Maya (Ayah Dari Anankku)

Maya (Ayah Dari Anankku)
Part 41


__ADS_3

Begitu menampakkan wajahnya di depan pintu kamar mandi, Maya langsung di kejutkan dengan sosok Marvin yang masih setia berdiri di depan pintu. Dan yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah ketika Marvin langsung menggendongnya menuju tempat tidur.


"Istirahatlah sebentar lagi makanan siap, aku mandi dulu". Ucap Marvin usai meletakkan tubuh Maya diatas kasur.


Tanpa menunggu jawaban Maya yang tentu saja tidak akan merespon ucapannya, Marvin langsung melesat menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sejak tadi terasa lengket, sedangkan Maya masih saja bingung dengan situasi yang terjadi di hidupnya saat ini.


Ingin rasanya Maya berharap jika ini semua bukanlah sebuah mimpi belaka namun dia juga takut jika menaruh harapan terlalu besar pada pernikahan ini dimana pernikahan mereka hanya di dasari oleh ketidaksengajaan yang menyebabkan keterikatan di antara mereka berdua.


Jika berbicara tentang cinta tentu saja Maya sangat tidak berani karena selain dia sendiri bingung dengan perasaannya apalagi jika dia mengingat Marvin yang sejak awal sudah meragukan anaknya tentu saja pria itu tidak mungkin mencintai dirinya, bahkan mereka tidak saling mengenal satu sama lain sejak awal.


"Makan yang banyak karena kau makan untuk tiga orang sekaligus". Ujar Marvin yang melihat Maya mengaduk-aduk makanannya. "Apa kalian lapar sayang, daddy sudah menyediakan makanan lezat untuk kalian tapi mommy kalian tidak mau memakannya". Marvin mengelus-elus perut Maya sambil berkomunikasi dengan anak-anaknya. Sangat manis memang kelihatannya tapi entah mengapa Maya masih tidak percaya jika Marvin menginginkan kehadiran anak-anaknya itu.


Masih sama seperti sebelumnya Maya tidak pernah menjawab ucapan Marvin sehingga membuat Marvin kembali angkat bicara. "Apa kau tidak menyukainya atau kau menginginkan yang lain?".


"Tidak". Jawab Maya tanpa melihat kearah suaminya.


"Mulai sekarang belajarlah untuk berbicara denganku karena aku suamimu, pria asing saja bisa kau ajak bicara kenapa denganku tidak". Sentak Marvin yang melihat tingkah acuh Maya, dia akhirnya merasa muak dan meninggalkan Maya sendirian di kamar menuju ruang kerjanya.

__ADS_1


Pria asing yang di maksud Marvin tentu saja Nino dan Haikal, karena melihat keakraban istrinya dengan Nino dan juga Haikal membuat emosinya memuncak sampai ubun-ubun apalagi ketika tadi melihat respon Maya yang hendak mengejar Nino. Sedangkan bagi Maya ucapan Marvin lagi-lagi membuatnya merasa sakit karena Marvin seolah menuduhnya seperti wanita yang gampangan tanpa bisa menjaga harga diri, hal itu membuatnya semakin yakin jika Marvin menikahinya hanya karena anak mereka dan kebutuhan biologisnya saja.


"Kau juga pria asing untukku karena aku bahkan tidak mengenal dirimu selain dari fisikmu saja". Batin Maya dengan air mata yang menetes di pipinya menatap kepergian Marvin.


Mungkin Maya memang salah tapi cara Marvin membentak Maya juga salah, entah apa yang ada di hati dan pikirannya yang jelas Marvin sangat muak dengan tingkah wanita itu yang bisa bersikap biasa saja dengan orang lain termsuk Jack tapi sangat acuh dan dingin terhadap dirinya.


Marvin sebenarnya bukanlah pribadi yang dingin dulunya hanya saja rasa kecewa yang begitu dalam yang dia rasakan akibat pengkhiatan Celina membuatnya takut akan cinta namun meskipun dia tidak mengetahui perasaan yang sebenarnya yang dia rasakan terhadap Maya satu hal yang pasti dia tidak ingin wanita itu dekat dengan pria lain apalagi sampai kehilangan Maya.


