Maya (Ayah Dari Anankku)

Maya (Ayah Dari Anankku)
Part 85


__ADS_3

Lama ciuman yang saling tarik menarik itu berlangsung sampai akhirnya Nino melepaskannya karena takut jika istrinya kehabisan oksigen. Dari ciuman itu Nino sangat yakin jika istrinya juga sangat merindukannya dan masih mencintai dirinya.


"Pulanglah sayang, aku berjanji setelah hari ini pernikahan kita hanya akan di penuhi dengan kebahagiaan saja". Ujar Nino sambil mengusap lembut bibir Shely nyang basah akibat ulahnya.


Shely tersenyum mendengar Nino memanggilnya sayang untuk pertama kalinya. Bahkan seketika semua kesalahan yang di lakukan Nino selama ini terhapuskan begitu saja.


"Mas, aku-". Ucapan Shely terpotong karena Nino kembali melahap bibirnya penuh gairah.


Cup....


"Aku berjanji jika aku akan menerima Sheno layaknya putraku sendiri dan kita akan hidup sebagai keluarga kecil bahagia". Ujar Nino ketika ciuman kedua itu lepas.


Deg....


Emosi Shely kembali menggebu saat mendengarkan ucapan Nino barusan, spontan saja wanita itu mendorong dengan kuat tubuh suaminya sehingga tubuh Nino menjauh darinya.


"Aku ingin kita secepatnya bercerai mas". Ujar nya tegas sambil menghempaskan tangan Nino yang masih memeluk pinggang rampingnya itu.


"Sayang kamu yang kamu bicarakan?". Tanya Nino bingung.


"Mas, tolong urus perceraian kita secepatnya". Jawab Shely lagi.

__ADS_1


"Shel, apa kamu tidak mau memberikan aku kesempatan satu kali saja untuk tetap bisa bersama kamu, jangan khawatirkan tentang Marqin karena aku akan menghadapinya dan aku juga tidak akan melarang jika dia ingin bertemu anaknya". Nino berusaha meraih tangan Shely dan menggenggamnya.


Shely lagi-lagi menghempaskan tangan Nino dan berkata. "Pulanglah ke jakarta dan segera urus perceraian kita karena mungkin kita memang tidak berjodoh mas. Kamu mungkin mencintai aku tapi kamu belum sepenuhnya mengenal aku mas, tapi itu semua bukan kesalahan kamu karena kita menikah memang bukan karena saling mencintai dan perkenalan kita juga terbilang singkat karena itu aku tidak bisa menyalahkan kamu sepenuhnya. Pulanglah dan jangan buang waktumu di sini karena aku tidak akan ikut denganmu. Mas ucapkan permintaan maafku untuk mama dan papa, semoga suatu saat mereka bisa memaafkan aku yang pergi meninggalkan mereka begitu saja".


"Maksud kamu apa Shel?". Tanya Nino bingung.


"Ceraikan aku segera jika memang kamu mencintaiku". Jawab Shely singkat.


Shely memilih pergi dari tempat itu tanpa menatap mata suaminya lagi karena mata Nino adalah titik kelemahan selama ini, sama seperti putranya Sheno, meskipun Nino terus memohon kepadanya. Shely mungkin tidak bisa menyalahkan Nino karena pria itu tidak mengetahui tentang status Sheno yang sebenarnya namun dengan mengatakan jika Sheno adalah putra dari Marqin bukankah itu berarti Nino menuduhnya tidak bisa menjaga ikatan suci pernikahan.


Ingin sekali Shely berteriak jika Sheno adalah putranya namun percuma jika pada kenyataannya Nino masih meragukannya. Mungkin sudah nasib Sheno jika ayah kandungnya tidak akan pernah tahu tentang keberadaan di dunia ini.


Langkah demi langkah yang Shely lakukan adalah rasa sakit yang teramat dalam bagi Nino, pria itu merasa jika kali ini dia benar-benar akan kehilangan istri yang sangat di cintainya itu. Nino hanya bisa menatap tubuh Shely yang semakin menjauh tanpa bisa mencegahnya lagi.


