
"Hai, adik ipar kenapa kau malah melamun saja". Ujar Marqin lagi melihat Maya tidak merespon dirinya.
"Sudah, sudah kalian ini membuat menantu mommy bingung saja, sayang kenalkan ini Marqin, saudara kembarnya suamimu Marvin". Ujar nyonya Marwa lembut sambil membelai rambut menantunya kemudian mengajak Maya menjauh dari kedua saudara kembar tersebut.
Banyak hal yang nyonya Marwa ceritakan tentang kedua anaknya tersebut kepada Maya, layaknya seorang mertua dan menantu yang memang selalu bersemangat dalam menceritakan hal-hal yang bersangkutan dengan masa kecil sang suami.
Bahkan di dalam mobil Marwalah yang selalu mendominasi Maya sampai-sampai membuat Marvin kesal melihat tingkah sang ibu, apalagi yang diceritakan kepada istrinya itu bukanlah hal penting menurutnya. Dari cerita-cerita ibu mertuanya itu pula Maya mengetahui jika nyonya Marwa adalah single mom dimana suamimya sudah meninggal sejak saat dia mengandung anak-anak kembarnya itu.
Sungguh karena hal itu membuat Maya merasa sangat bersyukur karena masih ada Marvin yang menemaninya saat ini bahkan dia juga masih punya ibu mertua dan saudara ipar walaupun dia sudah tidak punya keluarga didunia ini.
Maya mendengarkan semua cerita sang mertua dengan sangat baik namun ada satu hal yng menggelitik hatinya kenapa jika dilihat dari gerak-gerik Marvin dan juga Marqin keduanya seperti tidak akur saja. Bahkan Marvin sama sekali tidak merespon saat Marqin berusaha mengajaknya berkomunikasi.
"Mereka kembar, pantas saja jika aku jufa mengandung bayi kembar ternyata itu keturunan dari Marvin. Tapi kenapa mereka seperti bermusuhan, bukankah anak kembar biasanya kompak satu sama lain". Batin Maya sambil mengelu-elus perutnya.
Maya bahkan sampai menghafalkan berbagai macam doa agar anak kembarnya kelak tidak seperti ayah dan juga unclenya yang suka bermusuhan itu.
Maya baru benar-benar di lepaskan oleh ibu mertuanya saat mereka harus berpisah untuk istirahat di kamar masing-masing, padahal awalnya nyonya Marwa ingin tidur sekamar dengan menantunya itu namun langsung di larang keras oleh Marvin dengan alasan jik dia tidak bisa tidur terpisah dengan Maya walaupun hanya sebantar saja.
"Mom, ini sudah malam dan kita sudah menghabiskan waktu seharian untuk jalan-jalan dan mendengarkan ceritamu, apa mom tidak kasihan pada Maya dia butuh istirahat". Protes Marvin.
"Oke baiklah, maafkan mommy sayang, mommy sangat bersemangat bertemu denganmu, kau tahu mommy memang sangat ingin punya menantu perempuan karena berada di tengah dua anak lelaki ini membuat kepala mommy rasanya ingin pecah saja". Jawab nyonya Marwa dengan wajah memelas di hadapan menantunya.
"Tidak masalah mom, kita masih punya banyak waktu untuk bersama, mom akan ikut kami ke indonesia kan?". Tanya Maya antusias.
"Kau mengajak mom ke indonesia?, oh ya ampun, tentu saja mommy mau sayang tapi apa suamimu itu mengizinkan?".
"Kenapa Marvin harus melarang?, Maya tidak lama lagi akan melahirkan mom jadi pasti Maya akan sangat bahagia jika ada mom yang ikut mendampingi Maya".
__ADS_1
"Oh sayang". Nyonya Marwa membawa menantunya itu kedalam pelukannya. "Mommy pasti akan datang pada saat kau melahirkan cucu-cucu mom nanti, kau tenang saja". Ujarnya lembut.
"Marvin, ayo kita ajak mommy ke indonesia dan tinggal bersama kita". Ucap Maya yang hanya di tanggapi oleh Marvin dengan tatapan tajam kepada saudara kembarnya.
"Sayang, ku rasa ingin sudah sangat larut untuk seorang wanita hamil untuk tetap bergadang, jadi ayo kembali kekamar kita". Marvin langsung menarik Maya tanpa mau menjawab keinginan Maya terlebih dulu.
...----------------...
"Marvin kau ini kenapa?". Tanya Maya geram dengan tingkah suaminya yang aneh sepanjang hari ini.