Bukan sekedar karena Maya adalah calon ibu dari anak-anaknya kelak, bukan juga karena tubuh Maya telah menjadi candu tersendiri untuknya, lebih dari itu semua Marvin takut jika Maya pergi dari hidupnya, ya itu saja, terlalu cepat untuk dia menafsirkan jika itu semua cinta karena nyatanya Celina yang sudah dia cintai sejak dulu saja tega mengkhianati dirinya.


Sedangkan ditempat terpisah, Nino saat ini sedang berada di sebuah klub malam tentu saja bertemankan minuman-minuman haram yang menurutnya sangat bisa memahami dirinya saat ini.


"Pilihanmu salah besar Maya, kau mensia-siakan pria yang mencintaimu dengan tulus seperti ku hanya untuk pria tidak bertanggung jawab itu. Lihat saja nanti aku pastikan kau akan kembali kepadaku karena rasa penyesalan dan air matamu". Teriak Nino, meskipun teriakannya itu di tempat umum namun bisa di pastikan jika tidak ada satu orangpun yang mendengarkannya karena kerasnya suara dentuman musik di klub tersebut.


Terpuruk dan hancur begitulah gambaran yang di tampilkan olehnya saat ini. Nino tidak percaya jika Maya bersedia menikah dengan pria yang telah menyakitinya seperti Marvin sedangkan di sisi lain ada dia yang bersedia menerima dan mencintai Maya apa adanya.


Malam itu di habiskan olehnya tanpa satu orangpun disisinya karena memang Nino sedang ingin sendiri bahkan dua sahabatnya dan juga kedua orang tuanya yang terus saja menghubunginya lewat sambungan ponselnya tidak dia pedulikan sama sekali.

__ADS_1


"Kemana anak itu?". Tanya Mama Nino kepada suaminya, mama Nino kelihatan sangat panik setelah dia tahu dari suaminya jika hari itu Maya menikah tentu saja hal itu akan membuat putranya patah hati dan dia tidak mau jika putranya itu melakukan hal-hal yang tidak masuk akal.


"Mama tenang saja, anak itu pasti akan pulang". Jawab Hartono papanya Nino.


"Tenang gimana pa?, Nino itu sedang patah hati, mama takut dia berbuat yang aneh-aneh".


"Anak kita bukan pria yang selemah itu ma, biarkan dia menikmati masa patah hatinya dan besok dia akan menerima kenyataan jika Maya sudah menjadi milik orang lain. Justru ini kabar baik untuk kita setidaknya kita tidak perlu susah payah menyuruh Nino menjauhi dan melupakan Maya lagi".


"Iya papa benar tapi mama tetap khawatir". Jawab Ningsih Lesu.


"Mama fokus saja mencari cara agar Nino segera menikah agar dia cepat moveon dan kita segera punya cucu".Hartono dan Ningsih memang sangat menginginkan jika Nino segera menikah dan memiliki anak namun Nino sendri siap menikah dengan siapapun asalkan itu dengan Maya.


Tentu saja kabar pernikahan Maya menjadi angin segar bagi kedua orang tua Nino agar Nino melupakan ide giilanya untuk menikahi wanita yang telah hamil dengan pria lain.


Maka mulai besok Ningsih akan di sibukkan dengan pencarian calon menantu yng cocok untuk anaknha itu. Bagaimana tidak sibuk, Ningsih dan Hartono memang sudah sangat menginginkan kehadiran cucu di tengah kesepian masa tua mereka apalagi Nino adalah anak satu-satunya yang mereka miliki.


Sebenarnya baik Hartono maupun Ningsih akan setuju jika Nino menikah dengan wanita pilihannya sendiri asalkan bukan Maya orangnya. Karena bagaimanapun semua orang tua di dunia ini pasti ingin yang terbaik untuk anaknya termasuk mereka yang hanya memiliki satu anak saja.

__ADS_1


__ADS_2