Maya (Ayah Dari Anankku)

Maya (Ayah Dari Anankku)
Part 95


__ADS_3

"Papa jangan pergi lagi, maafkan Shen". Seru bocah itu.


Deg.....


Antara bingung dan bahagia Nino tersenyum penuh harus karena putranya Sheno memanggilnya dengan sebutan "Papa" bahkan tanpa tahu mengapa alasan Sheno memanggilnya dengan sebutan tersebut. Tanpa menunggu lama Nino langsung mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan sang putra agar dapat memeluk Sheno dengan erat.


"Papa disini sayang, papa tidak akan meninggalkan kamu lagi". Ujar Nino penuh haru.


Nino langsung menggendong Sheno yang masih saja menangis, dia mencoba menenangkan putranya agar berhenti menangis namun Sheno justru tertidur di gendongan sang papa.


"Sheno sudah tidur, aku bantu antarkan ke kamarmu ya?". Tanya Nino kepada Shely.


"Tidak perlu mas, ke kamar kamu saja karena aku khawatir jika Sheno bangun nanti dan melihat kamu tidak ada dia akan menangis lagi.


Mendengarkan ucapan istrinya itu Nino bahagia bukan main, sekarang sudah tidak ada jarak lagi antara ayah dan anak itu yang selama lima tahun ini terpisah oleh jarak dan waktu apalagi ini adalah kali pertama Nino akan tidur dengan buah hatinya itu.


Setelah mengucapkan hal tersebut Shely berbalik untuk menuju kamarnya namun Nino segera meraih tangan Shely. "Terimakasih untuk semua yang kamu lakukan dan kamu korbankan untuk hidupku Shel, aku janji aku akan menebus waktu lima tahun yang aku sia-siakan untuk Sheno dan kamu". Ujarnya.


Shely hanya merespon ucapan suaminya itu dengan senyuman dan langsung menghilang di balik pintu kamarnya. Ada yang sulit untuk dia jelaskan dengan suasana hati saat ini, di satu sisi dia bahagia melihat impian anaknya untuk memiliki papa terwujud dan melihat suaminya juga bisa menerima kehadiran Sheno bahkan sangat menyayanginya namun di sisi lain Shely juga merasa berat untuk berpisah dengan putranya walaupun hanya satu malam saja.


Sedangkan untuk menerima kehadiran Nino di hidupnya lagi dia juga masih ragu, akankah pria itu tulus dan dapat mencintainya sepenuh hatinya mengingat jika selama ini yang ada di hati dan bibir Nino hanyalah Maya seorang, wanita yang sangat cantik dan juga berhati baik bahkan Maya mau membantu kehidupannya yang sulit.


Benar saja, bahkan sampai larut malam Shely belum dapat memejamkan matanya, dia membolak-balikkan tubuhnya sejak tadi sebagai usahanya agar bisa segera tertidur namun usahanya itu sia-sia saja. Sama dengan Shely, di kamar Shely, di kamar sebelah Nino juga tidak dapat memejamkan matanya, bukan karena rasa khawatir namun karena kebahagiaan yang memuncak di hatinya.


Nino sepanjang malam ini hanya memandangi wajah tampan anaknya tanpa henti dan terus merapalkan kata maaf dari bibirnya untuk Sheno. Penyesalan terbesar di hidupnya adalah ketika dia baru tahu tentang keberadaan putranya ketika umur Sheno sudah empat tahun dan melewati setiap momen berharga bersama sang anak.

__ADS_1


"Maafkan papa jagoan, papa akan menebus setiap detik yang papa lewati di hidup kamu tanpa papa". Ujarnya lirih dengan air mata yang tanpa terasa menetes dengan sendirinya.


Keesokan harinya, tentu saja Sheno terbangun terlebih dulu karena Nino baru tidur saat mendekati waktu subuh. Bocah tampan itu menggeliat tubuhnya sambil mencari-cari sosok yang sangat ingin dia lihat untuk pertama kalinya di pagi itu yaitu sang papa.


Begitu di mendapati Nino berada di sampingnya maka bocah itu langsung tersenyum bahagia. Sheno mendekat kan tubuhnya kearah Nino dan langsung memeluk pria itu.


"Selamat pagi papa". Ujarnya lembut.


Dengan mata yang masih terpejam Nino langsung tersenyum mendapatkan perlakuan manis dari Sheno, dia sangat bahagia karena ternyata bukan mimpi jika putranya saat ini memang tidur di sampingnya.


