Maya (Ayah Dari Anankku)

Maya (Ayah Dari Anankku)
Part 24


__ADS_3

Semua orang sudah berkumpul dimeja makan dengan banyak menu lezat yang tersedia disana namun mereka belum menyantapnya karena masih menunggu kedatangan Maya.


Haikal sudah menawarkan kepada tamunya untuk makan terlebih dulu tanpa harus menunggu Maya namun Marvin dan Jack tegas menolaknya.


"Kita tunggu saja sampai adik anda turun tuan Haikal". Ucap Marvin.


Hal itu sontak membuat Haikal dan Nino yang kena betul sifat asli Marvin terkejut pasalnya selama ini tidak ada yang bisa membuat seorang Marvin Askari menunggu selama itu.


"Pelayan tolong surh Maya turun secepatnya". Titah Haikal yng sudah tidak enak hati melihat raut wajah tuan Marvin yang tidak bersahabtlat itu, Haikal mengira jika Marvin akan marah namun yang sesungguhnya terjadi adalah Marvin sedang mengatur irama jantungnya yang tidak beraturan saat pertama menginjakkan kaki di rumah Haikal.


"Baik tuan". Sang pelayan undur diri dan langsung menuju kamar Maya.


Maya yang menerima titah dari Haikal dan mengiyakan apa yang di sampaikan oleh pelayan meskipun mulutnya masih saja menggerutu perihal mengapa dirinya harus ikut serta dalam makan malam yang tidak penting itu bahkan sampai harus menunggu dirinya hanya untuk makan saja.


Maya melangkahkan kakinya secara perlahan-lahan menuruni anak tangga satu persatu sambil menunduk karena semala perutnya semakin membesar Maya susah untuk menjangkau penglihatan dengan baik.


Tap, tap, tap...


Semua orang yang berada di meja makan menatap kearah Maya, Anin dan Haikal menatapnya dengan senyuman karena akhirnya gadis itu turun juga dan tidak memancing emosi para tamunya terutama Marvin namun seketika mereka juga saling pandang karena melihat penampilan Maya yang aneh menurut mereka dengan dress hamil tanpa lengan yang mengekspos perut buncit Maya padahal selama ini dia sangat anti menggunakan dress seperti itu.


Lain lagi dengan Nino, pandangannya kearah Maya jelas menunjukkan jika ada cinta yang mendalam dihatinya kepada Maya, apalagi melihat Maya dengan baju hamilnya itu dan makeup natural yang di poles diwajahnya sungguh Maya terlihat sangat cantik dan menggemaskan di matannya. Nyatanya kehadiran anak yang ada dikandungan Maya tidak dapat memudarkan sedikitpun perasaan yang ada di hatinya itu.


Jack juga punya pandangan berbeda terhadap wanita yang membuatnya tersenyum sepanjang hari ini itu, untuk sekian detik dia masih saja tersenyum memandang wajah cantik Maya namun senyum itu hilang seketika dan brganti dengan raut wajah kekecewaan karena melihat perut buncit Maya dan menyadari jika wanita itu ternyata bukanlah wanita single lagi. Pupus sudah harapannya untuk mempersunting wanita Indonesia batinnya.

__ADS_1


Maka dari semua ekspresi wajah orang-orang yang berada disana maka ekspresi wajah Marvinlah yang sangat sulit untuk di artikan. Jantung Marvin berdetak tidak karuan bukan hanya karena Amayanya berada tidak jauh dari dirinya dan sangat mudah untuk di jangkau namun perut buncit Maya membuat darahnya seolah mendidih.


Deg, deg, deg....


Marvin menetralkan irama jantungnya jika saja dia tidak sedang duduk mungkin saja saat ini kakinya sudah tidak dapat menopang lagi berat tubuhnya. Ada rasa gusar dan gelisah yang tak beralasan timbul dihatinya yang membuatnya sudah untuk bernapas.


Maya terus menuruni anak tangga secara perlahan dengan tetap menunduk, toh baginya dia tidak peduli siapapun yang sedang berada disana karena dia sudah bisa menebaknya.


"Maya berhati-hati lah". Haikal membuka suara di sela-sela tiga orang pria dihadapannya sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Maya yang mendengar seruan Haikal spontan menoleh kearah Haikal dan Anin yang sedang tersenyum kearahnya dan membalas senyuman mereka, tanpa sengaja Maya juga menyapu pandangannya kesemua sisi meja makan dan-.


Deg, deg, deg....


