikir bahkan membayangkan jika dirinya bisa hidup bersama Nino sangatlah membuat hidupnya bahagia dan sempurna maka lain halnya dengan sekarang, dia justru sangat takut karena membayangkan hal buruk apa yang tega Nino lakukan kepadanya.
Masih teringat jelas di dalam bayangannya ketika Nino menuduhnya merayu kedua orang tua Nino untuk menerima sebagai menantu karena jika tidak di rayu maka mustahil bagi kedua orang tua Nino bisa menerima dirinya.
"Jurus andalan apa yang kau gjnakan untuk merayu kedua orang tuaku hah?, apa kau menggunakan keluguanmu itu agar mereka terkesan atau bahkan mungkin kau dan kedua orang tuamu bersengkongkol agar mendapatkan uang yang lebih banyak dari yang aku janjikan untukmu makanya kau sangat menjadi istriku?". Tuduh Nino kala itu ketika dia mendengar jika kedua orang tuanya menyetujui pernikahannya dengan Shely.
Shely menghapus air matanya, dia berniat menemui kedua orang tua Nino hari ini untuk mengakui semua sandiwara yang dia dan Nino lakukan selama ini, dengan seperti itu dia berharap jika rencana pernikahannya dengan Nino batal dilaksanakan.
Bagaimana Shely tidak khawatir, rencana pernikahan itu memang benar adanya bahkan Ningsih ibunya Nino sudah mengajaknya ke sebuah butik ternama untuk melakukan fitting baju pengantin untuknya.
...----------------...
"Assalamualaikum tante". Sapa Shely saat menemui Ningsih di taman belakang kediaman Nino.
"Walaikumsalam, eh Shel, kamu disini?". Jawab Ningsih.
__ADS_1
Shely mengulurkan tangannya kepada Ningsih dan mencium punggung tangan wanita paruh baya tersebut, jujur sikap Shely yang sangat sopan dan tahu cara menghormati orang yang lebih tua inilah yang sangat di sukai oleh Ningsih.
"Ayo duduk dulu". Ajak Ningsih dan Shely hanya menurut saja. "Kamu ada apa kemari nak?". Tanya Ningsih ketika mereka berdua sudah duduk di kursi taman belakang.
"Ada yang mau Shely bicarakan sama tante".
"Oh, harusnya kamu hubungi tante via telepon saja, tidak perlu kemari karena kamu butuh banyak istirahat untuk persiapan pernikahan kamu nanti".
"Tapi ini sangat penting tante, Shely harus bicara dengan tante secara langsung".
"Oke, baiklah, ada apa?". Tanya Ningsih lembut.
"Tante Shely mau jujur kepada tante kalau sebenarnya Shely dan mas Nino tidak punya hubungan apa-apa, kami hanya bersandiwara selama ini, dan-". Ujar Shely ragu jika apa yang di ucapkan olehnya akan membuat Ningsih kecewa.
"Dan apa?". Tanya Ningsih penasaran.
"Dan Shely melakukan ini semua hanya untuk uang, mas Nino menawarkan perjanjian ini dengan imbalan sejumlah uang dan Shely menyetujuinya. Tante pernikahan ini sebenarnya sama sekali tidak di inginkan oleh mas Nino jadi sebelum semua terlambat sebaiknya tante batalkan pernikahan ini karena Shely sama sekali tidak pantas untuk mas Nino". Jelas Shely panjang lebar dengan air mata yang menetes dengan sendirinya di pipinya.
"Tante sudah tahu semua itu Shel". Ujarnya sambil tersenyum.
Deg....
Shely tak menyangka jika respon yang diberikan oleh Ningsih akan seperti itu.
"Tante dan om sudah mencari tahu siapa kamu dan kenapa kamu berada disini sejak saat pertama Nino mengajak kamu kerumah ini, maafkan anak tante ya Shel, karena Nino memanfaatkan kamu dengan uang yang dia miliki". Sambung Ningsih lagi.
"Tidak tante, ini semua salah Shely juga karena Shely mau saja di bayar oleh mas Nini tanpa memikirkan resiko untuk kedepannya". Jawab Shely. " Tapi kalau tante sudah tahu kenapa tante masih saja meneruskan rencana pernikahan ini?". Tanya Shely penasaran.
Ningsih lagi-lagi tersenyum lembut kearah gadis cantik itu.
"Itu karena kami memang menginginkan kamu menjadi istri Nino dan menjadi menantu dirumah ini".
__ADS_1
"Ta-tapi tante, kami hanya orang miskin dan orang kampung yang tidak punya apa-apa bahkan Shely melakukan rencana ini demi uang apa tante tidak takut jika Shely hanya menginginkan uang keluarga tante?".
"Kamu tahu Shel, demi kebahagiaan anak kami Nino kami mampu merelakan apapun di dunia ini termasuk uang dan harta kami".
"Tapi tante, mas Nino sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini dan dia tidak akan bahagia dengan pernikahan ini".
"Shel, seiring dengan berjalannya waktu tante yakin kalau Nino akan menerima pernikahan ini dan juga menerima kamu sebagai istrinya. Sekarang yang tante inginkan adalah kamu tetap mau menikah dengan anak tante, itu saja. Kamu mau kan nak?". Tanya Ningsih penuh harap dan menggenggam erat tangan Shely.
Shely melepaskan genggaman tangan Ningsih secara perlahan.
"Maaf tante, tapi Shely tidaj bisa melakukannya". Jawabnya lesu.
"Tapi kenapa Shel, bukankah kamu juga tertarik pada Nino?". Pertanyaan Ningdib cukup membuat Shely terkejut.
"Tante meskipun Shely tertarik pada mas Nino bukan berarti pernikahan ini bisa dilanjutkan tanpa adanya rasa cinta di hati kami satu sama lain".
"Shel, tante mohon jangan menyerah dan jangan membatalkan rencana pernikahan ini karena tante yakin kamu gadis yang tepat untuk Nino".
"Maaf tante Shely benar-benar tidak bisa".
"Shel, apa kamu tega menghancurkan hati kedua orang tua kamu yang begitu bahagia dengan rencana pernikahan ini?. Apa kamu tega dengan keadaan Nino yang terus terpuruk dalam perasaan cinta yang salahnya itu, Nino butuh kamu nak, tolong dia".
"Tante, mas Nino tidak membutuhkan Shely, dia tidak ingin bangkit dari keterpurukannya itu dia nyaman dengan perasaannya saat ini, jadi ada atau tidaknya Shely tidak akan ada pengaruh apaoun di hidupnya." Jelas Shely, karena Shely tahu semua tentang Nino dan perasaannya terhadap Maya.
Ningsih yang kehabisan akal merayu Shely akhir duduk dan berlutut di hadapan Shely.
"Jika begitu lakukan ini untuk tante Shel, untuk seorang ibu yang ingin melihat anaknya bahagia". Ujar Ningsih penuh harap.
Shely sangat terkejut dengan sikap Ningsih bahkan dia sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi selain membawa tubuh Ningsih bangkit dan memeluknya dengan erat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...****************...