
Sesampainya di rumah sakit, Nino langsung di tangani oleh dokter di IGD. Hartono dan Ningsih tidak bisa duduk dengan tenang sebelum dokter mengatakan bagaimana keadaan putra mereka saat ini.
Setengah jam sudah Nino berada di IGD, akhirnya dokter keluar juga sehingga kedua orang tua Nino langsung menghambur menuju pintu ruangan untuk menanyakan keadaan Nino kepada sang dokter.
"Bagaimana keadaan putra Kami dokter?". Tanya Ningsih gusar.
"Sepertinya taun Nino memiliki pola makan yang buruk dan sering mengkonsumsi minuman beralkohol dan itu sangat tidak baik untuk kesehatannya sehingga tuan Nino menderita penyakit lambung yang sudah lumayan serius dan perlu penanganan khusus dan harus di rawat di Rumah sakit untuk sementara waktu ini untuk mengatur pola makan dan juga pola istirahatnya". Ujar dokter.
"Baik dokter, lakukan apapun yang terbaik untuk putra Kami, kami mempercayakan semua kepada Anda". Jawab Hartono kemudian.
Maka di sinilah saat ini Nino berada di ruang rawat inap rumah sakit yang mungkin akan menjadi tempat peristirahatannya untuk beberapa waktu ke depan. Ningsih dan Hartono selalu setia mendampinginya sehingga membuat Nino semangat untuk cepat pulih dan tidak menyusahkan kedua orang tuanya lagi.
Semakin hari kondisi Nino yang sudah di rawat selama satu minggu di rumah sakit semakin membaik bahkan sampai membuat pria itu bosan karena tidak bisa melakukan aktivitas apapun karena tangannya yang selalu terpasang cairan infus.
Karena rasa bosannya sudah memuncak, Nino meminta bantuan salah satu perawat untuk membawanya keamanan rumah sakit untuk sekedar mengusir rasa bosannya itu menggunakan kursi roda. Duduk di atas kursi roda dan merenungi nasibnya terkadang membuat Nino tersenyum miris karena dia tidak menyangka jika kehidupan ternyata sangatlah kejam kepadanya.
Pria itu tiba-tiba teringat akan sosok istrinya Shely, entah apa yang sedang di lakukan wanita itu saat ini namun yang pasti dia sangat merindukannya.
"Apa yang sedang kamu lakukan Shel?". Gumam Nino lirih.
Mungkin saja wanita yang masih berstatus istrinya itu sedang tertawa bahagia bersama pria bernama Marqin dan juga putra mereka Sheno dan saat mengingat akan hal itu Nino kembali merasa dadanya sesak seperti di himpit ribuan ton beban.
Nino memejamkan matanya dan menghirup banyak-banyak udara segar di taman rumah sakit yang asri tersebut. Setidaknya hal itu membuat suasana hatinya lebih baik di bandingkan satu minggu berada di ruang rawatan dan tidak di izinkan untuk keluar walau hanya sebentar.
Menatap ke sekelilingnya membuat Nino kembali tersenyum miris karena ternyata hanya dia satu-satunya pasien yang berada di taman sendirian sedangkan pasien lainnya di temani oleh keluarga atau bahkan pasangan mereka.
__ADS_1
Dari kejauhan ada seorang dokter wanita cantik melambaikan tangan ke arah Nino, namun karena merasa tidak mengenali dokter tersebut Nino tidak meresponnya sama sekali karena dia mengira mungkin sangat dokter sedang melambaikan tangan ke arah pasien lain.
Namun saat dokter wanita itu semakin dekat dengannya, Nino merasa jika dia pernah melihat dokter itu tapi dia lupa tepatnya dimana.
"Hei, dari tadi aku melambaikan tanganku padamu kau malah mengabaikan ku, sombong sekali anda tuan Nino". Ujar dokter cantik itu ketus.
"Maaf apa kita pernah bertemu sebelumnya?". Tanya Nino sambil berusaha mengingat siapa wanita itu.
"Oh ya ampun, kah benar-benar tidak mengenaliku lagi Nino?". Tanya dokter mira histeris dan Nino menggelengkan kepalanya.
Ya dokter cantik itu bernama Mira, dia adalah teman sekelas Nino saat SMA dan juga dokter kandungan yang pertama kali memeriksa dan tahu tentang kehamilan Shely waktu itu.
