Maya (Ayah Dari Anankku)

Maya (Ayah Dari Anankku)
Part 34


__ADS_3

Bugh...


Jack terkejut ketika menyadari majikannya yang tadi masih berada di belakangnya saat ini sudah berada disana, entah kapan pria itu melesat secapat itu. Namun objek yang dihantamnya sudah tersungkur dilantai.


Ya, Marvin yang sejak tadi menahan amarahnya tidak kuasa lagi mengontrol emosinya itu, apalagi ketika Nino menyentuh perut Maya yang menurutnya tidak pantas dilakukan seorang pria kepada seorang wanita yang bukan suaminya.


Sungguh Marvin tidak bisa melihat hal tersebut, hatinya menolak jika Amayanya disentuh oleh pria lain bukan hanya karena Maya sedang mengandung anaknya namun karena rasa kepemilikan terhadap Maya yang membuat egonya semakin tinggi.


"Nino". Teriak Maya ketika pria di hadapannya tiba-tiba tersungkur akibat diserang oleh seseorang yang sangat di bencinya namun juga di rindukannya itu.


Tanpa mempedulikan teriakan Maya, Marvin kembali mencengkeram kerah kemeja Nino. "Berani sekali kau menyentuhnya". Kemudian dia kembali melayangkan kepalan tangannya diwajah Nino.


"Jika waktu itu aku membiarkanmu memukulku karena memang aku bersalah tapi tidak dengan sekarang, kau susah berani menyentuh Amayaku". Marvin kembali bersiap menghajar wajah Nino namun tiba-tiba tubuhnya tersungkur karena dorongan kuat dari Haikal


Mendengar Marvin menyebutnya dengan sebutan "Amayaku" ada desiran aneh yang mengalir hangat disekujur tubuh Maya, dia bahkan memastikan jika saat ini dia sedang tidak bermimpi. Setelah seluruh kesadarannya terkumpul Maya kemudian bergegas membantu Nino untuk bangun.


"Kau lagi ternyata, besar juga nyalimu untuk kembali menginjakkan kaki di rumahku". Sentak Haikal yang keluar bersama Anin akibat mendengar teriakan Maya.


"Kamu tidak apa-apa?". Tanya Anin menghampiri Maya dan langsung memeluk sahabatnya itu, Maya hanya menggelengkan kepala.


"Sudah aku katakan jika aku tidak akan berbaik hati lagi jika kau berani menunjukkan wajahmu di hadapanku lagi". Geram Haikal lagi.


Haikal bersiap untuk menghajar Marvin namun kali ini Marvin tidak tinggal diam, dia mencoba melawan maka terjadilah pertikaian diantara keduanya, jika waktu itu Jack hanya diam saja namun kali ini Jack tidak tinggal diam, dia mencoba melerai pertikaian di antara dua pria tampan itu karena bagaimanapun dia tahu jika tujuan Marvin ke rumah Haikal adalah untuk minta maaf.


Setelah dengan susah payah dia memisahkan kedua pria itu akhirnya Jack berhasil juga. "Tuan Haikal aku mohon tolong selesaikan masalah ini secara baik-baik". Ucap Jack dengan napas terengah-engah.

__ADS_1


"Tidak ada kata baik untuk pria jahat seperti dia, sekarang juga seret dia dari rumahku". Titah Haikal kepada para pengawalnya.


Para pengawal Haikal dengan sigap ingin menjalankan perintah majikannya namun Marvin menghentikannya. "Tidak perlu aku akan pergi sendiri tanpa kalian usir dari sini tapi dengan membawa Amaya bersamaku". Sentak Marvin sambil menatap kearah Maya dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.


Deg...


Semua orang menatap tak percaya kearah Marvin kecuali Jack yang memang sudah tahu jika tujuan tuannya kesana adalah untuk menjemput calon istrinya itu dan Maya yang tidak sanggup untuk menatap wajah Marvin meskipun jujur saja dia juga tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Haha, lelucon apa lagi ini tuan Marvin yang terhormat, waktu itu kau sendiri yang menghinanya dan tidak mengakui kehadiran anakmu, lalu sekarang kau ingin Maya ikut denganmu, untuk apa hah?". Seru Nino.


"Aku tidak perlu menjelaskan atau meminta izin kepada siapapun jika ingin membawa ibu dari anakku karena kalian semua tidak punya hubungan apapun dengan Amaya". Tegas Marvin tanpa keraguan.


"Lalu ada hubungan apa kau dengan Maya, bahkan kau juga sama sekali tidak punya hubungan apapun dengannya, kami keluarganya dan dia akan tetap berada disini selamanya". Jawab Haikal tak kalah tegas.