"Selamat pagi jagoan". Jawab Nino.


"Papa ayo bangun aku lapar dan mau sarapan dengan papa sama mama". Ajak Sheno.


Mendengar hal itu Nino langsung antusias karena terbersit ide nakal di dalam otaknya untuk menjadikan anaknya sebagai pemulus ugar usahanya mendapatkan hati Shely kembali menjadi semakin mudah.


"Ya pa, Sheno mau kita selalu melakukan apapun bersama karena selama ini Shen hanya berdua dengan mama saja kemana-mana".


"Maafkan papa ya sayang, papa terlambat menjemput kamu dan mama tapi papa janji papa tidak akan pernah meninggalkan kalian lagi".


"Janji?". Tanya Sheno sambil memajukan jari kelingkingnya.


"Janji". Ujar Nino sambil menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking putranya. "Apa kamu juga mau jika kita tidur di satu ranjang yang sama bertiga nak?". Tanya Nino.


"Mau, mau, apa papa mau?". Tanya Sheno kembali.

__ADS_1


"Tentu saja sayang, tapi mama pasti menolaknya karena mama masih marah kepada papa karena papa terlambat datang untuk menjemput kalian". Ujar Nino memasang wajah sedih agar putranya iba.


"Papa jangan sedih, nanti Sheno akan ajak mama tidur bersama kita, mama kan sangat sayang sama Shen, jadi mama tidak akan menolaknya".


"Benarkah?, terimakasih sayang, baiklah mulai sekarang kita berkerja sama untuk membuat mama tidak marah lagi sama papa agar kita bisa melakukan apapun bersama-sama bahkan kita bisa tinggal satu rumah, apa kamu setuju?".


"Setuju". Seru Sheno.


Tidak lama kemudian terdengar suara bel dari luar, Nino sudah bisa menebak jika itu pasti Shely yang ingin melihat kondisi putra mereka. Benar saja, Shely datang untuk menjemput Sheno karena dia ingin memandikan putranya dan mengajak Sheno sarapan namun bocah cerdas itu menolak dan mengatakan jika dia ingin mandi bersama papanya dan sarapan bertiga sehingga Shely tidak dapat menolaknya tentu saja dengan segala bujuk rayu yang keluar dari bibir mungilnya itu.


Shely kembali ke kamarnya dan bersiap-siap kemudian kembali ke kamar Nino untuk membawakan pakaian ganti untuk putranya. Shely memperhatikan setiap gerak-gerik Nino saat memandikan dan memakaikan baju Sheno, dia salut kepada suaminya itu karena meskipun Nino tidak berpengalaman namun dia sangat telaten dan sangat berhati-hati.


"Andaikan dari dulu kamu seperti ini mas, mungkin saat ini kita akn menjadi sebuah keluarga yang sangat bahagia dan kita tidak perlu berpisah selama ini". Batin shely dengan pandangan yang tidak pernah lepas dari suaminya.


"Jangan menatapku seperti itu nanti kamu akan jatuh cinta lagi kepadaku". Goda Nino saat menyadari jika Shely terus menatapnya.


Wajah Shely memerah saat mendengar Nino menggodanya dia tidak merespon ucapan suaminya dan langsung membuang pandangan ke sembarang arah.


"Ayo sayang kita tunggu papa di luar saja, papa mau siap-siap dulu". Ujar Shely mencoba mengalihkan pembicaraan. Melihat Sheno sudah siap dan tahu jika Nino akan mandi dan berganti pakaian dia ingin segera keluar dari kamar Nino karena dia merasa canggung berada di sana.


"Kenapa harus tunggu di luar, tunggu di sini saja karena tidak ada salahnya jika seorang istri melihat suaminya mandi dan berganti pakaian kan?". Bisik Nino di telinga Shely untuk menggodanya.


"Mas". Seru Shely kemudian langsung menarik Sheno keluar dari kamar Nino d ngan wajah yang memarah karena menahan malu. Nino tertawa melihat tingkah lucu istrinya itu karena selama pernikahan mereka baru kali ini Nino menggoda Shely dan melihat betapa menggemaskannya wajah istrinya itu saat malu-malu seperti itu.


"Aku akan mendapatkanmu lagi Shely, dan untuk itu aku akan melakukan apapun karena karena aku mencintaimu". Ujar Nino saat melihat tubuh Shely menghilang di balik pintu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2