
Shely yang berhasil membujuk kedua orang tuanya untuk menonton film yang sama dengan yang ditonton oleh Nino dan Maya namun dengan sedikit sogokan pun saat ini berada beberapa kursi dibelakang Nino.
Tentu saja tidak mudah membujuk kedua orang tua Shely terutama ibunya karena rencananya mereka akan menonton film The Avengers karena sang ibu penasaran dengan film tersebut yang menurut cerita para tetangganya sangatlah bagus namun berakhir dengan menonton film bergenre semi romantis yang sangat tidak sesuai dengan selera kedua orang tuanya.
Shely sempat kewalahan menghadapi sifat aneh kedua orang tuanya tapi karena rasa penasarannya yang besar terhadap wanita yang bersama Nino dia pun rela melakukan dan menuruti segala keinginan aneh itu.
"Pokoknya ibu mau kamu belikan baju mahal dibutik biar ibu bisa pamer waktu pergi ke kondangan di kampung". Titah ibunya.
Sang ayah pun tak mau kalah. "Bapak mau handphone baru saja ya Shel, biar nanti pas foto sama ibu wajah kami glowwing". Ujar sang ayah. Shely pun hanya bisa menganggukkan kepala tanda setuju dengan senyum yang dipaksakan. Dia tidak ahbis pikir kenapa bisa mempunyai kedua orang tua yang sangat materialistis seperti itu.
Shely bahkan tidak tahu film apa yang sedang ditontonnya, maniknya hanya fokus ada gerak gerik Maya. Menurutnya sangatlah pantas jika Nino yang terkenal playboy itu akhirnya menjatuhkan pilihan terakhirnya pada Maya, selain sangat cantik Maya juga terlihat lembut, anggun dan berkelas berbeda sekali dengan dirinya.
"Pantas saja tuan Nino sepertinya sangat mencintai istrinya itu, dia anggun dan berkelas beda denganku". Batin Shely yang melihat penampilannya yang tidak ada satupun barang branded yang melekat ditubuhnya sedangkan yang digunakan Maya semuanya bernilai fantastis.
"Istri?, tapi kapan mereka menikah?, setahuku tuan Nino masih lajang atau jangan-jangan dia menyembunyikan pernikahannya agar tetap bisa bermain wanita, sayang sekli nasib istrinya jika hal itu benar". Batinnya lagi, tentu dia sangat merasa aneh pasalnya selain bosnya itu belum menikah wanita yang bersamanya saat ini juga tidak pernah mendatangi kantor Nino selama ini.
Timbul pertanyaan yang banyak dibenaknya hingga berakhirnya film itu Shely sama sekali tidak menyadarinya. Saat dia melangkah keluar dia melihat Nino dan Maya yang akan melewati dirinya namun betapa perih hati Shely ketika Nino melewati dirinya yang sudah dari jauh tersenyum kearah Nino dan Maya dan bersiap untuk menyapa mereka namun ternyata Nino sama sekali tidak menatapnya dan melewatinya begitu saja.
"Tidak di kantor ataupun di luar kantor aku ternyata memang tidak pernah terjangaku dari pandangan anda tuan". Batin Shely dengan wajah muram.
__ADS_1
Ibu Shely yang melihat ekspresi wajah anaknya itu jadi penasaran. "Kamu kenapa Shel?". Tanya ibu.
"Ah, tidak ada apa-apa bu". Jawab Shely canggung.
"Baguslah, kalau begitu ayo kita kebutik sekarang juga". Sang ibu langsung menagih janji yang bahkan Shely sendiri belum menyetujuinya itu.
Namun titah dari kedua orang tuannya seolah sangat keramat bagi Shely yang tidak akan pernah bisa ditolaknya, bagaimana pun caranya dia tetap akan memenuhi keinginan mereka walaupun tabungannya akan habis terkuras.
