
"Mau kemana?". Tanya Marvin ketika melihat Maya pergi berlawanan arah dengannya.
Acara pernikahan sederhana antara Maya dan Marvin telah berakhir dimana para tamu termasuk Haikal dan keluarganya juga sudah meninggalkan mansion tersebut setelah Anin dan bu Siti berpamitan kepada Maya.
Mendengar pertanyaan Marvin bukannya menghentikan langkah Maya, wanita itu justru semakin mempercepat langkahnya untuk menghindari Marvin. Sebenarnya Maya sangat ingin berterimakasih kepada Marvin yang mampu menghadirkan Anin dan keluarganya di hari pernikahan mereka namun melihat Marvin yang tadi seolah seperti memanfaatkan momen untuk menyakiti Nino, seketika saja rasa kesalnya kepada pria itu kembali menyala.
"Amaya Wijaya, aku sedang bertanya kepadamu". Sentak Marvin melihat tingkah Maya itu, Marvin juga tahu betul jika wanita itu sedang kesal padanya karena telah memanfaatkan momen untuk membuat Nino terluka. Marvin tidak terima jika wanita yang saat ini sudah menjadi istrinya itu mengkhawatirkan pria lain.
Namun nyatanya teriakan Marvin itu sama sekali tidak mampu menghentikan Maya, sehingga membuat Marvin mengikuti langkah Maya untuk menyusul wanita itu karena dia tahu jika Maya sedang menuju kamarnya dan Marvin tentu saja tidak akan mengizinkan Maya tidur di kmar berbeda dengannya.
"Jangan paksa aku berbuat kasar padamu Amaya". Seru Marvin saat dia sudah dapat meraih lengan Maya. Sekuat tenaga Maya mencoba melepaskan pegangan tangan Marvin di lengannya namun semakin dia ingin melepaskannya semakin Marvin menguatkan pegangannya.
"Ck, lepaskan aku, kau menyakitiku". Ujar Maya saat merasa jika Marvin sudah menyakiti dirinya.
"Kenapa?, apa kau tidak bisa mengahargai diriku sedikit saja sebagai suamimu hah. Jika sebelumnya aku masih bisa menerima ketika kau mengacuhkan tapi tidak dengan sekarang Amaya, aku suamimu dan kau harus belajar menghargaiku". Tegas Marvin lagi.
"Lepaskan aku, aku mau kembali ke kamarku". Bukannya merespon Maya justru semakin ingin menjauh dari Marvin sehingga membuat Marvin semakin menggila.
"Rupanya aku harus mengajarimu cara mengahargai suamimu ya". Marvin meraih kedua bahu Maya dan mencengkeramnya dengan kuat.
"Lepaskan, jangan menyentuhku kau menyakitiku". Mohon Maya namun kata-kata yang keluar dari mulut Maya sungguh menyulut emosi Marvin dimana Maya tidak sudi di sentuh olehnya.
Tanpa mempedulikan rintihan dan pemberontakan dari Maya yang bahkan sampai memukuli dada bidangnya berkali-kali, Marvin langsung menggendong tubuh Maya ala bridal menuju kamarnya.
"Turunkan aku". Sentak Maya dan benar saja Marvin menurunkan Maya diatas kasur king size miliknya.
__ADS_1
Dengan kilatan amarah yang jelas terpancar dari maniknya Marvin terus mendekati Maya dengan berusaha mengunci tubuhnya Maya di bawah kendalinya.
"Ma-mau apa kau?". Tanya Maya sambil berusaha mundur meskipun hal itu sama sekali tidak ada gunanya. "Men-menjauhlah dariku".Titah Maya lagi dengan terbata.
"Kenapa heem?, aku kan suamimu sekarang jadi aku bebas mau melakukan apapun terhadapmu". Ucap Marvin sambil menatap Maya denga tatapan yang aulit di gambarkan, jika tadi emosi menguasai dirinya namun saat ini nafsu memburulah yang sangat dominan mengusai seluruh tubuhnya apalagi melihat Maya begitu dekat dengannya.
Pikiran Marvin langsung berkelana jauh membayangkan bagaimana kenikmatan yang dia rasakan pertama kalinya dulu bersama Maya, ingin rasanya dia segera mengulanginya meskipun harus memaksa Maya dengan cara apapun.
Maya yang melihat sinyal bahaya yang akan terjadi langsung berusaha sekuat tenaga menjauh dari tubuh Marvin meskipun jika dia bisa jujur dia juga sangat menginginkan sentuhan-sentuhan nakal yang dilakukan Marvin diatas tubuhnya.
