
POV MAYA PART II
Pemandangan apa yang sedang kulihat dari pantulan cermin ini, sungguh pemandangan yang sangat menjijikkan yang pernah aku lihat di sepanjang hidupku. Kulit putihku nyaris seluruhnya belang karena bekas gigitan mulut laknat itu, bukan merah namun lebih tepatnya berwarna ungu maka bayangkan saja bagaimana buasnya dia memakan tubuhku semalaman ini.
Aku berusaha menghilangkannya, bekas monster jahat itu membuatku semakin merasa sangat rendah bakhan untuk kutatap oleh diriku sendiri, namun sia-sia bekas tersebut sepertinya sangat menyukai tubuh, tuhan sungguh aku ingin mati saja.
Kupejamkan mataku namun lagi-lagi remang-remang bayangan tadi malam muncul lagi, wajah itu, tubuh itu, napas itu dan yang paling memvuatku sesak adalah pemandangan tadi pagi saat aku terbangun yaitu bekas darah diseprei yang menandakan jika aku sudah hancur.
Ponselku terus saja berbunyi namun anehnya itu sama sekali tidak mengganggu telingaku, qku bahkan tidak menoleh kearahnya untuk tahu siapa yang menghubungiku, apa karena telingaku terlalu sibuk mendengarkan suara desahanku dan desahannya yang menjijikan itu tadi malam yang saling bersautan.
Dari tadi malam aku tidak mengisi perutku namun bau makanan yang cukup menggoda yang telah tersedia dikamar sama sekali tidak membuat aku nafsu untuk memakannya. Haha, rupanya dia mau menunjukkan sisi manusiawinya dengan menyiapkan makanan lezat agar aku tidak kelaparan.
Kuseret kakiku untuk melangkah dengan susah payah kembali ke apartemenku, ya aku rasa disini lebih baik dari pada aku harus terus berada dikamar hotel mewah namun serasa neraka itu. Joe, dia yang bisa ku andalkan saat ini, aku butuh dokter, aku butuh tenaga untuk bisa berpikir tenang maka Joe segera mengirimkan dokter untukku tanpa bertanya aku sakit apa, begitulah dia dan itu yang kusukai dirinya loyalitas dan kesetiaannya tidak perlu diragukan lagi.
Dua hari sudah aku dirawat oleh dokter dan perawat khusus membuat tubuhku sudah lumayan membaik namun lagi-lagi hal yang membuat dadakh sesak kembali terjadi. Nino, ya pria yang aku pandang sebelah mata olehku, dia terus memberi perhatian kepadaku namun yang ada dihatiku saat itu hanyalah Haikal.
__ADS_1
Entah apa yang membuatku tak suka padanya bukan karena dia sering gonta ganti pasangan, jujur bukan karena itu mungkin lebih tepatnya karena dimata dan hatiku hanya ada Haikal saja.
Dia berada tepat di depan pintu apartemenku, menatapku dengan rasa khawatir yang sangat jelas tersirat dari matanya. Dia menanyakan keadaanku, menanyakan kemana aku beberapa hari ini dan apa saja yang kulakukan selama dia diluar negeri. Haruskah kujawab jika aku sudah dijadikan wanita bayaran oleh pria jahat itu.
Ku alihkan pandanganku, akh tidak bisa menatap wajah dan mata itu aku takut aku akan kelihatan lemah, maka dengan angkuhnya aku mengusirnya bukan hanya dari apartemenku namun juga dari hidupku. Aku sakit sungguh, jika saja aku tidak terobsesi dengan pria bernama Haikal mungkin aku akan menjadi wanita yang paling dibahagiakan oleh Nino saat ini tanpa harus menanggung beban menjijikkan seperti saat ini.
Kucoba normalkan kembali situasi dihidupku aku ingin melupakan semuanya karena untuk mengakhiri hidupku juga toh, aku tidak seberani itu apalagi ada papa yang harus kutemani hidupnya dimasa tua, maka kuputuskan untuk pulang kerumahku dan menghabiskan waktuku bersama papa dan membuatnya bahagia meskipun aku tidak bisa membuatnya bahagia dengan tetap menjadi gadis kecilnya yang suci.
Tapi sial tidak dapat ditolak, aku lupa jika sejak kejadian malam itu aku tidak lagi kedatangan tamu bulananku, ah ya, aku tidak mengalami menstruasi sejak bulan lalu. Seketika wajahku memucat apalagi jika mengingat kalau aku sering pusing, mual dan muntah akhir-akhir ini, awalnya ku kira itu aku makan tidak teratur sejak kejadian itu namun apalah dayaku ternyata penyebabnya adalah karena sedang ada benih kecil yang tumbuh dirahimku.