"Huh, baru saja rencananya tabungan itu akan ku gunankan untuk DP rumah, gagal lagi deh". Saat ini gadis desa yang merantau ke kota untuk mengadu nasibnya itu memang masih tinggal dikontrkan sempit, karena gaji yang didapatkan dari perusahaan Nino cukup besar dia berencana untuk memiliki rumah sendiri agar kedua orang tuanya bisa tinggal bersamanya disini meskipun harus menyicilnya namun sepertinya rencana itu hanyalah hayalan saja karena setiap bulannya ada saja permintaan aneh dari orang tuanya yang harus dia penuhi.
...----------------...
Sementara itu dirumah sakit Marvin yang sudah dirawat disana selama lima hari merasa tubuhnya semakin membaik dan tidak ingin berada disana lebih lama lagi, dia memaksa Jack untuk menyuruh doktef melepaskan infus yang berada ditangannya padahal menurut dokter dia masih perlu istirahat karena walaupun ringan masalah yang berhubungan dengan kepala tetaplah butuh pengawasan khusus.
"Katakan kepada mereka jangan mengikatku lebih lama lagi disini". Seru Marvin tegas.
"Tuan, aku sudah mengatakan tapi anda memang harus terus diawasi sampai benar-benar pulih agar bisa beraktifitas seperti semula lagi". Jawab Jack.
"Ini tubuhku dan aku yang bisa merasakan jika aku sudah sangat sehat sekarang, jadi lepaskan ikatan ini atau aku akan melepaskannya sendiri". Bukan tanpa alasan Marvin sudah tidak betah lagi di rumah sakit, dia ingin melihat bagaimana keadaan Maya dengan mata kepalanya sendiri walaupun dari kejauhan namun jika dia mengatakan hal itu sebagai alasannya tentu saja Jack akan menertawakan dirinya.
__ADS_1
Ada ketertarikan dibatin Marvin untuk memastikan sendiri keadaan wanita itu sejak dirinya mengetahui jika Maya sedang hamil padahal logikanya sendiri menyangkal jika itu benar anaknya. Apalagi diperkuat dengan vonis dari dokter beberapa bulan yang lalu. Perasaan yang aneh memang namun itulah yang dirasakan pria tampan itu.
Saat Jack kehabisan akal untuk menahan Marvin diselamatkan oleh dokter yang tiba-tiba datang dengan membawa hasil pemeriksaan Marvin, bahkan Jack yang sebelumnya ingin mengetahui hasilnya terlebih dahulu sebelum Marvin pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena dia lupa mengatakan kepada sang dokter untuk tidak memberikannya langsung kepada sang majikan.
Jika sudah begini Jack tidak dapat membayangkan lagi jika dia melakukan kesalahan atau hasilnya tidak sesuai dengan harapannya Marvin pasti akan menggantunnya hidup-hidup.
"Tuhan lindungilah aku jika terjadi hal yang tidak diinginkan tamatlah riwayatku". Batin Jack sambil mengelus dada.
"Selamat pagi tuan, ini hasil pemeriksaan anda". Tanpa melihat kearah Jack yang mencoba memberikannya kode agar hasil pemeriksaan itu tidak diberikan langsung kepada Marvin, dokter itu langsung menyerahkan sebuah amplop kepada Marvin dan Marvin langsung menerima.
"Pemeriksaan apa lagi, bukankah sudah sangat banyak pemeriksaan yang kalian lakukan kepadaku, aku hanya ingin segera pergi dari sini". Gerutu Marvin namun tangannya terus bekerja untuk membuka amplop putih tersebut.
Marvin yang melihat isi amplop itu membulatkan mata dan menatap tajam kearah sang dokter. Marvin melempar amplop itu kearah dokter dan berkata. "Apa-apaan ini semua?". Tanyanya lantang.
Dokter dan Jack mengelus dadanya karena terkejut melihat kemarahan Marvin.
"Tamatlah riwayatmu Jack, bahkan karirmu harus berakhir di usiamu yang masih muda". Gumam Jack dalam hati dengan raut wajah gelisah.
Sedangkan dokter itu dengan sigap mengambil amplop dan juga hasil pemeriksaan itu sambil mundur beberapa langkah agar dia bisa lari secepat mungkin dengan raut wajah yang sangat tegang, namun suara Marvin yang memanggilnya seketika menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Tunggu, mau kemana kau?". Seru Marvin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...