"Mau kemana?. Kau milikku sekarang dan akan kubuat kau mendesah sambil memanghil namaku". Tanya Marvin menarik kasar dagu Maya dan bersiap menyantap bibir ranum di hadapannya.
"Tolong, jangan sentuh aku". Suara serak Maya semakin membuat gejolak yang sungguh luar biasa bagi Marvin. Tanpa mau mendengar apapun lagi Marvin langsung melahap bibir itu dengan kasar.
Maya bahkan kewalahan untuk mengimbangi serangan dadakan itu namun bukan Marvin namanya jika dia tidak bisa menaklukan wanita diatas ranjangnya. Tangan Marvin saat ini sama sekali tidak bisa diam, menyentuh dan meraih apapun benda yang menurutnya akan membuat Maya melayang jauh hingga lupa akan daratan.
Siang hari itu menjadi hari yang panas bagi kedua insan yang saat ini sedang memburu kenikmatan duniawi. Tanpa Maya sadari ******* demi ******* lolos dari bibirnya bahkan saat dia sendiri ingin sekali menahannya.
Jika diawal permainan Marvin memperlakukan Maya dengan sedikit kasar, saat ini Marvin lebih lembut dan penuh perasaan apalagi dia sadar betul jika Maya sedang mengandung buah hatinya.
Maya terbuai dengan kelembutan itu, pertahanannya runtuh padahal awalnya dia tidak ingin jika statusnya dengan Marvin sebagai suami istri bisa membuat Marvin melakukan apa saja yang dia inginkan pada dirinya dengan sesuka hati tanpa dia tahu bagaimana perasaan Marvin yang sebenarnya kepada dirinya.
Terkesan sangat gampangan memang tapi jika dia bisa jujur setiap sentuhan di atas kulit lembutnya itu membuat sensasi luar biasa yang menjalar keseluruh tubuhnya, sensasi yang sulit untuk di gambarkan namun sangat menarik untuk dirasakan.
"Ahrrg". Suara yang menandakan permainan itu selesai dengan apiknya.
__ADS_1
Marvin mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Maya, kemudian menatap dalam-dalam mata Maya dan mengecup keningnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Maya sempat berpikir jika suaminya itu akan tertidur pulas setelah aktivitas menguras tenaga itu namun tebakannya itu salah besar, Marvin meraih ponsel diatas nakas dan menghubungi seseorang yang bisa di simpulkan oleh Maya adalah kepala pelayan untuk menyiapkan makan siang yang sudah tertunda cukup lama itu.
Ya, Marvin memerintahkan pelayan menyiapkan makanan untuk mereka dan memerintahkan pelayan untuk mengantarkannya ke kamar mereka.
"Ayo mandi, setelah itu kata makan siang". Ucap Marvin sambil menggendong Maya untuk di bawa ke kamar mandi.
"Tu-turunkan aku, aku bisa jalan sendiri". Tanpa mempedulikan ucapan Maya, Marvin tetap melakukan aktivitasnya itu.
"Apa perlu aku bantu untuk memandikanmu?". Pertanyaan Marvin itu mampu membuat wajah Maya merona seketika.
"Tidak, aku bisa sendiri, sekarang keluarlah". Tegas Maya.
Marvin terkekeh tanpa di sadari oleh Maya, tentu saja karena melihat Maya yang begitu malu jika di tatap olehnya.
"Aku pikir mungkin kau akan kesulitan jika mandi sendiri atau mungkin kau membutuhkanku disini jadi aku pikir-".
"Keluarlah aku mau mandi". Usir Maya karena tidak mau jika Marvin terus menggoda dirinya.
"Baiklah aku keluar dulu, panggil aku jika sudah siap".
Maya kemudian melakukan ritual mandinya dengan aman tanpa ada Marvin lagi disana, namun ada satu hal yang baru dia sadari jika bagian intinya terasa perih akibat pertempuran tadi, tentu saja karena ini adalah kedua kalinya setelah lama dia tidak melakukan hubungan itu lagi tentu saja akan terasa perih dan sakit.
Maya bahkan terkesan dengan sikap Marvin yang berinisiatif menggendong dirinya, mungkinkah karena pria itu mengerti akan keadaannya saat ini.
__ADS_1
"Ternyata dia manis juga". Batin Maya sambil tersenyum.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...