Maya (Ayah Dari Anankku)

Maya (Ayah Dari Anankku)
Part 63


__ADS_3

Tok, tok, tok...


Pintu kamar Shely dan Nino terus di ketuk oleh Ningsih dan Hartono karena anak dan menantu mereka itu sama sekali tidak menampakkan diri lagi sesaat setelah akad nikah selesai hingga sore hari itu, bahkan mereka berdua sama sekali tidak makan sejak tadi siang.


Nino yang baru selesai mandi langsung menuju pintj dan membukakannya karena dia tidak mau Shely sampai terbangun.


"No, dimana Shely? kenapa kalian tidak keluar-keluar sejam tadi, apa Shely sudah kamu kasih makan?". Tanya Ningsih bertubi-tubi dan terus berusaha melihat kedalam kamar namun dia terus di halangi oleh Nino.


Nino terdiam, dia bahkan baru ingat jika dia dan Shely belum makan apapun sejak akad nikah tadi, dia menoleh ke atas tlranjang dan menatap Shely dengan perasaan bersalah.


"Emmh, Shley sedang tidur Ma". Jawab Nino dengan raut yang terlihat gusar karena takut jika terjadi sesuatu pada Shely.


"Kenapa kamu terlihat cemas, apa Shely baik-baik saja?". Tanya Ningsih penuh selidik.


"Ba-baik ma, Shely hanya kelelahan saja makanya dia bahkan tidak bangun untuk makan siang".


"Awas mama mau cek keadaan Shely, istri tidak makan seharian kenapa di biarkan begitu saja sih No, sini mama saja yang membangunkannya". Ningsih berusah menerobos masuk namun Nino tetap saja menghalanginya.


"Ma, biar Nino saja yang membangunkannya, mama suruh para pelayan antarkan makanannya ke kamar Nino saja". Nino langsung menutup pintu kamarnya agar sang ibu tidak ikut masuk kesana.


Dia berjalan secara perlahan mendekati tubuh sang istri yang sama sekali tidak bergerak sejak tadi. Kemudian memberanikan diri untuk memegan dahi Shely, betapa terkejutnya Nino mendapati dahi Shely yang sangat panas. Dia langsung panik dan meraba seluruh tubuh Shely untuk kembali memastikannya.


Nino menjambak rambutnya sambil mondar-mandir memikirkan keadaan Shely dan apa yang harus dia lakukan saat ini, belum lagi apa yang harus dia katakan kepada kedua orang tuanya dan juga Shely tentang kondisi Shely saat ini.


Nino kembali mendekati Shely dan menepuk-nepuk pipi Shely agar gadis itu segera bangun namun hasilnya nihil, Shely sama sekali tidak membukakan matanya sehingga hal tersebut membuat Nino semakin frustasi.

__ADS_1


"Halo dok, tolong segera ke alamat yang saya kirimkan karena saya, istri saya sakit". Ujar Nino dengan seseorang yang bisa di pastikan adalah seorang dokter. Dia berinisiatif memeriksakan keadaan Shely karena dia takut jika terjadi hal buruk pada Shely dan akan membuatnya mengalami masalah yang lebih besar nantinya.


Tidak lama kemudian pelayan hotel mengantar makanan yang sudah di pesankan oleh Ningsih untuk Nino dan Shely. Nino sama sekali tidak membiarkan pelayan tersebut masuk ke kamarnya karena Nino belum merapikan kamarnya dari pakaian-pakaian yang berserakan dilantai belum lagi dia juga belum memastikan jika tubuh Shely tidak terlihat oleh siapapun apalagi pelayan tersebut seorang lelaki.


Nino bergegas memungut semua pakaian-pakaian yang berserakan tersebut bahkan sebagian sudah tidak berbentuk akibat ulahnya kemudian merapikan tempat tidur dan menutup tubuh Shely dengan selimut sampai batas leher.


...----------------...


"Apa yang anda lakukan dokter?". Sentak Nino saat dokter hendak menyibak selimut Shely.


"Tentu saja saya akan memeriksa istri anda tuan". Jawab sang dokter. Nino mulai frustasi karena takut jika dokter mengetahui kondisi tubuh Shely yang sebenarnya apa lagi ada banyak tanda merah di hampir semua bagian tubuhnya.


Namun baru saja wanita paruh baya yang berprofesi sebagai dokter itu memegang ujung selimut, tiba-tiba mereka di kejutkan dengan ketukan pintu yang sangat keras sehingga Nino harus membukakannya.