"Jika begitu langkahi dulu mayatku". Sentak Nino.


"Dengan senang hati jika itu maumu, aku akan menyingkirkan siapapun yang menghalangiku untuk membawa anakku bersama denganku".


Deg...


Semua orang yang berada disana terkejut dengan perkataan Marvin itu terutama Maya dan Jack yang awalnya sempat mengira jika pria itu kembali karena ingin minta maaf dan peduli pada Mayq namun ternyata Marvin hanya peduli tentang anaknya. Bahkan Jack merasa sangat geram dengan tingkah laku majikannya yang sangat egois bahkan setelah melakukan kesahalan sekalipun.


Tak lama kemudian dua mobil mewah berhenti tepat didepan rumah Haikal yang ternyata itu adalah mobil para pengawal yang dikirim Marvin untuk menjemput mereka karena pria itu tidakau susah payah membuang tenaganya untuk melawan Haikal dan Nino sendirian.


Tentu saja jumlah para pengawal Marvin jauh lebih banyak di bandingkan dengan para pengawal Haikal dan jika di lihat dari itu saja tentu Marvin akan dengan mudahnya bisa membawa Maya dari sana.

__ADS_1


"Kau benar-benar sudah tidak waras Marvin, aku tidak akan membiarkan kau membawa Maya keluar dari rumah ini walaupun hanya satu langkah saja". Teriak Haikal namun di tanggapi santai oleh Marvin.


"Ikut denganku Amaya, disini bukan tempat baik untuk anakku". Tegas Marvinn namun Maya tidak merespon apapun dia masih bingung dan berusaha mencerna jika keadaan yang sedang terjadi ini bukanlah mimpi, apalagi berbicara dengan Marvin, entah mengapa mulutnya selalu seperti terkunci rapat.


Bu Siti dan Asyraf akhirnya juga keluar rumah saat kondisi di luar semakin kacau saja, melihat Asyraf yang langsung memeluk Anin karena ketakutan yang di sebabkan oleh banyaknya orang di depan rumahnya, perasaan Maya kembali di hinggapi rasa yang sangat sulit untuk di jelaskan namun satu yang pasti dia sangat tidak ingin anaknya mengalami nasib seperti bocah itu.


Namun berbeda dengan Haikal kehadiran ibunya di sana bisa di jadikannya senjata dan juga harapan agar Maya tidak mengikuti ajakan Marvin karena selama ini Maya dan ibunya sangat dekat bak ibu dan anak kandung, apapun yang bu Siti katakan pasti Maya akan menurutinya dengan mudah.


"Bu, ajaklah Maya masuk kedalam kamarnya biar semua masalah ini aku dan Nino yang akan menyelesaikannya". Titah Haikal.


Bu Siti melangkah mendekati Maya yang tampak bingung dan ketakutan, dia membelai sayang rambut anak perempuannya itu. "Sayang, apapun keputusanmu ingatlah jika ibu akan selalu mendukungmu nak". Ucapnya lembut.


Maya menganggukkan kepala lalu memeluk bu Siti. "Terimakasih bu".


Semua orang sangat tidak menyangka jika bu Siti akan berkata seperti itu terlebih Haikal disaat harapannya di gantungkan kepada sang ibu justru sang ibu lah yang mematahkan semangatnya, padahal selama ini ibunya bersikap sangat bijaksana namun untuk pertama kalinya bu Siti membuat dirinya sangat kecewa.


Marvin tersenyum penuh kemenangan dan juga sangat respect dengan sikap lembut wanita paruh baya itu. Dia yakin akan membawa Maya dengan mudah dari sana apalagi Maya bukanlah tipikal wanita yang keras dan suka memberontak.


"Ayo kita pergi sekarang, tidak perlu membawa apapun karena semua yang kau butuhkan sudah aku siapkan". Ucap Marvin.


Maya menatap satu persatu wajah semua orang yang mendukungnya selama ini, ada perasaan tidak tega namun dia juga tidak ingin jika Haikal ataupun Nino mendapat masalah yang lebih besar hanya untuk membelanya karena dia tahu betul siapa Marvin Askari sebenarnya.


Nino dan Haikal mengalihkan pandangan mereka yang menandakan jika mereka tidak ingin Maya pergi. Maya telah mengambil keputusan dia akan ikut dengan Marvin apapun resikonya karena ini saatnya dia menyelesaikan sendiri masalahnya.


"Tunggu". Seru Haikal saat baru beberapa langkah Maya berbalik meninggalkan rumah mewat itu.

__ADS_1


__ADS_2