...----------------...


"Apa yang kau lakukan sampai perusahaan kita di ambang kebangkrutan begini Nino?. Papa membangun perusahaan itu dengan jerih payah papa sendiri dan kamu ingin menghancurkannya begitu saja hah?". Ujar Hartono mendoktrin putranya yang kegiatannya hanya di rumah saja tanpa mau mempedulikan lagi urusan di kantor.


Ya, saat ini Nino semudah kembali ke jakarta, satu bulan sudah kejadian dimana Shely meminta cerai kepadanya dan Nino sama sekali tidak mengurus perceraiannya seperti permintaan istrinya, justru dia hanya menghabiskan waktunya di kamar mengurung dan mengunci dirinya tanpa tujuan yang jelas sehingga membuat kedua orang tuanya sangat marah.


Kedua orang tua Nino sama sekali tidak tahu tentang apa yang di alami anaknya sehingga membuat anaknya kembali pada kebiasaan lamanya. Saat Hartono atau Ningsih bertanya, Nino selalu saja menghindar dan mengunci rapat kamarnya. Namun tanpa harus di jelaskan baik Hartono maupun Ningsih tahu betul apa yang menyebabkan Nino kembali berulah tentu saja karena Shely karena hanya wanita itu saja yang bisa membuat putra mereka terpuruk seperti ini.

__ADS_1


"Jawab pertanyaan papa Nino". Sentak Hartono lagi.


"Cukup pa, berhenti hanya memikirkan tentang kerugian yang di alami perusahaan karena itu tidak lebih penting di bandingkan hidup Nino yang sudah hancur". Jawab Nino tak kalah tegas.


Hartono yang mendengar hal itu langsung mencengkeram kerah baju putranya. "Hidup yang mana yang sedang kamu bicarakan hah?, hidup yang sudah susah payah papa dan mama bangun lalu kamu hancurkan begitu saja iya?". Tanya Hartono penuh amarah.


"Ingat Nino, papa dan mama selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk hidup kamu sejak hari pertama kamu lahir di dunia ini sampai saat kami menikahkan kamu dengan Shely, tapi apa yang kamu lakukan nak, kamu sendiri yang menghancurkan begitu saja". Ujar Hartono lirih sambil melepaskan kerah baju Nino.


Mendengar apa yang dikatakan oleh papanya Nino merasa semakin bersalah karena tidak percaya dengan pilihan kedua orang tuanya yang selama ini memang selalu tepat untuk hidupnya.


"Seandainya waktu bisa di ulang mungkin papa dan mama akan membatalkan pernikahan kamu dan Shely waktu itu sehingga papa dan mama tidak melihat betapa hancurnya hidup putra Kami satu-satunya. Maaf kan papa nak, ini semua juga kesalahan kami sebagai orang tua kamu yang memaksakan kehendak kami kepadamu". Sambung Hartono lagi.


"Pa, jangan bicara seperti itu, papa sama mama tidak bersalah, Nino yang bersalah karena Nino terlalu egois dan keras kepala".


"Bukan nak, kami yang salah dan kami sangat menyesalinya".


"Pa, Nino tidak pernah menyesal menikah dengan Shely, satu-satunya penyesalan Nino adalah karena Nino terlambat menyadari jika Nino benar-benar mencintai Shely". Jawab Nino lirik dan akhirnya pria itu tumbang.


"Nino, kamu kenapa?, bangun nak". Seru Hartono.


Hartono sangat terkejut melihat putranya yang tiba-tiba tumbang itu. Dia berteriak memanggil penghuni rumah lainnya agar mereka membantunya menyadarkan Nino yang sedang pingsan itu. Ningsih juga sangat histeris melihat anaknya yang pingsan sehingga mereka memutuskan segera membawa Nino kerumah sakit.

__ADS_1


Bagaimana tidak tumbang, Nino tidak memperhatikan pola makan dan tidurnya selama satu bulan belakangan ini, apalagi dia juga rutin mengkonsumsi minuman beralkohol nyang tentu saja sangat berbahaya untuk kesehatannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2