Ningsih dan Hartono langsung menuju ranjang dimana Shely tertidur pulas, betapa terkejutnya mereka ketika melihat wajah Shely yang sangat pucat belum lagi kehadiran dokter Nita disana.


"Dokter kenapa ada disini?". Tanya Ningsih penasaran, dia memang sangat mengenal dokter Nita karena dokter Nita merupakan salah satu dokter langganan mereka.


Namun tanpa menunggu jawaban dari dokter Nita, Ningsih sudah terlebih dulu mendekati Shely yang masih tidur itu.


"Ada apa ini, kenapa dengan Shely?". Tanya Ningsih lagi kemudian memegang wajah menantunya dan langsung membuatnya menatap tajam kearah putranya.


"No, Shely kenapa hah?". Ningsih juga menyibak selimut yang menutupi hampir seluruh tubuh menantunya itu, dia menutup mulutnya yang terbuka akibat terkejut dengan apa yang di lihatnya. Dia ingin sekali memberi pelajaran untuk putranya namu dia dia sadar ini bukanlah waktu yang tepat selain ada orang asing disana, keadaan Shely juga lebih penting untuk segara di periksa.


"Do-dokter, cepat periksa menantu saya, badannya panas sekali". Ujar Ningsih.

__ADS_1


Dokterpun melakukan tugasnya seperti yang di perintahkan oleh Ningsih dia tidak jadi menyibak selimut Shely setelah mengerti situasi yang terjadi pada Shely.


"Sepertinya nona Shely kelelahan makanya dia mengalami demam tinggi, saya akan resepkan obat dan saya suntikan vitamin agar tubuh nona Shely cepat pulih, untuk sementara ini tolong kompres nona Shely". Jelas dokter. Ningsih langsung menatap Nino menyisyaratkan agar Nino menyiapkan kompres untuk Shely.


Setelah selesai dengan pekerjaannya dokter Nita pamit dari sana dan tinggallah Nino dan juga kedua orang tuanya. Hartono mendekati Nino dan langsung menampar keras wajah anaknya.


Plaak....


"Papa sangat kecewa sama kamu Nino, apa begini cara kamu memperlakukan istri kamu hah?". Sentak Hartono.


"Apa kamu tidak malu dengan perbuatan kamu memperlakukan wanita seperti ini, dengar baik-baik Nino, papa dan mama tidak akan membiarkan kamu menyakiti Shely walau seujung kuku pun dan kalian akan tinggal bersama kami agar kami bisa memantau kelakuan kamu selalu dan ingat kalau hal ini terulang lagi, papa tidak akan segan-segan untuk lebih tegas kepada kamu". Sambung Hartono.


"No, kalau kamu pikir dengan kamu menyakiti Shely kamu akan bisa lepas dari pernikahan ini, kamu salah karena mama sama papa akan menjaga Shely dengan sangat baik dan kamu sendiri yang membuat janji jika kami menerima wanita yang kamu bawa ke rumah maka kamu akan menikahinya, apa kamu lupa hah?". Timpal Ningsih tak mau kalah.


"Sekarang kamu ikut kekamar papa karena mama yang akan merawat dan menjaga Shely disini, semoga saja keadaannya cepat membaik karena mau di taruh dimana muka kita kalau sampai Shely tidak hadir di acara resepsi pernikahan kalian nanti malam". Sentak Hartono sambil menarik paksa putranya.


Ningsih menatap iba menantu kesayangannya itu, ada rasa bersalah yang mendalam di hatinya karena memaksa Shely untuk menikah dengan putranya, dia benar-benar tak menyangka jika Nino mampu melakukan hal sekejam ini kepada Shely.


Belum lagi rasa bersalah yang dia rasakan terhadap kedua orang tua Shely yaitu besannya, Bagaimana dia menjelaskan kepada mereka jika sampai keadaan Shely semakin memburuk.


Dengan cekatan Ningsih mengompres kening Shely agar demam yang dialami Shely cepat turun dia berjanji di dalam hatinya untuk selalu melindungi menantunya itu dengan cara apapun agar apapun yang terjadi Shely tidak pernah menyerah dengan keadaan yang terjadi.


Namun di tengah kesedihan dan kemarahan yang dia rasakan saat ini, Ningsih juga merasa sedikit bahagia karena putranya menyentuh Shely itu berarti kemungkinan Shely untuk hamil akan sangat besar karena dia berharap dengan hamilnya Shely kelak hati Nino yang sekeras batu itu akan cepat luluh dengan hadir calon buah hati mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2