
"Selesai, nona anda terlihat sangat cantik". Seru wanita yang sejak tadi asyik bermain denga peralatan makeup nya di wajah cantik Maya.
Maya yang sejak tadi hanya diam alam lamunannya pun tersadar dan menatap pantulan dirinya di dalam cermin, sejenak dia terkesima dengan hasil kerja para wanita muda itu sambil meraba-raba wajahnya dengan menggunakan jemari tangannya namun ketika dia menyadari jika tidak ada satupun keluarga atau bahkan seseorang yang penting di hidupnya akan hadir di hari pernikahannya, Maya kembali terdiam dan tersenyum getir.
"Pa, Ma, Maya menikah hari ini, tapi sayangnya tidak ada kalian juga tidak ada ibu atau bahkan Anin disini, Maya benar-benar sendirian sekarang ini". Batin Maya.
"Ayo nona anda harus segera turun karena acara pernikahannya akan segera di mulai". Ujar wanita itu lagi.
Maya hanya mengangguk pelan, berusaha membawa tubuhnya untuk bangun dari kursi dan mengikuti arahan orang-orang suruhan Marvin. Namun saat dia hendak membuka pintu kamarnya, pintu kamar itu justru sudah terlebih dahulu terbuka dan menampilkan orang-orang yang baru saja dia pikirkan.
Ya, bu Siti dan Anin berada tepat di depan pintu memakai pakaian senada menatap Maya dengan wajah berseri.
"Kamu cantik sekali nak". Ucap bu Siti.
Mata Maya berkaca-kaca melihat pemandangan di depan matanya bahkan berkali-kali dia menatap bu Siti dan Anin secara bergantian sambil berusaha memahami situasi yang sedang terjadi.
"Ibu". Seru Maya kemudian dia langsung menghujani bu Siti dengan pelukan yang sangat erat.
"Iya May, ibu dan Anin disini untuk menemanimu, calon suamimu yang menjemput kami". Jawab bu Siti dan Anin juga menganggukkan kepala untuk mempertegas jika yang dikatakan bu Siti benar adanya.
Deg...
__ADS_1
"Marvin, dia menjemput ibu dan Anin?". Gumam Maya masih tidak percaya.
Setelah puas melepas rasa rindu dihatinya kepada sahabat dan juga ibunya Maya kemudian di tuntun oleh Anin dan juga bu Siti menuju lantai bawah, tentu saja dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya cantiknya, senyuman itu bukan karena pernikahannya akan segera berlangsung namun kehadiran bu Siti dan Aninlah yang membuat wajahnya yang tadi muran menjadi sumringah.
Baru saja dia di kejutkan dengan kehadiran bu Siti dan Anin disana, kali ini Maya kembali tidak percaya dengan pemandangan di depan matanya dimana lantai bawah mansion Marvin itu sudah disulap sedemikian rupa sehingga terkesan dan terkonsep dengan begitu indahnya sebagai tempat berlangsungnya pernikahannya dengan Marvin.
"Apa dia yang melakukan semua ini?". Tanyanya dalam hati karena Maya masih tida percaya jika pernikahan itu akan dilaksanakan dengan selayaknya sebuah pernikahan meskipun orang yang hadir disana sangatlah sedikit.
Maya terus melangkah sambil menatap takjub pada keadaan disekelilingnya hingga matanya menangkap sosok pria yang akan menikahinya, Marvin terus saja menatap Maya dengan tatapan yang mematikan jika Maya yang menilainya padahal bagi Marvin dia sedang terkesima menatap kecantikan calon istrinya itu.
Prosesi akad nikah itu dilangsungkan dengan khidmat, jika awalnya Maya menganggap jika Marvin akan menikahi dirinya secara agama saja, ternyata dia salah besar, Marvin menikahinya secara agama juga secara hukum negara bahkan Maya sempat terkejut dengan mahar yang di berikan oleh Marvin untuknya yaitu mansion yang mereka tempati saat ini dan seluruh isi serta semua kendaraan yang ada di mansion itu.
Haikal dengan napas terengah-engah melangkah mendekati istrinya Anin kemudian bertanya. "Kamu baik-baik saja?".