Dengan tetap berada di atas tangga yang tinggal beberapa anak tangga lagi yang belum dia turuni Maya tidak dapat mengalihkan pandangannya dari kedua bola mata Marvin sampai dia tudak dapat mendengar ketika Anin beberapa kali memanggil namanya.


"May, ayo cepat kesini, jangan sampai kami kelaparan menunggumu disitu". Seru Anin entah untuk keberapa kalinya.


Maya yang akhirnya tersadar, terkejut dengan seruan Anin dengan suasana hati yang masih belum bisa dia kendalikan Maya kehilangan keseimbangannya dan hampur saja terpeleset.


Melihat hal itu ketiga pria yang tidak lain adalah Nino, Marvin dan Jack spontan berdiri dan ingin berlari membantu Maya. Namun baik Marvin dan juga Jack kalah cepat dengan Nino yang tenyata sudah berada disamping Maya dan menyambut tubuhnya agar tidak terjatuh.


Anin dan Haikal juga berdiri melihat hal itu namun mereka tidak berlari karena Anin tidak mungkin melakukannya karena dia juga sdang hamil sedangkan Haikal tetap setia berada disamping istrinya itu.

__ADS_1


"Kau tidak apa-apa?". Tanya Nino kepada Maya, Maya hanya menatap Nino dan menganggukkan kepalanya karena lidahnya serasa kelu tidak bisa dia gerakkan.


"Syukurlah". Sambung Nino lagi lagi menuntun Maya untuk menuju meja makan, tudak ada penolakan dari Maya ketika Nino memperlakukan dirinya dengan manis karena untuk melangkah sendiripun Maya sudah tidak mampu.


Marvin yang melihat interaksi antara Nino dan Maya bisa melihat dengan jelas jika ada hal yang berbeda dari cara Nino memperlakukan Maya. Marvin melihat Maya, Nino dan Haikal secara bergantian dan menebak-nebak siapakah sebenarnya ayah dari anak yang ada dikandungan Maya.


Ketika dia sedang sibuk dengan pemikirannya itu tanpa sengaja dia juga menangkap sosok tubuh Anin yang setia menempel disamping Haikal jelas terlihat jika Anin juga sedang mengandung. Marvin tidak memperhatikan hal itu sejak tadi karena matanya sibuk mencari keberadaan Maya.


Marvin melihat dua wanita hamil itu secara bergantian dan berpikir keras apa mungkin Haikal menghamili dua wanita sekaligus secara bersamaan atau mungkin anak yang dikandung Maya justr anak Nino. Marvin memijat dahinya yang berdenyut, kepalanya seperti ingin pecah menerima dan melihat kenyataan yang terjadi saat ini dihadapannya.


"Tuan Marvin kenalkan ini Maya adikku yang saat itu anda pinjamkan privat jet anda". Perkataan Haikal itu mampu menyadarkan kembali Marvin yang sejak tadi hanya diam tanpa bersuara. "May, inilah tuan Marvin Askari, aku pikir kalian sudah saling kenal karena waktu itu aku pikir anda ikut dengan Maya pulang ke Indonesia, padahal dari cerita Jack anda menunda keberangkatan anda beberapa jam kemudian karena ada hal mendadak yang harus diselesaikan". Sambung Haikal lagi.


"Ya, ada keperluan yang tidak bisa aku tunda saat itu". Jawab Marvin kemudian dengan terus berusaha menghadapi situasi yang ada Marvin mengalihkan pandangannya kearah Maya dan mengulurkan tangannya. "Marvin Askari". Ujarnya dengan ekspresi wajah netral mungkin.


Jangankan untuk menggerakkan tangannya Maya bahkan tidak mampu hanya untuk mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. Anin yang mengira Maya mengagumi ketampanan tuan Marvin langsung menghampiri Maya dan membantu Maya mengulurkan tanganny kepada Marvin.


"May, jangan sampai dia berpikir kamu sangat mengag dirinya, ayo ulurkan tanganmu". Dengan terpaksa Maya mengulurkan tangannya dan ketika kedua tangan mereka bertemu baik Maya atau Marvin semakin tidak bisa mengendalikan diri.


Jika Maya sangat ingin menampar keras wajah Marvin karena telah meninggalkan dirinya begitu saja waktu itu maka Marvin sangat ingin membawa Maya kedalam pelukannya, nyatanya keadaan Maya yang sedang hamil pun tidak bisa menahan fantasi liarnya kepada wanita itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mengsedih besti karena yang like dan coment dikit amat 😭

__ADS_1


__ADS_2