"Hei, aku Mira teman SMA mu dulu". Ujar dokter Mira antusias.
" Mirasih?". Tanya Nino tak percaya karena seingatnya jika teman SMA nya yang bernama Mirasih itu sangatlah culun berbeda dengan wanita yang berada di hadapannya saat ini yang terlihat modis dan cantik.
"Oh ya ampun, aku mana mungkin mengenalimu lagi dengan penampilan yang seperti ini". Jawab Nino takjub.
"Kenapa?, kau mah mengatakan jika dulu aku culun dan tidak mungkin bisa secantik ini kan?". Tanya dokter Mira ketus.
"Haha, jangan marah-marah begitu, maafkan aku maklum saja kita kan sudah lama sekali tidak bertemu, apa kau bekerja di rumah sakit ini?".
"Ya kau benar juga. Iya aku bekerja disini sudah sangat lama sebagai dokter kandungan, bawa istrimu padaku jika dia hamil lagi dan kau sendiri kenapa dengan dirimu yang sok jagoan dulu tapi bisa terinfus tak berdaya sekarang seperti ini? ". Nino sebenarnya bingung mengapa dokter mengatakan jika istrinya hamil lagi tapi dia berpikir mungkin dokter Mira mengira jika saat ini Nino sudah memiliki anak karena jika di hitung dari lamanya usia pernikahan Nino tentu saja saat ini dia sudah memiliki seorang anak minimal.
"Haha, semua orang bisa saja sakit kan Mir, aku juga manusia". Kelakar Nino.
__ADS_1
Nino dan dokter Mira kemudian bernostalgia tentang masa SMA mereka dulu, perbincangan mereka di penuhi canda tawa bahkan Nino dapat melupakan sejenak masalah yang sedang di hadapi saat ini, dimana dia masih bingung harus mengambil tindakan apa untuk hubungannya bersama Shely dimana Shely memaksa dirinya untuk segera menceraikan istrinya itu.
Setelah sekian lama mereka berbincang-bincang, dokter Mira kemudian menyadari jika Nino saat ini berada sendirian di taman rumah sakit.
"Apa kau sendirian disini?, kemana istri dan anakmu?". Tanya dokter Mira sambil melirik ke kanan dan ke kiri.
"Istri dia sedang tidak disini dan aku belum punya anak Mir". Jawab Nino canggung dengan pertanyaan dokter Mira.
"Maksudnya?, apa istrimu mengalami keguguran?, oh ya ampun pantas saja istrimu dulu hanya sekali memeriksakan kehamilannya padaku, aku kira kau yang melarangnya untuk memeriksakan lagi kandungannya kepadaku karena kau tidak percaya dengan kinerja ku". Umar dokter Mira terkejut.
"Keguguran?, siapa yang keguguran dan kehamilan siapa yang sedang kau bahas ini?". Tanya Nino bingung.
"Tentu saja kehamilan istri Shely, aku mengenalinya karena dia pernah memeriksakan kehamilannya kepadaku sekitar kurang lebih lima tahun yang lalu dan setelah itu dia tidak pernah datang lagi, apa dia keguguran?". Tanya dokter Mira sangat hati-hati.
"Mira apa kau sedang bercanda?". Tanya Nino serius dengan tatapan yang mematikan.
"Jangan menatapku seperti itu, aku tidak bercanda bahkan waktu itu dia memintaku merahasiakan tentang kehamilannya itu padamu karena dia mau memberikanmu kejutan". Jawab dokter Mira serius.
Nino menghela napas kasar dan menjambak rambutnya dengan kedua tangannya untuk mencerna setiap kalimat yang di ucapkan oleh temannya itu.
"Oh Tuhan, kejutan apa lagi ini?". Gumam pria itu kemudian dengan mata terpejam dan mengingat setiap kejadian yang dia lewati selama ini. Sekarang dia baru mengerti kenapa Shely sangat marah ketika Nino mengatakan jika dia akan menganggap Sheno seperti putranya sendiri.
Bayang-bayang wajah bocah kecil itu juga berputar-putar di kepala Nino saat itu, bagaimana mungkin dia tidak mengenali darah dagingnya sendiri.
"Sheno, anakku, darah daging ku". Batin Nino.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...