Anin mengangguk sambil tersenyum dan memberikan isyarat agar suaminya itu tidak membuat keributan disana. Rahang Haikal mengeras jika mengingat bagaimana liciknya Marvin menculik istri dan ibunya untuk menghadiri pernikahan Maya, jika saja di tahu hari itu adalah hari pernikahan Maya Haikal akan menahan diri untuk ke mansion Marvin karena dia tahu jika rekayasa tentang penculikan Anin hanyalah untuk memancingnya agar turut hadir di hari penting bagi Maya itu.
Ingin dia menghajar habis-habisan Marvin saat itu juga namun ancaman dari Anin dan juga ibunya mampu menghentikan niatnya, apalagi ketika melihat Maya yang tampak tersenyum kepadanya sungguh Haikal tidaklah tega menghancurkan hari penting itu dan membuat Maya merasa malu.
"Shiit". Umpat Haikal dalam hati karena merasa masuk dalam jebakan Marvin. Marvin yang melihat kekesalan di wajah Haikal hanya tersenyum sinis tanpa merasa bersalah sedikitpun.
**Flashback on...
__ADS_1
Drrtt**..
Getaran dari ponsel Haikal mengejutkannya yang tengah fokus mengerjakan pekerjaan penting yang harus segera dia selesaikan hari itu juga. Haikal meraih ponselnya dan melihat layar ponsel tersebut dimana yang menghubunginya adalah sang istri Anin.
"Halo sayang". Sapa Haikal antusias. Namun bukannya suara sang istri, Haikal justru di kejutkan dengan teriakan dari salah satu pelayannya yang mengatakan jika Anin dan ibunya di bawa paksa oleh orang-orang berbaju hitam dengan tubuh tinggi kekar.
Haikal langsung menutup sambungan telpon itu dan pikirannya langsung tertuju pada Marvin. Marvin pasti menculik Anin dan ibunya agar bisa bertemu dengan Maya dan dia tidak suka akan hal itu. Maka bagaimanapun caranya Haikal akan menyusul ke mansion Marvin untuk mencegahnya karena jika untuk menyakiti ibu dan istrinya, Haikal sangat yakin jika Marvin tidak mungkin akan melakukannya.
Haikal juga menghubungi Nino untuk menemaninya menjemput Anin dan bu Siti, tentu saja Nino langsung menyetujuinya karena selama ini dia memang sedang mencari cara agar bisa melihat keadaan Maya dan ini merupakan kesempatan baik untuknya.
Flashback off...
Berbeda dengan Haikal yang menatap Marvin dengan tatapan mematikan, Nino justru mengalihkan pandangannya ketika meihat Maya dan Marvin duduk bersebelahan dengan baju pengantin yang melekat di tubuh mereka. Nino bahkan tanpa sadar mundur beberapa langkah kemudian membelakangi mereka sambil mengusap air matanya.
Dunianya kali ini benar-benar sudah berakhir, harapannya untuk memiliki Maya sudah tidak ada lagi karena jelas matanya tadi menangkap jika Marvin dan Maya sudah menandatangi buku nikah mereka.
Nino keluar dari mansion itu tanpa memperdulikan apapun lagi dia bahkan terus melangkah tanpa tahu kemana kakinya akan membawa tubuhnya itu karena pergi dari sana adalah satu-satunya hal yang sangat ingin dia lakukan, Haikal juga tidak mencoba menghentikannya karena Haikal tahu jika situasi ini sangat berat bagi sahabatnya itu dan Nino pasti butuh waktu untuk sendirian.
Maya yang melihat Nino pergi berniat mencoba untuk menyusulnya karena bagaimanapun melihat Nino terpuruk bukanlah hal mudah bagi Maya, namun niatnya langsung terhenti saat Marvin merangkul pinggangnya dengan sangat kuat dan posesif
"Good job, sekali tepukan dua lalat mati ditangankh hari ini, Amaya aku bisa membuat seluruh keluargamu untuk hadir di hari pernikahanmu dan sekaligus menyadarkan pria itu untuk berhenti berharap kepadamu". Batin Marvin sambil tersenyum puas.
__ADS_1