"Kenapa apanya?". Marvin malah bertanya balik.
"Marvin, pasti ada sesuatu denganmu sehingga sikapmu aneh seharian ini, terutama saat kau melihat Marqin, sebenernya ada apa denganmu dan juga Marqin?".
"Tidak ada sayang, ayo bersih-bersih dan istirahat". Marvin mencoba menghindar tetapi Maya langsung menarik tangan suaminya itu.
"Tentu saja tidak seperti itu sayang, jangan bicara sembarangan begitu". Jawab Marvin lembut.
"Kalau begitu sekarang ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Marqin, kau percaya padaku kan?". Tanya Maya lagi. "Ayo kita duduk di atas ranjang dan kau bisa mulai bercerita kepadaku". Maya menarik tangan suaminya dan kemudian mereka duduk di pinggir tempat tidur.
"Amaya, aku sebenarnya tidak ingin mengingat atau membahas apapun lagi tentang masa laluku, karena itu semua sudah tidak penting lagi untuk hidupku saat ini".
"Jika itu memang tudak penting bagimu kau pasti tidak akan keberatan membahasnya denganku, iya kan?". Bujuk Maya karena rasa penasarnnya yang memuncak membuatnya mau bersusah payah merayu suaminya.
"Hah, kau tahu kenapa aku tidak suka dengan kehadiran Marqin disini, itu karena mommy tidak mengatakan jika dia akan ikut kemari, mommy berbohong jika dia tidak akan mengajak Marqin kemari makanya aku kecewa padanya".
"Hei, hanya karena itu saja kau marah pada mommymu sendiri?, bukannya bagus jika mommy mengajak Marqin itu artinya mommy mau memberikanmu kejutan dengan kehadiran saudara kembarmu".
__ADS_1
"Sayang, tidak sesederhana itu masalahnya".
"Lalu apa?".
"Itu karena Marqin telah mengkhianatiku bersama Celina".
"Oh Celina, jadi kau cemburu pada Marqin karena dia sekarang menjalin hubungan dengan Celina, jadi kalian memperebutkan wanita yang sama, menjijikan sekali". Jawab Maya ketus sambil menghempaskan tangan Marvin yang sedari tadi di genggamnya.
"Sayang, kau jangan salah paham dulu, aku bukan cemburu tapi aku kecewa pada saudara kembarku karena dia tega mengkhianatiku dan bukan hubungan mereka yang sekarang yang aku permasalahan, aku sama sekali tidak peduli apapun yang mereka lakukan sekarang tapi hubungan mereka dulu sejak pertama kali aku menjalin hubungan dengan Celina sampai aku menikah dengannya, mereka menjalin hubungan terlarang di belakangku bahkan merekayasa tentang hasil tes kesehatanku". Jelas Marvin panjang lebar.
"A-apa kau yakin?". Tanya Maya tak percaya dengan apa yang didengarnya itu.
"Aku masih bisa menerima jika Celina yang mengkhianatiku. tapi jika Marqin, aku sungguh tidak bisa menerimanya karena dia adalah satu-satunya saudara yang aku punya dan kami besar bersama".
"Marvin, aku yakin jika Marqin punya alasan mengapa dia melakukan semua ini".
"Aku tidak akan bisa menerima apapun alasannya dan aku takut jika dia juga akan merebutmu dariku karena sejak kecil Marqin memang selalu berusaha menjadi seperti diriku dan memiliki apapu. yang aku punya".
"Haha, kau ini sudah tidak waras ya, mana ada pria yang akan merebut wanita dengan perut sebesar ini hah". Tawa Maya pecah mendengarkan ucapan suaminya.
"Amaya, tidak sadarkah kau betapa cantiknya dirimu, apalagi dengan perutmu yang menggemaskan ini, jangan pernah tinggalkan aku Amaya". Ujar Marvin serius.
"Marvin, jika kau takut hal yang sama akan terulang lagi maka kau salah besar, pertama aku bukanlah Celina Marvin, aku Amaya dan aku tidak akan meninggalkanmu hanya karena pria lain meskipun sesempurna apapun mereka dan kedua kau harus tahu alasan yang menyebabkan Marqin tega melakukan hal tersebut".
"Sayang aku tidak ingin membahas apapun lagi tentang Marqin, ayo kita tidur tidak baik bagimu dan anak kita jika tidur terlalu larut". Ujar Marvin memotong semua pembahasan tentang saudara kembarnya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1