Maka ide gilaku muncul begitu saja, Haikal, ya dia harus bertanggungjawab atas kehancuranku ini. Entah kelicikan dari mana yang muncul begitu saja di benakku, aku menjebak Haikal tentu saja dengan bantuan Joe si setia itu karena untuk melakukannya sendiri aku tidak mampu, hati kecilku benar-benar tidak tega tapi kehancuranku tetap saja memaksakan untuk melakukannya.
Aku bahagia melihat Anin menangis dan wajah muram dari Haikal, mungkinkah aku sudah gila, ya mungkin mentalku memang sudah terganggu karena banyaknya beban yang kutanggung sendiri dimasa mudaku yang terbilang masih belia ini.
Aku bahagia saat Haikal membuat kesepakatan denganku akan bertanggung jawab untuk bayi. Aku bahagia ketika Haikal menemaniku memeriksa kandunganku untuk pertama kalinya ke dokter, rasanya beban dimasa yang akan datang tidak lagi kutanggung sendiri namun aku lupa jika pria dulu sangat kucintai itu adalah pria yang sangat pintar.
__ADS_1
Tapi tidak ada kebahagiaan abadi yang didasari oleh kebohongan, aku sedih sangat sedih ketika Nino dengan tulus mengulurkan tangannya untuk membuatku bangkitdari keterpurukan ini. Ada perasaan yang sulit untuk kujelaskan saat kutatap matanya yang berkaca-kaca saat memohonku menikah dengannya, ingin aku egois dan menerima uluran tangan itu namun lagi-lagi hati kecilku tidak sanggup, aku tidak tega setelah sekian lama kuabaikan pantaskah kuterima ketika aku sudah tak pantas lagi untuknya, tentu saja tidak karena Haikallah yang paling pantas menanggung semua ini bersamaku.
Namun aku lupa jika tentu saja usia kandunganku akan sangat berbeda dengan tanggal penjebakan yang kulakukan kepada Haikal. Maka semua kebohonganku terbongkar seiring dengan terbongkarnya tentang kehamilanku ini hingga membuat papa terkena serangan jantung dan kritis.
Dan tidak lama kemudian papa juga meninggalkanku untuk selamanya. Kenapa harus aku tuhan, kenapa selalu orang-orang yang kucintai meninggalkanku?. Aku ingin berteriak sebesar mungkin sampai seluruh isi dunia mendengarkannya namun bibirku tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun dan mataku juga tidak bisa menitikkan setitik air matapun lagi, tapi kenapa?.
Disitulah penyesalan terbesarku muncul, aku sebatang kara sekarang sama seperti saat aku menghina Anin dulu yang juga sebatang kara. Yang kupunya hanyalah janin yang ada didalam kandunganku ini dan saat itu pula rasa sayangku, rasa ingin memilikiku dan rasa keibuanku timbul terhadapnya. Aku akan mempertahankannya apapun yang terjadi meskipun aku harus menanggung malu luar biasa kelak.
Lagi dan lagi rasa penyesalanku muncul ketika Anin mengajakku tinggal bersamanya, bukan hanya Anin tapi juga Haikal dan juga ibunya Haikal Ibu Siti. Ralat bukan hanya menyesal tapi aku juga sangat malu namun mereka tetap memaksa hingga mau tidak mau aku harus ikut dengan mereka. Aku tahu Anin mungkin sangat mengkhawatirkan nasib bayiku karena dia beranggapan aku akan melenyapkan bayi ini.
Bukan itu saja yang membuatku malu tapi perlakuan mereka yang menganggapku sebagai keluarganya juga tidak dapat kujelaskan bagaimana malunya aku. Aku merasa punya ibu untuk pertama kalinya karena bu Siti sangat menyayangiku tanpa membeda-bedakan antara aku dan Anin. Aku merasa punya kakak karena Haikal menganggap dan memeperlakukanku seperti adiknya sendiri bahkan masa ngidamku berwarna karena selalu ada dia yang akan memenuhi setiap keinginan anehku. Aku merasa punya saudara karena Anin tidak pernah menganggapku saingannya lagi, dia juga tidak pernah menunjukkan jika dia cemburu meskipun suaminya memenuhi semua keinginan ngidamku.
Aku bahagia tuhan, terimakasih karena masih membuatku sebahagia ini. Maka disinilah aku bersama mereka hidup bahagia tanpa beban. Cukup, cukup mereka saja aku tidak butuh yang lain lagi tuhan aku bahagia disini biarlah tetap begini saja.
POV END....
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...